Campusnesia.co.id - Kabupaten Semarang - Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 43 Universitas Diponegoro menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pemanfaatan Biogas dan Pupuk Organik Cair (POC) bagi masyarakat Desa Manggihan, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, pada 3 Agustus 2026. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari program pembangunan digester biogas yang sebelumnya telah dilaksanakan sebagai upaya penanganan dan pengendalian limbah peternakan melalui pemanfaatan limbah menjadi sumber energi terbarukan serta pupuk organik cair dari residu hasil proses biogas (slurry).
Kegiatan KKN Tematik IDBU 43 dilaksanakan di bawah bimbingan Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D., Anugrah Robby Pratama, S.Pt., M.Pt., dan Bimo Suryo W., S.M., M.M. Program ini menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna yang dapat mendukung pengelolaan peternakan dan pertanian secara lebih berkelanjutan sekaligus mendorong pengendalian pencemaran lingkungan.
Kegiatan sosialisasi menghadirkan Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. dan Septrial Arafat, S.P., M.P. dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro sebagai narasumber. Kehadiran kedua narasumber memberikan wawasan kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan limbah peternakan secara terpadu melalui penerapan teknologi biogas dan pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik cair.
Dalam pemaparannya, Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. menjelaskan konsep dasar biogas, proses fermentasi anaerob yang menghasilkan gas metana, serta potensi pemanfaatannya sebagai sumber energi alternatif yang ramah lingkungan. Masyarakat juga diberikan pemahaman mengenai prinsip kerja digester biogas, cara pengoperasian, serta perawatan instalasi agar dapat berfungsi secara optimal dan berkelanjutan.
Pembangunan digester biogas di Desa Manggihan tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan energi alternatif, tetapi juga menjadi salah satu bentuk penanganan limbah peternakan secara terpadu. Limbah kotoran ternak yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan bau, menurunkan kualitas lingkungan, serta membawa beban bahan organik dan unsur hara ke lingkungan sekitar. Oleh karena itu, pengolahan limbah melalui digester biogas diharapkan dapat menjadi langkah preventif dalam mengurangi potensi pencemaran yang berasal dari aktivitas peternakan.
Aspek pengelolaan limbah tersebut menjadi semakin penting mengingat wilayah Kabupaten Semarang memiliki ekosistem strategis, termasuk Rawa Pening yang menjadi salah satu kawasan perairan penting di Jawa Tengah. Pengelolaan limbah peternakan dan pertanian yang tidak tepat berpotensi meningkatkan masuknya bahan organik dan unsur hara ke badan air melalui aliran permukaan maupun saluran air. Kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap kualitas perairan dan ekosistem apabila tidak dikendalikan.
Melalui pemanfaatan limbah peternakan dalam digester biogas, sebagian limbah dapat diproses terlebih dahulu sehingga tidak langsung dibuang ke lingkungan. Dengan demikian, teknologi biogas tidak hanya menghasilkan energi terbarukan, tetapi juga berfungsi sebagai upaya pengendalian dan pencegahan pencemaran lingkungan melalui pengelolaan limbah peternakan yang lebih sistematis.
Selanjutnya, Septrial Arafat, S.P., M.P. menyampaikan materi mengenai pemanfaatan slurry, yaitu residu hasil fermentasi biogas, sebagai Pupuk Organik Cair (POC). Beliau menjelaskan bahwa slurry masih mengandung unsur hara yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanah, meningkatkan kualitas lahan, serta menunjang kegiatan budidaya pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Selanjutnya, Septrial Arafat, S.P., M.P. menyampaikan materi mengenai pemanfaatan slurry, yaitu residu hasil fermentasi biogas, sebagai Pupuk Organik Cair (POC). Beliau menjelaskan bahwa slurry masih mengandung unsur hara yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan tanah, meningkatkan kualitas lahan, serta menunjang kegiatan budidaya pertanian yang lebih ramah lingkungan.
Pemanfaatan slurry menjadi POC juga merupakan bagian dari pengendalian limbah hasil proses biogas. Residu yang dihasilkan tidak langsung dibuang, tetapi diolah dan dikembalikan ke sistem produksi sebagai input pertanian. Dengan pendekatan tersebut, limbah peternakan dapat dikelola melalui suatu siklus pemanfaatan yang lebih tertutup, sehingga potensi pembuangan limbah ke lingkungan dapat diminimalkan.
Konsep ini juga mendukung upaya pencegahan pencemaran perairan, termasuk kawasan Rawa Pening, melalui pengurangan potensi limpasan limbah dan bahan organik dari aktivitas peternakan. Pemanfaatan limbah menjadi biogas dan pupuk organik dapat menjadi salah satu pendekatan preventif untuk mengurangi beban pencemar dari sumber kegiatan masyarakat, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kualitas lingkungan di tingkat desa.
Pemanfaatan limbah peternakan menjadi energi dan pupuk juga membuka peluang terbentuknya sistem peternakan dan pertanian terintegrasi. Limbah peternakan diolah menjadi biogas, sedangkan residunya dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kegiatan pertanian. Dengan demikian, terjadi siklus pemanfaatan sumber daya yang lebih efisien, di mana produk samping dari satu kegiatan dapat menjadi input bagi kegiatan lainnya.
Pendekatan tersebut merupakan bentuk penerapan ekonomi sirkular (circular economy) di tingkat masyarakat. Limbah yang sebelumnya berpotensi menjadi sumber pencemaran diubah menjadi sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi dan lingkungan. Selain mengurangi potensi pencemaran, sistem tersebut berpotensi mengurangi biaya energi dan input pertanian sehingga dapat meningkatkan efisiensi usaha masyarakat.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme masyarakat yang tinggi. Warga aktif mengajukan berbagai pertanyaan mengenai pemanfaatan biogas untuk kebutuhan rumah tangga, pengoperasian dan pemeliharaan digester, hingga manfaat penggunaan pupuk organik cair pada berbagai jenis tanaman. Sesi diskusi juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan kondisi dan kebutuhan di lapangan serta mendiskusikan peluang penerapan teknologi biogas dan POC sesuai dengan potensi Desa Manggihan.
Melalui kegiatan ini, Tim KKN Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro tidak hanya mendorong peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai teknologi biogas dan POC, tetapi juga membangun kesadaran mengenai pentingnya pengendalian limbah peternakan sebagai bagian dari upaya pencegahan pencemaran lingkungan. Pengelolaan limbah sejak dari sumbernya diharapkan dapat mengurangi potensi pencemaran tanah dan air serta mendukung upaya menjaga keberlanjutan ekosistem perairan di Kabupaten Semarang, termasuk Rawa Pening.
Program tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif sejalan dengan SDG 7 (Affordable and Clean Energy) melalui pengembangan energi yang lebih bersih dan terjangkau. Pengolahan limbah peternakan menjadi biogas dan pupuk organik mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penerapan pola produksi yang lebih efisien, pemanfaatan kembali sumber daya, serta pengurangan limbah.
Program tersebut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Pemanfaatan biogas sebagai sumber energi alternatif sejalan dengan SDG 7 (Affordable and Clean Energy) melalui pengembangan energi yang lebih bersih dan terjangkau. Pengolahan limbah peternakan menjadi biogas dan pupuk organik mendukung SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penerapan pola produksi yang lebih efisien, pemanfaatan kembali sumber daya, serta pengurangan limbah.
Upaya pengendalian pencemaran lingkungan dan pengembangan energi terbarukan juga mendukung SDG 13 (Climate Action). Sementara itu, pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik mendukung SDG 15 (Life on Land) melalui pengelolaan sumber daya tanah yang lebih berkelanjutan. Pengembangan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal turut mendukung SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) melalui peningkatan efisiensi dan peluang ekonomi masyarakat.
Lebih jauh, penerapan sistem peternakan dan pertanian terintegrasi diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Pengurangan biaya energi dan input pertanian, serta peluang pemanfaatan produk turunan seperti biogas dan POC, berpotensi meningkatkan efisiensi usaha masyarakat. Dengan demikian, penyelesaian persoalan lingkungan dapat berjalan beriringan dengan upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat dan peternak Desa Manggihan berharap penerapan sistem peternakan dan pertanian terintegrasi dapat terus dikembangkan sehingga memberikan dampak yang lebih besar terhadap peningkatan kesejahteraan dan perekonomian masyarakat desa. Tidak hanya berhenti pada pembangunan digester dan sosialisasi, masyarakat berharap adanya pendampingan berkelanjutan dalam pengelolaan biogas, pengembangan POC, pemanfaatan hasil produksi, serta penguatan aspek pemasaran dan kelembagaan kelompok.
Dengan adanya sistem yang terintegrasi, masyarakat diharapkan dapat menciptakan siklus produksi yang saling mendukung, mulai dari kegiatan peternakan yang menghasilkan limbah, pengolahan limbah menjadi biogas, pemanfaatan slurry sebagai pupuk organik, hingga penggunaan pupuk tersebut untuk mendukung kegiatan pertanian. Siklus tersebut diharapkan mampu menciptakan efisiensi, mengurangi limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, membuka peluang usaha baru, serta meningkatkan nilai ekonomi sumber daya lokal Desa Manggihan.
Melalui program KKN Tematik IDBU 43, Universitas Diponegoro berupaya memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan serta potensi lokal. Kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, peternak, petani, dan masyarakat desa menjadi bagian dari implementasi SDG 17 (Partnerships for the Goals) dalam membangun solusi pembangunan yang berkelanjutan.
Ke depan, Tim KKN Tematik IDBU 43 Universitas Diponegoro berharap Desa Manggihan dapat menjadi salah satu contoh penerapan peternakan dan pertanian terintegrasi berbasis energi terbarukan dan ekonomi sirkular, di mana limbah peternakan dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya yang bernilai. Pengelolaan tersebut diharapkan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam mencegah pencemaran lingkungan, mengurangi beban limbah yang berpotensi masuk ke badan air, serta mendukung upaya menjaga kelestarian ekosistem Rawa Pening dan lingkungan Kabupaten Semarang.
Dengan pengelolaan yang konsisten dan pendampingan berkelanjutan, inovasi biogas dan pupuk organik cair diharapkan mampu menjadi bagian dari solusi untuk mewujudkan masyarakat Desa Manggihan yang mandiri energi, produktif secara ekonomi, bertanggung jawab dalam pengelolaan limbah, serta memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.
Editor:
Achmad Munandar
Achmad Munandar















