7 Pelajaran Bisnis yang Bisa Dipetik dari Drama Korea Start-Up



Campusnesia.co.id – Nasehat bijak mengatakan, inspirasi bisa datang darimana saja, sebagai manusia yang selalu ingin menjadi lebih baik kita harus selalu terbuka untuk semua kemungkinan hadirnya ide bahkan dari hal yang sederhana dan tak lazim.

Dari nasehat bijak di atas, bahkan ketika menonton drama korea kita juga bisa mengambil inspirasi dan ide-ide segar untuk kehidupan atau bisnis, selain tentu saja sisi hiburannya.

Dalam artikel lain, saya pernah menulis 7 Pelajaran Bisnis yang Bisa Dipetik dari Drama Korea Itaewaon Class (bisa dbaca di sini), bahkan saya mengklaim keberanian membuka sebuah warung Bubur kacang hijau juga terinspirasi dari drama tesebut (baca di sinigara-gara drama korea itaewon class pemuda ini nekat buka warung burjo. Untung saya gak nonton drama the word of the married bisa bahaya ha ha  bercanda.

Saat artikel ini ditulis, saya sedang mengikuti drama korea yang dibintangi oleh Bae Suzy, Nam Joo Hyuk, Kim Seon Ho dan Kang Ha Na berjudul Start-Up yang menceritakan perjuangan tokohnya  dalam merintis bisnis digital atau kita kenal sebagai Start-Up.

Saya sangat Exited sekali dengan drama ini, pilihan tema yang diangkat sangat kekinian atau bisa dibilang agak telat jika kita menilik perkembangan dunia start-up yang sangat pesat baik di Korea, Indonesia dan dunia. Tetapi memproduksi sebuah drama kan tidak semudah membuat sinetron kejar  tayang di negara kita, jadi saya maklum kalau baru sekarang ada drama yang secara explisit mengangkat tema dunia bisnis start-up, tentu saja ada bumbu drama dan cinta itu sudah pasti.

Saking antusiasnya saya dengan drama start-up ini, untuk kali pertama dalam sejarah menonton drakor sambil memegang pensil dan note kecil untuk mencatat istilah-istilah dunia bisnis start-up yang disebutkan dalam dialog antar tokoh, sejauh ini sudah ada 21 istilah yang saya temukan bisa dibaca di sini 21 istilah bisnis start up dalam drama startup (baca di sini)

Oke sesuai judul, dalam artikel kali ini, penulis akan membahas 7 pelajaran bisnis yang bisa dipetik dari drama korea start-up, apa saja? Ini daftarnya.

1. Mulai saja dulu
Salah satu tantangan dalam memulai sesuatu yang baru adalah kekhawatiran dan ketakutan dalam melakukan langkah pertama, ibarat bayi yang baru pertama berjalan. Banyak pertimbangan dan perhitungan itu baik, tetapi kalau porsinya terlalu banyak sering kali justru jadi penghambat. Jadi solusinya mulai saja dulu.

Seo Dal Mi, Nam Do san dan wo in jae membuktikan pelajaran pertama ini, mereka memutuskan hal nekat dengan keluar dari zona nyaman di pekerjaan sebelumnya dan mempraktekan “mulai saja dulu” ibarat berjalan kita tidak pernah tahu kedepan jalan kita sudah benar salah tanpa memulainya, kalaupun setelah berjalan ternyata gagal atau menemukan jalan buntu setidaknya kita tahu, itu bukan jalan yang benar dan bisa memilih jalan lain yang lebih baik. Istilah dalam dunia start-upnya validasi, dari sebuah ide dan hipotesis perlu diuji atau divalidasi di lapangan dengan melaksanakan ide kita, dari sana akan ada konfirmasi, evaluasi dan perbaikan. Mantab.

Iklan


2. Model Bisnis yang Menguntungkan
Ide sebuah bisnis startup tentu wajib kreatif dan ada sentuhan teknologi informasinya, tetapi satu hal yang bisa kita pelajari dari perjalanan kisah Samsan Tech yang digawangi oleh nam do san, Ki yong san dan lee chul san dengan produk kamera Ai nya, bahwa canggih dan kreatif saja tidak cukup. Untuk menjaga keberlangsungan bisnis, mengembangkan bisnis kudu ada investor yang masuk mendanai sebuah start-up. Memang ada pilhan lain yaitu bootstrap atau menggunakan dana pribadi founder, namun jika modal usahamu cekak tentu akan cepat habis dan berkahir sudah bisnis impianmu. 

Hal penting yang akan dilihat investor ketika hendak menaruh uangnya di bisnis startup mu  adalah seperti apa model bisnisnya, seberapa besar dibuhtukan pasar, seberapa cepat dan besar akan tumbuh, ujung-ujungnya bagaimana cara monetise agar menghasilkan revenue atau keuntungan serta berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Walau tidak semua investor baik yang pribadi atau angel investor maupun beberapa venture capital harus menunggu sebuah bisnis startup BEP dan mengashilkan laba untung (karena ada jalan lain yaitu menjual sebagian saham saat ada penggalangan dana baru atau exit) tetapi tetap model bisnis tidak kalah penting dibanding ide dan kecanggihan produk atau jasanya itu sendiri. 

Namanya juga bsisnis pasti targetnya untung, wajar, kalau enggak mungkin lebih cocok jadi lembaga nirlaba. Bahkan sekelas Kitabisa tetap ada sisi hitungan bisnisnya setidaknya margin 5% dari crowdfunding yang terhimpun melalui platform bisa menutup biaya operasional, gaji karyawan dan memperpanjang nafas perusahaan.

3. Berbagi peran dalam perusahaan

Kodrat manusia adalah hidup berdampingan, bekerja sama dan saling membantu. Bahkan seroang superman saja butuh Justice League untuk melawan steppenwolf apalagi kamu. Tidak dalam konteks meremehkan tetapi intinya adalah kita harus berbagi peran sesuai dengan kelebihan dan keahlian masing-masing agar bisnis yang kita kelola menjadi lebih berkembang.

Gak percaya? Nam do san dkk memang jago coding tapi lihat selama 2 tahun mereka gagal memperoleh pendanaan dari investor (selain bapaknya) karena tertalu asyik membuat produk tapi lupa meikirkan sisi bisnisnya.

Seperti nasehat han ji pyong, nam do san dkk perlu merekrut seorang CEO yang kalau perlu tak paham tentang coding pun tak masalah. Benar saja nasehat pak han dan teori saya tentang berbagi peran benar adanya, mereka berhasil lolos dalam ajang Hackathon yang digelar oleh Sandbox setelah merekrut Dal Mi sebagai seoarang SEO yang berperan sebagai dirigen menyatukan kemampuan berbeda dari nam do san dkk dengan keahlian codingnya, jeong sa ha yang pinter desain grafis dan sentuhan sisi bisnis dari seo dal mi.

4. Komunikasi  efektif dan presentasi yang baik
Pelajaran selanjutnya adalah tentang kemampuan komunikasi, sekali lagi saya ada dipihak pak han ji pyeong yang lebih percaya dal mi adalah orang yang tepat untuk mempresentasikan ide start up mereka ketimbang nam do san sendiri yang sorry to say payah dalam hal komunikasi publik.

Presentasi yang kuat di awal, latar belakang  masalah yang reasonable, penyampaian data yang valid dan kredibel, solusi yang dibutuhkan masyarakat dan sentuhan bisnis tersaji dalam presesntasi apik dal mi selama 3 menit saat menyajikan ide mereka di hadapan dewan juri hackathon. 

Off Course berkat bantuan pak han ji Pyeong, tetap saja point komunikasi yang efektif dan teknik presentasi yang baik sangat berpengaruh dalam penyampaian ide ke khalayak. Kita harus tahu apa kelebihan dari produk dan jasa kita dan menyampaikan dengan cara yang gamblang ke masyarakat agar mudah dipahami. Kadang terjebak dalam ide-ide kreatif dan bahasa yang ndakik-ndakik sehingga pesan pentingnya justru tidak sampai ke publik. Sayang sekali.

5. Cari Investor atau jadi Investor

Sudah saya singgung di awal, peran investor baik yang angel investor mapupun VC sangatlah penting dalam dunia start-up. Selain untuk memperpanjang nafas perusahaan juga sangat diperlukan untuk mengembangkan sebuah bisnis start-up.

Dana-dana yang masuk dari para investor ini akan terakumulasi sebagai valuasi di sebuah perusahaan startup, lalu muncullah berbagai istilah seprti pra seri A, B, dan C lalu Unicorn seperti Tokopedia, Decacorn seperti Gojek hingga Hectacorn seprti Googlr.

Perlu dicatat investor ini tidak cuma-Cuma dala berinvestasi artinya mereka juga ingin untung atas dana yang ditanam, so sebagai pemilik bisnis startup makin besar investasi yang masuk makin besar tanggung jawabnya. Hati-hati dalam menghitung valuasi, menggunakan uang investasi dan menjalankan perusahaan setelah mendapat kucuran dana, sudah banyak contoh startup besar yang bubar atau rugi setelah mendapat pendanaan besar, sebut saja wework, penyewaan sepeda di China Ofo, Airy dan Hooq.

Atau kalau saya sendiri justru lebih tertarik mengikuti jejak pak han Ji Pyeong dengan SH Capital Ventures nya, menghimpun dan mengelola dana dari masyarakat kemudian berinvestasi pada startup-startup yang menurutnya bagus secara ide dan menguntungkan secara model bisnis. 

Dengan peran ini pak Han telah membantu para entrepreneur pemula mewujudkan bisnisnya dan memungkinkan untuk lebih berkembang jadi besar serta tidak kalah penting, dalam konsep investasi artinya akan ada dana yang mengalir dari pemilik modal ke pelaku usaha, menggerakkan ekonomi dan ada lapangan kerja yang terbuka. 

Point ini jarang terfikirkan oleh mereka yang meyebut diri mereka investor, tidak sedikit yang tujuannya hanya mendapatkan keuntungan seata tanpa melirik impact sosial kebermanfaatan yang bisa dihasilkan.

Ah kamu bisanya Cuma ngomong saja mas, eits jangan salah, saya punya VC juga lho, walau secara skala belum sebesar milik pak han ji Pyeong ha ha, namanya YN capital venture, baca di sini. Jadi wajar kalau penulis lebih nge-fan sama pak Han ji Pyeng daripada Na Do san haha.

6. Mentor dalam Bisnis

Pak han yang tadinya paling males menjadi mentor, tahun ini turun gunung langsung dan mau menjadi mentor, tidak lain sebabnya karena tak ingin Dal Mi dan timnya gagal masuk Sandbox.  Selain untuk membalas kebaikan budi sang nenek padanya, juga tentu saja love interest yang pak han belum sadari.

Terlepas dari penggambaran peran mentor dalam drama startup, dalam dunia nyata peran seorang mentor untuk seorang CEO atau pemilik usaha sangatlah penting.  Sangat beruntung jika kamu punya mentor yang cuma-Cuma karena ia seroang teman atau senior di kampus karena di luar sana tidak sedikit para founder, ceo dan owner bisnsi harus membayar untuk sesi coaching dengan seorang mentor.

Saya sendiri beruntung, tahun 2013 lolos dalam program mentoring bisnis selama 6 bulan dari program Wirausaha Muda Mandiri dari Bank Mandiri (WMM) mewakili Loetju.com, setiap 2 pekan sekali harus ke jogja untuk sesi tatap muka dan sepekan sekali monitoring via telepon bersama mentor. 

Berbeda dengan teaching yang cenderung satu arah, coaching lebih menitik beratkan kepada Mentee atau pihak yang didampingi. Mulai dari masalah apa yang dihadapi, solusi apa yang kira-kira bisa dilakukan tanpa ada kesan mendikte. 

Hal lain yang menarik dari kegiatan mentoring bisnis adalah, mayoritas mentor adalah praktisi dalam bidangnya masing-masing, ada yang  expert dalam pemasaran, keuangan atau bisnis serupa yang sudah jauh lebih sukses.

Dengan demikian nasehat-nasiehat atau advice yang berikan juga lebih relevan, sesuai kebutuhan di lapangan dan bisa diterapkan. Berbeda dengan teaching yang kadang lebih ke pendekatan akademis dan teoritis ketimbang sisi teknis praktis, jadi harap maklum kalau dosen kewirausahaan di kampusmu bahkan tidak punya usaha sendiri he he.

7. Berpegang Teguh pada Idealisme
Last but not least, pelajaran penting yang sempat ditampilkan dalam drama korea start up diungkapkan oleh ayah dal mi ketika presentasi di depan ibu Yoon yang dikemudian hari mendirikan Sandbox, adalah tentang idealisme.

Hal abstract yang menjadi penentu kamu mau menjadi pebisnis seprti apa. Sepele karena mudah diucapkan tetapi berat untuk di-miplemetasikan dalam kehidupan sehari-hari karena bisa jadi akan berbenturan dengan kenyatakaan di lapangan.

Ayah dal mi, ketika ditanya kapan untung kalau layanan pesan makananya gratis untuk pengguna, beliau menjawab ia memilih menunda keuntungan daripada harus mengenakan biaya pada pengguna aplikasi website pemesanan makananya. Tanpa dinyana ketika para calon investor merasa tidak setuju dengan idealisme ayah dal mi ini, ibu Yoon ternyata setuju dan menyukainya.

Bertahan dengan idealisme ibarat terdampar di tengah lautan, kamu bisa memilih meminum air laut untuk menuruti dahaga dengan konsekuensi bisa semakin dehidraasi, atau bertahan sedikit lebih lama, tentu saja ada resiko  bakal mati di tengah samudera, namun bisa jadi juga akan sampai di tepian pantai dan selamat.

Contoh penerapan dari berpegang teguh pada idealisme adalah, dengan aplikasi atau bisnis yang kamu miliki bisa saja mengambil dan memanfaatkan data para pengguna untuk kepentingan bisnis yang lain, namun tentu saja itu bertentangan dengan idealismemu, sikap seorang owner sangat penting dalam situasi seperti ini.

Bisa juga menggunakan contoh, ketika produk aplikasimu karena tuntutan para investor yang ingin segera untung memaksa untuk mengenakan atau menaikan tarif, yang akan mengorbankan kenyamanan pengguna, bukanya untung bisa jadi malah pada minggat.

Hal sederhana contoh poin idealise ini adalah misalnya ketika ada pelanggan yang setelah mesan produkmu minta Nota kosong untuk LPJ, harusnya sebagai pebisnis yang idealis kamu menolaknya karena masuk kategri praktik korupsi walau nilainya kecil.

Hidup dengan berpegang teguh pada idealisme-idealisme baik tidak mejamin akan membuat hidupmu kaya bergelimang harta, tapi setidaknya akan membuatku hidup dengan merdeka, tenang dan punya harga diri.

Oke sobat campusnesia, itu tadi 7 pelajaran bisnis yang bisa kita petik dari drama korea start-up. Akan kami update jika ada inspirasi baru. Punya pendapat lain? Jangan lupa share di kolo komentar ya. Sampai jumpa.

Penulis: Nandar
Korean Drama Lover

Iklan

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »