Memuat konten...

Main ke Festival Literasi Pati dan Lanjut Book Thrifting di Toko Buku Bekas Kaborongan




Campusnesia.co.id - Minggu 23 Agustus 2026 mumpung libur saya menyempatkan main ke Pati Kota yang jaraknya sekitar 25 menit dari desa saya. Hari ini tujuan saya ke GOR Pesantenan Pati yang berdasar informasi dari rekan saya sedang berlangsung acara Festival Literasi Pati.

Kegiatannya sendiri berlangsung sejak tanggal 19 dan bakal selesai pada tanggal 24 Agustus 2026, jadi setidaknya sebelum usai saya bermaksud datang untuk melihat-lihat. Mengutip dari poster yang beredar penyelenggraa yaitu Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Pati festival ini berisi bazar buku, bedah buku, bimbingan teknis (bimtek) pembuatan komik, sesi mendongeng, hingga lomba menggambar.

Saya datang sekitar jam 17.00 WIB nampak ada puluhan pengunjung tapi tidak sampai ratusan, ada banyak lapak buku berdasar kategori dari buku anak, novel, sejarah, agama hingga politik.

Beberapa judul menarik perhatian saya karena bukunya cukup populer seperti buku Ikigai karya Héctor García dan Francesc Miralles, Distilasi Alkena karya WIra Nagara, komik Terlalu Tampan hingga sebuah buku yang menggelitik berjudul Kesuksesan Tidak Butuh Kunci karya Ananta Rispo yang kita kenal sebagai Komika dan anggota grup komedi GJLS.

Stand UMKM dan peserta acara lainnya sore itu juga kebetulan tidak ada penjaganya, padahal pengen main dan mampir untuk menyapa, mungkin saya terlalu sore datangnya.

Puas melihat-lihat, jalan-jalan di hari Minggu itu saya lanjutkan dengan mampir ke toko buku bekas yang terletak di daerah Kaborongan Kota Pati, kalau dari GOR Pesantenan yang terletak di daerah Puri kita harus berkendara sekitar 5 menit. Ancer-ancernya sebelah timur SMP N 8 Pati tepat di depan Rumah Makan Omah Cabe.

Setelah asyik memilih-milih sekitar 30 menit, pilihan saya jatuh pada satu Majalah Panjebar Semangat majalah berbahasa Jawa edisi tahun 2019, dua Komik Naruto, dua Majalah Donal Bebek, satu Majalah Intisari terbitan tahun 1987, dua Novel Lupus karya Hilman tahun 2000 dan dua Novel Wiro Sableng karya Bastian Tito nostalgia banget.

Ini kali kedua saya mampir di toko buku bekas tersebut dari sisi harga cukup kompetitif dengan yang di toko online, kelebihannya jelas kita bisa memilih langsung di lokasi, bisa langsung dibawa pulang dan jika menemukan judul-judul tertentu, rasanya seperti menemukan harta karun.

Dalam hal book thrifting setiap orang memiliki referensi masing-masing, tidak melulu judul-judul populer atau terbitan baru, bagi saya justru menemukan majalah atau buku yang lawas bisa jadi pemuas karena mengingatkan pada memori masa kecil. Misalnya novel Wiro Sableng yang kali pertama tahu ada novelnya saat kelas 4 SD dan sinetronnya yang menemani masa kanak-kanak setiap hari Minggu siang dengan jurus Pukulan Mataharinya.

Majalah Intisari adalah pilihan saya setiap kali ke perpus saat SMP, dibaca untuk dapat info-info unik yang sangat fresh pada masanya. Sedangkan Novel Lupus karya Hilman adalah referensi bagaimana menjadi pelajar gaul dengan bumbu romansa juga saya baca saat SMP setelah menonton sinetronya di Indosiar yang diperankan oleh Irgi dan Mona Ratuliu.

Video vlog


Buku dan majalah hasil thrifting ini bakal menjadi pendatang baru di Perpus Campusnesia dan  Pojok Baca Weron People sebuah upaya untuk mengkampanyekan literasi di dukuh saya Weron Tegalharjo Trangkil Pati.

Membaca tidak melulu harus buku-buku yang serius dan inspiratif, majalah dengan informasi sederhana, komik dan novel fiksi juga sama pentingnya untuk memantik imajinasi, menginspirasi bagaimana menulis fiksi serta menjadi cara sejenak beralih dari doomscrolling sosial media yang bisa berdampak pada short attention span kita.

Oke sobat pembaca demikian tadi postingan kita kali ini tentang Main ke Festival Literasi Pati dan Lanjut Book Thrifting di Toko Buku Bekas Kaborongan, semoga bermanfaat sampai jumpa.



Penulis
Achmad Munandar

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Silahkan komen guys..
EmoticonEmoticon