Memuat konten...

Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri kkn. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri kkn. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro Hadirkan “PUSTAKA JUARA” untuk Tingkatkan Literasi Anak Desa Juragan

0


Campusnesia.co.idBATANG, 29 Juli 2026 – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) melalui program PUSTAKA JUARA (Perpustakaan Unggul untuk Literasi Anak Juragan) melaksanakan kegiatan penguatan literasi bagi siswa SDN Juragan, Desa Juragan, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya untuk menumbuhkan minat baca sekaligus mengembangkan kemampuan anak dalam memahami cerita dan menuangkan ide melalui tulisan.

Kegiatan PUSTAKA JUARA dirancang dengan menggabungkan beberapa aktivitas literasi yang interaktif dan menyenangkan. Rangkaian kegiatan meliputi ice breaking literasi, read aloud, cerdas cermat, dan penulisan kreatif. Pendekatan tersebut digunakan agar siswa tidak hanya menerima materi secara satu arah, tetapi turut terlibat aktif selama kegiatan berlangsung.

Kegiatan diawali dengan ice breaking literasi untuk membangun suasana belajar yang lebih santai dan menarik. Siswa diajak mengikuti permainan dan menjawab pertanyaan sederhana yang berkaitan dengan cerita rakyat Indonesia. Kegiatan tersebut menjadi pengantar sebelum siswa memasuki sesi membaca dan membantu membangun antusiasme mereka dalam mengikuti rangkaian kegiatan.

Selanjutnya, siswa mengikuti kegiatan read aloud dengan konsep membaca cerita secara bergantian. Mahasiswa KKN membacakan cerita rakyat Timun Mas bersama-sama, dengan setiap mahasiswa mengambil bagian dalam membacakan tokoh atau bagian cerita yang berbeda. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk menyimak cerita sekaligus mengenal kegiatan membaca dengan cara yang lebih interaktif.

Setelah cerita selesai dibacakan, kegiatan dilanjutkan dengan cerdas cermat. Siswa diberikan pertanyaan yang berkaitan dengan cerita yang telah mereka dengarkan dan berlomba menjawab pertanyaan dengan cepat dan tepat. Selain menjadi permainan, kegiatan tersebut juga digunakan untuk melihat sejauh mana siswa memahami isi cerita.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penulisan kreatif. Siswa diberikan kesempatan untuk menuangkan ide dan imajinasi mereka melalui tulisan sederhana berdasarkan pertanyaan yang telah diberikan. Melalui kegiatan tersebut, siswa didorong untuk berani menyampaikan gagasan menggunakan kata-kata mereka sendiri tanpa terlalu dibatasi oleh bentuk tulisan.

Dalam pelaksanaan PUSTAKA JUARA, Shaina Yanfa Kiswari turut berperan dalam mendampingi siswa selama rangkaian kegiatan, mulai dari memandu ice breaking, memfasilitasi kegiatan read aloud, memberikan pertanyaan dalam sesi cerdas cermat, hingga mendampingi siswa dalam kegiatan penulisan kreatif. Keterlibatan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk berinteraksi secara langsung dengan siswa dan memahami karakter serta kemampuan mereka dalam mengikuti kegiatan literasi.

Hasil tulisan yang dibuat oleh siswa kemudian dikumpulkan dan menjadi bagian dari Pojok Literasi Kreatif. Pojok tersebut digunakan sebagai ruang untuk menampilkan karya siswa sehingga hasil tulisan mereka dapat diapresiasi dan dibaca oleh teman-teman lainnya.

Melalui PUSTAKA JUARA, kegiatan literasi tidak hanya diarahkan pada kemampuan membaca, tetapi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir, menjawab pertanyaan, dan menyampaikan gagasan melalui tulisan. Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman bahwa kegiatan literasi dapat dilakukan dengan cara yang menyenangkan dan dekat dengan dunia anak-anak.


Keberadaan Pojok Literasi Kreatif juga diharapkan dapat menjadi bagian dari lingkungan belajar yang mendorong siswa untuk terus membaca dan berkarya. Dengan adanya ruang untuk menampilkan hasil tulisan, siswa dapat melihat bahwa ide dan cerita yang mereka buat memiliki nilai untuk diapresiasi.

PUSTAKA JUARA menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN Universitas Diponegoro dalam mendukung penguatan budaya literasi di Desa Juragan. Melalui kegiatan membaca, bermain, berdiskusi, dan menulis, mahasiswa berupaya menciptakan pengalaman belajar yang dapat mendorong anak-anak untuk terus mengenal, menikmati, dan mengembangkan kemampuan literasi mereka.



Penulis/Reporter: Shaina Yanfa Kiswari
Fotografer: Tim II KKN Undip 2026 Desa Juragan
Editor: Achmad Munandar
 

Mahasiswa KKN UNDIP Dampingi Kegiatan Belajar Mengajar Guna Mendukung Pendidikan Anak di Desa Juragan

0



Campusnesia.co.idBATANG, 1 Agustus 2026 – Mahasiswa KKN Universitas Diponegoro, Afni Anggreani dan Shaina Yanfa Kiswari, melaksanakan pendampingan kegiatan belajar mengajar di TK Satria, Desa Juragan, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang. Kegiatan sosial kemasyarakatan ini dilaksanakan sebanyak dua kali, pada 21 Juli dan 1 Agustus 2026, sebagai bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu proses pembelajaran dan mendukung pendidikan anak-anak di Desa Juragan.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa turut terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas pembelajaran di TK Satria. Pendampingan dilakukan dengan membantu guru selama proses belajar mengajar, seperti mendampingi anak-anak dalam mengerjakan tugas, mengikuti kegiatan bernyanyi dan bermain, serta memberikan bantuan ketika anak-anak mengalami kesulitan selama kegiatan berlangsung.

Keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran dilakukan dengan menyesuaikan kegiatan dengan kondisi dan kebutuhan anak-anak. Mahasiswa turut memberikan pendampingan secara individual ketika terdapat anak yang membutuhkan bantuan dalam memahami atau menyelesaikan kegiatan yang diberikan. Dengan demikian, proses pembelajaran dapat berlangsung secara lebih interaktif dan anak-anak memperoleh pendampingan selama mengikuti kegiatan di kelas. 


Selain membantu kegiatan pembelajaran, mahasiswa juga berinteraksi secara langsung dengan anak-anak melalui kegiatan yang edukatif dan menyenangkan. Interaksi tersebut dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang lebih aktif sekaligus membantu anak-anak merasa nyaman selama mengikuti pembelajaran. Kehadiran mahasiswa juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan pendamping belajar guru yang sehari-hari mendampingi mereka.


Selama kegiatan berlangsung, anak-anak menunjukkan antusiasme dalam mengikuti aktivitas yang diberikan. Interaksi yang terjalin antara mahasiswa dan anak-anak juga menciptakan suasana pembelajaran yang lebih hangat. Mahasiswa tidak hanya berperan dalam membantu kegiatan di kelas, tetapi juga turut membangun komunikasi dengan anak-anak melalui pendekatan yang sesuai dengan karakteristik mereka.


Kegiatan pendampingan ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dalam berinteraksi dengan anak usia dini. Melalui keterlibatan secara langsung di kelas, mahasiswa dapat belajar memahami karakter dan kebutuhan anak dalam mengikuti proses pembelajaran. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa untuk dapat berkontribusi secara langsung di lingkungan masyarakat.

Di sisi lain, kegiatan ini turut mempererat hubungan antara mahasiswa KKN dengan pihak sekolah. Pendampingan yang dilakukan menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa dan guru dalam mendukung berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di TK Satria. Kehadiran mahasiswa diharapkan dapat memberikan dukungan tambahan selama proses pembelajaran sekaligus menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

Melalui kegiatan ini, mahasiswa KKN berharap dapat memberikan kontribusi positif dalam mendukung proses pembelajaran di TK Satria. Kegiatan pendampingan juga diharapkan dapat memberikan pengalaman yang bermanfaat bagi mahasiswa sekaligus mempererat hubungan antara mahasiswa KKN, pihak sekolah, dan masyarakat Desa Juragan.

Pendampingan kegiatan pembelajaran di TK Satria menjadi salah satu bentuk keterlibatan mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro dalam mendukung kegiatan pendidikan di Desa Juragan selama pelaksanaan KKN. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar bersama yang memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun anak-anak di lingkungan sekolah.


Penulis/Reporter: Tim KKN Undip Desa Juragan
Fotografer: Tim II KKN Undip 2026 Desa Juragan
Editor: Achmad Munandar

Dari Limbah Buah Jadi Manfaat, KKN-T 106 UNDIP dan Pertamina Patra Niaga Ajak Warga Pedurungan Tengah Kenali Eco Enzyme

0
 

Mahasiswa KKN-T 106 UNDIP bersama peserta kegiatan Sosialisasi Pembuatan Eco Enzyme di Balai Kelurahan Pedurungan Tengah, Sabtu (8/8/2026). 


Campusnesia.co.id - Semarang – Tumpukan kulit dan sisa buah yang selama ini berakhir sebagai limbah ternyata masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bernilai guna. Melalui semangat “Dari Limbah Buah Jadi Manfaat”, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 106 Universitas Diponegoro berkolaborasi dengan Pertamina Patra Niaga mengajak masyarakat Kelurahan Pedurungan Tengah untuk mengenal dan mempraktikkan pembuatan eco enzyme. Kegiatan sosialisasi dan praktik tersebut dilaksanakan pada Sabtu (8/8/2026) di Balai Kelurahan Pedurungan Tengah, Kecamatan Pedurungan, Kota Semarang, dengan sasaran masyarakat RW 06, RW 08, serta Kelompok Tani Mulyo. 

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pemanfaatan limbah organik rumah tangga. Melalui pembuatan eco enzyme, limbah buah yang umumnya langsung dibuang diperkenalkan sebagai bahan yang masih dapat dimanfaatkan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk mulai menerapkan pengelolaan limbah secara lebih bijak dari lingkungan rumah masing-masing.

Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai eco enzyme. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai pengertian eco enzyme, bahan dasar yang digunakan, serta proses pembuatannya. Penyampaian materi dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai potensi limbah buah dan cara mengolahnya menjadi eco enzyme.

Setelah sesi materi, kegiatan dilanjutkan dengan praktik pembuatan eco enzyme. Peserta mengikuti secara langsung tahapan pengolahan menggunakan limbah buah sebagai bahan dasar. Keterlibatan peserta dalam praktik diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga keterampilan yang dapat diterapkan kembali secara mandiri di rumah maupun lingkungan sekitar.


Peserta mengikuti praktik pembuatan eco enzyme dengan memanfaatkan limbah buah sebagai bahan dasar. 

Antusiasme masyarakat turut terlihat selama kegiatan berlangsung. Peserta dari RW 06, RW 08, dan Kelompok Tani Mulyo mengikuti rangkaian sosialisasi dan praktik secara aktif. Interaksi antara mahasiswa, Pertamina Patra Niaga, dan masyarakat juga menjadi kesempatan untuk bertukar pengetahuan mengenai pengelolaan serta pemanfaatan limbah organik di lingkungan Kelurahan Pedurungan Tengah.

Koordinator Sosialisasi Pembuatan Eco Enzyme, Hasna Auliannisa Wahono, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi salah satu langkah untuk mengenalkan pemanfaatan limbah buah kepada masyarakat secara sederhana dan aplikatif. 

“Kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan limbah sebenarnya bisa dimulai dari hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, masyarakat tidak hanya mengetahui apa itu eco enzyme, tetapi juga melihat dan mencoba secara langsung bagaimana limbah buah dapat diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Harapannya, kebiasaan sederhana ini dapat terus dilakukan setelah kegiatan selesai dan menginspirasi masyarakat untuk lebih peduli terhadap limbah yang dihasilkan sehari-hari,” ujarnya.

Kolaborasi Mahasiswa KKN-T 106 UNDIP dan Pertamina Patra Niaga dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi langkah sederhana untuk membangun kebiasaan pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat diharapkan dapat diterapkan secara berkelanjutan sehingga pemanfaatan limbah buah tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.


Produk eco enzyme yang dihasilkan oleh Mahasiswa KKN-T 106 UNDIP bersama Pertamina Patra Niaga. 

Kegiatan ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Quality Education) melalui kegiatan edukasi dan praktik kepada masyarakat, SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) melalui upaya pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan kembali limbah buah, serta SDG 13 (Climate Action) melalui upaya mendorong pengelolaan limbah yang lebih berkelanjutan.

Melalui semangat “Dari Limbah Buah Jadi Manfaat”, Mahasiswa KKN-T 106 UNDIP bersama Pertamina Patra Niaga berharap kegiatan ini dapat mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap limbah. Limbah buah yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang kini diperkenalkan sebagai bahan yang masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan, sekaligus menjadi bagian dari langkah bersama menuju lingkungan masyarakat yang lebih berkelanjutan.



Editor:
Achmad Munandar

Mendorong Demokrasi Desa yang Inklusif melalui Pendampingan Pemilihan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Toyogo oleh Mahasiswa KKN UNDIP 2026

0
 


Campusnesia.co.idDesa Toyogo, 24 Juli 2026 – Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) Tahun 2026 menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam mendukung pembangunan masyarakat berbasis potensi lokal. Melalui program sosial kemasyarakatan, mahasiswa KKN UNDIP turut berperan aktif dalam mendukung tata kelola pemerintahan desa, salah satunya melalui kegiatan pendampingan pemilihan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Toyogo yang dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2026.

Kegiatan pendampingan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan mahasiswa terhadap proses demokrasi di tingkat desa. Badan Permusyawaratan Desa (BPD) memiliki peran strategis sebagai lembaga yang menjalankan fungsi pemerintahan desa, termasuk menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat, membahas peraturan desa bersama kepala desa, serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan desa. Oleh karena itu, proses pemilihan anggota BPD menjadi bagian penting dalam memastikan keterwakilan masyarakat dalam pembangunan desa.



Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa KKN UNDIP berperan membantu proses administrasi dan pendataan perwakilan masyarakat yang mengikuti pemilihan BPD. Pendataan dilakukan terhadap unsur masyarakat yang memiliki keterlibatan dalam proses pemilihan, seperti perwakilan dari tingkat Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), serta unsur masyarakat lainnya. Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa seluruh peserta yang hadir telah tercatat dengan baik sehingga proses pemilihan dapat berjalan secara tertib, transparan, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Selain membantu pendataan, mahasiswa juga turut mendukung kelancaran pelaksanaan kegiatan dengan berkoordinasi bersama perangkat desa dan panitia pemilihan. Melalui keterlibatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai mekanisme demokrasi lokal serta memahami bagaimana partisipasi masyarakat menjadi faktor penting dalam pembangunan dan pengambilan keputusan di tingkat desa.

Kegiatan pendampingan pemilihan BPD Desa Toyogo ini tidak hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga menjadi bentuk edukasi sosial mengenai pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menentukan perwakilan yang akan membawa aspirasi warga. Keberadaan BPD yang terbentuk melalui proses pemilihan yang baik diharapkan mampu memperkuat hubungan antara pemerintah desa dan masyarakat sehingga pembangunan desa dapat berjalan lebih partisipatif dan berkelanjutan.


Pelaksanaan kegiatan ini juga selaras dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya:

1. SDGs 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh
Kegiatan pendampingan pemilihan BPD mendukung terciptanya tata kelola pemerintahan desa yang transparan, inklusif, dan bertanggung jawab. Melalui proses pemilihan yang tertib dan melibatkan berbagai unsur masyarakat, kegiatan ini berkontribusi dalam memperkuat kelembagaan desa serta mendorong partisipasi masyarakat dalam sistem pemerintahan.

2. SDGs 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan
Pembangunan desa yang berkelanjutan membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Dengan mendukung pemilihan BPD, mahasiswa turut berkontribusi dalam memperkuat kapasitas masyarakat desa untuk membangun lingkungan sosial yang lebih baik.


3. SDGs 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
Kegiatan ini mencerminkan adanya kolaborasi antara mahasiswa KKN UNDIP, pemerintah desa, panitia pemilihan, dan masyarakat Desa Toyogo dalam mendukung keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan desa.


Melalui program pendampingan pemilihan BPD Desa Toyogo, mahasiswa KKN UNDIP 2026 menunjukkan bahwa peran mahasiswa tidak hanya terbatas pada kegiatan akademik, tetapi juga menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat. Keterlibatan dalam kegiatan pemerintahan desa menjadi pengalaman berharga dalam memahami dinamika sosial, administrasi publik, serta pentingnya demokrasi sebagai fondasi pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.


Penulis: Alya Arinal Haq
Kontributor: Mahasiswa KKN UNDIP 2026
Lokasi: Desa Toyogo
Tanggal Pelaksanaan: 24 Juli 2026

Editor: Achmad Munandar

Ciptakan Grassile (Multifunction Herbal Spray) dari Serai dan Jeruk Nipis, Mahasiswa Kimia KKN-T 106 UNDIP Bawa Solusi Alami untuk Warga Pedurungan Tengah

0
 
Berbahan dasar serai dan jeruk nipis, Grassile dikembangkan mahasiswa Kimia KKN-T 106 UNDIP
sebagai alternatif spray anti-serangga dan pembersih alami
yang diperkenalkan kepada masyarakat Pedurungan Tengah. 



Campusnesia.co.id - Semarang, 26 Juli 2026 - Serai dan jeruk nipis yang biasa digunakan di dapur diolah menjadi Grassile (Multifunction Herbal Spray) oleh mahasiswa KKN-T 106 Universitas Diponegoro (UNDIP). Produk berbahan alami ini dapat digunakan untuk membantu mengusir serangga sekaligus membersihkan permukaan rumah. Inovasi tersebut diperkenalkan kepada ibu-ibu PKK melalui kegiatan sosialisasi di Balai RT 02 RW 08, Kelurahan Pedurungan Tengah, pada Minggu (26/7/2026), sekaligus memberikan pengetahuan mengenai bahan, cara pembuatan, dan penggunaannya dalam kebutuhan sehari-hari.

Dalam kegiatan  sosialisasi, mahasiswa menjelaskan proses pembuatan Grassile mulai dari tahap pencucian dan pemotongan bahan, perebusan, penyaringan, pencampuran, hingga pengemasan. Para peserta juga diperagakan cara menggunakan produk untuk membantu mengusir serangga dan membersihkan permukaan rumah.

Panduan pembuatan dan keunggulan produk Grassile yang diperkenalkan kepada warga
dalam kegiatan sosial kemasyarakatan KKN-T 106 UNDIP.


Pengembangan Grassile menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu mahasiswa Program Studi Kimia KKN-T 106 UNDIP dalam kegiatan masyarakat. Prinsip ekstraksi alami digunakan dalam formulasi produk dengan memanfaatkan kandungan sitronella pada serai dan asam sitrat dari jeruk nipis. Serai dipilih karena mengandung minyak atsiri yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan alami untuk membantu mengusir serangga. Sementara itu, jeruk nipis mengandung asam sitrat yang dapat membantu membersihkan noda dan lemak. Kedua bahan tersebut kemudian diformulasikan menjadi spray agar lebih praktis digunakan.

Antusiasme warga terlihat selama kegiatan berlangsung. Ibu-ibu PKK aktif bertanya mengenai bahan yang digunakan, alternatif bahan, proses pembuatan, hingga penggunaan Grassile dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini memberikan pengetahuan baru untuk warga yang harapannya dapat diterapkan secara mandiri. Warga tidak hanya menerima produk yang telah dibuat, tetapi juga memahami proses pengolahannya sehingga dapat memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Salah satu peserta sosialisasi, Bu Tika, mengapresiasi kreativitas mahasiswa dalam memanfaatkan bahan sederhana menjadi produk yang bermanfaat. “Anak-anak KKN kreatif-kreatif ya, bisa memanfaatkan bahan yang ada. Semoga bisa ditingkatkan lagi dan semakin memberi manfaat untuk masyarakat banyak”, ujar Bu Tika.

Mahasiswa KKN-T 106 UNDIP memberikan pemaparan materi sosialisasi pemanfaatan Grassile kepada ibu-ibu warga di Balai RT 02 RW 08 Kelurahan Pedurungan Tengah,
Minggu (26/7/2026). 


Program KKN-T 106 UNDIP ini berada di bawah pendampingan Tim Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) yang terdiri atas Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., Annisa Firdauzi, S.P., M.P., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc. Pengembangan Grassile turut mendukung SDGs 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), serta SDGs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab) melalui pengenalan produk berbahan alami, pengembangan inovasi, dan pemanfaatan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Melalui Grassile, mahasiswa kimia KKN-T 106 UNDIP mendorong warga untuk melihat bahan sederhana di sekitar sebagai sesuatu yang dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat. Pengetahuan yang diberikan diharapkan dapat mendorong masyarakat mengembangkan inovasi lain sesuai kebutuhan sehari-hari.


Penulis:
Febiola Irashai Siti Mawla Yuri
Mahasiswa Program Studi Kimia Angkatan 2023
Universitas Diponegoro

Editor:
Achmad Munandar

Dari Pelepah Pisang jadi Tali: Inovasi Alat Pemintal Serat Karya Tim KKN-T 106 Undip

0
 
Tim KKN-T 106 Undip bersama warga Kelurahan Pedurungan Tengah dalam sosialisasi pengolahan hasil samping pohon pisang. (Dok. Tim KKN-T 106 Undip)


Campusnesia.co.id - Semarang, 1 Agustus 2026 – Limbah pelepah pisang yang selama ini kerap dibuang setelah masa panen kini dimanfaatkan sebagai bahan baku tali serat alami. Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 106 Universitas Diponegoro (Undip) memperkenalkan dan mendemonstrasikan alat pemintal serat pelepah pisang kepada masyarakat Kelurahan Pedurungan Tengah, Semarang, di Toko PKK pada Sabtu (1/8).

Kegiatan tersebut melibatkan ibu-ibu PKK, Karang Taruna, kelompok tani, lurah, serta ketua RT setempat. Inovasi alat ini dikembangkan untuk membantu masyarakat mengolah pelepah pisang menjadi serat dan tali dengan proses yang lebih praktis dibandingkan pemintalan secara manual menggunakan tangan.


Berawal dari Pelepah Pisang yang Terbuang
Gagasan pembuatan alat berawal dari pengamatan Tim KKN-T 106 terhadap melimpahnya pelepah pisang di lingkungan warga. Setelah pohon pisang memasuki masa panen, bagian batang dan pelepahnya kerap ditebang dan dibuang. Padahal, material tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai serat alami yang dapat diolah menjadi tali maupun produk kerajinan.
 
Kendala utama yang ditemukan adalah proses pemintalan manual yang membutuhkan ketelitian, waktu, dan tenaga. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan pelepah pisang sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi belum optimal.

Tim kemudian merancang alat pemintal serat yang dapat membantu proses pemilinan secara lebih stabil. Proses perancangan hingga alat siap digunakan berlangsung selama sekitar 3-4 minggu.


Alat Manual, Warga Langsung Mencoba
Alat pemintal dirancang menggunakan roda berdiameter besar bergaya roda sepeda yang digerakkan dengan engkol manual. Putaran roda kemudian diteruskan melalui tali penghubung menuju spindel pemintal berukuran lebih kecil. Mekanisme tersebut memungkinkan serat pelepah pisang yang telah diproses dan dikeringkan dipilin menjadi tali secara lebih stabil.

Alat pemintal serat pelepah pisang hasil rancangan Tim KKN-T 106 Undip. 
(Dok. Tim KKN-T 106 Undip)

Alat ini tidak menggunakan tenaga listrik sehingga dapat dioperasikan secara manual oleh masyarakat. Dalam kegiatan demonstrasi, warga tidak hanya menyaksikan proses penggunaan alat, tetapi juga mencoba mengoperasikannya secara langsung.

Warga memasukkan untaian serat pelepah pisang ke bagian spindel, kemudian memutar engkol pada roda utama. Dari proses tersebut, serat berhasil dipintal menjadi tali. Namun, proses pemintalan tetap membutuhkan ketelitian agar pilinan yang dihasilkan rapi dan konsisten.
 
Bagi Tim KKN-T 106, keterlibatan warga dalam praktik langsung menjadi bagian penting dari kegiatan. Masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada alat, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengoperasikan alat dan memahami proses pengolahan pelepah pisang menjadi produk bernilai guna.


Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai
Dampak kegiatan terlihat dari keberhasilan warga mencoba alat dan menghasilkan tali dari serat pelepah pisang. Kehadiran alat tersebut memberikan alternatif proses pengolahan yang dapat diterapkan masyarakat untuk memanfaatkan limbah pelepah pisang secara lebih produktif.

Coaster berbahan serat pelepah pisang hasil pengolahan 
dan pengembangan produk Tim KKN-T 106 Undip 
(Dok. Tim KKN-T 106 Undip)

Selain menghasilkan tali, serat pelepah pisang juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kerajinan seperti coaster. Dalam sesi kegiatan, salah satu perwakilan ibu PKK bahkan memberikan masukan agar produk turunan dari serat tersebut dikembangkan lebih lanjut.

Salah satu usulan warga adalah memperlebar ukuran coaster yang dibuat dari serat pelepah pisang agar dapat digunakan sebagai tatakan panci. Masukan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan serat tidak berhenti pada pembuatan tali, tetapi dapat diarahkan menuju produk rumah tangga yang memiliki fungsi dan nilai jual.
 
Salsabila Diva, mahasiswa Teknik Komputer Universitas Diponegoro sekaligus PIC pengembangan alat pemintal serat pelepah pisang, mengatakan inovasi tersebut dirancang sebagai solusi sederhana yang dapat digunakan masyarakat untuk mengolah potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Kami ingin pelepah pisang yang sebelumnya hanya dibuang dapat dimanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Karena itu, alat ini dibuat sesederhana mungkin agar warga dapat mengoperasikannya secara langsung dan mengembangkannya sesuai kebutuhan,” ujar Salsabila.


Warga Dorong Pengembangan dan Pemasaran
Lurah Pedurungan Tengah turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan sekaligus mendorong agar inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap pelatihan. Menurutnya, pengembangan produk perlu disertai pendampingan dan strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasaran.

“Produknya sudah bagus. Ke depan perlu mentoring, terutama dalam pengembangan dan pemasaran. Kemasan juga perlu diperhatikan karena bisa menjadi daya tarik agar produk lebih mudah diterima dan laku di pasaran,” ujar Lurah Pedurungan Tengah.

Masukan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam keberlanjutan program. Pengembangan alat dan produk berbahan serat pelepah pisang akan dilanjutkan melalui kolaborasi CSR Pertamina dan dosen Universitas Diponegoro selama satu tahun ke depan.

Keberlanjutan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk terus mengembangkan pengolahan pelepah pisang, baik menjadi tali maupun produk kerajinan lainnya. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan Tim KKN-T 106 tidak berhenti sebagai demonstrasi alat, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari kegiatan produktif masyarakat Kelurahan Pedurungan Tengah.

Program KKN-T 106 Universitas Diponegoro ini dilaksanakan di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., Annisa Firdauzi, S.P., M.P., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc.


Penulis:
Salsabila Diva
Teknik Komputer Angkatan 2023, Universitas Diponegoro.

Editor:
Achmad Munandar

Wajah Baru Kopi Blado: Sentuhan Mahasiswa KKN Hadirkan Sensasi Hirup Aroma Sebelum Membeli

0

Campusnesia.co.id - Batang - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kecamatan Blado membawa angin segar bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kopi lokal. Menyadari potensi besar kopi Blado yang belum terekspos maksimal, tim KKN ini menginisiasi program rebranding produk, salah satunya dengan merombak total desain kemasan agar lebih kompetitif di pasaran.

Salah satu inovasi paling menonjol dari rebranding ini adalah penerapan teknologi kemasan yang dilengkapi dengan lubang filter udara (degassing valve). Lubang ini tidak hanya berfungsi menjaga kualitas biji kopi dari penumpukan gas pasca-produksi, tetapi juga dimodifikasi secara strategis agar calon pembeli dapat menghirup langsung aroma kopi dari luar kemasan.

"Selama ini kopi Blado hanya dikemas dengan plastik kedap udara biasa atau kertas ziplock standar. Pembeli sering kali ragu membeli karena tidak bisa mencium profil aroma kopinya. Dengan adanya filter ini, konsumen bisa mendapatkan teaser aroma yang kuat hanya dengan menekan sedikit kemasan," ujar Bimantara sebagai pelaksana program, saat peluncuran kemasan baru di Kampus PSDKU Universitas Diponegro di Batang, pada Sabtu, 8 Agustus 2026.



Pendekatan sensory marketing ini dinilai krusial. Dalam industri kopi, aroma adalah penentu impresi pertama yang sangat memengaruhi keputusan pembelian. Desain visual kemasan juga diperbarui menjadi lebih minimalis, menampilkan identitas Blado sebagai daerah dataran tinggi penghasil kopi berkualitas, lengkap dengan informasi tasting notes (profil rasa) dan tingkat roasting.

Mas Eko, salah satu pelaku usaha kopi setempat, menyambut baik terobosan ini. "Tampilannya jadi jauh lebih modern dan premium. Harapannya, kopi kita tidak hanya laku di pasar lokal Batang, tapi juga bisa masuk ke coffee shop di kota-kota besar," ungkapnya.

Langkah rebranding ini diharapkan tidak berhenti pada sekadar pergantian bungkus. Tim KKN juga memberikan pendampingan mengenai manajemen biaya produksi, mengingat penggunaan kemasan berfilter memiliki harga pokok yang sedikit lebih tinggi dibandingkan kemasan konvensional. Target jangka panjangnya adalah membangun ekosistem bisnis kopi Blado yang mandiri dan memiliki identitas kuat di tengah gempuran produk kopi komersial.



Editor:
Achmad Munandar

Cegah Panik Saat Banjir Datang, Mahasiswa KKNT IDBU 67 Kelompok 7 Undip Bekali Warga Kaligawe lewat SIGMA SAFE

0
 

Mahasiswa KKNT IDBU 67 Kelompok 7 UNDIP 2026, Andhika Rohmanadji, saat menyampaikan materi pada program SIGMA SAFE: Sosialisasi Informasi & Desain Mitigasi Bencana di Aula Kelurahan Kaligawe, RW 7 Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.


Campusnesia.co.id - Semarang, 26 Juli 2026 - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) KKNT IDBU 67 Kelompok 7 Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar program kerja “SIGMA SAFE: Sosialisasi Informasi & Desain Mitigasi Bencana” di Aula Kelurahan Kaligawe, RW 7 Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, pada Minggu (26/7/2026). Kegiatan ini terlaksana atas kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Semarang, serta menghadirkan narasumber utama dari Call Center 112 Kota Semarang. Program ini bagian sosial kemasyarakatan yang dijalankan oleh Andhika Rohmanadji Mahasiswa Manajemen dan Administrasi Logistik Universitas Diponegoro angkatan 2023.


Kelurahan Kaligawe dikenal sebagai salah satu wilayah di Kota Semarang yang kerap dilanda banjir setiap musim penghujan. Kondisi ini membuat warga RW 7 menghadapi risiko yang berulang, sementara pemahaman mengenai tanda-tanda awal banjir, langkah evakuasi mandiri, serta prioritas pertolongan bagi kelompok rentan (lansia, ibu hamil, dan anak-anak) masih relatif minim. Menjawab kebutuhan tersebut, program SIGMA SAFE hadir untuk meningkatkan kesiapsiagaan warga melalui edukasi, penyediaan perlengkapan awal, dan penguatan akses informasi darurat.


Program SIGMA SAFE selaras dengan semangat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak) dan SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan) melalui penguatan ketahanan masyarakat menghadapi bencana. Selain itu, kegiatan ini juga relevan dengan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui adaptasi risiko bencana hidrometeorologi, serta SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui penyediaan P3K (P3K Kit) sebagai respons awal saat kondisi darurat.


Rangkaian SIGMA SAFE berlangsung interaktif melalui dua tahap utama. Pada tahap pertama, Andhika Rohmanadji memulai pemaparan dengan menjelaskan pentingnya mitigasi bencana dan bagaimana warga perlu memahami langkah kesiapsiagaan sebelum banjir datang. Dalam sesi ini, Andhika juga memperkenalkan materi berupa desain informasi mitigasi bencana sekaligus menyampaikan luaran yang telah disiapkan, yaitu stiker nomor darurat yang dirancang oleh Andhika Rohmanadji agar informasi bantuan bisa langsung digunakan oleh warga saat situasi darurat.


Tahap berikutnya, peserta mendapatkan edukasi mitigasi bencana banjir yang disampaikan oleh Martinus Yoga Satria dari Call Center 112 Kota Semarang. Narasumber menekankan pentingnya mengenali tanda awal banjir dan segera menghubungi nomor darurat ketika kondisi semakin memburuk.
 

Sebagai dukungan kesiapsiagaan, seluruh peserta menerima Pouch Siaga Kit berisi P3K (alkohol dan hansaplast) serta panduan isi tas siaga bencana yang disusun oleh BPBD. Peserta juga memperoleh brosur yang memuat tautan menuju dashboard website checklist tas siaga sehingga warga dapat mengecek kesiapan sebelum kondisi darurat terjadi. Selain itu, dibagikan stiker nomor darurat (112, ambulans, BPBD, dan PMI) yang dapat ditempel di lokasi strategis agar mudah ditemukan saat kondisi mendesak.


Salah satu warga RW 7, Kak Agnessia, mengapresiasi kegiatan ini. “Terima kasih banyak untuk adik-adik KKN Undip yang sudah mengadakan acara bagus ini. Kami jadi lebih paham cara bersiap kalau banjir datang. Apalagi dapat pouch berisi P3K kit dan stiker nomor darurat, ini sangat bermanfaat jadi begitu kondisi mendesak terjadi, kami sudah tahu harus menghubungi siapa,” ujarnya.

 
Kegiatan ditutup dengan sesi tanya jawab dan foto bersama. Tim KKNT IDBU 67 Kelompok 7 berharap program SIGMA SAFE dapat memberi perubahan nyata bagi warga RW 7 Kelurahan Kaligawe agar semakin siap, tanggap, dan mandiri menghadapi risiko banjir melalui pemanfaatan materi edukasi, perlengkapan awal, stiker nomor darurat, serta akses informasi pada website dan dashboard checklist tas siaga.



Penulis/Reporter: Andhika Rohmanadji
Fotografer: Tim Dokumentasi KKN Kelompok 7
Kontak Media/Humas Kelompok: kknt67kel7undip@gmail.com | Instagram: @pengabdi7kaligawe

Menyulap Limbah Organik Dapur Rumah Tangga, Mahasiswa KKN Tematik 101 UNDIP Bikin Ecoenzyme di Kampung Nglarang Gunungpati Kota Semarang

0

Campusnesia.co.idMinggu, 19 Juli 2026, bertempat di RT 02 RW 09 Kampung Nglarang, Kelurahan Gunungpati, Kota Semarang, telah dilaksanakan kegiatan Pendampingan Pembuatan Eco Enzyme Berbasis Limbah Dapur Rumah Tangga sebagai Pupuk Organik Cair. Kegiatan ini merupakan salah satu program kerja individu mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) 101 Universitas Diponegoro Tahun 2026 yang disampaikan oleh Wisnu Aji Saputra kepada ibu-ibu PKK dan warga Jam'iyyah Pengajian Rutin RT 02.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola limbah organik rumah tangga, khususnya limbah dapur berupa kulit buah dan sisa sayuran, menjadi Eco Enzyme yang dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair bagi tanaman. Selain itu, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah organik secara mandiri guna mengurangi pencemaran lingkungan, mendukung penerapan konsep zero waste, serta menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai pengertian Eco Enzyme sebagai cairan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga yang dibuat melalui proses fermentasi menggunakan air, molases (gula merah), dan limbah buah maupun sayuran dengan perbandingan 10 : 3 : 1. Selanjutnya dijelaskan berbagai manfaat Eco Enzyme, di antaranya sebagai pupuk organik cair, aktivator kompos, pengurai limbah organik, serta alternatif produk ramah lingkungan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai jenis limbah organik yang dapat dan tidak dapat digunakan sebagai bahan baku Eco Enzyme, alat dan bahan yang diperlukan, hingga tahapan fermentasi yang benar agar diperoleh produk Eco Enzyme yang berkualitas.

Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan Eco Enzyme secara langsung. Pada praktik ini digunakan 3 kg limbah organik berupa kulit buah dan sisa sayuran rumah tangga, 10 liter air, serta 1 kg molases sebagai bahan fermentasi. Seluruh peserta diajak mengikuti setiap tahapan pembuatan, mulai dari pencacahan bahan organik, pencampuran molases dengan air, memasukkan limbah organik ke dalam wadah fermentasi, hingga teknik penyimpanan secara anaerob selama kurang lebih 90 hari. Peserta juga diberikan penjelasan mengenai cara perawatan selama proses fermentasi, termasuk pentingnya membuka tutup wadah secara berkala pada bulan pertama untuk mengeluarkan gas hasil fermentasi, serta ciri-ciri Eco Enzyme yang berhasil, yaitu memiliki aroma asam segar menyerupai tape atau cuka, berwarna cokelat tua, dan tidak berbau busuk.


Dalam penyampaian materi, Wisnu Aji Saputra menjelaskan bahwa pemanfaatan limbah dapur menjadi Eco Enzyme merupakan salah satu solusi sederhana yang dapat diterapkan oleh setiap keluarga untuk mengurangi volume sampah organik rumah tangga sekaligus menghasilkan produk yang bernilai guna. Eco Enzyme yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik cair untuk mendukung pertumbuhan tanaman, khususnya tanaman obat keluarga (TOGA), sehingga masyarakat tidak hanya mengurangi pencemaran lingkungan tetapi juga memperoleh manfaat ekonomi melalui pengurangan penggunaan pupuk kimia.

Peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi selama kegiatan berlangsung. Hal ini terlihat dari keaktifan peserta dalam berdiskusi, mengajukan pertanyaan mengenai proses fermentasi, serta mengikuti demonstrasi pembuatan Eco Enzyme hingga selesai. Melalui kegiatan ini diharapkan masyarakat mampu mempraktikkan pembuatan Eco Enzyme secara mandiri di rumah dengan memanfaatkan limbah dapur yang dihasilkan setiap hari, sehingga dapat mendukung pengelolaan sampah berbasis rumah tangga, meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, serta memperkuat ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pupuk organik cair pada kebun TOGA.

Kegiatan yang dilaksanakan oleh Kelompok 3 KKNT 101 Universitas Diponegoro Tahun 2026 ini merupakan bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi sederhana yang mudah diaplikasikan, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat sekaligus mendukung tercapainya tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) SDGs khususnya poin 1 pada aspek konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, lingkungan yang berkelanjutan, serta pengurangan sampah rumah tangga.



Editor:
Achmad Munandar

KKN Tematik IDBU 43 UNDIP Gelar Sosialisasi Pemanfaatan Limbah Peternakan Menjadi Biogas dan Pupuk Organik Cair di Desa Manggihan

0


Campusnesia.co.idKabupaten Semarang - Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 43 Universitas Diponegoro menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Biogas dan Pupuk Organik Cair (POC) bagi masyarakat Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada 3 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program pembangunan digester biogas yang sebelumnya telah dilaksanakan sebagai upaya penanganan dan pengendalian limbah peternakan melalui pemanfaatan limbah menjadi sumber energi terbarukan serta pupuk organik cair dari residu hasil proses biogas (slurry).

Kegiatan KKN Tematik IDBU 43 dilaksanakan di bawah bimbingan Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D., Anugrah Robby Pratama, S.Pt., M.Pt., dan Bimo Suryo W., S.M., M.M. Program ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna yang dapat mendukung pengelolaan peternakan dan pertanian secara lebih berkelanjutan sekaligus mendorong pengendalian pencemaran lingkungan.

Kegiatan sosialisasi menghadirkan Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. dan Septrial Arafat, S.P., M.P. dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro sebagai narasumber. Kehadiran kedua narasumber memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah peternakan secara terpadu melalui penerapan teknologi biogas dan pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik cair.

Dalam pemaparannya, Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. menjelaskan konsep dasar biogas, proses fermentasi anaerob yang menghasilkan gas metana, serta potensi pemanfaatannya sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai prinsip kerja digester biogas, cara pengoperasian, serta perawatan instalasi agar dapat berfungsi secara optimal dan berkelanjutan.


Pembangunan digester biogas di Desa Manggihan tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan energi alternatif, tetapi juga menjadi salah satu bentuk penanganan limbah peternakan secara terpadu. Limbah kotoran ternak yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan bau, menurunkan kualitas lingkungan, serta membawa beban bahan organik dan unsur hara ke lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengolahan limbah melalui digester biogas diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam mengurangi potensi pencemaran yang berasal dari aktivitas peternakan.

Aspek pengelolaan limbah tersebut menjadi semakin penting mengingat wilayah Kabupaten Semarang memiliki ekosistem strategis, termasuk Rawa Pening yang menjadi salah satu kawasan perairan penting di Jawa Tengah. Pengelolaan limbah peternakan dan pertanian yang tidak tepat berpotensi meningkatkan masuknya bahan organik dan unsur hara ke badan air melalui aliran permukaan maupun saluran air. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap kualitas perairan dan ekosistem apabila tidak dikendalikan.

Melalui pemanfaatan limbah peternakan dalam digester biogas, sebagian limbah dapat diproses terlebih dahulu sehingga tidak langsung dibuang ke lingkungan. Dengan demikian, teknologi biogas tidak hanya menghasilkan energi terbarukan, tetapi juga berfungsi sebagai upaya pengendalian dan pencegahan pencemaran lingkungan melalui pengelolaan limbah peternakan yang lebih sistematis.

Selanjutnya, Septrial Arafat, S.P., M.P. menyampaikan materi mengenai pemanfaatan slurry, yaitu residu hasil fermentasi biogas, sebagai Pupuk Organik Cair (POC). Beliau menjelaskan bahwa slurry masih mengandung unsur hara yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanah, meningkatkan kualitas lahan, serta menunjang kegiatan budidaya pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Pemanfaatan slurry menjadi POC juga merupakan bagian dari pengendalian limbah hasil proses biogas. Residu yang dihasilkan tidak langsung dibuang, tetapi diolah dan dikembalikan ke sistem produksi sebagai input pertanian. Dengan pendekatan tersebut, limbah peternakan dapat dikelola melalui suatu siklus pemanfaatan yang lebih tertutup, sehingga potensi pembuangan limbah ke lingkungan dapat diminimalkan.

Konsep ini juga mendukung upaya pencegahan pencemaran perairan, termasuk kawasan Rawa Pening, melalui pengurangan potensi limpasan limbah dan bahan organik dari aktivitas peternakan. Pemanfaatan limbah menjadi biogas dan pupuk organik dapat menjadi salah satu pendekatan preventif untuk mengurangi beban pencemar dari sumber kegiatan masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan di tingkat desa.

Pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi dan pupuk juga membuka peluang terbentuknya sistem peternakan dan pertanian terintegrasi. Limbah peternakan diolah menjadi biogas, sedangkan residunya dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kegiatan pertanian. Dengan demikian, terjadi siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, di mana produk samping dari satu kegiatan dapat menjadi input bagi kegiatan lainnya.

Pendekatan tersebut merupakan bentuk penerapan ekonomi sirkular (circular economy) di tingkat masyarakat. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran diubah menjadi sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi dan lingkungan. Selain mengurangi potensi pencemaran, sistem tersebut berpotensi mengurangi biaya energi dan input pertanian sehingga dapat meningkatkan efisiensi usaha masyarakat.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme masyarakat yang tinggi. Warga aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pemanfaatan biogas untuk kebutuhan rumah tangga, pengoperasian dan pemeliharaan digester, hingga manfaat penggunaan pupuk organik cair pada berbagai jenis tanaman. Sesi diskusi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan serta mendiskusikan peluang penerapan teknologi biogas dan POC sesuai dengan potensi Desa Manggihan.

Melalui kegiatan ini, Tim KKN Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro tidak hanya mendorong peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai teknologi biogas dan POC, tetapi juga membangun kesadaran mengenai pentingnya pengendalian limbah peternakan sebagai bagian dari upaya pencegahan pencemaran lingkungan. Pengelolaan limbah sejak dari sumbernya diharapkan dapat mengurangi potensi pencemaran tanah dan air serta mendukung upaya menjaga keberlanjutan ekosistem perairan di Kabupaten Semarang, termasuk Rawa Pening.

Program tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif sejalan dengan SDG 7 (Affordable and Clean Energy) melalui pengembangan energi yang lebih bersih dan terjangkau. Pengolahan limbah peternakan menjadi biogas dan pupuk organik mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penerapan pola produksi yang lebih efisien, pemanfaatan kembali sumber daya, serta pengurangan limbah.

Upaya pengendalian pencemaran lingkungan dan pengembangan energi terbarukan juga mendukung SDG 13 (Climate Action). Sementara itu, pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik mendukung SDG 15 (Life on Land) melalui pengelolaan sumber daya tanah yang lebih berkelanjutan. Pengembangan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal turut mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan efisiensi dan peluang ekonomi masyarakat.

Lebih jauh, penerapan sistem peternakan dan pertanian terintegrasi diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengurangan biaya energi dan input pertanian, serta peluang pemanfaatan produk turunan seperti biogas dan POC, berpotensi meningkatkan efisiensi usaha masyarakat. Dengan demikian, penyelesaian persoalan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat dan peternak Desa Manggihan berharap penerapan sistem peternakan dan pertanian terintegrasi dapat terus dikembangkan sehingga memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat desa. Tidak hanya berhenti pada pembangunan digester dan sosialisasi, masyarakat berharap adanya pendampingan berkelanjutan dalam pengelolaan biogas, pengembangan POC, pemanfaatan hasil produksi, serta penguatan aspek pemasaran dan kelembagaan kelompok.

Dengan adanya sistem yang terintegrasi, masyarakat diharapkan dapat menciptakan siklus produksi yang saling mendukung, mulai dari kegiatan peternakan yang menghasilkan limbah, pengolahan limbah menjadi biogas, pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik, hingga penggunaan pupuk tersebut untuk mendukung kegiatan pertanian. Siklus tersebut diharapkan mampu menciptakan efisiensi, mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal Desa Manggihan.

Melalui program KKN Tematik IDBU 43, Universitas Diponegoro berupaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan serta potensi lokal. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, peternak, petani, dan masyarakat desa menjadi bagian dari implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam membangun solusi pembangunan yang berkelanjutan.

Ke depan, Tim KKN Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro berharap Desa Manggihan dapat menjadi salah satu contoh penerapan peternakan dan pertanian terintegrasi berbasis energi terbarukan dan ekonomi sirkular, di mana limbah peternakan dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya yang bernilai. Pengelolaan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mencegah pencemaran lingkungan, mengurangi beban limbah yang berpotensi masuk ke badan air, serta mendukung upaya menjaga kelestarian ekosistem Rawa Pening dan lingkungan Kabupaten Semarang.

Dengan pengelolaan yang konsisten dan pendampingan berkelanjutan, inovasi biogas dan pupuk organik cair diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi untuk mewujudkan masyarakat Desa Manggihan yang mandiri energi, produktif secara ekonomi, bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah, serta memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.


Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN Tim 1 IDBU-42 UNDIP Membuat Kompor Biomassa Berbahan Bakar Briket Bonggol Jagung untuk Dukung Pemanfaatan Limbah Pertanian di Desa Sukorejo

0
Mahasiswa KKN Tim 1 IDBU-42 UNDIP



Campusnesia.co.id - Sragen - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim I IDBU-42 Universitas Diponegoro, di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan Dr. Ir. Cahya Setya Utama, S.Pt., M.Si., IPM, melaksanakan program kerja monodisiplin berupa pembuatan kompor biomassa berbahan bakar briket bonggol jagung dan demonstrasi penggunaannya sebagai upaya meningkatkan pemanfaatan limbah pertanian menjadi sumber energi alternatif yang bernilai guna. Program tersebut dilaksanakan pada tanggal 16 Juli 2026 di Desa Sukorejo, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, sebagai bentuk penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, ekonomis, dan mudah diaplikasikan oleh masyarakat dalam mendukung pemanfaatan energi terbarukan serta pengelolaan limbah pertanian secara berkelanjutan.

Program ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) melalui pemanfaatan biomassa sebagai energi alternatif, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pengembangan teknologi tepat guna yang inovatif, serta SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) melalui upaya mengurangi pembakaran limbah pertanian secara terbuka dan mendorong penggunaan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.

Desa Sukorejo adalah salah satu wilayah dengan produksi jagung terbesar di kabupaten Sragen. Kondisi tersebut menyebabkan bonggol jagung menjadi salah satu limbah pertanian yang jumlahnya melimpah setiap musim panen. Selama ini, sebagian besar bonggol jagung hanya ditumpuk, dibakar secara terbuka, atau belum dimanfaatkan secara optimal sehingga nilai ekonominya masih sangat rendah. Padahal, limbah biomassa tersebut memiliki potensi besar untuk diolah menjadi sumber energi terbarukan.

Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Tim I IDBU-42 UNDIP menghadirkan inovasi berupa pemanfaatan bonggol jagung menjadi briket biomassa yang dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif pengganti kayu bakar maupun LPG untuk kebutuhan rumah tangga tertentu. Briket biomassa memiliki nilai kalor yang cukup baik, mudah diproduksi menggunakan bahan baku lokal, serta berpotensi mengurangi limbah pertanian sekaligus meningkatkan nilai tambah hasil samping pertanian.

Sebagai pendukung pemanfaatan briket tersebut, mahasiswa merancang dan membuat kompor biomassa dengan desain yang sederhana, ekonomis, dan mudah direplikasi oleh masyarakat. Kompor dirancang menggunakan material yang mudah diperoleh di pasaran dengan memperhatikan efisiensi pembakaran, kemudahan pengoperasian, serta keamanan penggunaan. Melalui desain yang sederhana tersebut, masyarakat diharapkan dapat membuat maupun mengembangkan kompor secara mandiri sesuai kebutuhan.

Mahasiswa KKN Tim 1 IDBU-42 UNDIP


Puncak kegiatan dilaksanakan melalui demonstrasi penggunaan kompor biomassa di Balai Desa Sukorejo yang dihadiri oleh karang taruna dan masyarakat setempat. Pada kegiatan tersebut, mahasiswa memperagakan proses penggunaan briket bonggol jagung sebagai bahan bakar serta menunjukkan performa kompor dalam menghasilkan panas untuk aktivitas memasak sehari-hari. Demonstrasi ini mendapat sambutan positif karena memberikan gambaran langsung mengenai pemanfaatan limbah pertanian menjadi energi alternatif yang ramah lingkungan.

Melalui program kerja ini, Mahasiswa KKN Tim I IDBU-42 Universitas Diponegoro berharap inovasi teknologi tepat guna berbasis potensi lokal tidak hanya memberikan solusi terhadap permasalahan limbah pertanian, tetapi juga mampu mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemanfaatan energi alternatif yang murah, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Program ini menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam mendukung pembangunan desa melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.



Editor:
Achmad Munandar