Telaah Ilmiah Teori Deteksi Dini Calon Psikopat Lewat DNA dalam Drama Korea MOUSE

 



Campusnesia.co.id - Belum rampung perbincangan tentang Teori Teleportasi Kuantum dalam drama korea Sisyphus The Myth yang masih on going, kini muncul lagi sebuah drama yang sebenarnya secara genre masuk kategori Thriller namun dibumbui science fiction cabang ilmu biologi yaitu seputar Genomic dan DNA berjudul MOUSE.

Awalnya penulis menonton karena ada salah satu aktor favorit Lee Seung Gi, yang tampil apik dalam Vagabond 2019 lalu bersama Bae Suzy, lewat aktor ini juga saya kali pertama  menonton dan katagihan drama korea dalam 2 judul yang dibintanginya, My Girl Friend is Gumiho dan Gu Family Book.

Mouse menjadi heboh karena episode pertamanya diberi rating 19+, bukan tanpa sebab karena sepanjang durasinya disajikan adegan kekerasan dan pembunuhan berantai yang dilakukan oleh seorang psikopat.

Misteri pengungkapan siapa sebenarnya pelaku pembunuhan berantai tersebut menjadi inti cerita drama ini, antara pihak kepolisian dan sang pelaku.

Bumbu science fiction yang akan coba kita telaah terletak pada premis bahwa DNA psikopat bisa diturunkan ke anak. Kesimpulan ini diberikan oleh seorang karakter bernama Dr. Lee yang berdasar hasil penelitiannya, ada kesamaan pada DNA para psikopat yang melakukan pembunuhan yaitu DNA dengan nama kode AOMO yang mempengaruhi emosi pada manusia.

Jadi mari pelan-pelan kita bahas,
- Apakah benar DNA Psikopat bisa diturunkan?
- Apakah deteksi dini pada janin dengan Gen Psikopat bisa lakukan?
- Jika gen pembawa sifat negatif bisa di-eliminir, mungkin tercipta masyarakat yang isinya orang baik semua?

Males Baca?
Dengarkan versi Audio dengan klik tombol play di bawah ini. atau kunjungi Campusnesia Podcast di Spotify.



1. Apakah benar DNA Psikopat bisa diturunkan?

Sebelum menjawab pertanyaan pertama ini, terlebih dahulu mari berkenalan dengan Genomika, yaitu cabang biologi yang mempelajari genom dari suatu organisme atau virus. Termasuk yang dikaji adalah struktur, organisasi serta fungsinya. Objek kajiannya adalah DNA secara keseluruhan (DNA nuklear/inti, cpDNA, dan mtDNA) maupun sebagian ("gen"). RNA sebagai bahan genetik atau DNA yang dibuat berdasarkan RNA (cDNA) juga menjadi objek kajian genomika. (wikipedia)

Kita juga perlu berkenalan dengan istilah Whole Genome Sequencing (WGS) atau pengurutan genom lengkap adalah proses menentukan urutan DNA lengkap dari suatu genom organisme pada satu waktu. Ini mencakup pengurutan semua kromosom organisme serta DNA yang terkandung dalam mitokondria dan juga untuk tanaman, dalam kloroplas. Dalam praktiknya, pengurutan genom yang hampir lengkap disebut juga pengurutan keseluruhan genom (WGS).[wikipedia]

Dengan cabang ilmu Genomika dan Genome Squencing, maka deteksi gen tertentu pada DNA manusia bisa dilakukan. Sehingga jika dalam drama disebutkan bahwa Dr. Lee menemukan kesamaan pada pelaku pembunuhan psikopat yaitu memiliki MAOA, hal ini secara ilmu pengetahuan bisa dilakukan.

Untuk pertanyaan apakah DNA bisa diturunkan termasuk yang membawa sifat negaitf, secara teori jawabanya bisa.

2. Apakah deteksi dini pada janin dengan Gen Psikopat bisa lakukan?

Jawabanya Bisa dengan teknologi Genome Sequencing. Ada isu menarik lainnya yaitu gagasan para politisi dalam drama Mouse yang mengusulkan undang-undang aborsi pada janin yang terdeteksi memiliki gen psikopat agar masyarakat lebih aman.

Dalam drama usulan undang-undang ini ditolak oleh mayoritas anggota parlemen dengan alasan kemanusiaan. Secara pribadi penulis juga setuju dengan keputusan penentangan usulan undang-undang tersebut, karena walau seseorang terlahir memiliki Gen bawaan bersifat negatif dan berpotensi menjadi psikopat namun, karakter dan prilaku manusia tidak seratus persen disebabkan oleh faktor gen saja.

Ada sekitar 40 sampai 50 persen manusia yang membawa gen kekerasan, walau terlihat banyak, namun tidak semua orang yang membawa gen ini pasti bersifat agresif dan penuh kekerasan.

Perilaku manusia dipengaruhi oleh interaksi antara gen dan faktor lingkungan yang akan membentuk struktur otak dan cara pandangnya. Kondisi sosial, budaya, dan faktor pendidikan berperan penting untuk membentuk emosi, moral, dan akal sehat seseorang.

Itu berarti meski Anda punya gen ini, Anda masih bisa mencegah diri sendiri melakukan tindak kekerasan lewat kesadaran akan moral. Kesadaran moral bisa membantu Anda memilah-milah perilaku seperti apa yang bisa diterima dalam masyarakat dan mana yang tidak.

Moral sendiri adalah kemampuan untuk membedakan mana tindakan yang benar dan bisa diterima dalam masyarakat dengan tindakan mana yang salah dan tidak bisa diterima. Jadi, bukan mustahil bagi orang yang membawa dua gen kekerasan ini untuk melawan dorongan melakukan tindak kekerasan.

Begitu juga sebaliknya, tidak bisa kalau cuma menyalahkan gen saat seseorang berbuat kekerasan. Masalahnya, Anda seharusnya punya dorongan untuk tidak melakukan tindak kekerasan. (halosehat.com)

Apa kata Ahli?
Sebuah penelitian pada tahun 2014 dilakukan di Finlandia terhadap narapidana di penjara yang kemudian dilakukan analisis genetik. Hasilnya, didapatkan dua gen yang berhubungan dengan kekerasan dan sikap agresif. Dua gen tersebut yaitu gen MAOA dan Cadherin 13 (CDH 13). Orang yang mempunyai gen kekerasan tersebut 13 kali lebih berisiko mempunyai riwayat kekerasan yang berulang.

Gen MAOA berfungsi untuk mengurai neurotransmiter (suatu senyawa kimia di dalam otak untuk menghubungkan dan memberi informasi kepada sel- sel otak) seperti norepinefrin dan serotonin. Kedua senyawa inilah yang memengaruhi kondisi emosi seseorang.

Gen MAOA juga dihubungkan dengan risiko terjadinya kekerasan pada anak dan anak tumbuh dewasa menjadi seorang sosiopat. Dilihat berdasarkan jenis kelaminnya, laki-laki dengan mutasi pada gen MAOA cenderung menunjukkan sikap yang mengarah kepada kekerasan dibandingkan dengan wanita.

Gen yang kedua adalah gen CDH13. Gen ini berfungsi untuk membantu pertumbuhan dan hubungan dari neuron (sel-sel otak). Selama ini, banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa gen CDH13 juga berhubungan dengan penyakit seperti ADHD, autisme, skizofrenia, gangguan bipolar, dan kecanduan alkohol.

Seperti kode genetik lainnya, MAOA dan Cadherin 13 bisa diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Dengan kata lain, anak yang orangtuanya cenderung melakukan kekerasan mungkin saja tumbuh menjadi pelaku kekerasan juga.

Namun, tentu saja ini bukan harga mati. Pasalnya, anak atau orangtua mungkin saja membawa gen ini dalam tubuh. Yang jadi persoalan yaitu apakah gen tersebut bersifat aktif atau tidak.

Gen tertentu dalam tubuh bisa diaktifkan dalam kondisi-kondisi tertentu. Misalnya lingkungan di mana anak tumbuh memang penuh kekerasan yang dilakukan orangtua. Akibatnya, gen kekerasan anak yang tadinya tidak aktif bisa menjadi aktif sehingga anak punya kecenderungan besar melakukan tindak kekerasan pula.  

Hal ini disebut sebagai rantai kekerasan. Sulit sekali untuk memutus rantai ini karena orang yang sudah punya dua gen tersebut memang lebih berisiko melakukan kekerasan dan menurunkan sifat agresifnya pada keturunan selanjutnya secara turun temurun.

Maka, penting sekali bagi orangtua untuk memastikan bahwa selama masa kanak-kanak, anak berada di lingkungan yang aman dan kondusif. Caranya bisa dimulai dari diri Anda sendiri, misalnya dengan tidak menggunakan kekerasan sebagai metode untuk menanamkan disiplin. (halosehat.com)

3. Jika Gen pembawa sifat negatif bisa di-eliminir, mungkin tercipta masyarakat yang isinya orang baik semua?

Sebelum membahas tentang paradoks masyarakat yang isinya orang baik semua, kita bahas dulu apakah gen tertentu bisa dikurangi atau ditambah?

Dalam praktik ilmu pengetahuan istilahnya Gen Editing,  yang disebut dengan Clusteres Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats (CRISPR).

Pada teori pemuliaan tanaman, dengan metode perkawinan silang dan treatmen tertentu suatu tanaman bisa ditingkatkan mutu bagusnya dan di-eliminir sifat negatifnya, seperti varietas Padi IR8, bunga anggrek yang warnanya beragam, ukuran buah pepaya yang lebih besar namun sedikit biji dll.

Ide editing level gen pada manusia, awalnya bertujuan sebagai deteksi dini dan pencegahan pada beberapa jenis penyakit misalnya dimensia dan alzheimer.

Sejauh ini positif, hingga ada yang berhipotesis, jika memang bisa dilakukan penambahan dan pengurangan gen yang membawa sifat tertentu kenapa tidak sekalian diciptakan manusia super?

Manusia dengan tubuh yang kuat, kulit putih bersih dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Secara teori hal ini bisa dilakukan, namun dalam konteks pelaksanaan hari ini tidak mungkin dilakukan karena alasan etik dan norma agama.

Ilmuwan China Divonis Penjara 3 Tahun karena Edit Gen Bayi Kembar
Seorang ilmuwan China yang membantu 'menciptakan' bayi hasil perubahan gen untuk pertama kalinya di dunia telah dijatuhi hukuman tiga tahun penjara.

Pada 2018, He Jiankui seorang profesor di Universitas Sains dan Teknologi Selatan di Shenzhen mengejutkan dunia ketika dia mengumumkan bahwa anak perempuan kembar Lulu dan Nana dilahirkan dengan DNA yang dimodifikasi untuk membuat mereka kebal terhadap HIV. Hal itu dilakukan dengan menggunakan alat pengeditan gen CRISPR-Cas9 sebelum lahir.


Dikutip dari CNN, banyak peneliti dalam komunitas ilmiah mengemukakan kekhawatiran dari segi etis, termasuk soal persetujuan dari orangtua bayi, dan tingkat transparansi seputar penyuntingan gen.

Pada Senin (30/12), Pengadilan Rakyat Distrik Nanshan Shenzhen menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara kepada He dan denda 3 juta yuan (US$430 ribu). (cnnindonesia)

Kembali ke pertanyaan awal, jika editing gen bisa dilakukan, apakah bisa tercipta society yang isinya orang baik semua?

Menurut penulis jawabanya tidak ada jaminan, dalam dunia ini berlaku hukum entropi dimana derajat chaos dalam setiap kehidupan itu konsisten dalam berbagai bentuk.

Andai, gen editing berhasil dilakukan dan tercipta masyarakat dengan gen baik semua, karena semua entitas dalam kehidupan itu memiliki sifat yang hampir sama (monoton) tidak menutup akan ada anomali satu persekian dengan sifat superiotas, artinya peluang tetap terjadi chaos selalu ada.

Pemetaan dan Keberagaman
Jauh sebelum drama Mouse tayang, saya menonton diskusi pak Gita Wiryawan bersama Co-founder startup genomika Nusantics, Sharlini Eriza Putri membahas tentang pemetaan genom dan manfaatnya.



Pesan yang saya tangkap, ketika pemetaan gen bisa dilakukan justru akan lebih bermanfaat dalam hal pencegahan bukan penciptaan hal baru.

Misal, aplikasi pada pemetaan gen pada terumbu karang kalau pada saatnya bisa dilakukan secara real time, akan mudah dideteksi lebih dini ketika terjadi kerusakan, informasi ini akan bermanfaat untuk pembuat kebijakan, misal kawsan wisata dengan terumbu karang jika terdeksi level kerusakan pada ambang batas tertentu, hasil pemetaan dan deteksi dini bisa jadi kriteria untuk menutup sementara kawasan tersebut dan memberi waktu organisme pulih kembali.

Poin berikutnya dalah tentang keberagaman atau biodiversity, derajat chaos dalam teroi entropi jelas tidak bisa dihindari, namun mungkin bisa diperlambat dengan cara menjaga keberagaman, karena dalam keberagaman akan tercipta mata rantai sempurna yang saling melengkapi bukan entitas kehidupan yang seragam yang cenderung monoton.

Oke sobat campusneesia, itu tadi sedikit pembahasan dari sudut pandang yang "agak ilmiah" yang bisa kita bahas dari bumbu science fiction drama korea Mouse yang menyinggung tentang pemeteaan Gen dan penurunan DNA psikopat serta kemungkinan deteks dini.

Jujur saya agak kehilangan arah di tengah jalan ketika membuat artikel ini, jadi untuk sobat yang lebih paham bisa membantu dengan meluruskan dan mengkoreksi jika ada yang kurang atau salah agar tidak terjadi missinformasi dan kebingungan.

Semangat artikel ini dibuat dalam konteks menambah wawasan dengan cara ngulik sesuatu dari hal yang kita sukai sekalipun berangkat dari sebuah fiksi ilmiah. Sampai jumpa semoga bermanfaat.

Penulis:
Nandar

Baca Juga:


Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »