campusnesia.co.id - Ada masanya saya semangat sekali membuat blog dan membelikannya top level domain karena kesuksesan blog pertama campusnesia.co.id. Beberapa kali gajian 4,5jt dalam sebulan mendorong saya untuk membuat blog lain dengan harapan bisa mengulang keberhasilan blog pertama.
Tanpa terasa, setidaknya 8 blog lain terlahir dan semuanya menyandang top level domain yang berbeda-beda, ada yang .com, .id hingga .co. Sebagai informasi kala itu satu harga domain .com kisaran Rp150.000, .id Rp200.000, co.id Rp300.000 dan .co seharga Rp400.000.
Seiring berjalannya waktu, dalam setahun harus mengeluarkan uang beberapa kali untuk memperpanjang masa aktif domain dan setelah dihitung-hitung ternyata lumayan juga.
Logika bisnis di awal paragraf yang coba menduplikasi kesuksesan blog pertama tak kunjung datang, ditambah dirasa mulai kewalahan dalam menulis konten di setiap blog yang berbeda temanya serta tentu saja hitung-hitungan bisnis yang mulai jadi beban akhirnya tinggal beberapa domain saja yang saya pertahankan.
Logika bisnis di awal paragraf yang coba menduplikasi kesuksesan blog pertama tak kunjung datang, ditambah dirasa mulai kewalahan dalam menulis konten di setiap blog yang berbeda temanya serta tentu saja hitung-hitungan bisnis yang mulai jadi beban akhirnya tinggal beberapa domain saja yang saya pertahankan.
Bagaimana nasib website lainnya? customisasi alamat domainnya saya hapus dan mengembalikannya jadi blog biasa dengan domain gratisan bawaan Google.
Subdomain Jadi Solusi
Sedari lama sebenarnya saya sudah terpikir sebuah solusi yaitu membuat subdomain. Blog atau website berbeda namun alamat domainnya menginduk ke web utama. Sobat mungkin sering menemui section khusus di web besar seperti detik.com yang punya sport.detik.com khusus olahraga atau food.detik.com khusus tentang makanan.
Namun rencana tersebut tak segera saya eksekusi karena dua hal. Pertama belum tahu bagaimana caranya dan kekhawatiran bahwa subdomain bakal menggerus skor domain authority dan page authority domain utamanya.
Setelah mempelajari lebih lanjut, dua kekhawatiran saya tersebut terjawab. Ternyata subdomain tidak berpengaruh terhadap skor domain authority dan page authority domain utama.
Caranya ternyata mudah, tinggal masuk ke "dns manager" lalu "add new record" masukan alamat subdomain misal "store" yang akan menginduk ke domain campusnesia.co.id dan selanjutnya masukkan hosting. Berikutnya masukan hostname dan tujuannya.
Seperti biasa alamat web baru akan melalui proses propagasi, umumnya membutuhkan waktu beberpa menit hingga beberpa jam untuk live dan bisa diakses secara online.
Solusi dub domain ini jadi penyelamat blog saya yang selama ini tidak punya top level domain karena sebelumnya tidak saya perpanjang dengan alasan biaya.
Sekedar sharing berikut daftar web utama saya:
1. Campusnesia.co.id
2. Loetju.id
3. Wirausahanesia.com
Daftar subdomainnya:
1. Store.campusnesia.co.id
2. World.campusnesia.co.id
3. Tani.wirausahanesia.com
4. Tembalang.loetju.id
5. Cinema.loetju.id
6. Pati.loetju.id
Sebelum saya akhiri tulisan kali ini, ada satu lagi manfaat subdomain yang saya temukan terkait adsense. Sudah jadi rahasia umum bahwa mendaftarkan web baru ke program Google Adsense tidaklah mudah, namun jika sobat sudah punya web utama yang diterima oleh Google Adsense kemudian membuat subdomain dan memasang kode iklan yang sama dari induk domain, maka iklan adsense otomatis akan muncul di subdomain.
Hal ini bisa jadi peluang tambahan penghasilan dari Google Adsense, alih-alih mendaftarkan sendiri alamat web baru yang belum tentu langsung diterima. Kalau tentang berapa banyak uang yang bisa dihasilkan, kembali lagi tergantung seberapa besar traffic kunjungan ke web sub tadi.
Oke demikian tulisan kali ini tentang Manfaat Subdomain untuk Menghemat Biaya Perawatan Website dan Peluang Tambahan Penghasilan dari Google Adsense. Semoga bermanfaat sampai jumpa.
Penulis
Nandar












.jpeg)
