Mendukung Upaya Optimalisasi Potensi Desa Balak Melalui Pengadaan Infrastruktur, Mahasiswa KKN UNDIP Lakukan Program Peduli Pengadaan Infrastruktur Sebagai Perwujudan SDGs Desa Nomor 9

0
 



Campusnesia.co.idBalak (11/2) - Terdapat 18 tujuan dan sasaran pembangunan melalui SDGs Desa, salah satunya adalah tujuan nomor 9 yang berbunyi “Infrastruktur dan Inovasi Desa Sesuai Kebutuhan”. Merujuk pada tujuan SDGs Desa nomor 9 ini, Tim KKN I Universitas Diponegoro Tahun 2023/2024 di Desa Balak menginisiasikan sebuah program bertajuk “Peduli Pengadaan Infrastruktur Desa Balak”. Inisiasi ini tidak sembarang diambil, melainkan dengan mendengarkan terlebih dahulu aspirasi-aspirasi masyarakat Desa Balak yang pada umumnya disampaikan melalui perangkat desa seperti RT dan RW setempat.

Desa Balak yang memiliki 12 dukuh, 15 RW, dan 27 RT ini berada di Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Desa Balak merupakan desa yang memiliki banyak potensi baik, tetapi masih dinilai kurang dalam hal kemajuan infrastrukturnya. Melalui survey dengan RT dan RW setempat, salah satu aspirasi yang banyak diterima adalah kurangnya kesadaran warga akan lingkungan sekitar, seperti tidak mengetahui RT dan RW yang mereka tempati. Berangkat dari aspirasi ini, Tim I KKN Universitas Diponegoro membuat dan memasang plang-plang ketua RW dan RT di setiap dukuh.

Berbicara tentang potensi dan infrastruktur, maka perlu dipahami bahwa keduanya harus berjalan seiringan guna mengoptimalkan potensi yang telah ada. Desa Balak sendiri merupakan desa yang mayoritas penduduknya bekerja di sektor pertanian, baik itu petani garapan ataupun petani pemilik. Maka dari itu pertanian Desa Balak menjadi salah satu potensi yang perlu diperhatikan demi kemajuan desa dan kesejahteraan warganya pula. Namun, sayangnya infrastruktur di sektor pertanian Desa Balak sendiri masih memerlukan perhatian lebih untuk dapat memaksimalkan potensinya. Guna mengoptimalkan potensi pertanian Desa Balak, Tim I KKN Universitas Diponegoro memasang plang kelompok tani untuk tiga kelompok tani yang ada di Desa Balak, yang bertujuan bukan hanya sebagai identitas, tetapi juga untuk mengedukasi warga dalam keterlibatan mereka dalam kegiatan pertanian di Desa Balak, serta sebagai pemantik pemerintah desa agar lebih memperhatikan infrastruktur di sektor pertanian.

Selain itu, ancaman lain yang menjadi kekhawatiran  di sektor pertanian adalah banyaknya hama tikus di Desa Balak yang mengganggu produktivitas pertanian Desa Balak. Mengenali kebutuhan yang mendesak ini, Tim I KKN Universitas Diponegoro membangun tiga Rumah Burung Hantu (Rubuha), yaitu bangunan khusus yang dibuat agar burung hantu dapat menetap di area sawah dan menjadi predator hama tikus yang mengancam pertanian warga. Dengan dibangunnya rubuha yang ramah lingkungan diharapkan dapat mengurangi kerugian petani dan meningkatkan hasil panen.

Melalui program yang dilakukan Tim I KKN Universitas Diponegoro di Desa Balak ini diharapkan dapat menginspirasi masyarakat dan perangkat desa setempat untuk terus memajukan infrastruktur desa di masa depan, serta membangun kesadaran akan pentingnya pembangunan infrastruktur dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.


Dosen Pembimbing Lapangan: 
Ir. Hermin Werdiningsih, M.T.

Lokasi: 
Desa Balak, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten

Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswi KKN Undip Memberikan Edukasi Penggolongan dan Pemilihan Plastik

0
 



Campusnesia.co.idBerdasarkan material penyusunnya, pengertian plastik adalah material jenis polimer yang tersusun dari rantai monomer serta bersifat ringan. Setiap kemasan plastik memiliki simbol daur ulang. Simbol daur ulang plastik ditandai dengan logo segitiga dengan nomor di dalamnya dan kode bahan plastik di bawahnya. Penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari sangatlah masif, baik itu untuk kemasan makanan, kemasan minuman, plastik belanja, dan lain sebagainya. Namun, tidak semua plastik aman digunakan untuk mengemas makanan dan minuman. Hal ini menyebabkan edukasi mengenai penggolongan dan pemilihan plastik yang aman sebagai bahan kemasan penting untuk dilaksanakan, termasuk di Desa Gendoang, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang.

Berdasarkan hasil diskusi dengan masyarakat sekitar, khususnya ibu-ibu, informasi mengenai plastik yang aman untuk kemasan makanan dan minuman masih kurang disosialisasikan. Bahkan, masih terdapat masyarakat yang belum mengetahui penggolongan plastik berdasarkan simbol daur ulangnya. Untuk mengatasi permasalahan ini, Shafira Kayla Alrasyid, mahasiswi KKN Undip Tim I Tahun 2023/2024, melakukan sosialisasi dan diskusi interaktif mengenai penggolongan dan pemilihan plastik. Kegiatan ini termasuk ke dalam program keilmuan atau monodisiplin jurusan teknik kimia Kuliah Kerja Nyata Universitas Diponegoro Tim I Tahun 2023/2024. Sosialisasi diselenggarakan pada Hari Sabtu, 27 Januari 2024 pukul 10.00 WIB. Kegiatan ini dilaksanakan di Balai Desa Gendoang dan dihadiri oleh ibu-ibu PKK Desa Gendoang.

 
Pada awal kegiatan, leaflet mengenai penggolongan plastik berdasarkan simbol daur ulang dibagikan kepada peserta yang hadir. Kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai penggolongan plastik, yang mana disertai pula dengan pemberian contoh produk berbahan plastik terkait. Berdasarkan simbol daur ulangnya, terdapat tujuh jenis plastik. Plastik dengan angka satu adalah plastik berbahan Polyethylene Terephthalate (PET). Plastik dengan angka dua adalah plastik berbahan High Density Polyethylene (HDPE). Plastik dengan angka tiga adalah plastik berbahan Polyvinyl Chloride (PVC). Plastik dengan angka empat adalah plastik berbahan Low Density Polyethylene (LDPE). Plastik dengan angka lima adalah plastik berbahan Polypropylene (PP). Plastik dengan angka enam adalah plastik berbahan Polystyrene (PS). Lalu, yang terakhir plastik dengan angka tujuh adalah plastik dengan bahan selain golongan satu hingga enam (Other). Pada sosialisasi ini dipaparkan mengenai sifat masing-masing plastik, pengaplikasian, serta bahayanya. Selain itu, diakhir pemaparan materi diinfokan pula bahwa plastik yang aman digunakan berulang kali sebagai kemasan makanan dan minuman adalah plastik nomor lima atau plastik berbahan Polypropylene. Setelah pemaparan materi selesai, diadakan sesi tanya jawab untuk peserta yang hadir. Terdapat beberapa pertanyaan terkait solusi untuk plastik-plastik sekali pakai dan wadah minum berangka tujuh. Selain itu, terdapat pula salah satu peserta yang bertanya mengenai penggunaan stearofoam sebagai wadah kemasan makanan yang beredar.

Kegiatan sosialisasi dan diskusi interaktif mengenai penggolongan dan pemilihan plastik mendapat respon yang baik dari seluruh peserta yang hadir. “Wah, setelah ini saya harus memilah tempat makan dan minum di rumah. Jadi, plastik nomor tujuh itu bahaya ya, Mba.” ujar salah satu peserta yang hadir. Kegiatan sosialisasi dan diskusi interaktif ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan awareness masyarakat Desa Gendoang dalam memilih plastik yang aman untuk digunakan berulang kali sebagai wadah kemasan makanan dan minuman. Selain itu, informasi mengenai penggolongan plastik ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, sehingga dapat meminimalisir limbah plastik.



Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN Undip Lakukan Pemetaan Topografi Wilayah sebagai Penunjang Inventarisasi Desa

0

Penyerahan Produk Akhir Peta Topografi Desa Banyuurip


Campusnesia.co.idData desa adalah kumpulan informasi atau fakta yang mencakup berbagai aspek tentang suatu desa atau kawasan pedesaan. Data desa adalah salah satu pondasi yang dibutuhkan oleh pemerintahan dalam pengambilan keputusan, pembangunan yang berkelanjutan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat desa. Salah satu data desa yang penting untuk perencanaan pembangunan dan pengembangan wilayah adalah data topografi. Topografi, atau bentuk permukaan bumi dan fitur-fitur alaminya, memainkan peran kunci dalam perencanaan pembangunan, pengelolaan sumber daya alam, mitigasi risiko bencana, dan berbagai kegiatan lainnya.

Berikut adalah manfaat dilakukannya pemetaan topografi dalam perencanaan  dan pengembangan wilayah:

1. Perencanaan Pembangunan: Informasi topografi membantu dalam perencanaan infrastruktur seperti jalan, saluran irigasi, dan pemukiman. Hal ini memungkinkan pengembangan wilayah yang terkoordinasi dan efisien.

2. Pengelolaan Sumber Daya Alam: Pemetaan topografi memungkinkan identifikasi dan pengelolaan sumber daya alam yang efektif, termasuk hutan, lahan pertanian, dan air tanah.

3. Mitigasi Risiko Bencana: Dengan memahami topografi desa, dapat dilakukan identifikasi dan mitigasi risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, dan erosi tanah.

4. Pengembangan Pariwisata: Informasi topografi membantu dalam pengembangan potensi pariwisata desa, termasuk hiking, camping, dan wisata alam lainnya.

Dengan mempertimbangkan pentingnya pemetaan topografi wilayah untuk perencanaan dan pengembangan desa, salah satu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim I Universitas Diponegoro melakukan pemetaan topografi di Desa Banyuurip, Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali.

Langkah-langkah pemetaan yang dilakukan adalah dengan pengumpulan data skunder melalui website DEMNAS, kemudian mengolah dan menganalisis data tersebut melalui Aplikasi Quantum GIS. Selanjutnya, peta tersebut di layouting dalam skala 1:10.000 (ukuran kertas A2). Proses layouting peta berdasarkan peraturan penyajian peta menurut ketelitian peta dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta. Setelah itu, Produk peta diserahkan kepada perangkat Desa dengan harapan dapat dijadikan inventaris desa dan informasi dasar dalam perencanaan dan pembangunan pada Tingkat desa. 
 
Peta Topografi Desa Banyuurip

Berdasarkan peta di atas, dapat diketahui bahwa ketinggian wilayah Desa Banyuurip berada pada dua klasifikasi, yaitu 0-200 mdpl dan 200-500 mdpl. Rentang ketinggian ini mencakup sebagian besar wilayah desa dan memegang peran kunci dalam berbagai aspek pembangunan. ketinggian wilayah 0 – 200 mdpl termasuk dataran rendah yang dimanfaatkan penduduk sebagai tempat tinggal dan pusat aktivitas penduduk seperti perkantoran, sekolah, kegiatan ekonomi, dan industri. Sedangkan, daerah dengan ketinggian 200-500 mdpl cocok untuk kegiatan pertanian, perkebunan, peternakan, wisata, pengembangan infrastruktur seperti irigasi, pengelolaan sumber daya alam, dan dikembangkan sebagai permukiman pada kondisi lingkungan yang tidak terlalu curam. 

Peta Topografi ini diserahkan pada tanggal 20 Januari 2024 kepada Perangkat Desa Banyuurip. Penyerahan peta ini diterima dengan baik oleh pihak desa. Dengan adanya Peta Topografi ini diharapkan dapat menjadi bagian dalam mendukung perencanaan dan pembangunan Desa Banyuurip menjadi lebih maju lagi.



Editor:
Achmad Munandar

Optimalisasi Pemenuhan Kebutuhan Pangan, Mahasiswa KKN UNDIP TIM I Lakukan Pemetaan Persebaran Kebun Gizi di Desa Banyuurip

0
Penyerahan Produk Akhir Peta Persebaran Kebun Gizi Desa Banyuurip


Campusnesia.co.idDesa Banyuurip, Kecamatan Klego (19/01/2024). Tim 1 KKN Universitas Diponegoro telah menyelesaikan program kerja pembuatan Peta Persebaran Kebun Gizi Desa Banyuurip, Kecamatan Klego.
 
Komang Piping Priyanka Praja, mahasiswa S1-Perencanaan Wilayah dan Kota memiliki program kerja berupa pembuatan Peta Persebaran Kebun Gizi di Desa Banyuurip. Pemetaan kebun gizi merupakan salah satu strategi yang efektif dalam meningkatkan akses terhadap makanan bergizi dan meningkatkan kesehatan masyarakat. 

Selain itu, pembuatan peta persebaran kebun gizi juga dapat membantu proses perencanaan pembangunan dan pengembangan desa. Program kerja tersebut sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDG’s) nomor 2 (dua), yaitu menciptakan dunia yang bebas kelaparan pada tahun 2030. Hampir seluruh RT (25 dari 30 RT) di Desa Banyuurip telah memiliki kebun gizi, akan tetapi belum dimanfaatkan dengan optimal. Perlunya pemetaan kebun gizi tersebut untuk mendukung perencanaan pembangunan dan pengembangan Desa Banyuurip dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat sekitar.

Langkah-langkah untuk mencapai program kerja pemetaan Persebaran Kebun Gizi di Desa Banyuurip adalah:

1. Pengumpulan Data Primer

Proses pengumpulan data primer dilakukan melalui survei lapangan dengan mendatangi 30 RT yang terdapat di Desa Banyuurip. Kemudian membuat titik koordinat dengan menggunakan aplikasi Avenza Maps. Berdasarkan hasil survei terdapat 25 kebun gizi yang tersebar di Desa Banyuurip. Terdapat 5 RT yang belum memiliki kebun gizi yaitu, RT 4, RT 5, RT 13, RT, 14, dan RT 29. 

2. Analisis Data dengan Quantum GIS

Setelah titik koordinat berhasil dikumpulkan, langkah berikutnya adalah pembuatan peta dengan menggunakan software QGIS 3.18. Selanjutnya, peta tersebut di layouting dalam skala 1:10.000 (ukuran kertas A2). Proses layouting peta berdasarkan peraturan penyajian peta menurut ketelitian peta dalam Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta.

3. Pemaparan dan Penyerahan Hasil Program Kerja
Produk peta diserahkan kepada perangkat Desa dengan harapan dapat dijadikan inventaris desa dan informasi dasar dalam perencanaan dan pembangunan pada Tingkat desa. 
 
Peta Persebaran Kebun Gizi Desa Banyuurip

Lampiran




Oleh: 
Komang Piping Priyanka Praja
Fakultas Teknik – Perencanaan Wilayah dan Kota


Editor:
Achmad Munandar

Dorong Transformasi Keuangan Digital, Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Aplikasi Pencatatan Keuangan Digital Kepada Pelaku Usaha Kecil di Pemalang

0
 
Mahasiswa KKN Undip mengenalkan aplikasi Buku Warung


Campusnesia.co.idMahasiswa KKN Universitas Diponegoro Tim 1 Tahun 2024 mengenalkan aplikasi pencatatan keuangan digital kepada pelaku usaha kecil di Desa Mandiraja, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. 

Kegiatan ini dilaksanakan pada Senin (29/1) dengan tujuan mendorong pelaku usaha kecil mendapatkan kemudahan pencatatan keuangan dengan aplikasi digital yang ramah digunakan oleh masyarakat awam. Aplikasi yang digunakan dalam kegiatan ini adalah Buku Warung. Sasaran dari kegiatan ini adalah para pelaku usaha kecil yang bergerak di bidang perdagangan. “Kami mengenalkan aplikasi Buku Warung yang memiliki fitur-fitur yang cocok dengan aktivitas usaha perdagangan dan mudah dipahami oleh masyarakat awam” jelas Addin selaku mahasiswa KKN Undip yang menjadi pelaksana kegiatan tersebut.

Pelaku usaha kecil di desa biasanya belum memahami pentingnya pencatatan keuangan yang memadai dalam mengelola keuangan usaha mereka. Pencatatan keuangan yang memadai dapat membantu pelaku usaha memisahkan antarta kas usaha dengan uang pribadi mereka. Dengan pemisahan kas yang baik, pelaku usaha dapat mengetahui kondisi keuangan usaha mereka dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih baik.

Salah satu peserta kegiatan, Ibu Umi, mengakui bahwa masalah yang banyak dihadapi oleh pelaku usaha kecil di desanya adalah terkait pemisahan kas usaha dan kas pribadi untuk rumah tangga. Akibatnya, usaha yang dijalankan di masyarakat sering menghadapi masalah keterbatasan modal. “Biasanya masyarakat yang punya usaha tidak memperhatikan pemisahan uang untuk usaha dan rumah tangga sehingga uang usaha ikut dipakai untuk belanja rumah tangga” kata Umi. 

Umi mengapresiasi upaya mahasiswa untuk mengenalkan aplikasi keuangan digital kepada pelaku usaha di Desa Mandiraja. Melalui aplikasi Buku Warung ini, pelaku usaha juga dapat melihat laba usahanya secara berkala. “Kegiatan yang bagus dari mahasiswa, dari aplikasi ini kita bisa tahu untung yang didapat berapa” kata Umi.

Mahasiswa KKN Undip juga memberikan buku pedoman penggunaan aplikasi Buku Warung. Pedoman ini disusun untuk menjadi pedoman bagi pelaku usaha memahami fitur-fitur penting di dalam aplikasi. Addin berharap dengan adanya buku pedoman ini, peserta yang telah mengikuti kegiatan dalam menularkan pengetahuannya kepada pelaku usaha lain di lingkungan sekitar. “Semoga isi buku pedoman ini dapat dipahami dengan baik dan disampaikan lagi kepada pelaku usaha lain di wilayah Desa Mandiraja” tutup Addin.


Penulis: 
Addinulsyah Siregar, Universitas Diponegoro

Editor:
Achmad Munandar

Ajak Warga Peduli Lingkungan, Mahasiswa KKN TIM I UNDIP Memberikan Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah Sebagai Upaya Implementasi Reverse Logistics

0
 

Campusnesia.co.idLimbah minyak jelantah menjadi salah satu permasalahan yang jarang sekali mendapat sorotan, padahal jika pengelolaan limbah ini tidak dilakukan secara benar dapat menyebabkan kerusakan lingkungan. Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen salah satu daerah yang memiliki permasalahan terkait pengolahan limbah jelantah. Sragen (23/01/2024), mahasiswi KKN Tim I UNDIP tahun 2024 melakukan Pelatihan Pembuatan Lilin Aromaterapi dari Minyak Jelantah Sebagai Upaya Implementasi Reverse Logistics.

Reverse Logistics merupakan upaya untuk mengelola limbah hasil produksi yang dapat digunakan kembali sehingga dapat meminimalkan dampak bagi lingkungan. Pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah dilakukan oleh Refi Regita Atmaja Putri, mahasiswi Manajemen dan Administrasi Logistik, Universitas Diponegoro di kediaman Ibu Linda RT 01 , Dukuh Kedungpring, Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen. Program Kerja dilaksanakan dengan mengundang ibu - ibu di Desa Juwok untuk turut serta dalam pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah. Total terdapat 11 peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

  
Umumnya limbah minyak jelantah langsung dibuang ke saluran pembuangan air, bak cuci piring, maupun langsung ke tanah. Membuang minyak jelantah sembarangan pada dasarnya akan menimbulkan berbagai masalah, seperti penyumbatan pipa serta masalah kesuburan tanah. Adapun jika dikonsumsi kembali akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan. 

Untuk itu, perlu pengelolaan maupun pengolahan yang baik terkait limbah minyak jelantah. Kegiatan pelatihan dimulai dari pemaparan terkait bahaya limbah minyak jelantah bagi lingkungan dan kesehatan, setelah itu dilakukan praktik pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah secara langsung di depan ibu-ibu di Desa Juwok. Adapun untuk alat dan bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan lilin aromaterapi tersebut yakni untuk alat berupa panci, sendok, saringan, mangkok atau gelas, wadah lilin dan tusuk gigi. sedangkan untuk bahan yang dibutuhkan berupa minyak jelantah, stearic acid, krayon bekas, parfum/pewangi dan benang katun atau sumbu.

Langkah-langkah pembuatan yakni berupa:

● Saring minyak jelantah hingga bersih

● Masukan minyak jelantah ke panci sebanyak 200 mili dan nyalakan kompor, kemudian masukan stearic acid 150 gram serta aduk sampai merata.

● Setelah semua tercampur masukan krayon bekas dan aduk terus sampai pewarna larut.

● Kemudian masukan juga parfum/essential oil untuk memberi aroma wangi pada lilin sebanyak 10 mili. Jika aroma telah muncul, matikan api kompor.

● Tuanglah ke wadah yang telah diberi sumbu lilin. Diamkan hingga padat selama 24 jam, kemudian angkat stik kayu dari sumbu lilin.

● Lilin Aromaterapi siap digunakan
  



Kegiatan pelatihan ini mendapat antusias yang tinggi dari ibu-ibu di Desa Juwok, terdapat 11 peserta yang hadir. “Kegiatan pelatihan pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah sangat menarik. Kami baru mengetahui bahwa minyak jelantah yang selama ini kami umumnya buang setelah 3 - 4 kali pemakaian, ternyata bisa dimanfaatkan menjadi lilin” ujar Ibu Linda salah satu peserta pelatihan. 

Selain membagikan brosur tentang tata cara pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah, di akhir kegiatan juga dilakukan pembagian sempel lilin aromaterapi dari minyak jelantah yang sebelumnya telah disiapkan. Dengan adanya pelatihan tersebut, diharapkan kedepannya limbah minyak jelantah dapat dioptimalkan pemanfaatannya sehingga mengurangi dampak terhadap lingkungan.


Penulis: 
Refi Regita Atmaja Putri

Dosen Pembimbing Lapangan:  
Riza Susanti, S.T., M.T  

Lokasi: 
Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen

Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN TIM I UNDIP Desa Juwok Dorong Kemajuan Bisnis UMKM Mebel Melalui Edukasi Pentingnya Manajemen Persediaan dan Peningkatan Hubungan dengan Supplier

0
 


Campusnesia.co.idManajemen persediaan merupakan kegiatan untuk menjaga jumlah stok barang yang dimiliki secara optimal. Manajemen persediaan merupakan salah satu komponen penting yang wajib diperhatikan di dalam menjalankan suatu bisnis khususnya bisnis di bidang manufaktur atau produksi barang, banyak dari UMKM yang masih belum menyadari pentingnya pengelolaan persediaan yang baik. Selain itu, hubungan dengan supplier tentunya perlu dilakukan upaya peningkatan agar ketersediaan bahan baku tetap terjaga untuk keberlangsungan usaha kedepan. Sragen (18/01/2024), mahasiswa KKN Tim I UNDIP tahun 2024 melakukan Edukasi Pentingnya Manajemen Persediaan dan Peningkatan Hubungan dengan Supplier Pada UMKM Mebel.
   

Strategi pengelolaan persediaan dilakukan untuk mencapai tingkat layanan pelanggan yang diinginkan dengan jumlah persediaan yang sesuai. Edukasi Pentingnya Manajemen Persediaan dan Peningkatan Hubungan dengan Supplier Pada UMKM Mebel dilakukan oleh Refi Regita Atmaja Putri, mahasiswi Manajemen dan Administrasi Logistik, Universitas Diponegoro di Dukuh Kedungpring, Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen secara door to door terhadap UMKM Mebel. Dalam kegiatan ini dilakukan pengenalan terhadap pentingnya manajemen persedian dan tips atau cara meningkatkan hubungan dengan supplier melalui media poster.
  


Fokus dari pengelolaan persediaan yakni berapa banyak yang harus dipesan pada waktu tertentu, berapa banyak jenis persediaan yang harus disimpan dan kapan persediaan harus di dipesan. Persediaan dapat dikatakan tidak optimal ketika persediaan terlalu tinggi, yang dapat menyebabkan kerugian karena kerusakan dan turunnya kualitas serta menyebabkan pengeluaran yang besar pada UMKM Mebel, selanjutnya jika persediaan terlalu rendah sehingga UMKM tidak dapat memenuhi permintaan konsumen. Kegiatan edukasi juga dilakukan dengan memberikan tips memperkuat hubungan dengan supplier, terdiri dari melakukan komunikasi secara teratur, memberikan apresiasi, melibatkan supplier dalam upaya perbaikan dan peningkatan kualitas produk, bersikap jujur dan terbuka serta semaksimal mungkin menghindari permasalahan pembayaran.

Program kerja Edukasi Pentingnya Manajemen Persediaan dan Peningkatan Hubungan dengan Supplier Pada UMKM Mebel berjalan dengan lancar dan diharapkan diharapkan dapat memberikan pemahaman lebih jauh terkait perlunya mengelola persediaan dan memperkuat hubungan dengan supplier untuk keberlanjutan bisnis kedepan.“Edukasi dari mba refi ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai UMKM. Kami jadi lebih tau tentang pentingnya mengelola persediaan bahan baku dengan baik serta upaya yang perlu dilakukan untuk meningkatkan hubungan dengan supplier” ujar Pak Somo selaku salah satu UMKM Mebel. Dalam pelaksanaan program ini, pelaku UMKM Mebel sangat antusias mendengarkan dan memperhatikan secara seksama ditandai dengan banyaknya pertanyaan yang diajukan setelah penyampaian materi.


Penulis: 
Refi Regita Atmaja Putri

Dosen Pembimbing Lapangan:  
Riza Susanti, S.T., M.T  

Lokasi: 
Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen

Editor:
Achmad Munandar

Darurat Resistensi Antibiotik! Mahasiswi KKN Tim I UNDIP Lakukan Penyuluhan “Ayo Cegah Resistensi Antibiotik!”

0
 





Campusnesia.co.id - Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (23/01/2024) – Penggunaan antibiotik di kalangan masyarakat umum masih sering tidak rasional. Banyak yang menganggap antibiotik sebagai obat mujarab untuk segala jenis penyakit, tanpa menyadari pentingnya menyelesaikan seluruh rangkaian treatment antibiotik. Hal ini dapat mengakibatkan resistensi antibiotik, di mana bakteri menjadi kebal terhadap efek antibiotik. 

Bedanya dengan obat lain, konsekuensi dari penggunaan antibiotik lebih luas. Penyalahgunaan antibiotik dapat membantu pembentukan bakteri resisten, berpotensi menyebabkan infeksi baru yang sulit diobati, baik pada individu yang mengonsumsinya maupun orang di sekitarnya. Selain itu, resistensi antibiotik menjadi tantangan kesehatan global, menyebabkan penyakit yang lebih parah, dan penemuan antibiotik baru memerlukan waktu yang lama, bahkan belasan hingga puluhan tahun.
 
Melihat kondisi ini, pemahaman tentang penggunaan antibiotik yang bijak menjadi krusial dalam mencegah resistensi antibiotik. Oleh karena itu, melalui program monodisiplin diadakan acara edukasi penggunaan antibiotik yang bijak oleh Khania Meldi Athiyyah dari Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro. Kegiatan ini dilaksanakan di Posko KKN Undip Tim I, Dukuh Kedungpring, Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen yang dihadiri oleh para Ibu di Desa Juwok. Edukasi dilakukan dengan memberikan informasi tentang definisi antibiotik dan contoh antibiotik yang biasa diresepkan oleh dokter, konsep resistensi antibiotik, serta bahaya dan penyebab resistensi antibiotik. Selain itu, dijelaskan juga mengenai cara penggunaan antibiotik yang bijak dan penyalahgunaan antibiotik yang umum terjadi di masyarakat.

 
Pemberian edukasi menggunakan bahasa awam disertai pemberian fakta-fakta menarik sehingga masyarakat lebih mudah memahami dan dapat mengerti informasi yang disampaikan. Dengan adanya edukasi ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai cara penggunaan antibiotik yang baik dan benar sehingga dapat mencegah terjadinya resistensi antibiotik. 

Ketika digunakan secara tepat, antibiotik memberikan manfaat yang tidak perlu diragukan lagi. “Acara dari Mba Khania ini sangat menyadarkan kita untuk lebih hati - hati dalam menggunakan obat, apalagi obat antibiotik. Kita juga jadi tahu apa saja obat antibiotik yang biasanya dikasih dokter. Serta jadi tahu juga, tidak boleh membeli obat antibiotik sembarangan di apotek.” ujar bu Sri, selaku salah satu audience. Edukasi mengenai antibiotik ini  dilakukan secara interaktif dan diikuti dengan antusiasme dari para Ibu Desa Juwok, Dukuh Kedungpring, Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen. 



Penulis: 
Khania Meldi Athiyyah

Dosen Pembimbing Lapangan: 
Riza Susanti, S.T., M.T. 

Lokasi: 
Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen

Menabur Harapan: Mahasiswi KKN Tim 1 UNDIP Menggugah Kesadaran Remaja Mengenai Anemia Dan Solusi Pada Tablet Tambah Darah

0
 

Campusnesia.co.idDesa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah (20/01/2024) - Kondisi kekurangan sel darah merah dalam tubuh atau anemia dapat terjadi pada siapa pun. Meski begitu, remaja putri memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami anemia dibandingkan dengan remaja putra. Hal ini disebabkan oleh menstruasi bulanan yang dialami oleh remaja putri, yang dapat mengakibatkan kehilangan darah yang signifikan dan menurunkan kadar hemoglobin secara drastis. 

Hemoglobin adalah senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah, dan kadar hemoglobin yang rendah dapat meningkatkan risiko terjadinya anemia. Anemia pada remaja putri dapat memiliki dampak serius, terutama karena mereka adalah calon ibu, yang dapat meningkatkan risiko komplikasi seperti kematian ibu saat melahirkan, kelahiran prematur, dan berat badan bayi rendah.
 
Dalam melihat kondisi ini, memberikan pemahaman tentang penyakit anemia dan memberikan Tablet Tambah Darah (TTD) menjadi sangat penting untuk remaja putri dalam fase pertumbuhannya. Namun, masih banyak remaja di Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen yang tidak menyadari pentingnya mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin dan sesuai dengan aturan pemakaian. Oleh karena itu, mahasiswa ingin menyelenggarakan sosialisasi mengenai penyakit anemia dan urgensi pemberian serta konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD).
 

Melalui program monodisiplin, sosialisasi tentang penyakit anemia dan tablet tambah darah ini dilakukan oleh Khania Meldi Athiyyah dari Program Studi Farmasi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro. Kegiatan ini berlangsung di Posyandu Remaja yang bertepatan di RT 14, Dukuh Kedungpring, Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen yang dihadiri oleh para remaja. Sosialisasi dimulai dengan penjelasan mengenai anemia, tanda dan gejala, serta cara pencegahannya. 

Selanjutnya, dijelaskan mengenai Tablet Tambah Darah (TTD). Melalui kegiatan ini, diharapkan remaja di Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen dapat menyadari pentingnya mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) untuk dampak jangka panjang yang positif. “Sosialisasi anemia dan tablet tambah darah yang diberikan oleh Mba Khania ini sangat bermanfaat bagi kami, kami juga jadi sadar pentingnya tablet tambah darah dan juga jadi tau gimana cara menghindari efek samping obatnya” ujar Nadia selaku salah satu audience. Sosialisasi dilakukan secara interaktif dan diikuti dengan antusiasme oleh para remaja di Desa Juwok.



Penulis: 
Khania Meldi Athiyyah

Dosen Pembimbing Lapangan: 
Riza Susanti, S.T., M.T. 

Lokasi: 
Desa Juwok, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sragen

Sangat Menginspirasi, Mahasiswa KKN Undip di Desa Ponowaren Mengajar Siswa SD Ponowaren 03

0


Campusnesia.co.idMahasiswa Universitas Diponegoro mengajar dan berbagi ilmu kepada siswa SD Ponowaren 03 pada tanggal 24-25 Januari 2024. Kegiatan ini dilakukan dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 1 Universitas Diponegoro 2024. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk pengabdian mahasiswa terhadap masyarakat, khususnya di bidang pendidikan. Sebagai mahasiswa, pengajaran dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan siswa.
 

Kelompok mahasiswa KKN yang berjumlahkan tujuh mahasiswa ini berasal dari berbagai fakultas dan bidang keilmuan yang berbeda-beda, yaitu fakultas kedokteran, teknik, ekonomi dan bisnis, serta peternakan dan pertanian. Pengajaran dilakukan dengan berbagai metode, seperti menggunakan alat peraga fisik, alat peraga audio-visual, dan praktik langsung. Para mahasiswa mengajar pelajaran mulai dari ilmu pengetahuan alam, matematika, seni budaya, dan juga bahasa.

 
Program mahasiswa ini disambut baik oleh para guru, murid, serta warga sekitar desa. Menurut mereka, program pengajaran ini menjawab kebutuhan permasalahan pendidikan sekolah dasar di Desa Ponowaren, tepatnya di SD Ponowaren 03. “Para mahasiswa yang mengajar di tempat kami berhasil memotivasi dan menjadi role model untuk siswa sekolah dasar yang ada di desa”, ucap Ibu Nunik selaku guru SD Ponowaren 03. Dengan kegiatan ini, harapannya siswa sekolah dasar dapat menjadi lebih semangat berlajar dan menggapai cita-citanya.



Editor:
Achmad Munandar