Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri griya peradaban. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri griya peradaban. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Kuliah Alternatif Angkatan I Griya Peradaban Ditutup dengan Salam Sapa dan Penyerahan Sertifikat

 
 
Campusnesia.co.id -  Kuliah Alternatif Angkatan I yang digelar oleh perkumpulan generasi muda Griya Peradaban akhirnya berakhir pada Sabtu (20/03). Kegiatan yang membekali para pesertanya dengan berbagai softskill ini, resmi ditutup dengan acara Salam Sapa dan Penyerahan Sertifikat.

Acara penutupan dipandu oleh duo aktivis Griya Peradaban, yaitu Putri Rizkyatul  dan Jajang Jalaludin. Sebagai pemandu, Jajang juga berkesempatan menyampaikan pesan kepada calon alumni Kuliah Alternatif I. Ia berharap alumni bisa ikut andil menjadi aktivis Griya Peradaban di waktu yang akan datang. Karena menurutnya, banyak pengalaman yang akan didapat, khususnya dalam disiplin manajemen waktu. "Karena di era Society 5.0 ini, kita berperang dengan waktu." Ucapnya.

Pada acara tersebut perwakilan dari Mentor Griya Peradaban, Atin Anggraini, menyampaikan pesan, kesan, dan testimoninya secara khusus tentang jalannya Kuliah Alternatif dan harapannya terhadap eksistensi Griya Peradaban. “Semoga silaturrahim ini tidak berhenti di sini saja. Karena silaturrahim bisa menarik rezeki dalam berbagai bentuk.” Tegasnya.

Atin mengapresiasi adanya Kuliah Alternatif ini, terutama soal relasi yang bisa didapat setelah mengikutinya. Kemudian ia berterima kasih kepada pendiri Griya Peradaban, Ma’as Shobirin, karena berkat spirit dan komitmen yang dibangun dalam Griya Peradaban mampu mengumpulkan generasi muda berprestasi dari berbagai penjuru Indonesia.

Testimoni lain diberikan oleh Bayu Wangsa Kopi sebagai salah satu pihak yang mendukung jalannya Kuliah Alternatif. Bayu mengaku senang dengan adanya perkumpulan ini karena bisa berkenalan dengan anak-anak muda yang memiliki semangat berorganisasi. Selain itu ia juga mengatakan bahwa belajar di Griya Peradaban ini penting karena ada sistem mentoring.

Pada kesempatan ini ia juga menyampaikan tips meraih kesuksesan. Pertama, fokus mencari ilmu. Ia menjelaskan, ketika seseorang fokus mencari ilmu maka seseorang itu akan meraih segalanya. Kedua, marketing yang baik. Salah satu caranya ialah bersilaturrahmi dengan orang-orang yang berilmu dan melakukan self branding. Keempat yaitu manajemen yang baik dan dibarengi dengan sikap disiplin.

Hadir pula dalam acara purna tersebut, pendiri Griya Peradaban, Ma’as Shobirin yang selain melakukan penyerahan via online sertifikat Program Kuliah Alternatif Angkatan I, ia juga menyampaikan beberapa hal terkait tindak lanjut pasca mengikuti Kuliah Alternatif.

Poin yang disampaikan oleh alumni Kader Bangsa Fellowship 2018 ini salah satunya yaitu soal spirit diadakannya Kuliah Alternatif. “Spirit yang diusung dalam kegiatan ini adalah mengakomodir kolaborasi dengan segala pihak untuk selalu berusaha menyemai bibit-bibit kebaikan.” Ujarnya.

Ia berharap kepada seluruh para peserta yang telah mengikuti kegiatan ini untuk tetap saling berkomunikasi dan berkolaborasi dalam hal baik dan bermanfaat. Setelah Kuliah Alternatif rampung, harapannya para pembelajar dapat mengaktualisasikan ilmu yang telah didapat sebagai seorang leader dan selalu bangga memiliki rumah bernama Griya Peradaban.

Sebagai acara penutup, kegiatan ini dimeriahkan dengan apresiasi kepada delapan orang pembelajar yang dinilai paling aktif dan konsisten selama perkuliahan berlangsung. Mereka disapa hangat oleh pendiri Griya Peradaban dan mendapatkan hadiah spesial. (Khozin).


Brelyantika, Mentor Griya Peradaban Satu Panggung bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani

 

Sumber foto: Capture YouTube Kemenkeu


Campusnesia.co.id - Salah satu mentor perkumpulan Griya Peradaban, Brelyantika (22 tahun), terpilih menjadi narasumber pada  kegiatan Women and Girls: Game Changers in Development pada Sabtu (06/03). Kegiatan ini digelar dalam rangka memperingati International Women’s Day pada tanggal 08 Maret, yang diadakan oleh Yayasan Plan Internasional Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Keuangan Republik Indonesia.


Brel, sapaan akarabnya, berkesempatan berbagi pengalaman sekaligus berdialog langsung dengan Menteri Keuangan Sri Mulyani, Anne Birgitte Albrectsen dari Plan International, Alice Albright, CEO Global Partnership for Education serta dua narasumber perempuan muda lainnya yaitu Della Agustin (19 tahun) dan Silvia Atmajaya (18 tahun).

Melalui wawancara via Whatsapp, ia mengungkapkan bahwa hal ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Perempuan asal Jepara itu tak menyangka bisa terpilih setelah melalui seleksi ketat yang dilakukan sebelumnya.

Juara I Duta Bahasa Jawa Tengah 2019 ini, menceritakan pengalamannya selama menjadi relawan pengajar Bahasa Inggris di salah satu panti asuhan di kabupaten Jepara. Melihat kondisi tiga belas anak panti yang suka malu-malu dan cenderung tidak percaya diri ketika diminta maju ke depan kelas atau ditanya tentang cita-cita, membuat Bre terpanggil sehingga mendirikan sebuah wadah untuk mereka bernama Panti Carita pada Oktober 2020.

Sumber foto: Dokumentasi Griya Peradaban

Ia bersama teman-temannya mendirikan Panti Carita untuk menjadi pengajar sekaligus berbagi cerita kepada anak-anak.  Menurut Brel, tujuan sederhana pendirian Panti Carita ini adalah untuk meningkatkan kepercayaan diri pada tiga belas anak perempuan tadi dan mendorong mereka untuk mewujudkan impiannya.

Seperti pada saat menjadi nara sumber, Ia mengutip sebuah kalimat favorit dari Melinda Gates: “Ketika anak-anak belajar hal baru, mereka bisa mengembangkan dirinya. ketika mereka bisa mengembangkan dirinya, mereka bisa meningkatkan kepercayaan dirinya dan mampu mengubah masa depannya.”

Telah disebut di awal, Gadis muda yang aktif dalam kegiatan sosial ini juga tercatat sebagai mentor di Perkumpulan Generasi Muda Griya Peradaban. Sebuah perkumpulan yang berisi para pemuda untuk melakukan kolaborasi positif dalam bidang pendidikan, teknologi digital dan kewirausahaan. Beberapa waktu lalu, Brel juga turut mengisi program Kuliah Alternatif Griya Peradaban Angkatan I dengan menyajikan tema kecerdasan emosional.

Ia mengungkapkan kesenangannya bisa menjadi salah satu mentor di Perkumpulan Griya Peradaban. “Di sini saya bisa terhubung dengan banyak orang-orang hebat, berilmu dan berprestasi.” Ucapnya. Ia berharap kegiatan Griya Peradaban berjalan terus. Karena di situ banyak ilmu yang bisa didapat seperti leadership, teamwork, networking, dan lain-lain.

Ma’as Shobirin sebagai pendiri Perkumpulan Griya Peradaban mengapresiasi atas prestasi yang diraih oleh mentornya tersebut. “Brelyantika merupakan salah satu mentor kami sejak didirikannya perkumpulan ini. Ia anak muda energic, memiliki solidaritas tinggi dan mampu berkerjasama dengan baik dengan mentor lain maupun aktivis Griya Peradaban.” Ujarnya.

Di akhir wawancara, pada momen International Women’s Day ini, Brel berpesan kepada semua perempuan agar jangan takut untuk melakukan apapun, jangan pernah takut untuk speak up, karena perempuan berhak untuk bicara, di dengar, dan menjadi pemimpin masa depan. (Khozin).

Griya Peradaban Adakan Diskusi tentang Critical and Creative Thinking


 
 
Campusnesia.co.id - Manusia sebagai makhluk yang diberikan keistimewaan berupa pikiran, tentu tidak bisa terlepas dari masalah-masalah kompleks yang ada di sekelilingnya. Masalah-masalah tersebut lah kemudian menuntut manusia untuk mengoptimalkan pikirannya demi terbentuknya penyelesaian masalah tersebut.

Menyikapi pentingnya metode berpikir, Griya Peradaban mengadakan diskusi yang membahas tentang Critical and Creative Thinking pada sesi kelima Kuliah Alternatif Angkatan Kedua. Harapannya, dengan mengadakan diskusi dengan tema tersebut, peserta kuliah alternatif mampu lebih jernih dalam memandang dalam suatu permasalahan dan pengambilan keputusan.

Diskusi dikomandoi langsung oleh salah satu Alumni Kuliah Alternatif Angkatan pertama, Megawati Indah Pratiwi.  Sebelum diskusi berlangsung, Ma’as Shobirin selaku Founder Griya Peradaban menyampaikan ucapan terima kasih kepada pegiat Griya Peradaban karena telah mampu berkontribusi aktif dalam menyambut ulang tahun Griya Peradaban yang pertama.

“Terima kasih saya sampaikan kepada para aktivis Griya Peradaban, semoga kedepanya kita mampu berkolaborasi lebih aktif lagi dalam memajukan bangs aini”, ujar Ma’as.

Materi pertama disampaikan oleh Founder Podcastren, Irfan L Suhandi. Materi yang disampaikan oleh pria yang pernah mengenyam Pendidikan di University College London ini lebih menekan pada bagaimana manusia mampu berpikir layaknya seorang detektif. Pada awal diskusi, ia juga menjelaskan tekait hakikat dari pikiran (mind) itu sendiri.
 

Pria yang pernah menuliskan buku berjudul  ‘Mau Dibawa Kemana Islam Kita’ ini menjelaskan terkait pentingnya bahasa dalam proses berpikir. Ia juga menyampaikan bahwa kemampuan seseorang dalam berpikir secara kompleks adalah dengan kecakapan berpikir.

“Semakin luas perbendaharaan bahasa yang dimiliki manusia, maka akan semakin baik pula cara berpikirnya” kata Irfan.

Pada akhir sesi, pria asal Cianjur ini mengatakan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk berpikir secara mendalam. Hal tersebut tentunya akan mampu menggerakkan peradaban Islam yang pernah stagnan di tempatnya.

Acara berlanjut pada materi kedua yang disampaikan oleh Nadea Latthifa. Topik yang diangkat pada materi kedua ini sedikit berbeda dengan materi pertama, yaitu terkait proses berpikir dalam pengambilan keputusan.

Pada awal diskusi, perempuan asal Jepara ini banyak menyampaikan terkait pentingnya berpikir kritis dalam menentukan setiap keputusan.

“Setiap aspek kehidupan, pasti kita dituntut untuk membuat keputusan, dan dalam menentukan keputusan, kita tidak bisa terlepas dari proses berpikir” kata Nadea.

Pada akhir sesi, perempuan yang juga merupakan Duta Internasional Griya Peradaban ini berharap bahwa dengan mengoptimalkan pikiran yang dimiliki, manusia mampu memberikan kebermanfaatan untuk sekelilingnya.

“Semoga kita mampu menjadi seseorang yang mampu mengambil keputusan yang nantinya akan berdampak pada kemajuan negara, nusa, dan bangsa” kata Nadea.
 
 
Penulis: Alfiana F

Pantik Semangat Generasi Muda, Griya Peradaban Selenggarakan Kuliah Alternatif IV dengan Menghadirkan Pembicara Ternama



Campusnesia.co.idGenerasi Muda sebagai lokomotor gerakan tentu memiliki peran sentral dalam menentukan  nasib suatu bangsa. Generasi muda juga disinyalir mampu menjadi garda terdepan dalam menentukan arah gerak bangsa ke depan. Untuk itu, pemuda dituntut untuk menjadi pribadi yang kuat dan mampu menciptakan inovasi-inovasi yang mampu memperkokoh peradaban bangsa itu sendiri.

Sebagai salah satu upaya dalam memantik semangat generasi muda, Griya Peradaban kembali mengadakan Kuliah Alternatif IV yang akan dilaksanakan pada Bulan Juli – Agustus mendatang.

Tidak kalah hebat dari Kuliah Alternatif sebelumnya, Kuliah Alternatif IV juga akan menghadirkan pembicara-pembiacara yang berfokus pada topik-topik yang berkaitan dengan kepemudaan. Pembicara-pembicara tersebut diantaranya adalah Dimas Oki Nugroho (Founder Perkumpulan Kader Bangsa), Milatul Miskiyyah (Duta Santri Nasional), Alivia Nadatul Aisyi (Mentor Griya Peradaban), Atin Anggraini (Mentor Griya Peradaban), H. Iman Fadhilah (Pendiri rumah Pergerakan), Nurul Khasanah (Duta Santripreneur), Vania Indy Dhea Sylva (Mentor Griya Peradaban), Nailu Rokhmatika (Leader of Smartfren Community Brebes), Nurul Intan Krisnayanti (Ajudan Milenial Gubernur Jawa Barat 2021), dan Wildani Hefni (Mentor Griya Peradaban).



Adapun topik-topik yang diangkat dalam serangkaian Kuliah Alternatif IV diantaranya adalah Leadership and Social Transformation, Spiritual and Emotional Intelligence, Communication and Social Network, Entrepreneurship, Creativity and Innovation for Developing Community, dan Flexibility and Adaptability.

Ma’as Shobirin selaku Founder Griya Peradaban menyampaikan bahwa selain sebagai ajang dalam memantik semangat pemuda untuk berinovasi, Kuliah Alternatif IV juga merupakan ruang kolaborasi yang mengajak seluruh pemuda untuk tetap produktif dan berkontribusi di era yang dituntut untuk terus adaptif seperti saat ini.

“Selain sebagai ajang dalam memantik semangat generasi muda, adanya Kuliah Alternatif ini juga merupakan ajang kolaborasi pemuda dalam berkontribusi untuk kemajuan bansga,” ungkapnya.


Penulis 
Feby Alfiana

Jelang Kuliah Alternatif, Griya Peradaban Selenggarakan Kuliah Umum Bersama Staf Khusus Presiden

 


Campusnesia.co.idKomunitas yang bergerak dalam peningkatan kapasitas generasi muda, Griya Peradaban selenggarakan Kuliah Umum pada Sabtu (4/6/2022) melalui platform Zoom Meeting. Kegiatan tersebut diselenggarakan sebagai langkah awal dalam menyongsong Kuliah Alternatif Angkatan Keempat.


Ma’as Shobirin selaku founder Griya Peradaban menyampaikan bahwa Griya Peradaban pada dasarnya merupakan mimbar akademik dan ruang kolaborasi pemuda dalam berkontribusi di masyarakat. 

Oleh sebab itu, perlu adanya wadah untuk memberikan stimulus bagi pemuda dalam melakukan hal tersebut. Stimulus tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan menyelenggarakan kuliah umum.

“Griya Peradaban pada dasarnya merupakan mimbar akademik dan ruang kolaborasi pemuda untuk berkontribusi di masyarakat. Salah satu upaya dalam menstimulus hal tersebut adalah dengan menyelenggarakan kuliah umum,” kata Ma’as saat sambutan pembukaan Kuliah Umum Griya Peradaban.

Kuliah Umum sendiri dihadiri oleh Romzi Ahmad selaku Staf Khusus Presiden. Acara yang diikuti oleh sekitar 60 peserta tersebut mengangkat topik tentang Anak Muda, Teknologi, dan Society 5.0.

Pada awal diskusi, Romzi Ahmad yang juga berperan sebagai narasumber menyampaikan terkait dengan masyarakat Indonesia yang didominasi oleh Generasi Z dan Generasi Milenial. Ia mengatakan bahwa dominannya Generasi Z dan Generasi Milenial seharusnya mampu membawa perubahan besar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Generasi muda seharusnya mampu terlibat aktif dalam Gerakan-gerakan yang mampu membawa perubahan besar bagi masyarakat Indonesia,”ujarnya.

Pada Akhir diskusi, romzi menyampaikan bahwa setiap peradaban pasti membawa masalahnya masing-masing, namun dari permasalahan tersebut akan selalu hadir jawaban yang mampu dijadikan sebagai solusi dari permasalahan tersebut. Hal tersebut dibuktikan ketika Indonesia dihadapkan pada permasalahan Covid-19 yang kemudian dijawab dengan inovasi yang sangat luar biasa dari dunia teknologi digital.  

“Setiap peradaban pasti memiliki masalahnya masing-masing, namun dari permasalahan tersebut selalu akan muncul jawaban yang senantiasa menjadi pelengkap dari permasalahan tersebut,” kata Romzi.


Penulis
Feby Alfiana

Inspiring Talk Ramadhan Griya Peradaban



Inspiring Talk

Assalamualaikum.wr.wb
Selamat menjalankan ibadah Ramadhan dan semoga diberikan kesehatan dan kelancaran.
Situasi Pandemi mengharuskan kita untuk tetap Stay at Home terutama dalam mengisi Bulan Ramadhan, salah satunya dengan Tadarus dan Menghafal Al-Qur'an, Ramadhan Kali ini Griya Peradaban mengadakan :

πŸ“Inspiring Talk Ramadhan Griya PeradabanπŸ“

Meneguhkan Spirit Al Qur'an di kalangan generasi muda

Dilaksanakan pada:

πŸ—“️ Hari/Tanggal : Sabtu, 24 April 2021
⏰ Pukul : 15.30 WIB-Selesai
πŸ“Via : Platform zoom meeting
πŸ’΅: FREE HTM!!!

Dengan Narasumber yang luar biasa, bersama :
- Aldi Fahmi Musthofa (Juara MHQ Asean 2019)
-Durrotul Muqoffa (Penghafal Al Qur'an Di usia 6 Tahun).

Bersama:
- MC: F. Zakiyah Iffa Al-Rosyada (Aktivis Griya Peradaban)
- Moderator: Nailu Rohmatika (Aktivis Griya Peradaban)

Link Pendaftaran: http://bit.ly/RamadhanTalks

Ayok bergabung dan raih keberkahan Ramadhan bersama Griya Peradaban
Wassalamu'alaikum.wr.wb

#griyaperadaban #inspiringtalk #anakmuda #aktivis #perkumpulan #generasimuda #anakmudakeren #milenial #generasiZ
_______________
More info:
Instagram: @griyaperadaban.id
YouTube: Griya Peradaban Official
Facebook: Griyaperadaban
Gmail: griyaperadaban@gmail.com
Web: griyaperadaban.id

Griya Riset Indonesia Siapkan Generasi Unggul Melalui Riset dan Tulisan

 



Campusnesia.co.id – Menulis dan Riset merupakan satu hal yang tak bisa terlepas dari pembangunan suatu peradaban, bahkan tulisan menjadi salah satu indikator utama dalam sejarah peradaban manusia. 

Pengamatan, pikiran atau ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan akan lebih mudah dipelajari serta bisa menjadi ruang yang bermanfaat bagi orang lain dalam jangka waktu yang lama.

Griya Riset Indonesia (GRI) hadir sebagai wadah yang membangun mental dan nalar ilmiah generasi muda yang memiliki minat atau ketertarikan pada riset, ilmu pengetahuan dan penulisan karya tulis ilmiah, sekaligus sebagai ruang belajar, diskusi dan kolaborasi bagi peneliti muda Indonesia di bidang pendidikan dan sosial humaniora. 

Soft Launcing yang ditujukan untuk memperkenalkan Griya Riset Indonesia serta mendorong minat meneliti bagi calon peneliti muda melalui riset dan tulisan ini dilakukan pada Sabtu, (18/9/2021).




Kegiatan yang mengusung tema “Membumikan Tradisi Riset di Kalangan Generasi Muda” ini dipandu oleh host, Laila Fajrin Rauf (Aktivis Griya Riset Indonesia) dan dimoderatori oleh salah satu pegiat Griya Riset Indonesia, Megawaty Indah Pratiwi serta diikuti oleh 160 peserta. 

Acara ini juga menghadirkan dua nara sumber yang berkompeten dalam bidang riset dan kepenulisan, yaitu Achmad Dhofir Zuhri (Penulis Buku Peradaban Sarung) dan Peneliti Sejarah Kasultanan Demak Bintara, Ali Romdhoni. Hadir pula Founder serta Direktur Griya Riset Indonesia, Ma’as Shobirin dan Amrizarois Ismail.

Susunan acara yang berisi pembukaan, pembacaan kalam ilahi, sambutan-sambutan, materi yang merupakan acara inti, dan penutupan ini disambut dengan atusias oleh para peserta, serta berjalan secara lancar dan khidmad. 

Millatul Miskiyyah dengan suara merdunya, membacakan Q.S Majadalah: 11 dan diakhiri dengan Shalawat Tibbil Qulub.

Kemudian, dilanjutkan sambutan oleh Ketua Panitia, Direktur dan Founder of Griya Riset Indonesia. Dalam sambutannya, Amrizarois mengulas singkat profil Griya Riset Indonesia dan menjelaskan tentang kegiatan GRI mendatang. Sedangkan, Ma’as Shobirin menjelaskan latar belakang berdirinya dan harapan untuk Griya Peradaban dan Griya Riset Indonesia.  

“Dengan keterbatasan saya, dengan ketidakmampuan saya, saya memiliki komitmen dan keinginan besar untuk bisa menggabungkan dua kutub ini agar menjadi sebuah energi yang bermanfaat untuk masyarakat Indonesia. 

Teman-teman Griya Peradaban berkomitmen lewat soft skillnya, kuliah alternatif. Saya berharap Griya Riset Indonesia harus hidup meskipun pembelajarnya hanya 2 atau 5 tetap harus dijalankan, karena kita mengutamakan kualitas daripada kuantitas”, ujar Founder GRI.

Sebelum pemaparan materi dari kedua pemateri, Mega menampilkan profil berupa video singkat Griya Riset Indonesia. 

Achmad Dhofir Zuhry, menjadi pemateri pertama, memaparkan tentang tradisi menulis sebagai tonggak peradaban. Ucapan tahniah (selamat) atas berdirinya GRI, membuka penjelasan dari Penulis Buku Filsafat: Tersesat di Jalan yang Benar itu. 

Menurutnya, dengan berdirinya Griya Riset Indonesia, Indonesia yang peradabannya kerapkali dipertanyakan bahkan disepelekan, anggapan tersebut akan pudar. 

Kemudian, anak muda dari berbagai kalangan yang mulai concern untuk berkarya, kita tidak perlu lagi menunggu peran pemerintah untuk bergerak. 

Ia juga menjelaskan bahwa salah satu cara mencintai ilmu pengetahuan, yaitu dengan melakukan riset. Ia menambahkan dalam penjelasannya, dalam mempertimbangakan kuantitas diri,  sebelum bicara, menulis, ceramah atau melakukan apapun, harus terlebih dahulu disertai riset. 

“Perubahan pada hasil dimulai dari merubah cara. Perubahan itu dimulai dari tiga hal, yaitu dimulai dari diri, dimulai dari hal kecil dan mulai sekarang”, pungkas Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah itu.

Disambung oleh Dosen Unwahas, Ali Romdhoni yang menjelaskan tentang mendongkrak gairah riset di kalangan muda. Menurutnya, Griya Riset Indonesia ini lahir di Era Transisi, dimana generasi baru seperti saat ini perlu disambut dengan cara yang baru pula. Ia juga memaparkan bahwa riset ialah kerja-kerja sistematis dengan langkah dan prosedur untuk menemukan jawaban masalah saat ini.

Pria yang menjadi peneliti Sejarah di Kasultanan Demak Bintara ini juga menjelaskan pentingnya penelitian. Di antaranya, menjawab persoalan, menemukan sumberdaya yang kita miliki, memenangkan kompetensi global, dan menyiapkan masa depan yang lebih unggul.

“Bangsa yang memiliki kekuatan masa depan, mampu membaca kebutuhan masa depan, maka akan menjadi bangsa yang unggul, tidak lagi menjadi makmum”, ujarnya

Di akhir sesi, sebelum acara ditutup, Pegiat Griya Riset Indonesia, Muhammad Khozin menyampaikan informasi kegiatan terdekat Griya Riset Indonesia yang akan dilaksanakan pada bulan Oktober. Ditutup dengan hamdalah, Laila Fajrin Rauf undur diri dan mempersilakan peserta leave zoom meeting. 



Penulis:
Afifatun Ni'mah

Kuliah Alternatif Sesi III Angkatan IV, Kembali Angkat Topik Komunikasi dan Sosial Network



Campusnesia.co.idGriya Peradaban kembali menggelar diskusi Kuliah Alternatif IV pada sabtu(16/7/2022) melalui platform Zoom Meeting dengan mengusung tema "Communication And Social Network". Tema ini sukses mengajak peserta untuk membangun keterampilan berbicara dan mengembangkan struktur sosial dengan menjalin simpul relasi satu sama lain. 

Seperti yang disampaikan oleh Muhammad Diki Afriza sebagai perwakilan Pegiat Peradaban yang mengatakan bahwa adanya Griya Peradaban berperan sebagai mimbar akademik sekaligus ruang kolaborasi pemuda.

"Griya Peradaban ini merupakan mimbar akademik sekaligus ruang kolaborasi bagi generasi muda. Griya Peradaban hadir untuk berperan aktif dalam meningkatkan kapasitas muda melalui kegiatan training, mentoring, sekaligus memperdayaan," ucapnya.

Dalam diskusi pertama, pembahasan terkait membangun keterampilan dalam komunikasi oleh narasumber Atin Anggraini Surono selaku mentor Griya Peradaban. Bahwasannya komunikasi itu juga memiliki ilmu yang harus dimiliki agar dapat menyampaikan informasi dengan tepat. 

"Sebuah seni yang sebenarnya seringkali kita butuhkan dan amat sangat dekat dengan kehidupan kita, tapi dianggap sepele padahal ini bukan ilmu yang sepele" ucapnya.

Pada forum tersebut, ia menjelaskan tentang cara membangun keterampilan berbicara. Kemudian dilanjutkan dengan manfaat dari melatih keterampilan berbicara terhadap informasi yang disampaikan.
Ia menambahkan beberapa hal yang dilakukan untuk mengelola stres menjadi produktif.

Dilanjutkan dengan pemateri kedua oleh H. Imam  Fadhilah selaku Pendiri Rumah Pergerakan yang membahas terkait Sosial Network. Ia menyampaikan bahwasannya untuk menjadi seorang yang sukses dalam menjalin struktur sosial hendaklah dapat memahami relasi dalam simpul relasi.

"Untuk menjadi orang besar, kita harus merasa kecil. Hindari merasa besar sendiri, agar tidak mengecilkan yang lain," ungkap H. Imam Fadhilah.

Ia juga menegaskan bahwa komunikasi adalah soal inner beauty, kecantikan serta keanggunan yang muncul dari perkataan dan perbuatan.

"Berbuat baiklah kepada siapapun, tanpa terkecuali. Termasuk kepana orang yang tidak berbuat baik kepada kita" ucapnya.

Selain itu, ia juga menyampaikan perihal menyikapi seorang yang besar diri. Kemudian pentingnya membangun sosial network kepada siapapun dengan mengondisikan diri agar tidak besar diri dan selalu merasa kecil.



Penulis: Nabilatun Nisa
Editor: Feby Alfiana

Perkumpulan Griya Peradaban Membuka Pendaftaran Kuliah Alternatif Angkatan III Tahun 2022

 


Campusnesia.co.id - Setelah sukses dengan program sosial Kuliah Alternatif Angkatan 1 dan 2 tahun 2021, Perkumpulan Griya Peradaban kembali menggelar Kuliah Alternatif Angkatan III yang akan dilaksanakan pada bulan Januari dan Februari 2022 mendatang. 

Program ini dimaksudkan untuk membekali para generasi muda dalam bidang soft skill yang sangat dibutuhkan mereka. 

Dengan pelibatan banyak pihak dan komunitas, program sosial ini juga menyuguhkan materi menarik yang disajikan selama 6 kali pertemuan misalnya personality development and leadership, community development, communication skill, creative literacy, spiritual and emotional intelligence, entrepreneurship, personal branding and creative idea on social media. 

Program ini dilaksanakan secara online melalui zoom meeting secara rutin setiap hari sabtu jam 09.30-11.00 WIB yang bisa diikuti seluruh pemuda di Indonesia. 

Dibuka pendaftaran gelombang I tanggal 5-20 Desember dan gelombang II tanggal 21-28 Desember 2021 dengan donasi program yang sangat terjangkau, yakni Rp. 40.000 – Rp. 50.000 selama program berlangsung. Pendaftaran bisa dilakukan melalui link yang sudah disajikan di Instagram @griyaperadaban.id atau melalui www.griyaperadaban.id.

Selain mendapatkan materi perkuliahan serta akses pemuda di seluruh Indonesia, peserta juga akan memperoleh sertifikat program, kartu anggota perkumpulan griya peradaban dan rekomendasi keikutsertaan program baik dalam maupun luar negeri (apabila diperlukan). 



Pada kesempatan ini, sengaja pendiri Griya Perdaban, Ma’as Shobirin menghadirkan banyak pembicara dari kalangan pemuda yang memiliki prestasi dan jejak rekam baik dalam bidangnya, di antaranya Nurul Khasanah (Mentor Griya Peradaban), Nyimas An An Animah Umar (Pengelola Pondok Pesantren Ar-Risalah Ciamis), Imelda Zamjanah Rahmawati (Duta Muda ASEAN 2019), Nadea Latifah Nugraheni (Duta Internasional Griya Peradaban), Sindy Setiawati (Ajudan Milenial Gubernur Jawa Barat 2020), Haris Ashfa El Hakim (CEO AISH Media Group), Kaula Fahmi (Ketua PCI NU Tiongkok), Infijarun Ni'am (Ketua Gerakan Wirausaha Nasional jawa Tengah), Amrizarois Ismail (Direktur Griya Riset Indonesia), Abdullah Hamid (Founder Dunia Santri Community), Choirul Awaludin (Direktur Semarang Zoo) dan  Dani Akhyar (Head of Community Development PT. Smartfren) 

Selain sebagai salah satu wadah generasi muda Indonesia dalam meningkatkan kapasitas soft skill, hadirnya kuliah alternatif diharapkan mampu memberikan warna warni pengetahuan sekaligus menjadi ruang berbagi dan berkolaborasi bagi generasi muda di masa mendatang.

Di sela-sela kesibukannya sebagai Dosen Universitas Wahid Hasyim Semarang, Ma’as Shobirin selaku pendiri perkumpulan ini juga mengajak seluruh pemuda untuk mengikuti program baik ini karena program ini akan menjadi titik perjumpaan awal dalam menggabungkan talenta-talenta muda Indonesia.

“Kuliah Alternatif menjadi gerbang awal untuk menjumpakan titik temu seluruh potensi anak muda Indonesia”, ujarnya.


Penulis:
Alfiana

Inspiratif Mentor Griya Peradaban, Brelyantika Lolos Beasiswa di Empat Negara Eropa


 
 
Campusnesia.co.id - Suatu kesempatan yang sangat luar biasa dapat menimba ilmu pengetahuan di Benua Biru (Eropa). Belum lagi jika kesempatan tersebut disubsidi oleh pemerintah eropa secara langsung. Tentu bukanlah sesuatu yang mudah untuk mencapai itu semua.
 
Brelyantika Indra Jesa atau biasa dipanggil Tika ini merupakan anak bangsa kelahiran Jepara yang diberikan kesempatan untuk mendapatkan beasiswa di empat negara Eropa. Selain menjadi Founder Panti Carita, ia juga tercatat sebagai salah satu mentor di Perkumpulan Griya Peradaban hingga saat ini.
 
Selain cantik, perempuan yang pernah dinobatkan sebagai Juara 1 Putri Pendidikan Jateng 2020 ini juga memiliki tekad yang bulat dalam menggapai mimpinya. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu bergantung pada mimpi dan tujuan yang dimiliki setiap manusia.
 
“Semua berawal dari mimpi dan tujuan” kata Tika pada Kamis (29/7/2021) Ia juga mengatakan bahwa beasiswa yang telah didapatkan tidak terlepas dari proses yang telah ia lakukan selama ini. Mulai dari mengikuti seminar beasiswa, komunitas kerelawanan baik nasional maupun intenasional, hingga kursus Bahasa yang dinilai sangat perlu untuk menunjang studinya nanti.
 
Program beasiswa yang didapatkan merupakan beasiswa yang diprakarsai oleh pemerintah Eropa yang mendukung dalam bidang Pendidikan, Pelatihan, Pemuda, dan Olahraga. Program tersebut dikenal dengan nama Erasmus yang juga di dalamnya memuat program EMJMD (Erasmus Mundus Joint Master Degree).
 
EMJMD sendiri merupakan program studi yang ditawarkan oleh suatu Konsorsium universitas. Pada program tersebut, mahasiswa nantinya akan menjalani masa perkuliahan minimal pada dua Lembaga pendidikan yang menjadi bagian dari Konsorsium tersebut di beberapa negara Eropa.
 
Tika yang dalam hal ini mendapatkan program Beasiswa EMJMD, akan menempuh Pendidikan S2 nya di empat perguruan tinggi di beberapa negara Eropa, diantaranya adalah Mykolo Romero Universitetas (Lithuania), Rigas Tradana Universitate (Latvia), Universitas Catholica Ruzemberok (Slovakia), dan University of Lisbon (Portugal). 
 
Dilansir dari Kompas.com pada Selasa (27/7/2021), perempuan yang kaya akan prestasi ini berkunjung ke Kantor Bupati Jepara untuk meminta doa restu dan dukungan. Kedatangannya ke kantor bupati tersebut disambut hangat oleh Bupati Jepara, Dian Kristiandi. Bahkan,bupati yang akrab dengan panggilan Dian tersebut memberikan apresiasi kepada Tika berupa uang sejumlah Lima Juta Rupiah.
 
Perempuan yang merupakan alumni Politeknik Kesejahteraan Sosial Bandung ini rencananya akan mengambil jurusan yang senada dengan jurusan pada Pendidikan S-1nya, yaitu Pekerjaan Sosial dengan Anak dan Remaja.
 
Semua yang telah didapatkan Tika, bukanlah sesuatu yang mudah dan tentunya harus disertai dengan perjuangan. Selain berangkat dari mimpi dan tujuan, Tika juga mengatakan bahwa perlu adanya konsistensi dalam menggapai itu semua. Ia juga mengatakan bahwa usaha dalam kehidupan manusia itu seperti anak tangga.
 
“Kehidupan itu seperti anak tangga, untuk beranjak dari tangga pertama ke tangga ketiga, kita harus melewati tangga kedua terlebih dahulu” kata Tika.
 
Di kesempatan lain, Pendiri Perkumpulan Griya Peradaban, Bapak Ma’as Shobirin menyampaikan bahwa Brelantika merupakan salah satu mentor yang aktif dalam mengisi program kuliah alternatif. Mendapati kabar ini, beliau sangat bahagia dan menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas prestasi yang diraih oleh salah satu mentornya itu. 
 
“Brelyantika salah satu mentor Griya Peradaban yang sangat kontributif dan memiliki passion bagus. Saya ucapakan selamat atas capaian yang diraih, semoga ilmunya bermanfaat.”, ujarnya.


Penulis: 
Alfiana
Pegiat Griya Peradaban

Siti Nurarofah Alumni Kuliah Alternatif Griya Peradaban berhasil Lolos Program Beasiswa International Youth Leader

 



Campusnesia.co.idBerawal dari semangat jiwa muda, Nurarofah, alumni Kuliah Alternatif Griya Peradaban Angkatan Kedua asal Tanggerang Banten, berhasil lolos program beasiswa yang diselenggarakan oleh International Youth Leader pada Maret 2022 mendatang. 

Tidak hanya itu, ia yang saat ini menyandang gelar sebagai santripun memiliki keyakinan bahwa ‘santri  bisa mendunia’ turut menjadi pemantik baginya untuk mengikuti program tersebut.

“Ada dua hal yang memotivasi saya dalam mengikuti program ini. Pertama, motto hidup saya sendiri yaitu ‘mudamu tak terulang’ dan yang kedua adalah saya ingin membuktikan bahwa santri pun bisa mendunia” kata Arofah pada Sabtu (16/10/2021).

Perempuan yang pernah menempuh Pendidikan di STISNU Nusantara Tanggerang ini juga menyampaikan bahwa program yang ia dapatkan merupakan program yang bergerak pada ranah sosial dan Pendidikan yang dilakukan di beberapa tempat seperti Malaysia, Singapura, Turki, Amerikan, dan beberapa negara lain. Namun dalam kesempatan ini, ia hanya dapat berkunjung ke Amerika Serikat, tepatnya di Harvard University.

International Youth Leader (ILY) sendiri merupakan platform pelatihan dan Pendidikan kepemimpinan untuk pemuda Indonesia yang bergerak pada bidang Student Exchange dan Leadership Camp, fokus dari International Youth Leader menyiapkan pemimpin muda yang siap berkompetisi di tingkat internasional.

Selain sebagai santri yang mengabdikan dirinya kepada pesantren, Siti Nurarofah yang juga pernah mendapat prestasi sebagai mahasiswa inspiratif ini juga aktif  dalam kegiatan-kegiatan sosial seperti IMUN Online Conference dan juga ikut serta menjadi Kader Inti Pemuda Anti Narkoba (KIPAN) Banten. 

Pernah nyantri di Pondok Pesantren An-nur, Bantul, Yogyakarta Siti Nurarofah menyampaikan tips dan trik lolos program international Youth Leader tersebut.an riset terhadap program tersebut.

“Menurut saya, tips dan trik dalam mekakukan program apapun,  itu cuma satu, yaitu riset. Riset tersebut bisa riset tentag program dan lembaga yang mengadakan, riset tentang negara tujuan, dan tentang planning apa yang akan kita rancang setelah mengikuti program tersebut” ujar Arofah.

Sebagai salah satu alumni Kuliah Alternatif Griya Peradaban Angkatan kedua, ia mengatakan banyak hal menarik yang ia dapatkan selama mengikuti kuliah tersebut. Mulai dari semangat baru yang memantik dirinya untuk terus maju dan berkembang hingga terbuka kesempatan  untuk mengaktualisasikan motto hidupnya.

“Program beasiswa yang saya dapat saat ini tentu memiliki korelasi yang kuat dengan apa yang saya dapatkan di Griya Peradaban, dimana di Griya Peradaban saya mendapatkan motivasi untuk terus maju, semangat jiwa muda, dan kepercayan diri untuk menjadi yang lebih baik” kata Nurarofah.

Siti Nurarofah berharap dapat menerapkan hal-hal baik yang ia dapatkan dari program Beasiswa International Youth Leader tersebut di Indonesia. Dengan tujuan  menjadikan Bangsa Indonesia menjadi lebih baik lagi.


Penulis : Alfiana F
Editor: Nandar

Griya Peradaban Gelar Kuliah Alternatif dengan Tema Personality Development

 



Campusnesia.co.id - Semarang - Perkumpulan Griya Peradaban menggelar event bertajuk  Perkuliahan Alternatif pada pertemuan pertama pada Sabtu (16/01/2021). Pada kelas pertama disii dengan mengangkat tema Personality Development. 

Jajang Jalaludin, Koordinator Aktivis Griya Peradaban menjelaskan bahwa materi ini menjadi materi awal di program kuliah alternatif yang setidaknya memiliki tujuan agar pembelajar mampu memaksimalkan potensi yang ada di dalam diri mereka, sehingga menjadi pribadi yang luar biasa serta mampu menghadapi segala perubahan zaman. 


Menghadirkan dua pemateri, Husnul Khotimah, penerima beasiswa LPDP Santri di Universitas Gajah Mada Yogjakarta dan Ibnu Fikri Ghazali yang merupakan Ketua Tanfidziyah PCI NU Pakistan sekaligus Duta Internasional Griya Peradaban. Kedua pemateri menyampaikan masing-masing subtema yang berbeda dan kali ini sebagai moderator adalah saudari Fuad Zakiyyah Iffa Al Rosyada, Aktivis Griya Peradaban.

Husnul Khotimah memaparkan poin penting dalam hal pengembangan diri  di antaranya; “Mengembangkan diri dapat memperjelas tujuan hidup, meningkatkan kemampuan dan potensi, menciptakan peluang sekaligus meningkatkan kepercayaan diri sendiri”, ucap wanita usia 24 tahun. Ia juga memperjelas beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkannya, salah satunya memotivasi diri sendiri. 

Memahami potensi diri dapat dilakukan dengan mengenali potensi diri sendiri tanpa sibuk memperhatikan kelebihan orang lain. Setiap individu harus mau belajar dengan hal baru dan siap menerima masukan untuk hal yang sifatnya membangun.

Sementara itu, Ibnu Fikri Ghazali mengulas pengalamannya saat berusaha kuliah di Pakistan dengan menerapkan makna proses dan kesabaran dalam mencapai keberhasilan. Ibnu  menjelaskan pribadi yang berhasil adalah pribadi yang selalu bergerak, karena di setiap pergerakan itu memiliki keberkahan, dan hal itu merupakan wujud pengembangan diri dalam mencapai keberhasilan yang dicita-citakan” jelasnya. Lebih lanjut, ia juga menyampaikan tiga hal yang dipahami dalam menjaga eksistensi seseorang, yaitu etika, etik dan kode etik. (Mega)

iklan

Sudahi Insecure Atasi Mental Breakdown, Yuk Belajar Spiritual dan emotional Quotient bersama Griya Peradaban

 

 
Campusnesia.co.id - Griya Peradaban kembali adakan diskusi sesi ketiga pada Kuliah Alternatif II (Sabtu, 24 Juli 2021). Tema yang diangakat pada diskusi tersebut adalah tentang pentingnya Spiritual Quotient (SQ) dan Emotional Quotient (EQ) dalam kehidupan manusia.

Tsamrotul Izzah selaku aktivis Griya Peradaban yang juga berperan sebagai host, telah sukses dalam memimpin jalannya acara tersebut dari awal sampai akhir.

Acara dimulai dengan sambutan yang dibawakan oleh salah satu aktivis Griya Peradaban, Nailu Rohmatika. Ia mengatakan bahwa melalui Kuliah Alternatif, setiap peserta dapat saling menjalin relasi dan berkolaborasi satu sama lain.

“Mengacu pada Kuliah Alternatif Angkatan pertama, dimana pesertanya mampu menjalin relasi dan berkolaborasi dengan baik. Saya yakin, hal tersebut juga dapat dilakukan oleh para peserta dari Angkatan kedua” ujar Nailu.

Materi yang dibahas dalam diskusi sesi ketiga ini juga tidak kalah seru dari sesi sebelumnya. Jika sesi sebelumnya lebih membahas tentang self improvement dan leadership, diskusi pada sesi ketiga ini lebih banyak membahas tentang pentingnya Spiritual Quotient (SQ) dan Emotional Quotient (EQ) dalam kehidupan manusia. Kedua materi tersebut tentu saja disampaikan oleh dua narasumber yang memang ahli dalam bidang tersebut.
 
 
Materi pertama dibawakan oleh salah satu mentor Griya Peradaban, Mahmud Yunus Musthofa. Ia lebih menekankan pada pembahasan terkait Spiritual Quation (SQ). Ia mengatakan bahwa Spiritual Quotient (SQ) merupakan suatu kecerdasan yang berguna untuk menemukan dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan makna serta mampu untuk menggerakkan kecerdasan lain yang dimiliki manusia.

“Dengan mengoptimalkan kecerdasan spiritual yang dimiliki manusia, manusia tersebut akan mampu mengerahkan kecerdasan lain yang dimilikinya” kata Mahmud.

Pria yang pernah menjadi Genre Ambassador Semarang 2019 ini juga menyampaikan bahwa kecerdasan spiritual sangat penting untuk dikembangkan pada diri setiap individu. Hal tersebut dikarenakan banyaknya manusia yang lebih mementingkan Intelegence Quotient (IQ) daripada Spiritual Quotient (SQ). Alhasil, jiwa kemanusiaan dan kepekaannya terhadap realita sosial kurang diperhatikan.

Setelah asyik dengan materi pertama, acara berlanjut pada materi kedua yang di bawakan oleh Founder Global Empowerment Steps, Kintansari Adhyna. Materi yang membahas tentang Emotional Quotient (EQ) ini lebih menekankan pada Design Thinking, yaitu suatu kondisi dimana manusia mampu mengubah pemikiran dari Lower  Order Thinking (LOT) menjadi Higher Order Thinking (HOT).

“Design Thinking itu perlu kita bahas karena di dalanya menjelaskan bagaimana kita mampu mengubah pola pikir kita dari Lower  Order Thinking (LOT) menjadi Higher Order Thinking (HOT)” kata Kintan. 

Selain itu, wanita yang pernah menjadi Duta Muda Asean Indonesia 2019 ini juga menjelaskan terkait Properthic Leadership. Ia mengatakan bahwa Properthic Leadership ini dapat tersusun atas tiga komponen, yaitu humanization, liberation, dan transcendence. 
 
Humanzation merupakan suatu Tindakan yang mengarah pada nilai-nilai kemanusiaan, liberation lebih mengarah pada pembebasan, dan transcendence mengarah pada kemampuan yang dimiliki manusia itu sendiri.

Ia juga menyampaikan bahwa dalam menggapai kunci sukses, persentase mindse seseorang  lebih besar daripada persentase kecerdasan inetelektual orang itu sendiri.

“Dalam menggapai kesuksesan, yang lebih penting adalah bagaimana kita mampu mengatur mindset kita dalam memandang suatu permasalahan, bukan bergantung pada seberapa besar kecerdasan intelektual yang kita miiliki ” kata Kintan.
 
 
Penulis: Feby Alfiana

 

Kupas Tuntas Leadership bersama Atin dan Ibnu dalam Kuliah Alternatif Griya Peradaban


 
 
Campusnesia.co.id - Griya Peradaban kembali menyelenggarakan sesi kedua Kuliah Alternatif II pada Sabtu (17/7/2021) yang tak kalah meriah dari sesi pertama. Meskipun acara ini dilaksanakan secara daring, hal tersebut tidak menyurutkan semangat peserta kuliah alternatif dalam mengikuti diskusi.

Acara yang dipandu oleh Khaerunnisa selaku Aktivis Griya Peradaban ini dimulai dengan sambutan yang dibawakan oleh Bendahara Aktivis Griya Peradaban yaitu Putri Rizkiyatul Windiyarti. Ia mengatakan bahwa dengan diadakannya Kuliah Alternatif II ini diharapkan mampu menjadi ajang bagi peserta kuliah alternatif untuk tetap produktif.

“Saya harap, adanya pandemi dan hari weekend, bukanlah suatu alasan bagi kita untuk tidak produktif” tutur Putri.

Diskusi yang bertemakan ‘Leadership’ ini kemudian berlanjut pada materi pertama yang disampaikan oleh Atin Anggraeeni Surono yang juga berperan sebagai mentor di Griya Peradaban. Wanita yang pernah menjadi Duta GenRe Kota Semarang 2019 ini mengawali diskusinya dengan membahas tentang konsep leadership yang ideal di masa krisis.

Ia menyampaikan bahwa leadership adalah suatu Seni dan Proses. Seni disini diartikan sebagai suatu keindahan yang subjektif. Artinya, seni memimpin antara satu orang dengan orang yang lain pasti memiliki perbedaan dan perbedaan tersebut merupakan suatu keindahan.

“Tidak bisa kita samakan antara baik buruknya kepemimpinan yang dimiliki satu orang dengan orang lain, karena itu adalah suatu seni” ujar Atin.

Sedangkan proses menurutnya adalah suatu tindakan dimana seorang leader mampu mempengaruhi, mengatur, dan mengkoordinir anggotanya dengan baik.

Wanita yang juga kaya akan sejuta pengalaman ini kemudian melanjutkan diskusinya tentang  pendekatan apa yang digunakan dalam memimpin. Ia mengatakan bahwa setidaknya terdapat tiga pendekatan yang digunakan dalam memimpin, diantaranya adalah Heart Leadership (memimpin dengan hati), Mind Lidership (memimpin dengan logika), dan Hand Leadership (memimpin dengan tangan).

“Disaat krisis seperti saat ini, pendekatan dalam memimpin perlu disempurnakan dengan menyeimbangkan tiga pendekatan tersebut” ujar Atin. 

Tak kalah luar biasa, Ibnu Fikri Ghozali selaku pemateri kedua juga menyampaikan materi yang tak kalah menarik dari pemateri pertama. Pria yang pernah nyantri di Gontor Jawa Timur ini lebih membahas tentang teori-teori tentang kepemimpinan.  

Ia menyampaikan bahwa setidaknya terdapat empat teori yang membahas tentang kepemimpinan. Pertama, Great Man Theories yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa jiwa kepemimpinan seseorang terbentuk atas dasar keturunan, bukan proses. 
 
Kedua, Big-Bang Theories yaitu suatu teori kepemimpinan yang mengatakan bahwa peristiwa besar mampu membentuk diri seseorang menjadi pemimpin. 
 
Ketiga, Trait Theories yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa keefektifan seorang pemimpin dilihat dari perangai yang ia miliki. 
 
Keempat, Teori Kepemimpinan Situasional yaitu suatu teori yang mengatakan bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
 
Pria kelahiran Pemalang ini juga menambahkan bahwa untuk mencapai tujuan dalam kepemimpinan, seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi, memimpin, dan mengajak anggotanya.

Pada akhir sesi, Atin Anggraeni selaku pemateri pertama menyampaikan bahwa dalam kepemimpinan, antara pikiran dan hati harus seimbang.

“Yang benar menurut kita, belum tentu baik menurut hati” kata Atin.
 
 
Penulis: Feby Alfiana
 

Belajar Pentingnya Literasi bersama Annas Rolli M (Duta Santri Nasional 2016) dan Wildani Hefni (Santri Produktif Kemenag tahun 2012) di Perkuliahan Alternatif Griya Peradaban

 



Campusnesia.co.id - Semarang – Dalam rangka menumbuhkan semangat literasi, perkumpulan griya peradaban mengadakan perkuliahan alternatif sesi ke tujuh pada Sabtu (27/02). Sesi ini menghadirkan dua santri penulis, yaitu Annas Rolli M (Duta Santri Nasional 2016) dan Wildani Hefni (Santri Produktif Kemenag tahun 2012).

Pada kesempatan ini, Annas Rolli M mengutarakan pentingnya literasi bagi pemuda. “Pada tahun 2045, kita akan mengalami bonus demografi, dimana usia produktif yang memiliki peran, oleh karena itu, literasi dan menulis adalah salah satu yang bisa dilakukan”, tegasnya.

Kemudian ia juga menerangkan tentang struktur dan ciri-ciri karya tulis ilmiah. “Ciri karya tulis ilmiah yaitu orisinal, plagiasi akan menjadi musuh kita, sehingga harus dihindari. " Sambung Santri muda tersebut.


Annas menjelaskan, dalam penulisan KTI, terdapat lima langkah yang harus dilakukan. Pertama mencari rumusan masalah, yang dapat diperoleh dengan memperbanyak membaca dan diskusi. Kedua, memposisikan karya yang dibuat, dengan mencari jurnal atau referensi kemudian dicari titik perbedaannya. Ketiga, mengumpulkan referensi. Keempat, menuliskannya serta kelima, melakukan konsultasi.

Ia mendorong para peserta agar membiasakan tradisi menulis dengan mengutip sastrawan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. “Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tak menulis, ia kan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah."

Tak kurang menarik, pemateri kedua, Wildani Hefni, mengemukakan tentang literasi dan keadaban publik. Ia menjelaskan bahwa literasi diartikan sebagai kemampuan menulis dan membaca, kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan kecakapan hidup. “Kemampuan membaca tidak cukup sebagai modal kehidupan, tetapi dibutuhkan literasi kecerdasan." Ujarnya.

Kemudian, ia menyampaikan upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai literasi kecerdasan, yaitu adanya perangkat ethical literacy (keadaaban literasi), yang dilakukan melalu lisan yang ramah dan toleran, pencerahan intelektual yang kritis dan pencapaian kecerdasan kemanusian.

Perkuliahan yang dipandu oleh Khaerunnisa (Aktivis Griya Peradaban), berjalan dengan lancar. Peserta antusias mengikuti perkuliahan sampai akhir. Ma’as Shobirin (Founder Griya Peradaban) yang mendampingi jalannya perkuliahan. (Mega)

Baca Juga:

Belajar Membaca Peluang Usaha Anak Muda di Era Digital dan Pandemi dalam Kuliah Alternatif Griya Peradaban

 

 
 
Campusnesia.co.id - Dunia memang selalu memaksa kita untuk terus bergerak maju dalam situasi dan kondisi apapun. Hal ini menandakan bahwa kita dituntut untuk mampu bertahan, tanpa melihat seberapa jauh kemampuan kita dalam menghadapi dunia tersebut.   

Era digital dan Pandemi Covid-19 menjadi tantangan nyata yang kita hadapi saat ini, hal tersebut tentu saja tidak terlepas dari adanya perubahan yang signifikan pada beberapa sektor kehidupan seperti pendidikan, budaya, politik, atau bahkan ekonomi.

Dalam menyikapi problematika tersebut, Griya Peradaban mencoba memberikan ruang kepada anak muda untuk mampu adaptif dalam menghadapi era tersebut melaui diskusi kewirausahaan yang membahas tentang peluang usaha anak muda di era digital dan pandemi.

Diskusi yang dilaksanakan pada Sabtu (14/8/2021) ini mendatangkan dua pemateri yang sangat luar biasa, yaitu Nurul Khasanah (Duta Santripreneurship) dan Vania Indi Dhea (Mentor Griya Peradaban).

Diskusi yang dimoderatori oleh salah satu Alumni Kuliah Alternatif, Syaichu Zakaria ini dimulai dengan mengangkat topik yang berkaitan dengan cara bagaimana anak muda mampu membaca peluang usaha di era digital dan pandemi. 

Diskusi pertama pada sesi keenam ini dibawakan oleh Nurul Khasanah selaku Duta Santripreneurship sekaligus mentor Griya Peradaban. Pada awal diskusi, ia menyampaikan tekait perlunya perubahan perspektif yang dimiliki manusia tentang kewirausahaan.

“Kewirausahaan bukan sebuah pekerjaan, melainkan sebuag usaha atau cara seseorang untuk terus berpikir mandiri dan terus menerus” kata Nurul.

Ia juga menambahkan bahwa perubahan perspektif yang dimiliki manusia tentang kewirausaan mampu memberikan dampak yang signifikan bagi semangat manusia itu sendiri dalam berwirausaha. 

Perempuan yang juga merupakan Crew Dedikasi Fotografi ini kemudian menyampaikan terkait persentase seseorang dalam menjadi entrepreneur. Ia mengatakan bahwa 15% seseorang menjadi entrepreneur disebabkan garis keturunan, 25% karena keterpaksaaan, dan 60% karena adanya keyakinan dan kemauan yang dimiliki orang tersebut.

Kemudian, perempuan dengan segudang prestasi ini menjelaskan terkait alternatif bisnis yang bisa dilakukan di era pandemi dan digital. Alternatif bisnis yang bisa dilakukan, diantaranya adalah kuliner unik, jasa pengiriman barang, e-payment, dan e-Commerce. Sedangkan untuk alternatif bisnis di era digital diantaranya adalah bisnis dropship, penyewaan perlengkapan multimedia, dan pembuatan website. 

Pada akhir sesi, perempuan yang juga pernah menjadi Duta Pelajar Putri Kendal ini menyampaikan terkait kiat-kiat dalam memulai bisnis ala anak muda. Dua diantara kiat-kiat tersebut adalah percaya pada kemampuan diri sendiri dan berani untuk mengambil tawaran serta risiko.

“Kita harus menanamkan dalam benak kita bahwa kita bisa, kita juga harus buktikan bahwa tawaran dan risiko yang kita hadapi adalah bentuk awal kita dalam melangkah” kata Nurul.

Diskusi berlanjut pada materi kedua yang dibawakan oleh Vania Indy Dhea. Matei kedua ini sedikit berbeda dengan materi pertama, pada materi kedua ini lebih menekankan pada Enterpreneural Thinking atau hal-hal apa saja yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha.

Perempuan yang pernah menjadi Juara Duta Wisata Kabupaten Kendal ini memulai diskusinya dengan mengenalkan konsep entepreneurship dan bagaimana seorang entrepreneur dapat memiliki jiwa kewirausaan dalam dirinya. Menurutnya, mental usaha dapat terbentuk melalui empat hal, yaitu belajar, berlatih, bertindak, dan sukses berkelanjutan.
 
Pada akhir sesi, perempuan yang juga merupakan Mentor Griya Peradaban ini menyampaikan bahwa mimpi saja tidak cukup untuk menjadi seorang pengusaha, tapi juga dibutuhkan tindakan nyata dalam mewujudkan hal tersebut. “Pengusaha sejati adalah pelaku, bukan pemimpi” ujar Vania.
 
 
Penulis: Alfiana F
Memaksimalkan Creative Literacy sebagai Gerakan dalam Menggali Ide Kreatif

Memaksimalkan Creative Literacy sebagai Gerakan dalam Menggali Ide Kreatif

 


Campusnesia.co.id Literasi biasanya selalu disangkut pautkan dengan sesuatu yang berhubungan dengan membaca dan menulis. Padahal, apabila dipahami lebih dalam, literasi merupakan kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. 

Permasalahannya saat ini adalah Indonesia memiliki indeks literasi yang relatif rendah. Menurut Program for International Student Assessment (PISA), pada 2019 Indonesia menempati peringkat ke 62 dari 70 negara yang disurvei oleh PISA. Dengan kata lain, Indonesia merupakan negara yang termasuk ke dalam 10 negara dengan indeks literasi terendah.
Sebagai salah satu bentuk meningkatkan indeks prestasi di Indonesia. Griya Peradaban kembali melanjutkan serial diskusinya dalam Kuliah Alternatif 3. Dalam Seri keempat tersebut, Griya Peradaban mengangkat topik tentang Creative Literacy. 

Griya Peradaban pun menghadirkan dua narasumber yang concern dalam topik tersebut. Kedua narasumber tersebut adalah Nadea Lathifah (Duta Internasional Griya Peradaban) dan Amrizarois Ismail (Direktur Griya Riset Indonesia). 

Diskusi yang diselenggarakan pada Sabtu (29/1/2022) dihadiri oleh 50 peserta kuliah alternatif. 

Nadea Lathifah selaku pembicara pertama menyampaikan bahwa literasi seharusnya tidak dimaknasi dengan kemampuan membaca dan menulis saja, melainkan juga dengan kemampuan dalam menganalisis sesuatu.

"Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, melainkan tentang kompetensi nalar dalam memacahkan memahami suatu fenomena dan kemudian diadopsi menjadi bentuk pemecahan masalah," ujar Nadea.


Sedikit berbeda dengan pembicara pertama, Amrizaroiz selaku pembicara kedua lebih menekankan bagaimana cara menulis berbagai maca karya tulis dan bagaimana cara mempublikasikannya. 

Pada akhir sesi, pria kelahiran Demak ini mengatakan tentang pentingnya tulisan dalam mengubah dunia."Salah satu jalan mengubah peradaban adalah dengan tulisan," ujarnya.



Penulis:
Feby Alfiana