Campusnesia.co.id - Kalau istilah Kota Pelajar selama ini melekat dengan Yogyakarta, nampaknya Tembalang sebuah nama Kelurahan dan Kecamatan di Semarang juga layak mendapat gelar yang sama.
Bagaimana tidak di daerah ini terdapat beberapa kampus yang kalau ditotal punya ratusan ribu mahasiswa aktif, sebut saja ada kampus Universitas Diponegoro (Undip), Politeknik Negeri Semarang (Polines), Universitas Pandanaran (Unpand) dan Politeknik Kesehatan Semarang (Poltekkes Kemenkes).
Geser sedikit ke arah Barat ada tetangga kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes), Universitas Katolik Soegijapranata (Unika) dan Universitas 17 Agustus (Untag) sementara kalau geser ke Timur ada Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) dan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas).
Mengutip laman undip.ac.id tahun 2026 ini setidaknya mereka menerima 16.267 mahasiswa baru, sebut saja ada empat angkatan aktif di kampus maka setidaknya ada 60.000-an mahasiswa di Tembalang, angka tersebut baru dari satu kampus belum yang lainnya. Jumlah maba Polines tahun 2026 sebanyak 2.828 mahasiswa dan Unnes sebanyak 11.996 mahasiswa.
Kenaikan biaya pendidikan dan biaya hidup di perguruan tinggi dalam beberapa tahun terakhir membuat banyak mahasiswa harus pintar-pintar mengatur keuangan serta mencari celah agar tetap survive selama menjadi mahasiswa.
Hal tersebut melahirkan kultur baru yang menurut saya unik, sebagai informasi saya tinggal di Tembalang sejak tahun 2007 hingga 2024. Selama periode tersebut saya banyak mengamati tentang bagaimana perubahan kreativitas mahasiswa dalam mencari cuan, baik sekedar iseng mencari tambahan uang jajan hingga yang memang benar-benar mencari uang untuk bertahan hidup dan membiayai kebutuhan perkuliahan.
Dahulu cara-cara yang lazim digunakan oleh rekan-rekan saya misalnya menjadi tentor bimbingan belajar baik yang ikut lembaga bimbel atau membuka jasa les privat. Ada juga yang menjadi penjaga warnet, profesi sampingan ini jadi favorit karena bisa sekalian browsing gratis di era menjelajah dunia maya masih mahal harganya.
Hari ini cara-cara mencari cuan tambahan berevolusi dan ada rasa kagum dalam hati saya melihat kreatifitas mereka, seolah “kok bisa ya kepikiran ide seperti itu?”. Nah apa saja? Mari kita bahas satu persatu.
1. Anjem
Anjem merupakan singkatan dari kata “Antar Jemput” yaitu jasa mengantar dan menjemput layaknya ojek online. Jasa ini lahir karena kebutuhan transportasi mahasiswa yang tidak punya kendaraan sendiri untuk bepergian baik berangkat dan pulang kampus maupun ke tempat-tempat sekitar Tembalang dan Semarang. Maklum sejak era ojek online di Tembalang sudah tidak ada lagi angkot, oh ya ini juga sekilas info buat teman-teman yang mungkin maba, dahulu Tembalang juga punya angkot, warnanya Kuning.
Jasa Anjem biasanya ditawarkan di sosial media Twitter yang kini berganti menjadi X dengan menfessnya. Kalau dari pengamatan saya, suburnya jasa Anjem ini karena mahasiswa menganggap tarif ojek online terlalu mahal untuk jarak yang tidak seberapa. Asal tahu saja selisih harga beberapa ribu sangat berarti bagi mahasiswa rantau.
Dari sisi penyedia jasa, Anjem jadi peluang menghasilkan cuan sampingan untuk mahasiswa yang memang butuh uang tambahan atau sekedar mengisi waktu luang seperti mahasiswa akhir yang tinggal skripsi dan banyak gabutnya di kosan.
2. Jastip
Jastip adalah kepanjangan dari “Jasa Titip” masih berkelindan dengan Anjem dan merupakan evolusi yang tumbuh bersamaan. Umumnya pelaku Jastip juga orang yang sama yang menyediakan jasa Anjem, dalam bahasa Tembalang disebut “Ngiras-ngirus” atau sekalian.
Lahirnya Jastip menurut saya juga bagian dari respon atas mahalnya biaya layanan pemesanan makanan online yang sekarang tidak masuk akal. Bagaimana tidak untuk warung atau resto dengan jarak gak sampai 5 menit jalan harga makanannya bisa selisih 5.000-10.000 ditambah biaya admin yang juga tinggi sekali.
Namun hal ini tidak bisa disalahkan kepada pemilik warung saja, karena hal tersebut terjadi juga akibat biaya admin dari platform pemesanan makanan online yang kian mahal.
Jastip berkembang tidak melulu tentang pemesanan makanan juga hal lainnya, pernah saya mendapati sebuah postingan tentang permintaan tolong Jastip mengantarkan tugas kuliah yang ketinggalan, menarik dan unik.
3. Preloved
Jika mahasiswa jaman dulu familiar dengan istilah “Awul-awul” atau lapak yang menjual baju bekas, sekarang usaha sejenis ganti nama yang lebih keren yaitu “Thrifthing”. Konsepnya masih sama menjual barang second atau bekas namun masih layak pakai, umumnya kedua istilah di atas digunakan untuk barang berupa baju dan pakaian.
Kini muncul fenomena serupa namun untuk barang yang jenisnya lebih umum mulai dari kipas angin, rice cooker, sapu, ember, gayung dan lain sebagainya yang biasanya masuk kategori perlengkapan di kosan dengan nama preloved.
Dari pengamatan saya, istilah preloved ini muncul karena mahasiswa yang sudah lulus dan harus pulang enggan membawa pulang perabotan di kosan yang selama ini digunakan. Karena masih layak pakai jadi sayang kalau dibuang, iseng posting di Twitter ternyata ada peminatnya jadilah cuan.
Memang harga jualnya tidak sebanding dengan harga beli di awal, tapi sekali lagi daripada ribet harus dibawa pulang kenapa gak dijadikan uang saja?
Bagi pembeli yang umumnya juga mahasiswa, produk-produk preloved kebutuhan kost ini jadi incaran karena bisa memiliki barang yang dibutuhkan dengan harga yang terjangkau walau tidak baru lagi, tapi yang menarik nyaris gak ada gengsi disini, maka saya coba menebak memang mode bertahan hidup mahasiswa sekarang sangat kreatif.
Ngomongin preloved ini pembaca akan sangat terkesima karena berkembang dari perlengkapan kosan juga merambah ke barang-barang pakaian dan per skincare-an dari serum, lotion dan lain sebagainya. Sudah pernah digunakan, masih ada sisa, ditawarkan dan ada peminatnya.
Pernah juga viral di menfess Undip, ada yang preloved brownies amanda yang sudah dimakan sebagian yang sampai sekarang jadi urban legend di Tembalang.
4. Jasa Survey Kos
Ribuan mahasiswa baru yang datang ke Tembalang setiap tahun membuat bisnis kosan jadi idaman. Pelakunya tidak hanya warga lokal kini banyak dari kosan eksklusif di sana banyak dimiliki oleh pemodal dari luar daerah.
Lokasi, harga dan fasilitas yang beragam membuat maba dan orang tua harus selektif dalam memilih kosan yang akan ditinggali setidaknya 3,5 hingga 4 tahun kedepan selama kuliah. Sayangnya mencari kos yang ideal memang tidak mudah dan bakal butuh effort banget jika harus meluangkan waktu menyusuri ratusan kosan yang ada.
Nah, kondisi di atas memunculkan peluang cuan baru yang disebut Jasa Survey Kosan. Dengan jasa ini kita akan diberikan informasi tentang lokasi, fasilitas dan harga sebuah kosan dengan kriteria awal dari klien, misal cari kosan cewek, kamar mandi dalam, ac budget 1 jutaan.
Klien pengguna jasa survey harus membayar beberapa puluh ribu untuk mendapatkan informasi di atas, biasanya ada beberapa alternatif. Jika cocok bisa langsung DP atau pembayaran.
Selain mendapatkan bayaran dari klien, penyedia jasa survey juga biasanya bakal dapat komisi dari pemilik kosan karena telah dibantu memasarkan. Menarik bukan? Fenomena ini sudah seperti agen properti saja, tapi dijalankan oleh mahasiswa sebagai pemasukan tambahan.
5. Pinpri
Pinpri kepanjangan dari “Pinjaman Pribadi”, sebagai disclaimer yang terakhir ini agak berisiko dan mungkin abu-abu di mata norma masyarakat dan agama jadi harap baca dengan bijak.
Tidak bisa dipungkiri mahalnya biaya pendidikan dan biaya hidup di perguruan tinggi sering jadi masalah keuangan bagi sebagian mahasiswa dan orang tua. Mahalnya UKT, kosan yang harus dibayar, biaya makan sehari-hari, belum lagi jika banyak tugas kuliah dan lain sebagainya.
Biasanya solusi paling mudah adalah pinjam teman, namun tidak semua mahasiswa punya privilege memiliki teman yang punya uang lebih. Dalam kondisi kepepet kadang solusi pinjam ke orang asing harus dilakukan.
Dari fenomena di atas munculah orang-orang yang menawarkan Pinpri atau Pinjaman Pribadi. Sayangnya praktek pinjam meminjam uang ini sudah seperti (maaf) rentenir karena bunga yang dikenakan sangat tinggi dengan jangka waktu yang sangat pendek, dari harian hingga mingguan.
Saya juga sering mendapati beberapa postingan di Twitter yang mempertontonkan bagaimana cara-cara penagihan yang ngeri, pemberi pinjaman Pinpri sampai mengupload KTP dan data diri peminjam.
Jadi buat pembaca, harap bijak sebelum mengambil keputusan untuk mencoba jasa yang satu ini.
Baik demikian tadi sobat pembaca tulisan saya kali ini tentang 4 Bisnis di Tembalang Semarang yang Lahir karena New Culture Mahasiswa. Saya sangat mengapresiasi rekan-rekan yang sejak masih mahasiswa sudah mau belajar bekerja untuk mendapat penghasilan, baik untuk biaya kuliah, biaya kehidupan kos untuk membantu meringankan beban orang tua atau sekedar mencari pengalaman menempa mental dan cari cuan buat tambahan jajan.
Namun kalau boleh memberi saran jangan pernah lupa bahwa tujuan awal datang ke Tembalang adalah untuk kuliah, pastikan selesai hingga menjadi sarjana agar orang tua bangga, jangan sampai terlena karena merasa sudah bisa mandiri menghasilkan uang sendiri kemudian lupa tujuan awalnya. Tetap semangat.
Penulis:
Achmad Munandar
Mas-mas full-time blogger dari Kab. Pati
yang suka menulis di Campusnesia
17 tahun tinggal di Tembalang Semarang.