Campusnesia.co.id - Sebagai generasi 90an yang setiap hari Minggu siang tumbuh bersama sinetron Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212, saya senang sekali ketika bulan lalu saat book thrifting menemukan novel legendaris yang diangkat menjadi sinetron tersebut.
Novel Wiro Sableng merupakan karya dari Bastian Tito, pertama kali diterbitkan pada tahun 1967. Buku pertamanya berjudul "Empat Berewok dari Goa Sanggreng", yang menjadi awal dari perjalanan panjang petualangan Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 sebelum akhirnya keseluruhan serial ini mencakup hingga 185 judul buku lebih.
Nah diantara 185 judul tersebut saya punya dua, satu berjudul "Pangeran Matahari dari Puncak Merapi" dan "Topeng Buat Wiro Sableng". Lewat postingan kali ini saya akan coba ceritakan kembali dengan singkat tentang kedua judul tersebut, namun tentu saja bakal spoiler, buat sobat yang gak kena bocoran ceritanya bisa langsung skip saja.
Resensi Novel Wiro Sableng Pengeran Matahari dari Puncak Merapi
Cerita berlatar saat terjadi erupsi gunung Merapi yang ditandai dengan suara gemuruh dan disusul dengan lahar serta abu vulkanik yang menelan banyak korban jiwa di lereng Gunung Merapi.
Rupanya disaat yang sama sedang ada rombongan keraton dan meninggalkan seorang putra mahkota yang selamat dari erupsi. Pangeran muda ini ditolong oleh kakek sakti yang kemudian menjadi gurunya.
Selama puluhan tahun sang guru mengajari anak tersebut ilmu bela diri hingga dianggap siap untuk turun gunung saat peristiwa gerhana matahari total, dari sini nama julukan pendekar muda itu berasal yaitu Pangeran Matahari dengan pakaian berciri khas terdapat gambar siluet gunung dan matahari di dadanya.
Sayangnya, guru dan murid ini punya sifat congkak dan bengis, sang murid disuruh membalas dendam dan menghabisi orang-orang yang menentang dan menelantarkannya waktu kecil.
Perjalanan menuntut balas ini nanti yang akan menyajikan adegan-adegan pertarungan yang berhasil dituturkan dengan apik serta epik oleh Bastian Tito.
Wiro muncul di pertengahan cerita, sebagaimana sifatnya yang walau agak nyeleneh namun suka menolong ia bakal terlibat baku hantam dengan Pangeran Matahari, ceritanya mengandung cliffhanger yang akan jadi jembatan ke cerita lain yang melanjutkan kisah Pangeran Matahari dan ulahnya.
Sebagai info tambahan, dalam film live action Wiro Sableng tahun 2018 yang diperankan oleh Vino G Gastian which is anak dari penulis novelnya Bastian Tito, sosok Pangeran Matahari muncul di post credit scene yang diperankan oleh Abimana, sayangnya sampai artikel ini ditulis belum ada kabar kelanjutan film tersebut.
Resensi Novel Topeng Buat Wiro Sableng
Buku kedua yang berhasil saya dapatkan dan baca berjudul Novel Buat Wiro Sableng, Wikipedia mencatat judul ini masuk dalam 10 judul serial Pendekar 212 yang terlaris dengan rata-rata terjual di atas 800.000 eksemplar bersama judul lain yautu Badai Di Parang Tritis, Wasiat Iblis, Geger Di Pangandaran, Kiamat Di Pangandaran, Gerhana Di Gajah Mungkur, Kembali Ke Tanah Jawa, Senandung Kematian, Kematian Kedua dan episode terakhir Jabang Bayi Dalam Guci.
Daya tarik judul satu ini adalah jalan ceritanya penuh plot twist, sejak awal sudah menyajikan adegan pertarungan antara pendekar yang datang dari penjuru dunia persilatan yang hendak mengikuti sayembara yang diadakan oleh seorang pendekar wanita muda.
Barang siapa yang bisa mengalahkannya dalam 10 jurus, maka ia bersedia dipersunting oleh pendekar tersebut. Dari pendekar golongan putih dan hitam berdatangan namun tak satupun yang berhasil, hingga datanglah sosok dengan rambut gondrong, mengenakan pakaian serba putih dan rada konyol, ia memperkenalkan diri sebagai Wiro Sableng.
Barang siapa yang bisa mengalahkannya dalam 10 jurus, maka ia bersedia dipersunting oleh pendekar tersebut. Dari pendekar golongan putih dan hitam berdatangan namun tak satupun yang berhasil, hingga datanglah sosok dengan rambut gondrong, mengenakan pakaian serba putih dan rada konyol, ia memperkenalkan diri sebagai Wiro Sableng.
Kebahagiaan pengantin baru ini tak berlangsung lama, terdengar rumor bahwa sang suami melakukan tindakan kejahatan dari perampokan hingga pembunuhan yang membuatnya diburu oleh para pendekar dari berbagai golongan.
Tentu sebagai pembaca yang tahu bahwa Wiro Sableng adalah sosok protagonis bakal menaruh curiga dengan jalan ceritanya. Benar saja lewat gaya bahasa yang menarik Bastian Tiro berhasil menggiring keyakinan pembaca bahwa Wiro Sableng bisa saja berbuat jahat.
Plot twistnya, ternayata pada satu kesempatan sosok Wiro yang lain yang sedang dihajar oleh para pendekar yang menuntut balas menyatakan sebaliknya, ia mengelak, menyatakan tidak pernah melakukan perbuatan yang dituduhkan semua orang.
Iya betul, ternyata ada orang dengan wajah dan tingkah yang mirip dengan Wiro Sableng, sialnya sosok Wiro palsu ini punya kemampuan meniru jurus siapapun yang ia lihat yang membuat keadaan makin rumit.
Jika sobat baru-baru ini nonton drakor berjudul Mousetrap, ceritanya mirip tujuannya mencoreng nama baik Wiro Sableng.
Menariknya, kelebihan Wiro palsu yang bisa meniru jurus lawannya bakal jadi plot twist kelemahannya, bagaimana ceritanya? sobat bisa baca sendiri kelanjutannya.
Oke sobat Campusnesia, demikian tadi resensi dan review Novel Wiro Sableng berjudul Topeng Buat Wiro Sableng dan Pangeran Matahari dari Puncak Merapi karya Bastian Tito, semoga bermanfaat sampai jumpa.
Penulis
Achmad Munandar
====
Baca juga:
- Review Film Wiro Sableng 212
- Review Film Wiro Sableng 212
