Profil dan Biografi Andri Rizki Putra, Pendiri YPAB

7:22:00 PM

Nama Andri Rizki Putra makin terkenal usai tampil dalam acara televisi Kick Andy di Metro TV, Hitam Putih di Trans7 dan dimuat diberbagai surat kabar nasional. Rizki adalah sosok pemuda yang berani melawan arus walau dengan resiko tersisihkan. Ia meraih predikat cumlaude dari Fakultas Hukum Universitas Indonesia 2011 walaupun hanya lulusan Paket C atau setara SMA.

Rizky mengidamkan sistem pendidikan yang jujur. Bukan hanya berharap, dia memilih untuk mendirikan lembaga pendidikan sendiri yang mengutamakan kejujuran murid-muridnya yaitu Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) yang mengajar mereka yang putus sekolah dan ingin melanjutkan pendidikannya tanpa batas usia, dan pekerjaan secara gratis untuk siapa pun.

Berikut adalah profil anak muda dengan wajah ganteng, bersih,dan murah senyum, yang diperoleh dari berbagai sumber.


Kehidupan Awal dan Karir
Andri Rizki Putra lahir di Medan, 20 Oktober 1991 dari ayah keturunan Tionghoa dan ibu keturunan Batak, bernama Arlina Sariani Hasibuan. Ia hanya mengecap kasih sayang kedua orangtuanya secara utuh sampai di usianya yang ketiga. Pasca perceraian orangtuanya, Rizki yang merupakan anak tunggal, hidup dalam pengasuhan ibunya yang menjadi single parent. Tumbuh dalam keluarga broken home, tidak membuat Rizki menjadi anak yang memberontak. Justru sebaliknya, ia menorehkan prestasi akademik yang baik di sekolah.

.

Pendidikan Kejujuran (Kelas 3 SMP)
Waktu itu Rizki masih kelas 3 sekolah menengah pertama (SMP). Ketika Ujian Nasional (UN) berlangsung, terjadi praktek menyontek dan kebocoran soal UN di sekolahnya. Lebih parahnya guru-guru justru ikut memberikan kunci jawaban ke peserta. Modus lainnya, guru-guru memberi arahan kepada murid-murid yang duduk di peringkat 3 besar untuk membantu memberikan jawaban bagi teman-teman mereka yang lain yang dinilai berkemampuan pas-pasan pas mengikuti UN Tujuannya semua siswa lulus sehingga reputasi sekolah akan tetap baik.
Rizki pun menolak. Ia berusaha melaporkan skandal ini ke kepala sekolah, namun sebelum rencana ini berhasil, ia dihadang oleh gurunya sendiri. ”Kenapa ingin ke kantor kepala sekolah?” tanya sang guru. Tanpa takut, remaja dengan seragam putih biru itu bilang bahwa dirinya ingin mengadukan buruknya sistem ujian nasional.

Sang guru malah menyuruh Rizki pulang dan mengingatkan jangan sampai isu ini tersebar luas. Padahal, tanpa menyontek, Rizki bisa lulus dengan nilai bagus. Rata-rata nilai yang dia dapatkan dalam tiga mata pelajaran, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan Matematika, adalah 8,75. Ironi tak mandek di situ. Teman-teman sekolah Rizki yang notabene siswa salah satu SMP unggulan di Jakarta Selatan justru mengucilkannya.

Tentangan sosial membuat hari-hari kelulusan semakin berat. Sempat dia berpikir hendak melapor ke Indonesia Corruption Watch (ICW) dan mengekspose ke media, namun ditahan orang-orang dekatnya. Rizki drop dan depresi. Dia menghabiskan masa-masa menjelang SMA dengan mengurung diri di kamar dan enggan keluar rumah.

.

Mengambil Paket C
Saat masuk SMA pada 2006 juga, Rizki merasakan kekosongan hati yang luar biasa. Meski diterima di SMA unggulan, mendapat beasiswa prestasi, dan mencetak nilai tertinggi, dia sudah tak bersemangat sekolah. Akhirnya Rizki hanya satu bulan di SMA dan memilih putus sekolah. Kepercayaannya terhadap sekolah formal luntur.

Namun, jangan dikira Rizki akan menyerah untuk mendapat pendidikan. Dia meyakinkan sang ibu, Arlina Sariani, 50, bahwa dirinya mencari pola belajar dengan caranya sendiri. Bukan homeschooling yang harus membayar mahal biaya pendidikannya. Bukan juga bimbingan belajar yang masuk pendidikan nonformal.Unschooling merupakan jalur pendidikan tanpa lembaga, bahkan tanpa pengawasan orang tua. Dia belajar sendiri di rumah. Sumber pendidikannya dia raih dari membaca dan mempelajari buku-buku bekas dari saudara-saudaranya.

Sebetulnya unschooling yang dijalani Rizki merupakan program pemerintah untuk pendidikan informal berupa pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM). Sistem itulah yang melahirkan ijazah paket. Sayang, ijazah paket sudah kadung bercitra negatif. Hanya karena lulusan ijazah paket, mayoritas anak-anak putus sekolah dan tak mampu secara akademik. Akses ke perguruan tinggi juga susah karena beberapa kampus tidak menerima pelamar dengan ijazah tersebut.

Selain research melalui internet, Rizki pergi ke dinas pendidikan untuk meyakinkan tetap bisa mengikuti ujian kesetaraan dengan pola pendidikan seperti itu. Bahkan, dia tertantang mengambil ujian paket C setara SMA dengan sistem akselerasi. Ternyata, diknas mengizinkan Rizki dengan beberapa syarat. Salah satunya, mengikuti placement test yang berisi ujian akademik dan tes IQ. Rupanya Rizki berhasil melampaui syarat ujian paket kesetaraan di bawah 17 tahun.

Untuk lolos tes paket, dalam sehari dia menghabiskan 22 jam untuk belajar. Dia melumat pelajaran yang normalnya diambil tiga tahun menjadi setahun saja. Pelajaran yang dirasa sulit dia cari jawabannya lewat internet. Dia juga rajin membaca surat kabar. ”Ujian paket seharusnya juga lebih sulit karena saya harus belajar enam mata pelajaran. Sebaliknya, ujian nasional hanya tiga mata pelajaran,” tuturnya yang saat ditemui mengenakan setelan jaket kuning dan celana jins warna cerah.

Begitu hasil ujian paket keluar, Rizki mencetak nilai sangat tinggi dengan rata-rata 9 tiap pelajaran. Dia lulus SMA pada usia 16 tahun! ”Saat itu pun pengawas ujian sempat menyodori saya kunci jawaban agar saya lulus. Pasti saja saya tolak,” ujarnya, lantas tersenyum mengenang kisah ironi itu. Pendidikan pun dia dapatkan dengan sangat murah. Selama unschooling, dia hanya mengeluarkan biaya Rp 100 ribu. ”Untuk fotokopi ijazah,” candanya.

.

Kuliah di Fakultas Hukum UI
Pada 2007 Rizki tembus SNM PTN dan diterima sebagai mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Indonesia (UI). Bahkan, dekan fakultasnya heran karena ada mahasiswa dengan ijazah paket.

Ketika kuliah di UI, Rizki aktif di kegiatan penelitian kampus, perlombaan debat, dan mengajar mereka yang putus sekolah. Ia mendapat predikat Juara 3 Mahasiswa Berprestasi Tingkat FHUI, peraih predikat cum laude (lulusan terbaik), salah satu lulusan termuda, dan menjadi mahasiswa tercepat yang menyelesaikan perkuliahannya (dalam waktu 6 semester).

.


Pendiri Masjidschooling dan YPAB
Pengalaman panjangnya dalam bersekolah itu memicu Rizki untuk membuat sekolah gratis. Tak sekadar gratis, dia membantu murid-muridnya mendapatkan ijazah paket A, B, dan C. Yayasan pertama yang dia dirikan adalah masjidschooling. Dia menamai masjidschooling karena proses pembelajarannya bertempat di teras Masjid Baiturrahman di bilangan Bintaro.

Rizki pun menjadi guru bagi puluhan muridnya yang putus sekolah. Selain itu, dia dibantu mengajar oleh ibu-ibu rumah tangga dan para mahasiswa STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi Negara). Hingga kini masjidschoolingberjalan empat tahun.

Selain samping itu, Rizki yang saat ini menjadi konsultan di firma hukum Baker and MzKenzie juga menjadi founder Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) pada 2012. Berbeda dengan masjidschooling yang cenderungsegmented untuk warga muslim karena dikelola ibu-ibu pengajian, YPAB lebih plural.

Konsep pendidikan di YPAB juga fleksibel. Sebab, tutor di YPAB merupakan anak-anak muda berusia 20–30 tahun dengan berbagai latar belakang pendidikan dan profesional. Mereka menjadi relawan setia yang mengajar tanpa bayaran.

Terkadang Rizki juga menjalin kerja sama dengan relasinya di luar negeri seperti Meksiko dan Malaysia untuk mengajar di YPAB. Tidak pelak, murid-murid putus sekolah yang selama ini dipandang sebelah mata oleh masyarakat akhirnya mau tidak mau belajar ngomong Inggris. Yang membanggakan, sudah banyak murid ”schooling” Rizki yang ”naik kelas”. Dari tukang jual koran menjadi pegawai admin di media. Dari pembantu rumah tangga (PRT) menjadi admin di perkantoran.

Bahkan, Prihatin, salah seorang murid yang sehari-hari berjualan pisang goreng di Tanah Abang, menjadi peraih nilai ujian nasional paket B tertinggi nasional. Kini Prihatin melanjutkan paket C. Dua murid lainnya yang bekerja sebagai PRT, ungkap Rizki, akan melanjutkan kuliah.

Kendati demikian, mengembangkan YPAB hingga memiliki ratusan murid dari hanya dua murid bukan hal mudah. Banyak pula tekanan dari masyarakat. Misalnya, warga pernah memprotes Rizki karena mengira yayasannya adalah tempat berbuat mesum. Sebab, awal-awal berdiri, proses pembelajaran YPAB di dalam kamar dan garasi. ”Pernah juga dikira tengah melakukan kristenisasi dengan antek-antek asing,” papar Rizki yang ingin melanjutkan kuliah school of education di Amerika Serikat.

Namun, semua itu dilalui dengan baik. YPAB kini memiliki beberapa cabang. Selain di Tanah Abang, juga di Bintaro, kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal, dan Medan. Rencananya Rizki juga mendirikan YPAB di luar Jawa. Dari sisi kurikulum, selain menggenjot kemampuan bahasa, dia akan menambahkan praktik entrepreneurship.

”Saya tidak memaksa murid untuk punya nilai bagus. Tapi, menekankan pentingnya kejujuran. Lihat, koruptor itu adalah orang-orang pintar, namun sudah tidak jujur sejak dalam pikiran,” tegas Rizki.

.



Biodata Lengkap
Nama: Andri Rizki Putra
Nama Panggilan: Rizki
Agama: Islam
Tempat dan Tanggal Lahir: Medan, 20 Oktober 1991
Akun Sosial Media: Twitter dan Instagram @andririzkiputra

Pendidikan
Fakultas Hukum (Konsentrasi Hukum Bisnis) Universitas Indonesia (2008-2011)
Pendidikan Kesetaraan Paket C (Akselerasi) (2006-2007)

Prestasi dan Organisasi
Penerima Penghargaan Kick Andy Young Heroes 2015
Breakthrough People di bidang Pendidikan 2015
Remaja Berprestasi dan Menginspirasi (Mewakili Masyarakat Umum) oleh Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia 2014
Penulis Buku “Orang Jujur Tidak Sekolah” diterbitkan oleh Bentang Pustaka 2014
Ketua Pusat Kegiatan Belajar Mengajar Pemimpin Anak Bangsa 2012
Pendiri Yayasan Pemimpin Anak Bangsa (YPAB) 2012
Juara III Mahasiswa Berprestasi Fakultas Hukum Universitas Indonesia 2011
Peraih Predikat Cumlaude Universitas Indonesia 2011

Artikel Terkait

Previous
Next Post »