Tampilkan postingan dengan label KKN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KKN. Tampilkan semua postingan

Menyulap Limbah Organik Dapur Rumah Tangga, Mahasiswa KKN Tematik 101 UNDIP Bikin Ecoenzyme di Kampung Nglarang Gunungpati Kota Semarang

0

Campusnesia.co.idMinggu, 19 Juli 2026, bertempat di RT 02 RW 09 Kampung Nglarang, Kelurahan Gunungpati, Kota Semarang, telah dilaksanakan kegiatan Pendampingan Pembuatan Eco Enzyme Berbasis Limbah Dapur Rumah Tangga sebagai Pupuk Organik Cair. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja individu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) 101 Universitas Diponegoro Tahun 2026 yang disampaikan oleh Wisnu Aji Saputra kepada ibu-ibu PKK dan warga Jam'iyyah Pengajian Rutin RT 02.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah organik rumah tangga, khususnya limbah dapur berupa kulit buah dan sisa sayuran, menjadi Eco Enzyme yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair bagi tanaman. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik secara mandiri guna mengurangi pencemaran lingkungan, mendukung penerapan konsep zero waste, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian Eco Enzyme sebagai cairan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga yang dibuat melalui proses fermentasi menggunakan air, molases (gula merah), dan limbah buah maupun sayuran dengan perbandingan 10 : 3 : 1. Selanjutnya dijelaskan berbagai manfaat Eco Enzyme, di antaranya sebagai pupuk organik cair, aktivator kompos, pengurai limbah organik, serta alternatif produk ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai jenis limbah organik yang dapat dan tidak dapat digunakan sebagai bahan baku Eco Enzyme, alat dan bahan yang diperlukan, hingga tahapan fermentasi yang benar agar diperoleh produk Eco Enzyme yang berkualitas.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan Eco Enzyme secara langsung. Pada praktik ini digunakan 3 kg limbah organik berupa kulit buah dan sisa sayuran rumah tangga, 10 liter air, serta 1 kg molases sebagai bahan fermentasi. Seluruh peserta diajak mengikuti setiap tahapan pembuatan, mulai dari pencacahan bahan organik, pencampuran molases dengan air, memasukkan limbah organik ke dalam wadah fermentasi, hingga teknik penyimpanan secara anaerob selama kurang lebih 90 hari. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai cara perawatan selama proses fermentasi, termasuk pentingnya membuka tutup wadah secara berkala pada bulan pertama untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi, serta ciri-ciri Eco Enzyme yang berhasil, yaitu memiliki aroma asam segar menyerupai tape atau cuka, berwarna cokelat tua, dan tidak berbau busuk.


Dalam penyampaian materi, Wisnu Aji Saputra menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah dapur menjadi Eco Enzyme merupakan salah satu solusi sederhana yang dapat diterapkan oleh setiap keluarga untuk mengurangi volume sampah organik rumah tangga sekaligus menghasilkan produk yang bernilai guna. Eco Enzyme yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair untuk mendukung pertumbuhan tanaman, khususnya tanaman obat keluarga (TOGA), sehingga masyarakat tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi melalui pengurangan penggunaan pupuk kimia.

Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam berdiskusi, mengajukan pertanyaan mengenai proses fermentasi, serta mengikuti demonstrasi pembuatan Eco Enzyme hingga selesai. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat mampu mempraktikkan pembuatan Eco Enzyme secara mandiri di rumah dengan memanfaatkan limbah dapur yang dihasilkan setiap hari, sehingga dapat mendukung pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pupuk organik cair pada kebun TOGA.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kelompok 3 KKNT 101 Universitas Diponegoro Tahun 2026 ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi sederhana yang mudah diaplikasikan, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat sekaligus mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) SDGs khususnya poin 1 pada aspek konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, lingkungan yang berkelanjutan, serta pengurangan sampah rumah tangga.



Editor:
Achmad Munandar

KKN Tematik IDBU 43 UNDIP Gelar Sosialisasi Pemanfaatan Limbah Peternakan Menjadi Biogas dan Pupuk Organik Cair di Desa Manggihan

0


Campusnesia.co.idKabupaten Semarang - Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 43 Universitas Diponegoro menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Biogas dan Pupuk Organik Cair (POC) bagi masyarakat Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada 3 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program pembangunan digester biogas yang sebelumnya telah dilaksanakan sebagai upaya penanganan dan pengendalian limbah peternakan melalui pemanfaatan limbah menjadi sumber energi terbarukan serta pupuk organik cair dari residu hasil proses biogas (slurry).

Kegiatan KKN Tematik IDBU 43 dilaksanakan di bawah bimbingan Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D., Anugrah Robby Pratama, S.Pt., M.Pt., dan Bimo Suryo W., S.M., M.M. Program ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna yang dapat mendukung pengelolaan peternakan dan pertanian secara lebih berkelanjutan sekaligus mendorong pengendalian pencemaran lingkungan.

Kegiatan sosialisasi menghadirkan Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. dan Septrial Arafat, S.P., M.P. dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro sebagai narasumber. Kehadiran kedua narasumber memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah peternakan secara terpadu melalui penerapan teknologi biogas dan pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik cair.

Dalam pemaparannya, Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. menjelaskan konsep dasar biogas, proses fermentasi anaerob yang menghasilkan gas metana, serta potensi pemanfaatannya sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai prinsip kerja digester biogas, cara pengoperasian, serta perawatan instalasi agar dapat berfungsi secara optimal dan berkelanjutan.


Pembangunan digester biogas di Desa Manggihan tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan energi alternatif, tetapi juga menjadi salah satu bentuk penanganan limbah peternakan secara terpadu. Limbah kotoran ternak yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan bau, menurunkan kualitas lingkungan, serta membawa beban bahan organik dan unsur hara ke lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengolahan limbah melalui digester biogas diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam mengurangi potensi pencemaran yang berasal dari aktivitas peternakan.

Aspek pengelolaan limbah tersebut menjadi semakin penting mengingat wilayah Kabupaten Semarang memiliki ekosistem strategis, termasuk Rawa Pening yang menjadi salah satu kawasan perairan penting di Jawa Tengah. Pengelolaan limbah peternakan dan pertanian yang tidak tepat berpotensi meningkatkan masuknya bahan organik dan unsur hara ke badan air melalui aliran permukaan maupun saluran air. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap kualitas perairan dan ekosistem apabila tidak dikendalikan.

Melalui pemanfaatan limbah peternakan dalam digester biogas, sebagian limbah dapat diproses terlebih dahulu sehingga tidak langsung dibuang ke lingkungan. Dengan demikian, teknologi biogas tidak hanya menghasilkan energi terbarukan, tetapi juga berfungsi sebagai upaya pengendalian dan pencegahan pencemaran lingkungan melalui pengelolaan limbah peternakan yang lebih sistematis.

Selanjutnya, Septrial Arafat, S.P., M.P. menyampaikan materi mengenai pemanfaatan slurry, yaitu residu hasil fermentasi biogas, sebagai Pupuk Organik Cair (POC). Beliau menjelaskan bahwa slurry masih mengandung unsur hara yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanah, meningkatkan kualitas lahan, serta menunjang kegiatan budidaya pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Pemanfaatan slurry menjadi POC juga merupakan bagian dari pengendalian limbah hasil proses biogas. Residu yang dihasilkan tidak langsung dibuang, tetapi diolah dan dikembalikan ke sistem produksi sebagai input pertanian. Dengan pendekatan tersebut, limbah peternakan dapat dikelola melalui suatu siklus pemanfaatan yang lebih tertutup, sehingga potensi pembuangan limbah ke lingkungan dapat diminimalkan.

Konsep ini juga mendukung upaya pencegahan pencemaran perairan, termasuk kawasan Rawa Pening, melalui pengurangan potensi limpasan limbah dan bahan organik dari aktivitas peternakan. Pemanfaatan limbah menjadi biogas dan pupuk organik dapat menjadi salah satu pendekatan preventif untuk mengurangi beban pencemar dari sumber kegiatan masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan di tingkat desa.

Pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi dan pupuk juga membuka peluang terbentuknya sistem peternakan dan pertanian terintegrasi. Limbah peternakan diolah menjadi biogas, sedangkan residunya dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kegiatan pertanian. Dengan demikian, terjadi siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, di mana produk samping dari satu kegiatan dapat menjadi input bagi kegiatan lainnya.

Pendekatan tersebut merupakan bentuk penerapan ekonomi sirkular (circular economy) di tingkat masyarakat. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran diubah menjadi sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi dan lingkungan. Selain mengurangi potensi pencemaran, sistem tersebut berpotensi mengurangi biaya energi dan input pertanian sehingga dapat meningkatkan efisiensi usaha masyarakat.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme masyarakat yang tinggi. Warga aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pemanfaatan biogas untuk kebutuhan rumah tangga, pengoperasian dan pemeliharaan digester, hingga manfaat penggunaan pupuk organik cair pada berbagai jenis tanaman. Sesi diskusi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan serta mendiskusikan peluang penerapan teknologi biogas dan POC sesuai dengan potensi Desa Manggihan.

Melalui kegiatan ini, Tim KKN Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro tidak hanya mendorong peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai teknologi biogas dan POC, tetapi juga membangun kesadaran mengenai pentingnya pengendalian limbah peternakan sebagai bagian dari upaya pencegahan pencemaran lingkungan. Pengelolaan limbah sejak dari sumbernya diharapkan dapat mengurangi potensi pencemaran tanah dan air serta mendukung upaya menjaga keberlanjutan ekosistem perairan di Kabupaten Semarang, termasuk Rawa Pening.

Program tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif sejalan dengan SDG 7 (Affordable and Clean Energy) melalui pengembangan energi yang lebih bersih dan terjangkau. Pengolahan limbah peternakan menjadi biogas dan pupuk organik mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penerapan pola produksi yang lebih efisien, pemanfaatan kembali sumber daya, serta pengurangan limbah.

Upaya pengendalian pencemaran lingkungan dan pengembangan energi terbarukan juga mendukung SDG 13 (Climate Action). Sementara itu, pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik mendukung SDG 15 (Life on Land) melalui pengelolaan sumber daya tanah yang lebih berkelanjutan. Pengembangan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal turut mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan efisiensi dan peluang ekonomi masyarakat.

Lebih jauh, penerapan sistem peternakan dan pertanian terintegrasi diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengurangan biaya energi dan input pertanian, serta peluang pemanfaatan produk turunan seperti biogas dan POC, berpotensi meningkatkan efisiensi usaha masyarakat. Dengan demikian, penyelesaian persoalan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat dan peternak Desa Manggihan berharap penerapan sistem peternakan dan pertanian terintegrasi dapat terus dikembangkan sehingga memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat desa. Tidak hanya berhenti pada pembangunan digester dan sosialisasi, masyarakat berharap adanya pendampingan berkelanjutan dalam pengelolaan biogas, pengembangan POC, pemanfaatan hasil produksi, serta penguatan aspek pemasaran dan kelembagaan kelompok.

Dengan adanya sistem yang terintegrasi, masyarakat diharapkan dapat menciptakan siklus produksi yang saling mendukung, mulai dari kegiatan peternakan yang menghasilkan limbah, pengolahan limbah menjadi biogas, pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik, hingga penggunaan pupuk tersebut untuk mendukung kegiatan pertanian. Siklus tersebut diharapkan mampu menciptakan efisiensi, mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal Desa Manggihan.

Melalui program KKN Tematik IDBU 43, Universitas Diponegoro berupaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan serta potensi lokal. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, peternak, petani, dan masyarakat desa menjadi bagian dari implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam membangun solusi pembangunan yang berkelanjutan.

Ke depan, Tim KKN Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro berharap Desa Manggihan dapat menjadi salah satu contoh penerapan peternakan dan pertanian terintegrasi berbasis energi terbarukan dan ekonomi sirkular, di mana limbah peternakan dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya yang bernilai. Pengelolaan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mencegah pencemaran lingkungan, mengurangi beban limbah yang berpotensi masuk ke badan air, serta mendukung upaya menjaga kelestarian ekosistem Rawa Pening dan lingkungan Kabupaten Semarang.

Dengan pengelolaan yang konsisten dan pendampingan berkelanjutan, inovasi biogas dan pupuk organik cair diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi untuk mewujudkan masyarakat Desa Manggihan yang mandiri energi, produktif secara ekonomi, bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah, serta memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.


Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN Tim 1 IDBU-42 UNDIP Membuat Kompor Biomassa Berbahan Bakar Briket Bonggol Jagung untuk Dukung Pemanfaatan Limbah Pertanian di Desa Sukorejo

0
Mahasiswa KKN Tim 1 IDBU-42 UNDIP



Campusnesia.co.id - Sragen - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim I IDBU-42 Universitas Diponegoro, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Ir. Cahya Setya Utama, S.Pt., M.Si., IPM, melaksanakan program kerja monodisiplin berupa pembuatan kompor biomassa berbahan bakar briket bonggol jagung dan demonstrasi penggunaannya sebagai upaya meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian menjadi sumber energi alternatif yang bernilai guna. Program tersebut dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2026 di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sebagai bentuk penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, ekonomis, dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat dalam mendukung pemanfaatan energi terbarukan serta pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan.

Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pemanfaatan biomassa sebagai energi alternatif, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi tepat guna yang inovatif, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi pembakaran limbah pertanian secara terbuka dan mendorong penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Desa Sukorejo adalah salah satu wilayah dengan produksi jagung terbesar di kabupaten Sragen. Kondisi tersebut menyebabkan bonggol jagung menjadi salah satu limbah pertanian yang jumlahnya melimpah setiap musim panen. Selama ini, sebagian besar bonggol jagung hanya ditumpuk, dibakar secara terbuka, atau belum dimanfaatkan secara optimal sehingga nilai ekonominya masih sangat rendah. Padahal, limbah biomassa tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi sumber energi terbarukan.

Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Tim I IDBU-42 UNDIP menghadirkan inovasi berupa pemanfaatan bonggol jagung menjadi briket biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti kayu bakar maupun LPG untuk kebutuhan rumah tangga tertentu. Briket biomassa memiliki nilai kalor yang cukup baik, mudah diproduksi menggunakan bahan baku lokal, serta berpotensi mengurangi limbah pertanian sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil samping pertanian.

Sebagai pendukung pemanfaatan briket tersebut, mahasiswa merancang dan membuat kompor biomassa dengan desain yang sederhana, ekonomis, dan mudah direplikasi oleh masyarakat. Kompor dirancang menggunakan material yang mudah diperoleh di pasaran dengan memperhatikan efisiensi pembakaran, kemudahan pengoperasian, serta keamanan penggunaan. Melalui desain yang sederhana tersebut, masyarakat diharapkan dapat membuat maupun mengembangkan kompor secara mandiri sesuai kebutuhan.

Mahasiswa KKN Tim 1 IDBU-42 UNDIP


Puncak kegiatan dilaksanakan melalui demonstrasi penggunaan kompor biomassa di Balai Desa Sukorejo yang dihadiri oleh karang taruna dan masyarakat setempat. Pada kegiatan tersebut, mahasiswa memperagakan proses penggunaan briket bonggol jagung sebagai bahan bakar serta menunjukkan performa kompor dalam menghasilkan panas untuk aktivitas memasak sehari-hari. Demonstrasi ini mendapat sambutan positif karena memberikan gambaran langsung mengenai pemanfaatan limbah pertanian menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan.

Melalui program kerja ini, Mahasiswa KKN Tim I IDBU-42 Universitas Diponegoro berharap inovasi teknologi tepat guna berbasis potensi lokal tidak hanya memberikan solusi terhadap permasalahan limbah pertanian, tetapi juga mampu mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemanfaatan energi alternatif yang murah, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.



Editor:
Achmad Munandar

Tim KKN-T IDBU 35 UNDIP Perkuat Kemandirian Peternak Kelinci melalui Inovasi Pakan, Pengolahan Limbah, dan Pemasaran Digital Berbasis SDGs

0



Campusnesia.co.id - Kendal – Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), SDG 15 (Menjaga Ekosistem Daratan), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan), Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 35 Universitas Diponegoro melaksanakan rangkaian program pemberdayaan peternak kelinci di Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal. Selama 45 hari pelaksanaan KKN, mahasiswa bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Anugrah Robby Pratama, S.Pt., M.Pt., drh. Siti Susanti, Ph.D., dan Prof. Yayuk Astuti, S.Si., Ph.D., menghadirkan berbagai program inovatif yang bertujuan meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, serta nilai tambah peternakan kelinci melalui penerapan teknologi tepat guna dan pemberdayaan masyarakat.

Salah satu program unggulan diwujudkan melalui kegiatan bertajuk "SINAU TERWELU: Sosialisasi Pengembangan Potensi Peternakan Kelinci" yang diselenggarakan di Aula Balai Desa Pegandon pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh 28 peternak yang tergabung dalam Kelompok Ternak Kelinci Kendal Hebat. Program ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi peternak, mulai dari manajemen pemeliharaan, penyusunan ransum sesuai kebutuhan nutrisi ternak, hingga pemanfaatan limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi. Dengan pendekatan teori dan praktik, Tim KKN-T IDBU 35 berharap peternak mampu meningkatkan efisiensi usaha, mengurangi biaya produksi, sekaligus membuka peluang sumber pendapatan baru. Upaya tersebut sejalan dengan implementasi SDG 8, yaitu mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui peningkatan kapasitas usaha masyarakat berbasis inovasi.

Materi sosialisasi disampaikan oleh Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D., Guru Besar Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Dalam paparannya, Prof. Sutaryo menjelaskan bahwa usaha ternak kelinci memiliki prospek yang sangat baik karena membutuhkan modal dan lahan yang relatif lebih kecil dibandingkan ternak ruminansia, namun memiliki tingkat reproduksi yang tinggi serta menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi.

Gambar 1. Pemaparan materi oleh Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. pada Seminar Pengembangan Potensi Peternakan Kelinci di Aula Balai Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.

Selain membahas aspek pembibitan, reproduksi, dan manajemen pemeliharaan, Prof. Sutaryo juga menekankan pentingnya penyusunan ransum yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak pada setiap fase pertumbuhan. "Penyusunan ransum harus mempertimbangkan kandungan nutrisi, ketersediaan bahan baku, dan aspek ekonomis agar mampu mendukung produktivitas ternak sekaligus menekan biaya produksi," jelas Prof. Sutaryo.

Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi, Tim KKN-T IDBU 35 melaksanakan demonstrasi pembuatan pakan komplit berbentuk pelet pada Minggu (19/7/2026) di kandang mitra milik Bapak Anton. Demonstrasi dihadiri oleh peternak anggota Kelompok Kelinci Kendal Hebat yang secara langsung mempraktikkan proses formulasi, pencampuran bahan, pencetakan, pengeringan hingga pengemasan pelet. Pakan komplit yang dikembangkan merupakan hasil formulasi dengan kandungan nutrisi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis ternak kelinci. Formula tersebut menggunakan bahan baku lokal seperti dedak padi, DDGS, molases, ampas susu kedelai, onggok, dan premix sehingga mampu menghasilkan pakan berkualitas dengan biaya yang lebih ekonomis dibandingkan pakan komersial. Pemanfaatan bahan baku lokal tidak hanya membantu menekan biaya produksi, tetapi juga memperkuat ketahanan pakan di tingkat peternak. Inovasi ini mendukung SDG 2 (Zero Hunger) melalui peningkatan produktivitas peternakan dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan sumber daya lokal secara efisien.

Tidak hanya berfokus pada penyediaan pakan, Tim KKN-T IDBU 35 juga memberikan demonstrasi pemanfaatan limbah urin kelinci menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Peternak memperoleh pendampingan mulai dari proses penyaringan urin, pencampuran bahan menggunakan EM4, molase, dan air, proses fermentasi, hingga teknik pengemasan produk agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Program pengolahan limbah ini menjadi salah satu bentuk penerapan konsep ekonomi sirkular (circular economy) di tingkat peternak. Limbah yang sebelumnya belum dimanfaatkan kini diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada sektor pertanian. Pendekatan tersebut mendukung pencapaian SDG 12 melalui pengurangan limbah dan pemanfaatan kembali sumber daya, serta SDG 15 (Life on Land) melalui penggunaan pupuk organik yang lebih ramah lingkungan dan mendukung keberlanjutan ekosistem. Program ini tidak berhenti pada proses produksi semata. Sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan, Tim KKN-T IDBU 35 juga merancang kegiatan lanjutan berupa pelatihan pemasaran digital sehingga produk pupuk organik cair yang dihasilkan peternak nantinya dapat dipasarkan melalui media sosial maupun berbagai platform marketplace. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar, meningkatkan daya saing produk lokal, serta memberikan peluang peningkatan pendapatan masyarakat. Inisiatif tersebut merupakan implementasi SDG 8, yaitu menciptakan peluang usaha yang lebih produktif melalui pemanfaatan teknologi digital.


Gambar 2. Demonstrasi pembuatan pakan komplit pelet dan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar urin kelinci oleh Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro kepada peternak.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai formulasi pakan, proses fermentasi pupuk, hingga peluang pengembangan usaha peternakan kelinci ke depan. Salah satu peserta, Bapak Muslih, mengaku sangat puas dan merasa terbantu dengan program yang dilaksanakan oleh Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro. "Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai peternak. Kami tidak hanya mendapatkan ilmu mengenai pemeliharaan kelinci, tetapi juga belajar membuat pakan sendiri yang lebih hemat serta memanfaatkan limbah menjadi pupuk yang memiliki nilai ekonomi. Pendampingan seperti ini sangat kami butuhkan. Kami berharap Universitas Diponegoro dapat terus mendampingi kelompok kami, termasuk memberikan pelatihan pengolahan pangan berbasis daging kelinci sehingga produk yang dihasilkan semakin beragam dan mampu meningkatkan pendapatan peternak," ungkapnya.

Testimoni serupa juga disampaikan oleh sejumlah anggota Kelompok Ternak Kelinci Kendal Hebat yang menilai kegiatan KKN-T IDBU 35 memberikan manfaat nyata karena materi yang diberikan langsung dapat diterapkan di lapangan. Para peternak berharap sinergi antara Universitas Diponegoro dan kelompok ternak dapat terus berlanjut melalui berbagai program pendampingan, inovasi teknologi, serta penguatan pemasaran hasil peternakan. Seluruh rangkaian kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan peternakan rakyat tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga memperhatikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berimbang. Kolaborasi antara Universitas Diponegoro, Pemerintah Desa Pegandon, narasumber, serta Kelompok Ternak Kelinci Kendal Hebat menjadi wujud nyata implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui sinergi multipihak dalam membangun masyarakat yang lebih mandiri dan berdaya saing.


Gambar 3. Foto bersama Peternak Kelinci di Aula Balai Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.

Melalui rangkaian kegiatan sosialisasi, demonstrasi teknologi pakan, pemanfaatan limbah, hingga rencana pengembangan pemasaran berbasis digital, Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro berharap peternak kelinci di Desa Pegandon semakin mandiri, mampu meningkatkan efisiensi usaha, mengembangkan produk bernilai tambah, serta mewujudkan usaha peternakan kelinci yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing di era digital.

Program ini diharapkan menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat direplikasi di berbagai daerah. Dengan mengintegrasikan inovasi teknologi, pemanfaatan sumber daya lokal, pengelolaan limbah yang ramah lingkungan, serta penguatan kapasitas sumber daya manusia, kegiatan KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro memberikan kontribusi nyata terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui peningkatan kesejahteraan peternak, penguatan ketahanan pangan, pengembangan ekonomi lokal, pelestarian lingkungan, dan pembangunan kemitraan yang berkelanjutan.



Editor:
Achmad Munandar

Dari Dapur Keluarga Menuju Generasi Sehat, Mahasiswa GIAT 16 Kesehatan FK UNNES melakukan Edukasi Gizi Balita melalui Program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) di Desa Teguhan, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan

0
Mahasiswa GIAT 16 Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang



Campusnesia.co.id - Grobogan – Mahasiswa GIAT 16 Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (UNNES) melaksanakan program DASHAT (Dapur Sehat Atasi Stunting) melalui kegiatan Kelas Balita di Aula Balai Desa Teguhan, Kecamatan Grobogan, Kabupaten Grobogan, pada Sabtu (4/7/2026). Kegiatan yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Kuliah Kerja Nyata LPPM UNNES bersama mahasiswa GIAT 16 Kesehatan FK UNNES bekerja sama dengan Pemerintah Desa Teguhan, bidan desa, dan kader Posyandu. Program tersebut bertujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai gizi balita sebagai upaya pencegahan stunting sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 2 (Tanpa Kelaparan) dan SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera). 



Program ini diikuti oleh 18 ibu balita dan perwakilan kader Posyandu Desa Teguhan. Kegiatan diawali dengan pelaksanaan pre-test untuk mengukur pemahaman awal peserta mengenai gizi balita. Selanjutnya, mahasiswa GIAT 16 Kesehatan FK UNNES memberikan edukasi tentang pentingnya pemenuhan gizi sejak dini, konsep gizi seimbang, serta penerapan Isi Piringku sesuai dengan kelompok usia balita. 


Sebagai media pendukung edukasi, mahasiswa membagikan leaflet berjudul "Balitaku Sehat & Aktif dengan Makanan Bergizi" kepada seluruh peserta. Leaflet tersebut berisi informasi mengenai kebutuhan gizi balita, frekuensi makan yang dianjurkan, pilihan makanan bergizi, makanan yang perlu dibatasi, serta tanda-tanda balita yang memerlukan perhatian khusus. Melalui leaflet ini, orang tua diharapkan dapat menerapkan pola makan sehat dan bergizi bagi balita secara konsisten di lingkungan keluarga.


Selain penyampaian materi, mahasiswa juga mengadakan demonstrasi memasak omelet sayur sebagai contoh menu bergizi yang mudah dibuat dirumah menggunakan bahan sederhana, seperti telur, bayam, dan wortel. Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh resep, tetapi juga memahami kandungan gizi setiap bahan dan cara mengolahnya menjadi menu sehat yang disukai anak.

 
Suasana kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan permainan edukatif menggunakan kartu bergambar berbagai jenis makanan. Peserta diminta mengelompokkan makanan berdasarkan jenis zat gizi sehingga materi yang disampaikan lebih mudah dipahami dan diingat. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya pertanyaan mengenai cara mengatasi anak yang sulit makan sayur maupun memilih makanan bergizi dengan biaya yang terjangkau.


Sebagai bentuk evaluasi, peserta kembali mengerjakan post-test untuk mengukur pemahaman setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Melalui program DASHAT, mahasiswa GIAT 16 Kesehatan FK UNNES  berharap para orang tua semakin memahami pentingnya pemenuhan gizi sejak dini sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai salah satu langkah pencegahan stunting.
   

Melalui program DASHAT, mahasiswa GIAT 16 Kesehatan FK UNNES tidak hanya memberikan edukasi mengenai gizi, tetapi juga mengajak masyarakat melihat bahwa pencegahan stunting dapat dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan keluarga. Penyusunan menu bergizi tidak selalu membutuhkan bahan yang mahal, melainkan dapat dilakukan dengan memanfaatkan bahan pangan yang mudah diperoleh di sekitar rumah selama kebutuhan gizi anak tetap terpenuhi.


Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, tenaga kesehatan, kader Posyandu, dan masyarakat dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi sejak dini. Dengan semangat "Bersama UNNES GIAT, Membangun Indonesia dari Desa," mahasiswa berharap pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga mendukung terwujudnya generasi yang sehat, aktif, dan berkualitas di Desa Teguhan. 


Editor:
Achmad Munandar

Tim KKN Tematik UNDIP Wujudkan Desa Manggihan yang Berkelanjutan Melalui Pembangunan Digester Biogas dan Pembuatan Pupuk Organik Cair dari Limbah Biogas

0




Campusnesia.co.id - Kabupaten Semarang - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro melaksanakan program multidisplin berupa pembangunan digester biogas dan pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dari slurry biogas di Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang. Program ini merupakan upaya nyata dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah peternakan menjadi sumber energi terbarukan sekaligus pupuk organik yang bernilai ekonomis. Kegiatan ini sejalan dengan implementasi Sustainable Development Goals (SDGs) : Energi Bersih dan Terjangkau serta SDGs : Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, yang menjadi salah satu fokus program KKN Tematik Universitas Diponegoro.


Mayoritas masyarakat Desa Manggihan menggantungkan mata pencaharian pada sector peternakan sapi. Kondisi tersebut menghasilkan limbah kotoran ternak dalam jumlah yang melimpah. Apabila tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan dan menimbulkan aroma yang mengganggu. Melihat potensi tersebut, Tim KKN Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro bersama dosen pembimbing, yaitu Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D., Anugrah Robby P., S.Pt., M.Pt., dan Bimo Suryo W., S.M, M.M., serta perangkat desa, dan masyarakat berinisiatif mengoptimalkan limbah peternakan melalui pembangunan digester biogas yang mampu mengubah kotoran ternak menjadi energi alternatif ramah lingkungan. 


Pelaksanaan kegiatan diawali dengan survei lapangan dan diskusi bersama masyarakat untuk menentukan lokasi pembangunan digester. Tahapan berikutnya meliputi penggalian tanah, pembuatan konstruksi digester, pemasangan instalasi, hingga proses penyempurnaan sistem agar siap digunakan. Seluruh proses pembangunan dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan warga setempat sehingga selain menghasilkan sarana baru, kegiatan ini juga menjadi media transfer pengetahuan mengenai teknologi biogas yang sederhana dan mudah diterapkan di tingkat rumah tangga.


Biogas yang dihasilkan nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif untuk kebutuhan memasak, sehingga mampu mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap gas LPG sekaligus menekan pengeluaran rumah tangga. Selain menghasilkan energi, proses pengolahan di dalam digester juga menghasilkan slurry, yaitu limbah cair hasil fermentasi yang masih kaya akan unsur hara dan sangat potensial dimanfaatkan sebagai pupuk organik.


Sebagai bentuk pemanfaatan hasil samping tersebut, Tim KKN Tematik IDBU 43 UNDIP melaksanakan kegiatan pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) berbahan dasar slurry biogas. Dalam kegiatan ini, masyarakat diberikan pemahaman mengenai manfaat slurry, tahapan fermentasi, proses pembuatan POC, hingga cara aplikasi pada tanaman. Pelatihan dilakukan secara interaktif melalui demonstrasi langsung sehingga masyarakat dapat memahami setiap tahapan dan mampu mempraktikkannya secara mandiri setelah program KKN berakhir.


POC yang dihasilkan diharapkan mampu menjadi alternatif pupuk yang lebih ramah lingkungan, mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, serta membantu meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas lahan pertanian. Dengan demikian, limbah peternakan yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan mendukung konsep ekonomi sirkular di tingkat desa.


Rangkaian kegiatan ditutup dengan evaluasi bersama, penyerahan hasil program kepada masyarakat, serta sesi dokumentasi bersama perangkat desa, dosen pembimbing lapangan, dan warga Desa Manggihan. Antusiasme masyarakat selama pelaksanaan kegiatan menunjukkan tingginya kepedulian terhadap pengelolaan limbah peternakan yang lebih berkelanjutan.


Melalui program pembangunan digester biogas dan pelatihan pembuatan Pupuk Organik Cair ini, Tim KKN Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro berharap masyarakat Desa Manggihan dapat terus mengembangkan inovasi yang telah diperkenalkan sehingga tercipta desa yang lebih mandiri energi, produktif, serta mampu mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan. Program ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat mampu menghadirkan solusi nyata terhadap permasalahan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.


Editor:
Achmad Munandar

Tingkatkan Kapasitas Peternak, KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro Gelar Pelatihan Budidaya Kelinci, Demonstrasi Pembuatan Pakan Komplit Pelet, dan Pengolahan Limbah Bernilai Ekonomis

0
KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro



Campusnesia.co.id - Kendal – Sebagai bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat sekaligus upaya mendukung pengembangan peternakan rakyat yang berkelanjutan, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 35 Universitas Diponegoro melaksanakan rangkaian program pemberdayaan peternak kelinci di Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal. Selama 45 hari pelaksanaan KKN, mahasiswa bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Anugrah Robby Pratama, S.Pt., M.Pt., drh. Siti Susanti, Ph.D., dan Prof. Yayuk Astuti, S.Si., Ph.D., menghadirkan berbagai program inovatif yang bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus nilai tambah usaha peternakan kelinci.

Salah satu program unggulan diwujudkan melalui kegiatan bertajuk "SINAU TERWELU: Sosialisasi Pengembangan Potensi Peternakan Kelinci" yang diselenggarakan di Aula Balai Desa Pegandon pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh 28 peternak yang tergabung dalam kelompok ternak Kelinci Kendal Hebat.

Program ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi peternak, mulai dari manajemen pemeliharaan, penyusunan ransum sesuai kebutuhan nutrisi ternak, hingga pemanfaatan limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi. Dengan pendekatan teori dan praktik, Tim KKN-T IDBU 35 berharap peternak mampu meningkatkan efisiensi usaha sekaligus membuka peluang sumber pendapatan baru.

Materi sosialisasi disampaikan oleh Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D., Guru Besar Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Dalam paparannya, Prof. Sutaryo menjelaskan bahwa usaha ternak kelinci memiliki prospek yang sangat baik karena membutuhkan modal dan lahan yang relatif lebih kecil dibandingkan ternak ruminansia, namun memiliki tingkat reproduksi yang tinggi serta menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi.

Gambar 1. Pemaparan materi oleh Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. pada Seminar Pengembangan Potensi Peternakan Kelinci di Aula Balai Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.


Selain membahas aspek pembibitan, reproduksi, dan manajemen pemeliharaan, Prof. Sutaryo juga menekankan pentingnya penyusunan ransum yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak pada setiap fase pertumbuhan. "Penyusunan ransum harus mempertimbangkan kandungan nutrisi, ketersediaan bahan baku, dan aspek ekonomis agar mampu mendukung produktivitas ternak sekaligus menekan biaya produksi," jelas Prof. Sutaryo.

Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi, Tim KKN-T IDBU 35 melaksanakan demonstrasi pembuatan pakan komplit berbentuk pelet pada Minggu (19/7/2026) di kandang mitra milik Bapak Anton. Demonstrasi dihadiri oleh peternak anggota Kelompok Kelinci Kendal Hebat yang secara langsung mempraktikkan proses formulasi, pencampuran bahan, pencetakan, pengeringan hingga pengemasan pelet.

Pakan komplit yang dikembangkan merupakan hasil formulasi dengan kandungan nutrisi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis ternak kelinci. Formula tersebut menggunakan bahan baku lokal seperti dedak padi, DDGS, molases, ampas susu kedelai, onggok, dan premix sehingga mampu menghasilkan pakan dengan kualitas yang baik namun tetap lebih ekonomis dibandingkan pakan pabrikan. Inovasi ini diharapkan dapat membantu peternak menekan biaya produksi yang selama ini didominasi oleh biaya pakan.

Tidak hanya berfokus pada pakan, Tim KKN-T IDBU 35 juga memberikan demonstrasi pemanfaatan limbah urin kelinci menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Peternak memperoleh pendampingan mulai dari proses penyaringan urin, pencampuran bahan menggunakan EM4, molase, dan air, proses fermentasi, hingga teknik pengemasan produk agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Gambar 2. Demonstrasi pembuatan pakan komplit pelet dan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar urin kelinci oleh Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro kepada Peternak


Program ini tidak berhenti pada proses produksi semata. Sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan, Tim KKN-T IDBU 35 juga merancang kegiatan lanjutan berupa pelatihan pemasaran digital, sehingga produk pupuk organik cair yang dihasilkan peternak nantinya dapat dipasarkan melalui media sosial maupun berbagai platform marketplace. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan pendapatan kelompok peternak melalui pemanfaatan teknologi digital.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai formulasi pakan, proses fermentasi pupuk, hingga peluang pengembangan usaha peternakan kelinci ke depan.

Salah satu peserta, Bapak Muslih, mengaku sangat puas dan merasa terbantu dengan program yang dilaksanakan oleh Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro. "Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai peternak. Kami tidak hanya mendapatkan ilmu mengenai pemeliharaan kelinci, tetapi juga belajar membuat pakan sendiri yang lebih hemat serta memanfaatkan limbah menjadi pupuk yang memiliki nilai ekonomi. Pendampingan seperti ini sangat kami butuhkan. Kami berharap Universitas Diponegoro dapat terus mendampingi kelompok kami, termasuk memberikan pelatihan pengolahan pangan berbasis daging kelinci sehingga produk yang dihasilkan semakin beragam dan mampu meningkatkan pendapatan peternak," ungkapnya.

Testimoni serupa juga disampaikan oleh sejumlah anggota Kelompok Kelinci Kendal Hebat yang menilai kegiatan KKN-T IDBU 35 memberikan manfaat nyata karena materi yang diberikan langsung dapat diterapkan di lapangan. Para peternak berharap sinergi antara Universitas Diponegoro dan kelompok ternak dapat terus berlanjut melalui berbagai program pendampingan, inovasi teknologi, serta penguatan pemasaran hasil peternakan.

Melalui rangkaian kegiatan sosialisasi, demonstrasi teknologi pakan, pemanfaatan limbah, hingga rencana pengembangan pemasaran berbasis digital, Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro berharap peternak kelinci di Desa Pegandon semakin mandiri, mampu meningkatkan efisiensi usaha, mengembangkan produk bernilai tambah, serta mewujudkan usaha peternakan kelinci yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing di era digital.


Editor:
Achmad Munandar

KKN Internasional di Malaysia, Mahasiswa Universitas iVET Semarang Edukasi Mitigasi Gempa Lewat Komik "Ayo Siaga Gempa"

0
KKN Internasional di Malaysia, Mahasiswa Universitas iVET Semarang Edukasi Mitigasi Gempa



Campusnesia.co.idSemarang - Dua mahasiswa Universitas iVET (Unisvet) Semarang berhasil mengimplementasikan inovasi edukasi kebencanaan melalui komik "Ayo Siaga Gempa" dalam Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional "Mangunsari Goes Abroad" di Selangor, Malaysia. Program yang diselenggarakan melalui kolaborasi LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah bersama Forum Kerja Sama (FORKAMA) Perguruan Tinggi Jawa Tengah tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk melaksanakan pengabdian masyarakat sekaligus memperkuat kompetensi global.

Mahasiswa yang mengikuti program tersebut adalah Risas Dika Maulana dari Program Studi Administrasi Kesehatan dan Alan Firos dari Program Studi Pendidikan Geografi. Selama kurang lebih satu bulan, keduanya bersama peserta dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia melaksanakan pengabdian masyarakat di sejumlah Sanggar Belajar Indonesia (SBI) di Malaysia, yang menjadi pusat pendidikan bagi anak-anak Warga Negara Indonesia (WNI). Program KKN Internasional "Mangunsari Goes Abroad" memang dirancang untuk memperkuat pengalaman belajar mahasiswa sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia di luar negeri.

Dalam kegiatan tersebut, Risas dan Alan mengangkat program kerja bertajuk edukasi mitigasi gempa melalui komik "Ayo Siaga Gempa". Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesiapsiagaan anak-anak terhadap potensi bencana gempa bumi melalui media pembelajaran yang interaktif, komunikatif, dan mudah dipahami.

Komik "Ayo Siaga Gempa" memuat cerita sederhana mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi. Dengan ilustrasi berwarna dan bahasa yang sesuai dengan usia anak, materi mitigasi bencana disampaikan secara menarik sehingga lebih mudah dipahami. Setelah sesi membaca komik, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi interaktif serta simulasi penyelamatan diri ketika terjadi gempa, sehingga peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mempraktikkan tindakan penyelamatan secara langsung.

Risas Dika Maulana mengatakan bahwa pendekatan edukasi melalui komik dipilih agar materi kebencanaan tidak terasa membosankan bagi anak-anak.

"Kami ingin mengenalkan mitigasi gempa dengan cara yang menyenangkan. Melalui komik 'Ayo Siaga Gempa', anak-anak lebih mudah memahami bagaimana bersikap tenang dan melakukan langkah penyelamatan ketika terjadi gempa. Antusiasme mereka selama kegiatan menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan media edukasi yang kreatif," ujarnya.

Sementara itu, Alan Firos menilai pengalaman mengikuti KKN Internasional memberikan banyak pembelajaran, baik dari sisi akademik maupun pengembangan karakter.

"Program ini mengajarkan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak mengenal batas negara. Kami belajar beradaptasi dengan lingkungan baru, menghargai perbedaan budaya, bekerja sama dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, sekaligus menerapkan ilmu yang kami pelajari untuk memberikan manfaat kepada masyarakat," katanya.

Selama mengikuti program, kedua mahasiswa juga terlibat dalam berbagai kegiatan pendidikan, sosial, dan pertukaran budaya bersama masyarakat Indonesia di Malaysia. Pengalaman tersebut tidak hanya memperluas wawasan internasional, tetapi juga mengasah kemampuan komunikasi lintas budaya, kepemimpinan, kolaborasi, dan pemecahan masalah di lapangan.

Keikutsertaan mahasiswa Universitas iVET Semarang dalam KKN Internasional didampingi oleh Restu Ayu Eka Pustika Dewi, S.Si.T., M.Biomed., dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas iVET Semarang. Sebagai dosen pendamping, beliau memberikan arahan, pembinaan, serta pendampingan selama pelaksanaan program agar setiap kegiatan pengabdian berjalan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sasaran.

Universitas iVET Semarang melalui Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Raditya Achmad Rifandi, S.Ling., M.Ling,terus mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti berbagai program internasional sebagai bagian dari implementasi kebijakan internasionalisasi kampus. Melalui kegiatan seperti KKN Internasional, mahasiswa diharapkan memperoleh pengalaman belajar lintas negara, memperluas jejaring akademik, serta meningkatkan kapasitas sebagai lulusan yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global.

Keberhasilan Risas Dika Maulana dan Alan Firos menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas iVET Semarang mampu berkontribusi di tingkat internasional melalui inovasi yang sederhana namun berdampak. Edukasi mitigasi gempa melalui komik "Ayo Siaga Gempa" diharapkan dapat menumbuhkan budaya sadar bencana sejak dini sekaligus menjadi inspirasi bagi pengembangan media pembelajaran kebencanaan yang kreatif dan mudah diterapkan di berbagai lingkungan pendidikan.



Editor:
Achmad Munandar

Praktik Pembuatan Tepung Kulit Bawang Putih

0



Campusnesia.co.idPada hari Jum’at bertempat di rumah Ibu ketua RT 02 telah dilaksanakan kegiatan praktik pembuatan Tepung Kulit Bawang Putih yang diikuti oleh ibu PKK RT 02 di RW 05 Kelurahan Gunungpati Kota Semarang.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada peserta dalam memanfaatkan limbah rumah tangga dan pertanian. Selain itu, dapat meningkatkan efisiensi usaha peternakan skala rumah tangga serta mendorong sistem peternakan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. 

Kegiatan diawali dengan penjelasan materi mengenai manfaat limbah kulit bawang putih serta tahapan proses pembuatannya. Selanjutnya, peserta melakukan praktik langsung dengan menggiling lalu menyaring dengan saringan mess 40/60. Pengaplikasian tepung kulit bawang sebanyak 1% dari pakan yang diberikan.

Materi yang disampaikan oleh mahasiswi KKN Tematik Tim 15 Tabina Ara Bastari mengenai kulit bawang putih dipandang sebagai limbah rumah tangga dan pertanian yang menimbulkan bau tidak sedap, serta pencemaran lingkungan. Kulit bawang putih telah dilaporkan dapat sebagai pakan tambahan (feed additive) karena mengandung antioksidan berupa 35,99 mg/g polifenol, 14,60 mg/g flavonoid, dan 0,59 mg/g alisin. 

Ayam kampung memiliki karakter kanibal (suka mematuk teman sendiri hingga luka), Kanibalisme biasanya dipicu oleh stres lingkungan, defisiensi nutrisi, dan luka yang terbuka (warna merah darah memancing ayam lain). Kandungan pada kulit bawang putih memliki potensi untuk menanggulangi permasalah tersebut, karena polifenol berperan sebagai antioksidan yang mampu menekan stres oksidatif sehingga ayam menjadi lebih tenang dan tidak mudah agresif. 

Flavonoid membantu menstabilkan hormon stres, meningkatkan sistem imun, dan memperbaiki kesehatan kulit dan bulu sehingga mengurangi pemicu ayam saling mematuk. Alisin berfungsi sebagai antibakteri dan imunostimulan yang meningkatkan penyerapan nutrisi dan mempercepat penyembuhan luka sehingga dapat menekan perilaku kanibalisme pada ayam kampung. 
 

Hal ini ditambahkan oleh DPL KKN Tematik Nur Maulida Wahyuni, S.Pt., M.Pt. bahwa Kulit bawang putih merupakan limbah pertanian yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ayam karena mengandung senyawa bioaktif seperti polifenol, flavonoid, dan alisin yang bersifat antioksidan dan antimikroba. 

Pemanfaatan kulit bawang putih dalam pakan dapat membantu menekan bakteri patogen di saluran pencernaan, meningkatkan kesehatan usus, serta mendukung sistem imun ayam.Dengan pengolahan yang tepat, seperti pengeringan, penghalusan, atau fermentasi, kulit bawang putih dapat diaplikasikan sebagai feed additive alami yang ramah lingkungan. Penggunaan bahan ini juga berkontribusi mengurangi limbah organik sekaligus menekan ketergantungan terhadap antibiotik sintetis dalam usaha peternakan ayam.

Peserta tampak antusias mengikuti kegiatan ini dan aktif bertanya selama proses praktik dan pendampingan. Diharapkan melalui kegiatan ini, peserta dapat menerapkan kulit bawang putih diolah secara mandiri untuk mendukung kelestarian lingkungan dan kemandirian.

Kegiatan yang dilakukan oleh   KKN Tematik 1 TIM 15 UNDIP  2026 dilaksanakan untuk mendorong masyarakat yang produktif dan mandiri dalam meningkatkan ketahanan pangan.



Editor:
Achmad Munandar