Dari Pelepah Pisang jadi Tali: Inovasi Alat Pemintal Serat Karya Tim KKN-T 106 Undip

 
Tim KKN-T 106 Undip bersama warga Kelurahan Pedurungan Tengah dalam sosialisasi pengolahan hasil samping pohon pisang. (Dok. Tim KKN-T 106 Undip)


Campusnesia.co.id - Semarang, 1 Agustus 2026 – Limbah pelepah pisang yang selama ini kerap dibuang setelah masa panen kini dimanfaatkan sebagai bahan baku tali serat alami. Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) 106 Universitas Diponegoro (Undip) memperkenalkan dan mendemonstrasikan alat pemintal serat pelepah pisang kepada masyarakat Kelurahan Pedurungan Tengah, Semarang, di Toko PKK pada Sabtu (1/8).

Kegiatan tersebut melibatkan ibu-ibu PKK, Karang Taruna, kelompok tani, lurah, serta ketua RT setempat. Inovasi alat ini dikembangkan untuk membantu masyarakat mengolah pelepah pisang menjadi serat dan tali dengan proses yang lebih praktis dibandingkan pemintalan secara manual menggunakan tangan.


Berawal dari Pelepah Pisang yang Terbuang
Gagasan pembuatan alat berawal dari pengamatan Tim KKN-T 106 terhadap melimpahnya pelepah pisang di lingkungan warga. Setelah pohon pisang memasuki masa panen, bagian batang dan pelepahnya kerap ditebang dan dibuang. Padahal, material tersebut memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai serat alami yang dapat diolah menjadi tali maupun produk kerajinan.
 
Kendala utama yang ditemukan adalah proses pemintalan manual yang membutuhkan ketelitian, waktu, dan tenaga. Kondisi tersebut membuat pemanfaatan pelepah pisang sebagai bahan baku produk bernilai ekonomi belum optimal.

Tim kemudian merancang alat pemintal serat yang dapat membantu proses pemilinan secara lebih stabil. Proses perancangan hingga alat siap digunakan berlangsung selama sekitar 3-4 minggu.


Alat Manual, Warga Langsung Mencoba
Alat pemintal dirancang menggunakan roda berdiameter besar bergaya roda sepeda yang digerakkan dengan engkol manual. Putaran roda kemudian diteruskan melalui tali penghubung menuju spindel pemintal berukuran lebih kecil. Mekanisme tersebut memungkinkan serat pelepah pisang yang telah diproses dan dikeringkan dipilin menjadi tali secara lebih stabil.

Alat pemintal serat pelepah pisang hasil rancangan Tim KKN-T 106 Undip. 
(Dok. Tim KKN-T 106 Undip)

Alat ini tidak menggunakan tenaga listrik sehingga dapat dioperasikan secara manual oleh masyarakat. Dalam kegiatan demonstrasi, warga tidak hanya menyaksikan proses penggunaan alat, tetapi juga mencoba mengoperasikannya secara langsung.

Warga memasukkan untaian serat pelepah pisang ke bagian spindel, kemudian memutar engkol pada roda utama. Dari proses tersebut, serat berhasil dipintal menjadi tali. Namun, proses pemintalan tetap membutuhkan ketelitian agar pilinan yang dihasilkan rapi dan konsisten.
 
Bagi Tim KKN-T 106, keterlibatan warga dalam praktik langsung menjadi bagian penting dari kegiatan. Masyarakat tidak hanya diperkenalkan pada alat, tetapi juga memperoleh pengalaman dalam mengoperasikan alat dan memahami proses pengolahan pelepah pisang menjadi produk bernilai guna.


Dari Limbah Menjadi Produk Bernilai
Dampak kegiatan terlihat dari keberhasilan warga mencoba alat dan menghasilkan tali dari serat pelepah pisang. Kehadiran alat tersebut memberikan alternatif proses pengolahan yang dapat diterapkan masyarakat untuk memanfaatkan limbah pelepah pisang secara lebih produktif.

Coaster berbahan serat pelepah pisang hasil pengolahan 
dan pengembangan produk Tim KKN-T 106 Undip 
(Dok. Tim KKN-T 106 Undip)

Selain menghasilkan tali, serat pelepah pisang juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi berbagai produk kerajinan seperti coaster. Dalam sesi kegiatan, salah satu perwakilan ibu PKK bahkan memberikan masukan agar produk turunan dari serat tersebut dikembangkan lebih lanjut.

Salah satu usulan warga adalah memperlebar ukuran coaster yang dibuat dari serat pelepah pisang agar dapat digunakan sebagai tatakan panci. Masukan tersebut menunjukkan bahwa pemanfaatan serat tidak berhenti pada pembuatan tali, tetapi dapat diarahkan menuju produk rumah tangga yang memiliki fungsi dan nilai jual.
 
Salsabila Diva, mahasiswa Teknik Komputer Universitas Diponegoro sekaligus PIC pengembangan alat pemintal serat pelepah pisang, mengatakan inovasi tersebut dirancang sebagai solusi sederhana yang dapat digunakan masyarakat untuk mengolah potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.

“Kami ingin pelepah pisang yang sebelumnya hanya dibuang dapat dimanfaatkan menjadi bahan yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. Karena itu, alat ini dibuat sesederhana mungkin agar warga dapat mengoperasikannya secara langsung dan mengembangkannya sesuai kebutuhan,” ujar Salsabila.


Warga Dorong Pengembangan dan Pemasaran
Lurah Pedurungan Tengah turut memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan sekaligus mendorong agar inovasi tersebut tidak berhenti pada tahap pelatihan. Menurutnya, pengembangan produk perlu disertai pendampingan dan strategi pemasaran agar produk yang dihasilkan mampu bersaing di pasaran.

“Produknya sudah bagus. Ke depan perlu mentoring, terutama dalam pengembangan dan pemasaran. Kemasan juga perlu diperhatikan karena bisa menjadi daya tarik agar produk lebih mudah diterima dan laku di pasaran,” ujar Lurah Pedurungan Tengah.

Masukan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam keberlanjutan program. Pengembangan alat dan produk berbahan serat pelepah pisang akan dilanjutkan melalui kolaborasi CSR Pertamina dan dosen Universitas Diponegoro selama satu tahun ke depan.

Keberlanjutan tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk terus mengembangkan pengolahan pelepah pisang, baik menjadi tali maupun produk kerajinan lainnya. Dengan demikian, inovasi yang diperkenalkan Tim KKN-T 106 tidak berhenti sebagai demonstrasi alat, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari kegiatan produktif masyarakat Kelurahan Pedurungan Tengah.

Program KKN-T 106 Universitas Diponegoro ini dilaksanakan di bawah pendampingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), yaitu Ir. Joko Mariyono, M.P., Ph.D., Annisa Firdauzi, S.P., M.P., dan Pramesti Megayana, S.P., M.Sc.


Penulis:
Salsabila Diva
Teknik Komputer Angkatan 2023, Universitas Diponegoro.

Editor:
Achmad Munandar

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Silahkan komen guys..
EmoticonEmoticon