Peran Sastra Melayu Tionghoa Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Sastra Indonesia

 


Campusnesia.co.id -  Khasanah kesusastraan Indonesia tentunya sangat luas, berbagai jenis karya sastra dari waktu ke waktu telah menunjukkan bahwa setiap masa kesusastraan Indonesia semakin berkembang dan modern. 
 
Dalam proses perkembangan itulah, beberapa karya sastra dianggap sangat penting dan berpengaruh bagi kemajuan dunia sastra. Selain itu, tokoh-tokoh sastrawan tertentu juga dianggap sebagai pencetus munculnya berbagai genre dan model karya sastra dalam negeri. 
 
Berbagai tokoh tersebut juga menciptakan bermacam jenis genre karya sastra yang terfokus pada suatu kalangan, atau daerah tertentu seperti sastra pesantren yang bernafaskan islam, karya melayu klasik, karya sastra melayu tionghoa, dan masih banyak lagi. KaryaKarya sastra melayu-tionghoa adalah jenis sastra yang perannya cukup berpengaruh terhadap perkembangan sastra Indonesia, akan tetapi kerap terlupakan dan seperti di anak tirikan. .
 
1. Pengertian Sastra Melayu-Tionghoa dan Perkembangannya.
Kesastraan melayu-tionghoa mulai muncul dan mengalami perkembangan sebelum akhir abad ke-19. Sumardjo (1992) mengatakan bahwa kesastraan melayu-tionghoa diawali dari adanya terjemahan-terjemahan sastra tionghoa ke dalam bahasa melayu dan bahasa jawa. 
 
Pengertian kesastraan melayu-tionghoa sendiri diartikan sebagai karya tulis yang ditulis oleh peranakan tionghoa, yang biasanya menggunakan bahasa melayu rendah atau melayu pasar. Istilah bahasa Melayu Rendah sendiri adalah bahasa melayu yang mudah dimengerti dan digunakan oleh sebagian besar masyarakat umum Hindia-Belanda pada masa itu. 
 
Sedangkan bahasa Melayu-Tinggi adalah bahasa yang diperkenalkan oleh pemerintah kolonial, bahasa ini terkesan lebih baku dan biasanya digunakan untuk orang-orang yang memiliki jabatan atau orang terpandang. 
 
Perkembangan kesastraan melayu-tionghoa semakin berkembang, namun bagi Balai Pustaka kesastraan melayu-tionghoa menggunakan bahasa melayu rendah dan dianggap bacaan liar yang bermutu rendah. 
 
Faktanya banyak kesastraan melayu-tionghoa yang mengangkat mengenai masalah sosial dalam masyarakat pada saat itu, contohnya  "Berdjoeang" (1934) yang ditulis oleh Liem Khing Hoo dan "Masjarakat" (1940) yang ditulis oleh Than Sioe Tjhay. Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa masa perkembangan sastra Melayu-Tionghoa sebagai masa transisi dari kesusastraan Indonesia lama ke kesusastraan Indonesia baru.
 
 
2. Peran dan Fungsi Sastra Melayu-Tionghoa Terhadap Sastra Indonesia.
Pada dasarnya kesusastraan melayu-tionghoa merupakan hal yang tidak  dapat dipisahkan dan menjadi bagian dari kesusastraan Indonesia, akan tetapi pada masa lampau sastra melayu tionghoa tidak dianggap sebagai bagian dari sastra Indonesia karena dianggap bermutu rendah dan menggunakan bahasa Melayu Pasar. 
 
Menurut Claudine, prosa yang berjudul Oey Se karya Thio Tjin dan Lo Fen Koei karya Gouw Peng Liang adalah dua prosa asli melayu tionghoa yang telah muncul 20 tahun lebih awal daripada novel Azab dan Sengsara tahun 1920 terbitan Balai Pustaka.
 
Dari berbagai sastra yang dihasilkan para peranakan tionghoa yang berbahasa melayu pasar, memberikan sumbangsih yang cukup besar bagi perkembangan kosa kata Bahasa Indonesia. 
 
Peran penting berkaitan dengan perkembangan sastra surat kabar dilakukan tiga jurnalis yakni, F.H. Wiggers, H. Kommer dan F. Pangemanan. Dua orang pertama dari golongan peranakan Eropa dan yang terakhir kelahiran Menado. 
 
Ketiga orang ini yang mendorong dan mengarahkan penulisan-penulisan cerita asli dengan latar belakang sejarah Indonesia. Mereka menulis dengan lancar dalam Melayu pasar dan karya-karya mereka dapat diterima baik di kalangan Indo maupun Tionghoa peranakan.
 
 
Daftar Pustaka:
 
Erowati, Rosida, Ahmad Bahtiar. 2011. Sejarah Sastra Indonesia. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Syaruf Hidayatullah.
 
Salmon, Claudine. Sastra Indonesia Awal: Kontribusi Orang Tionghoa. Diterjemahkan Ida Sundari Husen dkk. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. 2010.
 
Sumardjo, Jacob. Lintasan Sejarah Sastra Indonesia. Bandung: Citra Aditya. 1992. 
 
Kesusastran Indonesia Melayu Rendah pada Masa Awal. Yogyakarta: Galang Press. 2004
 
 
Penulis: Erlita Purnomo 
Editor: Ika Shintya


** Artikel ini merupakan bagian dari program Magang Online Campusnesia season 2 


Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »