Campusnesia.co.id - Yogyakarta - Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu tantangan kesehatan yang membutuhkan perhatian. Selain pengembangan terapi, cara obat dihantarkan ke dalam tubuh juga menjadi salah satu aspek yang terus dieksplorasi dalam penelitian.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan Levocros, penelitian yang mengeksplorasi sistem penghantaran levofloksasin melalui rute inhalasi. Penelitian ini dikembangkan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan serta Fakultas Farmasi UGM melalui Program Kreativitas Mahasiswa–Riset Eksakta (PKM-RE).
Levocros menggunakan Nanostructured Lipid Carrier (NLC) sebagai sistem pembawa berbasis lipid. Sistem tersebut kemudian dikombinasikan dengan hyaluronic acid (HA) untuk membentuk HA-NLC-LFX, yang dikembangkan sebagai sistem penghantaran levofloksasin melalui inhalasi.
Pemilihan rute inhalasi menjadi salah satu bagian yang menarik dari penelitian ini. Melalui pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya melihat obat dari sisi zat aktif, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana obat dapat dibawa melalui sistem yang dirancang untuk pemberian melalui saluran pernapasan.
Mengembangkan Formulasi di Laboratorium
Untuk menghasilkan sistem yang diharapkan, Levocros dikembangkan melalui metode hot emulsification-ultrasonication. Proses ini melibatkan pemanasan, pencampuran, homogenisasi, dan ultrasonikasi dalam pembuatan formulasi.
Setelah formulasi terbentuk, dilakukan berbagai pengujian untuk mengetahui karakteristiknya. Beberapa parameter yang diamati meliputi kemampuan membawa obat, ukuran dan keseragaman partikel, kestabilan, serta karakteristik formulasi lainnya.
Pengujian kemudian dilanjutkan untuk melihat pelepasan obat, performa nebulisasi atau aerosol, serta interaksi dan pengambilan sistem oleh sel secara in vitro.
Serangkaian pengujian tersebut menjadi bagian penting karena formulasi yang berhasil dibuat masih perlu dipahami karakteristik dan perilakunya sebelum dapat dikembangkan lebih lanjut.
Kolaborasi Mahasiswa Kedokteran dan Farmasi
Pengembangan Levocros menjadi salah satu contoh kolaborasi lintas bidang di lingkungan UGM. Mahasiswa dari bidang kedokteran dan farmasi bekerja dengan perspektif yang berbeda dalam mengembangkan penelitian yang sama.
Aspek permasalahan kesehatan dipertemukan dengan ilmu formulasi dan teknologi penghantaran obat. Kolaborasi tersebut memberikan pengalaman bagi mahasiswa untuk melihat bahwa pengembangan inovasi kesehatan dapat membutuhkan kontribusi dari berbagai disiplin ilmu.
Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, anggota Tim Levocros, menjelaskan bahwa proses penelitian menjadi bagian penting dalam memahami karakteristik sistem yang dikembangkan.
“Melalui Levocros, setiap tahapan penelitian memberikan kesempatan untuk memahami karakteristik sistem penghantaran yang dikembangkan. Hasil dari setiap pengujian kemudian menjadi bahan evaluasi untuk menentukan langkah penelitian berikutnya.”
Masih dalam Tahap Penelitian
Saat ini, Levocros masih berada dalam tahap penelitian dan pengujian. Oleh karena itu, penelitian ini belum dapat digunakan untuk menyatakan bahwa Levocros telah terbukti efektif sebagai terapi tuberkulosis ataupun siap digunakan secara klinis.
Berbagai hasil pengujian masih perlu dianalisis untuk memahami karakteristik formulasi yang dikembangkan. Data tersebut nantinya menjadi dasar dalam menentukan pengembangan penelitian selanjutnya.
Melalui Levocros, mahasiswa UGM mencoba mengeksplorasi bahwa inovasi dalam bidang kesehatan tidak selalu harus dimulai dengan menemukan obat baru. Pengembangan juga dapat dilakukan dengan mencari pendekatan berbeda dalam sistem penghantaran obat yang telah tersedia.
Penelitian ini masih berjalan, tetapi proses formulasi dan pengujian yang dilakukan menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk mengembangkan kemungkinan baru dalam teknologi penghantaran obat tuberkulosis.
Kenal lebih dekat dengan tim Levocros
Levocros merupakan penelitian PKM-RE 2026 yang dikembangkan oleh Alphatar Magnus Jonathan Tambunan, Emeliana Putri Ayu Ningsih, Desrika Dwi Handayani, Fatharani Hasya Tsabita, dan Ernestus Revan Yogantara Arjuna, dengan supervisi Dr.rer.nat. Ronny Martien, M.Si. dari Fakultas Farmasi UGM.
Editor:
Achmad Munandar
Achmad Munandar

