Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri ide dan peluang. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri ide dan peluang. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

11 Cara Ngurangin Scrolling Sosmed Biar Gak HP Terus Agar Bisa Konsentrasi Satu Pekerjaan

0
 


Campusnesia.co.id - Kita berada di era, dimana internet dan gadget sudah menjadi bagaian dari hidup sehari-sehari. Merujuk pada data APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) dalam Laporan Survei Penetrasi Internet Indonesia yang dirilis setiap tahun. Data terbaru (2024-2025) menunjukkan pengguna di Indonesia mencapai 79,5% hingga 80,6% dari total populasi. Dari data tersebut 98% lebih pengguna internet memiliki akun medsos dan menjadikan media sosial sebagai alasan utama orang Indonesia mengakses internet.

We Are Social and Meltwater melaporkan bahwa rata-rata orang Indonesia menghabiskan 3 jam 8 menit hingga 3 jam 15 menit per hari (data awal 2024-2025). Hal ini menempatkan Indonesia secara konsisten 10 besar negara dengan durasi penggunaan media sosial tertinggi di dunia.

Gen Z dan Milenial masuk kategori kelompok aktif, dengan rata-rata 4 hingga 6 jam per hari. Data menunjukkan bahwa pengguna Indonesia sangat loyal pada aplikasi berbasis video mulai dari TikTok dengan penggunaan rata-rata 44 jam 54 menit per bulan (hampir 1,5 jam/hari). YouTube rata-rata 29 jam 04 menit per bulan, WhatsApp rata-rata 24 jam 17 menit per bulan dan Instagram dengan ata-rata 14 jam 57 menit per bulan.

Dari sisi popularitas terdapat 5 sosial media dengan jumlah pengguna terbanyak di Indonesia, yaitu:  TikTok ±180 juta pengguna menjadi platform dengan pertumbuhan tercepat dan durasi tonton tertinggi. YouTube  ±151 juta pengguna, WhatsApp Digunakan oleh sekitar 90,8% pengguna internet di Indonesia utama untuk komunikasi, Instagram: ±108 juta pengguna. Facebook ±121 juta pengguna masih sangat kuat di segmen usia dewasa dan paruh baya.

Tingginya angka penggunaan harian sosial media tersebut tidak jarang mengganggu konsentrasi apalagi dengan maraknya konten video pendek yang berdampak pada Attention Span yaitu penurunan kemampuan untuk fokus pada satu hal dalam waktu lama atau Sustained Attention yang bisa berdampak dari Brain Rot yang secara harfiah berarti "pembusukan otak". Istilah ini populer di kalangan Gen Z dan Milenial bahkan menjadi Word of the Year 2024 menurut Oxford, merujuk pada penurunan kualitas kognitif, daya ingat, dan kemampuan berpikir kritis akibat terlalu banyak mengonsumsi konten berkualitas rendah yang sangat cepat.

Belum terlambat untuk mengatasi dampak sosial media ini, salah satu cara yang paling afektif adalah dengan Digital Detox atau puasa media sosial dengan melatih kembali fokus dengan aktivitas lambat dan mengurangi penggunaan sosial media.

Lewat postingan kali ini, berikut kami hadirkan informasi tentang Cara Ngurangin Scrolling Sosmed Biar Gak HP Terus Agar Bisa Konsentrasi Satu Pekerjaan. Apa saja? ini dia daftarnya: 


1. Membersihkan Rumah
Melakukan kegiatan bersih-bersih bisa membuat kita melepas kecanduan scrolling sosmed. Mulailah dari hal sederhana dan ringan misalnya membersihkan kamar tidur atau kamar kos. Jika sudah mulai terbiasa bisa ditambah dengan membersihkan ruang keluarga dan seisi rumah hingga halaman rumah. 

Selain mengurangi kecanduan pada gadget dan sosial media, aktifitas membersihkan rumah ini juga bermanfaat untuk kesehatan tubuh karena akan mengeluarkan keringat.



2. Menggambar dan Mewarnai
Bagi sobat yang punya bakat bisa mulai menggambar di kertas, melukis di kanvas dan mewarnai. Mungkin terdengar sebagai kegiatan anak-anak, namun hal tersebut cukup efektif melatih konsentrasi, kreatifitas dan fokus sehingga sejenak bisa melupakan sosmed.
 

3. Belajar Memasak - Baking
Belajar memasak dan memanggang roti atau kukis bisa juga jadi alternatif mengalihkan fokus ketergantungan pada sosial media. Bagi sobat yang hobi makan hal ini akan mengajarkan kesabaran bahwa untuk menikmati sebuah hidangan harus melewati proses pembuatan terlebih dahulu.


4. Membaca Buku
Buku apapun, tidak melulu harus tema berat dan serius. Bisa juga buku dengan cerita ringan, novel bahkan dongeng. Jika sudah terbiasa maka membaka buku bakal jadi obat ampuh dalam mengurangi scrolling sosmed. Membaca juga bermanfaat menambah pengetahuan baru, melatih imajinasi serta empati.



5. Memelihara Hewan
Sekali lagi tidak harus hewan yang besar seperti anjing atau kucing, kita bisa mulai dari yang mudah dalam pemeliharaannya seperti ikan, burung bahkan jangkrik. Atau kalau mau yang lucu-lucu bisa juga memilih kelinci atau hamster cocok untuk anak kos.


6. Merajut dan Menyulam
Hobi dengan benang ini bisa melatih kesabaran dan kreatifitas, hasilnya bisa digunakan seperti kaos kaki, topi hingga kardigan atau selimut. Jika sobat ingin lebih serius merajut bisa juga jadi bisnis sampingan.


7. Ikut Komunitas
Mengikuti komunitas bisa bermanfaat dalam menjalin hubungan dengan orang baru, sekedar mengobrol dan bertukar cerita serta perpekstif terhadap berbagai hal bisa memperkaya pemikiran kita sehingga bisa menghargai keragaman pola pikir orang lain.


8. Journaling atau Menulis
Journaling sesederhana menulis apa saja yang hari ini sudah kita jalani, hal yang menarik hingga mengambil hikmah peristiwa yang kita alami. Menulis bisa lewat diary dengan tulisan tangan atau menuangkan dalam blog personal. Menulis melatih kita mengungkapkan isi pikiran yang sering kali jadi persoalan karena berkutat di kepala kita saja. Menulis juga bermanfaat melatih menuangkan ide dengan runut serta mudah dimengerti orang lain.



9. Berkebun
Di era yang mulai tumbuh kesadaran terhadap gaya hidup sehat, berkebung di pekarangan rumah bisa jadi langkah awal yang bagus. Mulai saja dari tanaman sederhana seperti cabe, bawang, selada atau pakcoy yang bisa kita gunakan sebagai sayuran tambahan dalam hidangan harian.

Selain mengalihkan pada ketergantungan gadget dan sosmed, berkebun bisa jadi ketahanan pangan dan menghemat pengeluaran harian.



10. Bermain Board game
Gerasi millenial mungkin masih menikmati serunya bermain board game saat kecil yang setelah dewasa dengan hadirnya sosial media jadi jarang bahkan mungkin tidak pernah lagi.

Board game sederhana seperti ular tangga, uno, jenga dan kartu bisa melatih otak bermain strategi memaksa berfikir berulang kali dan memprediksi permainan lawan sehingga fokus bisa terlatih dan otak kembali terasah mengurangi ketergantungan dengan chat-gpt atau Ai lainnya.



11. Menerapkan Teknik Pomodoro
Teknik Pomodoro adalah metode manajemen waktu yang dikembangkan oleh Francesco Cirillo pada akhir 1980-an. Nama ini diambil dari bahasa Italia, Pomodoro, yang berarti tomat, karena saat itu Cirillo menggunakan timer dapur berbentuk tomat untuk mengukur waktu belajarnya. Teknik ini sangat efektif untuk melawan dampak "TikTok Brain" atau penurunan konsentrasi karena melatih otak untuk fokus secara intens dalam durasi singkat.

Berikut adalah langkah-langkah standar untuk menerapkannya:

a. Pilih Satu Tugas dengan menentukan satu tugas spesifik yang ingin diselesaikan hindari multitasking.

b. Atur Timer 25 Meni dan fokuslah sepenuhnya pada tugas tersebut hingga timer berbunyi. Satu sesi 25 menit ini disebut sebagai satu jendela kerja atau satu Pomodoro.

c. Istirahat Singkat (5 Menit), saat timer berbunyi, segera berhenti dan beristirahat. Gunakan untuk meregangkan tubuh, minum air, atau menjauh dari layar. Jangan buka media sosial pada jeda ini.

d. Ulangi dan lakukan siklus di atas sebanyak 4 kali.

e. Istirahat Panjang (15–30 Menit), setelah menyelesaikan 4 sesi Pomodoro, ambil waktu istirahat yang lebih lama sebelum memulai siklus baru.



Oke demikian tadi sobat Campusnesia postingan kita kali ini tentang Cara Ngurangin Scrolling Sosmed Biar Gak HP Terus Agar Bisa Konsentrasi Satu Pekerjaan, semoga bermanfaat sampai jumpa.


Penulis
Nandar


===
Baca juga:

Perjalanan 2015 Hingga 2025 Menjadi Blogger Bersama Campusnesia, Harapan Itu Masih Ada

0
 



Campusnesia.co.id - Halo sobat pembaca, tak seperti pos-pos sebelumnya, kali ini saya coba mengikuti sebuah lomba blog dalam rangka ulang tahun ke-10 komunitas blogger Semarang Gandjel Rel yang tahun ini mengangkat tema "2015 ke 2025, Perjalanan Ngeblogku".

Jujur, ini pengalaman pertama bagi saya menulis untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba blog, tapi seperti kata pepatah bijak "selalu ada pengalaman pertama untuk setiap hal" jadi mari kita coba. Jika menang Alhamdulillah jika kalah tidak masalah.

Entah kebetulan atau tidak, setelah mengingat-ingat kapan saya mulai intensif ngeblog ternyata betepatan dengan tema yaitu tahun 2015, itulah awal mula kelahiran Campusnesia.

Lewat postingan kali ini saya akan bercerita tentang bagaimana semua ini bermula, alasannya, jatuh bangunnya, manis yang dihasilkannya serta rencana kedepannya. Semoga tidak membosankan untuk dibaca, selamat menikmatinya.



Awal Semula - 2015
Suatu hari di tahun 2015 saya mengetahui keponakan tercinta yang sudah kelas 6 SD mulai terpapar handphone dan internet. Sebagai orang yang sudah lebih lama tahu internet jujur saya khawatir dengan segala informasi di dalamnya.

Berangkat dari keresahan tersebut terbersit untuk membuat sebuah media online yang harapannya kalau tidak bisa memerangi konten negatif di internet setidaknya bisa menjadi alternatif yang tidak membawa dampak buruk bagi pembacanya.

Awalnya saya ingin membuat media online yang membahas politik, hukum, budaya dan ekonomi seperti pada umumnya media, namun sadar bahwa proyek ini hanya sambilan sepulang kerja sepertinya pilihan itu tidak memungkinkan terlaksana.

Setelah meminta saran dan diskusi dengan beberapa teman pilihan jatuh pada tema pendidikan, kebetulan tempat kerja dekat kampus di Tembalang Semarang dan mayoritas customer adalah mahasiswa sehingga masih sering dapat kabar terbaru dari dunia pendidikan.

Namanya proyek sampingan dari sisi dukungan finansial juga belum ada, ingin memesan website berita yang profesional belum ada uangnya. Kembali seorang teman yang lebih dulu suka ngulik blog menyarankan menggunakan platform Blogspot dari Google dan template dari situs Arlina yang gratisan, maka jadilah versi pertama blog saya Campusnesia.blogspot.com sesuai nasehat "mulai saja dulu, dari hal kecil yang bisa dilalukan sekarang juga".



Domain Campusnesia.co.id - 2016
Sepuluh bulan kemudian, setelah isi tabungan dirasa cukup saya menghubungi senior yang bisnisnya bergerak dalam jasa pembuatan website, saya meminta tolong untuk membelikan domain awalnya rencana pertama pilihan jatuh pada .com namun karena sudah ada yang membeli maka disarankan menggunakan .co.id.

Belakangan setelah saya mulai paham ternyata domain .co.id cukup elit, harga termasuk lumayan mahal dan ketika membeli di awal harus menyertakan syarat badan hukum usaha sehingga saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkannya.

Tanggal 21 September 2016 menjadi hari bersejarah, hari dimana website Campusnesia.co.id online dengan nama domain TLD yang menurut saya keren sekali. Konten yang kami hadirkan seputar dunia pendidikan, info lowongan kerja, info seminar, tips dan trik belajar, review makanan sekitar kampus dan sesekali review film dan drama korea.



Mimpi Dapat Bayaran dari Nge-blog - 2017
Selain misi idealis ikut mewarnai konten di internet, ngeblog bersama Campusnesia juga bertujuan mendapatkan uang. Kala itu target saya adalah bisa diapprove Google Adsense bisa mendapatkan bayaran setiap bulan dari hasil ngeblog.

Berulang kali saya coba daftarkan, namun karena blog masih baru, traffic masih puluhan dan konten belum banyak berulang kali pula ditolak oleh Google.

Tak menyerah saya coba daftar program PPC sejenis selain Google, namun hasilnya sama saja. 

Di saat yang sama sering kali saya merasa iri dengan teman-teman saya yang menulis dengan laptop yang mewah dan istimewa sedangkan saya hanya mengetik di komputer seadanya yang kalau crash jadi biru layarnya.

Impian saya kala itu bisa punya laptop yang bisa dibawa kemana-mana,.

Kurang lebih tujuh bulan ini saya pulang ke kampung halaman karena harus merawat ibu yang sedang menjalani proses pengobatan. Tak mau berdiam diri dengan meminjam laptop keponakan yang sudah cukup usang saya coba untuk menulis dengan hati yang senang. 

Windowsnya masih versi 7 yang kadang tidak kompatible untuk pembaharuan browser sehingga semua serba terbatas, microsoft officenya masih versi 2010 dan baterainya sudah tidak dicharge lagi, kalau lampu mati maka mati juga laptopnya.


Ya Udah Lah Ya - 2018
Kegagalan mewujudkan mimpi dapat bayaran dari nulis blog membuat saya sampai pada perasaan "ya udah lah ya, nulis mah nulis saja" sejak saat itu tujuan saya ngeblog kembali ke awal untuk mewarnai konten di internet dan aktualisasi.

Terlepas dari kualitasnya, menulis jadi kegiatan yang menyenangkan bagi saya, aktualisasi, mengeluarkan uneg-uneg dalam pikiran, membantu mengurai dan menyampaikan ide secara runut dan jadi hiburan selepas kerja.

Secara intensitas menulis semakin sering dan konten yang beragam benar-benar hal yang menyenangkan bagi saya.



Begini Rasanya Dapat Bayaran Dari Ngeblog - 2021
Untuk sekian kali saya ingin mengutip sebuah pepatah, "justru ketika kita bekerja tanpa pamrih di situlah kejutan akan terjadi" benar saja berangkat dari keputusasaan tidak bisa mendapatkan bayaran dari ngeblog dan pure menulis dari hati, perlahan tapi pasti traffic Campusnesia mulai naik drastis.

Puncaknya ketika pandemi di tahun 2020 dan 2021, melihat tren ini seorang teman kembali menyarankan untuk mendaftarkan kembali ke Google Adsense dan alhamdulillah kali ini membuahkan hasil positif.

Sebulan pertama sudah bisa mendapatkan syarat untuk mengajukan pin dan verifikasi alamat, dan di bulan berikutnya target minimum payout terpenuhi yaitu Rp1.300.000. Agustus 2021 jadi bulan bersejarah bagi saya sebagai kali pertama saya dapat dapatkan bayaran dari mbah Google dari hasil ngeblog.

Bulan-bulan berikutnya membuat saya sempat jumawa karena hasil dari ngeblog besar sekali, nyaris dua kali UMR Kabupaten Pati tempat asal saya. Muncul godaan untuk pensiun dari pekerjaan utama dan fokus jadi blogger di desa.

Beruntung seorang teman yang sudah lebih dulu malang melintang di dunia blogger mencegah dan mengingatkan tentang dua hal yang sangat penting yaitu betapa rapuhnya dunia digital, jangan buru-buru memutuskan pensiun dan sisihkan hasil dari Adsense untuk bisnis real.



Rapuhnya Dunia Digital - 2022
Bak dukun di era digital, nasehat teman saya tadi terbukti. Sejak awal tahun penghasilan dari adsense mulai turun. Kalau dianalisa tentu ada saja alasannya misalnya tech winter, turunnya traffic serta pasca pandemi yang mana masyarakat sudah banyak berkegiatan di luar dan tidak melulu mantengin handphone di rumah saja.

Bersyukur saya tidak jadi pensiun dan sudah sempat menyisihkan hasil dari Adsense untuk bisnis real yaitu sebuah konter pulsa dan loket pembayaran di kampung halaman saya.

Setidaknya hasil dari adsense tidak hilang begitu saja dan hingga sekarang masil bisa dinikmati hasilnya.



Go International Dengan Blogger - 2023
Tahun 2022 dan 2023 adalah masa paceklik penghasilan dari google adsense, sebelumnya setiap bulan bisa payout kini harus menunggu tiga bulan, enam bulan bahkan nyaris satu tahun untuk mengumpulkan seratus dollar.

Namun setiap ada kesusahan pasti ada saja hikmah dan jalan keluar. Ketika adsense tak lagi bisa diandalkan saya coba mulai membalas email-email dari luar negeri yang menawarkan kerja sama pemasangan backlink dan guest post berbayar.

Jujur, walau hanya berkorespondensi lewat email ada perasaan minder karena berbahasa Inggris dan kadang terbersit dalam hati, apakah benar mereka akan membayar?

Alhamdulillah dengan kemampuan bahasa Inggris yang pas-pasan dan sering kali dengan bantuan Google Translete deal order pertama dari klien luar negeri dengan bayaran $40. Tidak sampai disitu ternyata harus punya akun PayPal dan masing bingung kapan serta bagaimana cara mencairkannya.

Setelah tanya sana-sini, percobaan pertama menarik $10 dan masih tidak percaya bisa mendapatkan bayaran dollar dari klien luar negeri, melewati negosiasi dan mencairkan ke nomor rekening dalam negeri.

Hasil dari jasa publish guest post dan backlink dari luar negeri sengaja saya simpan rapat-rapat di PayPal, Alhamdulillah tahun 2023 salah satu cita-cita besar saya membelikan hewan Kurban untuk ibu tercinta bisa terlaksana dan Insyaallah tahun 2025 ini kembali akan menunaikan Kurban dari hasil ngeblog klien luar negeri.




Harapan Itu Masih Ada - 2024
Bisa dibilang sejak akhir 2023 dan sepanjang 2024 banyak huru-hara yang melanda rekan-rekan blogger termasuk saya. Google melakukan pembaruan algoritma dan dampaknya menerpa banyak blogger hingga tak berdaya.

Traffic turun drastis, konten-konten yang biasanya menjadi andalan mendulang pengunjung dan pembaca tiba-tiba terjun bebas traffic dan rangkingnya di mesin pencarian Google. Penerapan Ai di mesin pencari juga sedikit banyak menjadi penyebab kunjungan ke blog berkurang.

Bisa ditebak, jika traffic dan ranggking menurun maka hasil dari Adsense juga anjlok hingga hanya seribuan perak setiap harinya.

Tapi ya sudah lah ya, mau gimana lagi hal-hal di atas adalah sesuatu di luar kendali kita, terlalu fokus pada hal yang tidak bisa kita ubah hanya akan menambah stress dan mengurangi semangat, sekali lagi ijinkan saya mengutip pepatah bijak yang mengatakan "fokus saja pada apa yang bisa kita kendalikan dan lihatlah peluang di setiap kejadian".

Setelah beberapa waktu merenungkan semua yang terjadi, muncullah ide menawarkan paid publish di blog untuk artikel-artikel tetentu, Alhamadulillah walau tak bisa dipastikan kapan bakal dapat pesanan tapi setidaknya satu peluang terbuka dan bisa menghasilkan, minimal cukup untuk membayar perpanjangan domain yang setiap tahun semakin naik karena pajak.

Jadi seperti judul sebuah lagu, Harapan Itu Masih ada!.



Epilog - 2025
Tahun anyar baru berjalan dua bulan, ada peluang yang terlewat dan ada yang berhasil didapat. Hidup ibarat roda yang terus berputar, sepuluh tahun menjadi blogger (2015-2025) memberi banyak kesempatan untuk belajar..

Setiap niat baik akan menemukan jalannya, namun bahkan untuk hal yang sudah dengan matang direncanakan, bisa saja gagal di tengah jalan.

Namun jangan cepat menyerah, cobalah bertahan sedikit lebih lama lagi, pupuk dan jaga semangat agar tak cepat melemah.

Dunia digital ibarat istana pasir, sangat fragile pagi sukses malam bisa saja semua berakhir, sekali lagi ya mau gimana lagi banyak hal di luar kendali. Lakukan saja yang terbaik dari diri sendiri kalaupun belum berhasil setidaknya sudah jadi ajang aktualisasi.

Di tengah serbuan sosial media dengan konten pendek, menulis panjang di blog masih jadi cara asyik mengurai pikiran, menata kata untuk menyampaikan gagasan dan yang terpenting jadi healing murah tanpa harus liburan.

Untuk semua sobat blogger, tetap semangat mari teruskan tarian lentik-lektik jari di atas keyboard, biarkan kata-demi kata jadi rangkaian kalimat dan paragraf serta postingan demi postingan memenuhi halaman beranda blog kita.

Tak usah risau berapa banyak yang bakal membaca postingan kita, di Google masuk rangking berapa, atau bisa seberapa kaya dari rangkaian kata-kata karena "setiap tulisan akan menemukan pembacanya".




Sampai jumpa, 
saya Achmad Munandar





Artikel ini diikutsertakan pada Lomba Blog 2015 ke 2025 Perjalanan Ngeblogku yang diadakan oleh Gandjel Rel.

Mahasiswa KKN Undip Sulap Teras Rumah Warga menjadi Taman Baca: Solusi Meningkatkan Literasi Anak-anak!

0
Pemaparan Usulan Desain Taman Baca Tanjung kepada Perangkat Desa dan Ibu-Ibu PKK Desa Tanjung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan (03/02/2025)

Campusnesia.co.idTanjung, Pekalongan (03/02) - Desa Tanjung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan memiliki TK dan MI sendiri, namun tingkat pendidikan anak-anak di desa ini tergolong rendah. Tercatat untuk tingkat Kabupaten Pekalongan sendiri rata-rata lama sekolahnya anak-anak hanyalah 7,47 tahun yang setara dengan kelas 1 SMP. Termasuk di Desa Tanjung sendiri, anak-anak yang tidak melanjutkan pendidikan memilih untuk menjadi buruh konveksi di daerah setempat. Namun, minat belajar anak-anak di sini tergolong tinggi, dibuktikan dengan adanya beberapa tempat belajar non-formal yang ramai diikuti.

Salah satu tempat belajar yang ramai diikuti anak-anak yakni di kediaman Bu Zakiyah, selaku Ketua TK Muslimat NU Tanjung sekaligus Ketua Ibu-Ibu PKK Desa Tanjung. Sebagai seorang pengajar, Bu Zakiyah merasa senang dengan minat belajar yang tinggi dari anak-anak di Desa Tanjung. Dengan keseharian beliau sebagai guru TK pada pagi hari dan guru TPQ pada sore hari serta mengajar ngaji pada malam hari, beliau merasakan sendiri tekad belajar yang tinggi dari anak-anak di desa.

Berangkat dari hal tersebut, Mokhamad Bagus Satria Kafabi - mahasiswa KKN Tim I Undip 2025 mengajukan ide untuk menjadikan teras rumah Bu Zakiyah sebagai taman baca. Konsep taman baca ini tidak beda jauh dengan pojok baca yang biasa diterapkan di sekolah-sekolah. Harapan dari taman baca ini adalah anak-anak yang hendak mengaji dapat sekaligus memanfaatkan bahan bacaan yang disediakan, tentu dengan arahan orang tua masing-masing. Taman baca ini diberi slogan “Membuka Buku, Melihat Dunia” dengan maksud anak-anak yang membaca buku dapat memiliki daya imajinasi yang lebih luas. Buku-buku yang disediakan di sini berupa buku fiksi seperti komik, dongeng, novel, dan buku nonfiksi seperti pengetahuan umum, doa-doa sehari-hari, dan buku pelajaran.
 
Penyerahan Booklet Design Report Desain Taman Baca Tanjung kepada Perangkat Desa dan Ketua Ibu-ibu PKK Desa Tanjung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan (03/02/2025)

Pemaparan mengenai usulan desain taman baca ini dilaksanakan di aula Balai Desa Tanjung pada hari Senin, 3 Februari 2025 bersamaan dengan pertemuan ibu-ibu PKK dengan dihadiri oleh perangkat desa dan tentu Bu Zakiyah. Presentasi dilakukan dengan enjoy dan mendapatkan respons positif dari audiens. Audiens menyimak dengan seksama dan memahami betapa pentingnya pendidikan bagi anak-anak demi masa depan mereka.

Ibu Zakiyah - Ketua Ibu-Ibu PKK menyampaikan usulan taman baca ini sangat bermanfaat dan dapat memberikan peluang lebih kepada anak-anak untuk belajar. Pak Slamet - Kepala Dusun Desa Tanjung sekaligus suami dari Bu Zakiyah juga menambahkan, usulan taman baca ini sangat positif dan semua niat baik harus disertai dengan ikhtiar agar dapat terlaksana.


Penulis : Mokhamad Bagus Satria Kafabi (Arsitektur)
Editor : Zulfaidah Ariany

Sumpah Pemuda: Memaknai Nasionalisme di Era Kecerdasan Buatan

0
 

Oleh: 
Fidelis Roy Maleng, tinggal di Ritapiret

Campusnesia.co.id - Tanggal 28 Oktober 1928 adalah momen bersejarah bagi Indonesia, ketika para pemuda dari berbagai latar belakang bersatu untuk merumuskan sebuah ikrar yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Ikrar ini mencerminkan semangat persatuan, kebersamaan, dan komitmen yang kuat untuk menjadikan Indonesia sebagai tanah air bersama, tanpa memperhitungkan perbedaan suku, agama, atau bahasa. Semangat ini tidak hanya menjadi fondasi bagi bangsa yang baru lahir tetapi juga menjadi simbol kebangkitan nasionalisme yang menyatukan beragam identitas menjadi satu entitas bangsa.

Namun, hampir satu abad kemudian, nasionalisme menghadapi tantangan yang sama sekali baru seiring berkembangnya teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI). Di era ini, teknologi memiliki peran signifikan dalam mempengaruhi pola pikir, nilai, dan interaksi sosial, baik di dalam maupun di luar batas negara. Kemudahan akses informasi lintas negara yang difasilitasi oleh algoritma dan platform digital membawa peluang sekaligus ancaman bagi nasionalisme Indonesia. Tanpa pengawasan dan pemahaman yang kuat, arus informasi global dapat mengikis identitas nasional dan memudarkan rasa kebanggaan akan budaya lokal, khususnya di kalangan generasi muda.

Dalam konteks ini, perlu dilakukan pembaruan terhadap konsep nasionalisme agar dapat menjawab tantangan yang ada. Nasionalisme tidak bisa lagi hanya dipahami sebagai cinta tanah air dalam arti geografis, tetapi juga harus mencakup upaya mempertahankan budaya dan identitas nasional di tengah derasnya arus globalisasi digital. Dalam artikel ini, penulis akan membahas bagaimana semangat persatuan dalam Sumpah Pemuda dapat dimaknai kembali dan dijaga melalui pendekatan yang kritis dan mendalam di era kecerdasan buatan.


Tantangan Nasionalisme di Era Kecerdasan Buatan

Di era kecerdasan buatan, pengertian nasionalisme mengalami perubahan signifikan. Anthony D. Smith, seorang ahli teori nasionalisme, menjelaskan bahwa nasionalisme adalah sebuah proses membangun identitas kolektif yang didasarkan pada simbol-simbol budaya yang mengikat. Menurut Smith, "Nationalism is, first and foremost, a phenomenon of the modern era, that seeks to unify a people around shared cultural symbols and historical memories" (Smith, Nationalism and Modernism, 1998, hlm. 44). Namun, ketika identitas nasional berhadapan dengan globalisasi digital, konsep ini mengalami tekanan.

Media sosial dan platform digital menciptakan dunia tanpa batas yang menyebarkan budaya global, berpotensi mengancam budaya dan identitas lokal. Pengaruh budaya pop yang mendominasi media sosial seringkali menyisihkan kearifan lokal dan tradisi yang telah ada sejak lama. Masyarakat, terutama generasi muda, semakin terpapar oleh konten yang bersifat global dan sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Indonesia. Algoritma pada platform digital juga mengontrol dan mengarahkan konsumsi informasi masyarakat, yang kadang menciptakan ketergantungan terhadap konten asing serta meminimalkan keterpaparan terhadap budaya dan nilai lokal.

Kondisi ini mengakibatkan potensi memudarnya ikatan nasionalisme di kalangan generasi muda yang terus dibanjiri oleh budaya pop global. Hal ini perlu diwaspadai karena generasi muda adalah penerus bangsa yang seharusnya dipersiapkan untuk meneruskan semangat Sumpah Pemuda. Kita harus merenungkan bagaimana cara mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai lokal sehingga identitas nasional tetap terjaga.


Potensi dan Risiko Kecerdasan Buatan terhadap Persatuan Bangsa

Nasionalisme di era digital harus menimbang ulang bagaimana semangat persatuan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda dapat dijaga dalam konteks modern ini. Di satu sisi, AI berpotensi menyatukan, memungkinkan masyarakat saling terhubung dan mengembangkan literasi bersama, seperti yang dikemukakan oleh Marshal McLuhan dalam gagasannya tentang "Global Village." McLuhan menulis bahwa, "The new electronic interdependence recreates the world in the image of a global village" (McLuhan, Understanding Media: The Extensions of Man, 1964, hlm. 93). Dengan kemudahan akses informasi dan komunikasi, masyarakat dapat saling bertukar ide dan budaya, memperkaya pemahaman dan toleransi antarbudaya.

Namun, jika tidak diawasi, AI juga dapat menjadi alat disintegrasi. Data besar dan algoritma yang beroperasi tanpa mempertimbangkan nilai lokal cenderung menciptakan bias informasi yang homogen, mencabut keunikan lokal dan menciptakan identitas massa yang seragam. Perusahaan teknologi besar sering kali mengutamakan keuntungan bisnis daripada dampak sosial dari konten yang mereka distribusikan, yang dapat memperparah kesenjangan antara budaya lokal dan budaya global.

Kondisi ini, seperti yang dijelaskan Pierre Bourdieu dalam konsep “habitus,” dapat menyebabkan perubahan struktur sosial, di mana nilai-nilai asing mulai mendominasi nilai lokal. Bourdieu mencatat bahwa, “Habitus is a system of durable, transposable dispositions" (Bourdieu, The Logic of Practice, 1990, hlm. 53). Pemahaman tentang habitus ini penting untuk menganalisis bagaimana generasi muda membentuk identitas mereka dalam konteks budaya yang terpengaruh oleh kecerdasan buatan.

Kita perlu menciptakan lingkungan di mana teknologi dapat berfungsi sebagai alat untuk memperkuat identitas nasional dan keberagaman budaya, bukan sebaliknya. Hal ini dapat dilakukan melalui kebijakan yang mendorong penciptaan konten lokal dan pelibatan masyarakat dalam produksi konten digital yang mencerminkan keberagaman budaya Indonesia.


Pendidikan Literasi Digital Berbasis Nilai Pancasila

Untuk menjaga identitas nasional di tengah derasnya arus teknologi, kita perlu mendorong pendidikan literasi digital yang berakar pada nilai-nilai Pancasila. Manuel Castells dalam konsepnya mengenai “Network Society” menyatakan bahwa teknologi komunikasi modern memerlukan pemahaman yang mendalam akan norma dan nilai masyarakat. Castells menulis bahwa, “Our societies are increasingly structured around a bipolar opposition between the Net and the Self” (Castells, The Rise of the Network Society, 1996, hlm. 3). Dalam konteks ini, penting bagi pendidikan untuk menanamkan pemahaman akan hak dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi, serta bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memperkuat identitas nasional.

Pendidikan literasi digital yang berbasis Pancasila bisa menjadi jalan untuk menciptakan pemuda yang kritis dan selektif terhadap konten global, sekaligus menumbuhkan kebanggaan akan nilai-nilai budaya lokal. Mengintegrasikan nilai Pancasila dalam literasi digital tidak hanya akan membantu masyarakat mempertahankan perspektif nasional tetapi juga memperkuat rasa identitas dan kebersamaan di antara mereka.

Kurikulum pendidikan harus mencakup pelajaran tentang penggunaan teknologi yang bijak, pemahaman tentang etika digital, dan cara menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten positif yang menggambarkan keanekaragaman budaya Indonesia. Dengan pendekatan ini, generasi muda diharapkan dapat berperan aktif dalam menciptakan konten yang mendukung identitas nasional, serta menjadi konsumen yang cerdas dalam menghadapi informasi global.


Kecerdasan Buatan sebagai Alat untuk Mempromosikan Budaya Lokal
Semangat Sumpah Pemuda juga bisa diwujudkan dengan menjadikan AI sebagai sarana untuk melestarikan dan mempromosikan budaya lokal. Edward Said, dalam teori "Orientalism," menyatakan pentingnya representasi dan narasi dalam menjaga identitas budaya. Said berpendapat bahwa, “Orientalism is a style of thought based upon an ontological and epistemological distinction made between ‘the Orient’ and (most of the time) ‘the Occident’” (Said, Orientalism, 1978, hlm. 2). Dalam konteks ini, kita perlu menyadari bahwa teknologi, jika dimanfaatkan dengan baik, dapat berfungsi sebagai platform untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan budaya lokal kepada dunia.

AI dapat digunakan sebagai alat yang efektif untuk mengembangkan konten lokal yang mencerminkan keragaman budaya Indonesia. Misalnya, algoritma yang diprogram untuk mendukung konten kebudayaan lokal dapat membantu masyarakat mengenal lebih dalam tentang tradisi, bahasa daerah, dan cerita rakyat yang ada di Indonesia. Platform digital lokal dengan basis AI juga bisa berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan komunitas yang berbeda, memfasilitasi dialog antarbudaya dalam semangat persatuan yang sesuai dengan nilai-nilai Sumpah Pemuda.

Dengan memanfaatkan teknologi untuk mengedukasi dan mempromosikan budaya lokal, kita tidak hanya melestarikan warisan budaya tetapi juga memperkuat nasionalisme. Program-program yang memfasilitasi penciptaan konten digital berbasis budaya lokal dapat diinisiasi melalui kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat. Ini juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru dalam industri kreatif, di mana generasi muda dapat berkontribusi aktif dalam menjaga dan mempromosikan budaya Indonesia.


Refleksi Semangat Sumpah Pemuda di Tengah Tantangan Globalisasi

Pada akhirnya, era kecerdasan buatan memberikan tantangan yang tidak kecil terhadap pemahaman nasionalisme. Samuel Huntington dalam “The Clash of Civilizations” mengingatkan bahwa perbedaan budaya dan identitas akan menjadi sumber konflik jika tidak dikelola dengan baik. Huntington menyatakan, “The great divisions among humankind and the dominating source of conflict will be cultural” (Huntington, The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order, 1996, hlm. 21). Dalam konteks Indonesia, Sumpah Pemuda adalah ikrar yang seharusnya tetap menjadi acuan dalam mempertahankan persatuan. Semangat ini dapat diterjemahkan ke dalam nasionalisme yang dinamis dan fleksibel, yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa mengorbankan prinsip dasar bangsa.

Seiring dengan perubahan zaman, nasionalisme juga perlu dipahami sebagai sebuah proses yang terus berkembang. Dalam menghadapi globalisasi dan kecerdasan buatan, kita perlu mengadaptasi nilai-nilai yang ada dalam Sumpah Pemuda agar relevan dengan konteks saat ini. Nasionalisme tidak lagi hanya sekadar perasaan cinta tanah air yang terikat pada aspek geografis, tetapi juga mencakup pengertian tentang solidaritas, keberagaman, dan keadilan sosial yang dijunjung tinggi dalam nilai-nilai Pancasila.

Masyarakat Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi konsumen pasif dari budaya global, tetapi juga aktif dalam menciptakan dan menyebarkan nilai-nilai lokal. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus mendiskusikan dan merefleksikan semangat Sumpah Pemuda dalam konteks yang lebih luas. Kita perlu mengembangkan sikap kritis terhadap informasi yang kita terima dan menyadari bahwa teknologi, dalam hal ini AI, adalah alat yang dapat digunakan untuk mempromosikan budaya dan identitas lokal.

Dalam menghadapi tantangan ini, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta menjadi kunci untuk menjaga dan mengembangkan nasionalisme di era kecerdasan buatan. Pemerintah perlu mengambil peran aktif dalam menciptakan kebijakan yang mendukung pelestarian budaya dan mempromosikan konten lokal. Sementara itu, masyarakat harus didorong untuk berpartisipasi dalam memproduksi dan menyebarkan nilai-nilai kebudayaan yang menggambarkan keanekaragaman Indonesia.

Dengan merenungkan kembali nilai-nilai Sumpah Pemuda dan mengintegrasikannya dalam konteks digital saat ini, kita dapat menciptakan identitas nasional yang kuat dan relevan. Kita harus yakin bahwa dengan kebersamaan, semangat, dan komitmen yang diusung oleh para pemuda di tahun 1928, kita dapat menghadapi tantangan zaman dan membangun masa depan yang lebih baik untuk bangsa Indonesia.

Sumpah Pemuda bukan sekadar sebuah ikrar; ia adalah refleksi dari semangat persatuan yang harus terus hidup di tengah perubahan zaman. Di era kecerdasan buatan ini, tantangan terhadap nasionalisme semakin kompleks, tetapi bukan berarti tidak ada solusi. Dengan memperkuat pendidikan literasi digital berbasis nilai-nilai Pancasila, memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mempromosikan budaya lokal, dan beradaptasi dengan perubahan global, kita dapat menjaga dan memperkuat identitas nasional. Nasionalisme di era digital bukan hanya tentang mempertahankan apa yang telah ada, tetapi juga tentang merangkul keberagaman dan menjadikan teknologi sebagai sarana untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian, semangat Sumpah Pemuda dapat terus hidup dan memberikan inspirasi bagi generasi masa depan dalam menghadapi tantangan dunia yang semakin kompleks.



Foto: gettyiamges
Credit: Ali Trisno Pranoto

Meningkatkan Jiwa Bisnis Remaja Ponowareng, KKN Ajak Buat Bisnis Model Kanvas

0



Campusnesia.co.idBatang, 3 Agustus 2024 - Asdya Linka Desfiva mahasiswi dari Universitas Diponegoro jurusan Akuntansi Perpajakan dengan dosen pembimbing lapangan Hega Bintang Pratama Putra, S.T.P., M.Sc. menjalankan program karena munculnya ide-ide bisnis kreatif dari para remaja. Remaja desa ponowareng akan diajarkan bagaimana membuat business model canvas

Kegiatan yang dilaksanakan di Mushola bersamaan dengan acara rutin Anggota IPNU dan IPPNU Desa Ponowareng ini bertujuan untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini dan memberikan bekal pengetahuan dasar dalam merintis usaha sekaligus menjadi ide kegiatan ketika mereka ingin membuat peningkatan value organisasi secara internal.

Dengan business model canvas, kita dapat merancang model bisnis yang inovatif dan berkelanjutan. Pada kegiatan ini, mereka diajak untuk mengidentifikasi peluang bisnis di sekitar mereka, menganalisis pasar, dan merancang model bisnis yang unik.

Remaja desa yang mengikuti kegiatan terbagi menjadi dua tim, kedua tim  bersemangat untuk membuat bisnis model kanvas menggunakan karton yang dihias sesuai ide bisnis yang remaja desa inginkan.

Harapannya workshop kecil-kecil an ini dapat menjadi jembatan Remaja Desa Ponowareng untuk menuju kesukses-annya di masa depan dalam bidang bisnis.

program kerja ini berisi tentang apa itu Business Model Canvas, Manfaat ketika kita menyusun BMC, Bagaimana cara pembuatan BMC secara sederhana

Anggota IPNU dan IPPNU bagian dari organisasi remaja desa yang diikut sertakan dalam program mahasiswa KKN demi meningkatkan jiwa kewirausahaan.




Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa UNDIP Membuatkan Sosmed untuk Peningkatan Pelayanan Publik Di Desa Wiro

0



Campusnesia.co.id - Klaten, 31 Juli 2024 - Putravito Dwineo atau yang biasa dikenal dengan Vito adalah seorang Mahasiswa UNDIP yang berasal dari Prodi Ilmu Pemerintahan yang KKNnya bertempat di Desa Wiro, Klaten. Vito melihat bahwa di desa wiro tidak memiliki akun social media maka dari itu diperlukan akun sosial media untuk desa wiro sehingga memudahkan untuk penginputan dan memudahkan proses pelayanan publik. Masyarakat tidak diharuskan ke kantor balai desa setiap saat untuk mengurusi keperluan-keperluan administratif.

Kegiatan dilaksanakan di dalam ruang kantor Desa Wiro. Vito, sebagai mahasiswa yang memiliki pemahaman tentang pentingnya teknologi dalam pemerintahan, melihat peluang untuk membantu Desa Wiro menjadi lebih modern dan efisien dalam memberikan pelayanan publik. Dia mengajukan ide untuk membuat akun media sosial resmi desa yang nantinya dapat digunakan sebagai platform komunikasi antara pemerintah desa dan masyarakat.

Melalui akun media sosial ini, informasi-informasi penting, seperti jadwal pelayanan, pengumuman, dan kegiatan desa, dapat disampaikan dengan cepat dan langsung kepada warga. Selain itu, masyarakat dapat mengajukan pertanyaan, melaporkan masalah, dan mengurus keperluan administratif tanpa harus datang ke balai desa secara langsung. Ini tentu saja akan menghemat waktu dan tenaga, terutama bagi warga yang tinggal jauh dari kantor desa atau yang memiliki keterbatasan waktu.
 

Inisiatif Vito ini sejalan dengan tren global di mana teknologi semakin dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi dalam pelayanan publik. Dengan adanya akun media sosial, Desa Wiro juga dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam kegiatan desa, karena mereka akan lebih mudah mendapatkan informasi dan berkomunikasi dengan pemerintah desa.

Selain itu, kehadiran akun media sosial juga dapat menjadi sarana promosi bagi Desa Wiro. Potensi-potensi lokal, seperti produk UMKM, destinasi wisata, atau kegiatan budaya, dapat dipromosikan melalui platform tersebut, yang pada akhirnya dapat mendukung perekonomian desa. Dengan demikian, gagasan Vito tidak hanya membantu dalam hal administratif, tetapi juga dapat memberikan dampak positif secara ekonomi dan sosial bagi desa.

Melihat potensi yang besar ini, Vito berencana untuk melibatkan pihak-pihak terkait, seperti perangkat desa dan pemuda setempat, dalam pengelolaan akun media sosial tersebut. Dia juga berencana memberikan pelatihan dasar tentang penggunaan media sosial kepada warga, agar mereka dapat memanfaatkannya dengan baik. Vito berharap, dengan inisiatif ini, Desa Wiro dapat menjadi desa yang lebih maju dan responsif terhadap kebutuhan masyarakatnya.




Editor:
Achmad Munandar

Makeup Class di Desa Pondok: Rahasia Cantik dan Peluang Bisnis

0

Sesi penyampaian materi


Campusnesia.co.id - Klaten, 12 Agustus 2024 – Tim 2 KKN Universitas Diponegoro berhasil menyelenggarakan program "Secrets of Beauty: Make Up Class untuk Memaksimalkan Keindahan Sejati" dengan sukses. Kegiatan ini diadakan bersamaan dengan kegiatan rutin PKK setempat dan dirancang untuk memberikan edukasi dan pelatihan dasar mengenai makeup kepada ibu-ibu di Desa Pondok.

Program ini dimulai dengan pemaparan materi mengenai kualitas dan keamanan produk skincare, sanitasi, serta kesesuaian jenis kulit dengan produk makeup. Kemudian, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi makeup oleh para narasumber. Peserta, yang merupakan ibu-ibu dari desa setempat, aktif berpartisipasi dalam sesi tanya jawab dan praktik.

Pentingnya program ini muncul dari kebutuhan mendasar ibu-ibu untuk meningkatkan rasa percaya diri melalui keterampilan makeup. Makeup seringkali dikaitkan dengan kemampuan menutupi kekurangan dan meningkatkan penampilan, sehingga memberikan dampak positif pada kesehatan mental dan rasa percaya diri. Program ini bertujuan untuk menjawab tantangan tersebut dengan menyediakan pelatihan yang praktis dan aplikatif.

Selama kegiatan, para peserta menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pelatihan makeup dan aktif bertanya mengenai produk yang sesuai dengan kondisi kulit mereka. Para peserta juga memperoleh pengetahuan yang berguna tentang bagaimana memilih produk makeup yang tepat dan mempraktikannya untuk acara formal maupun non-formal. Selain itu, ide untuk memulai bisnis sebagai Makeup Artist (MuA) menarik perhatian dan minat peserta.
 
Demonstrasi makeup di depan para audien

Harapan dari masyarakat setelah mengikuti kegiatan ini adalah mereka dapat lebih percaya diri dan merasa positif mengenai penampilan mereka. Selain itu, mereka berharap dapat menerapkan ilmu yang didapat untuk kesempatan bisnis baru sebagai Makeup Artist, yang juga menjadi salah satu manfaat tambahan dari program ini.


Kegiatan ini menunjukkan hasil yang memuaskan, dengan peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan praktis tetapi juga ide bisnis yang bermanfaat. Dengan demikian, program ini memberikan dampak positif yang signifikan bagi masyarakat Desa Pondok.
 

Foto bersama Ibu-Ibu anggota PKK




Editor:
Achmad Munandar

Optimalisasi BUMDes Susukan Melalui Digital Marketing dan Creative Branding oleh Mahasiswa KKN Undip

0


Campusnesia.co.idPemalang (10/08), Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) TIM II Universitas Diponegoro (Undip) telah menginisiasi program "Optimalisasi BUMDes dengan Pendekatan Digital Marketing Berbasis Creative Branding" di Desa Susukan, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang. Program ini bertujuan untuk meningkatkan daya saing Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) melalui pemasaran digital yang inovatif dan strategi branding yang kreatif. 

Program ini dimulai dengan forum group discussion (FGD) yang melibatkan pimpinan BUMDes di Desa Susukan. FGD tersebut berfokus pada analisis tantangan dan peluang dalam memasarkan produk BUMDes secara digital. Dari diskusi tersebut, dihasilkan beberapa rencana tindak lanjut, termasuk pengembangan konsep branding dan strategi pemasaran yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing BUMDes.

BUMDes Kolam Renang SERUNI menjadi salah satu fokus utama dari program ini. Setelah FGD, tim KKN Undip Desa Susukan bersama pimpinan BUMDes SERUNI menyusun konsep branding yang menonjolkan keunikan fasilitas kolam renang yang dimiliki desa. Mahasiswa mengidentifikasi potensi daya tarik lokal dan merancang kampanye pemasaran yang bertujuan untuk menarik lebih banyak pengunjung, tidak hanya dari desa sekitar, tetapi juga dari wilayah yang lebih luas.

Tim KKN Undip Desa Susukan juga mendampingi segenap perangkat BUMDes Seruni dalam proses pembuatan konten digital yang akan digunakan untuk promosi, termasuk video promosi yang menampilkan fasilitas kolam renang dan photobooth yang dirancang untuk memberikan pengalaman interaktif bagi pengunjung. Selain itu, mereka memberikan pelatihan penggunaan media sosial dan alat pemasaran digital lainnya kepada pengelola BUMDes, guna meningkatkan keterampilan dalam mengelola kampanye pemasaran secara mandiri di masa depan.

 

Tidak hanya BUMDes Seruni, BUMDes SAMSAT Budiman juga menjadi fokus penting dalam program ini. FGD dengan pimpinan BUMDes SAMSAT Budiman menghasilkan berbagai ide kreatif untuk meningkatkan branding dan pemasaran jasa yang ditawarkan. Tim KKN Undip Desa Susukan bersama pimpinan BUMDes merancang strategi pemasaran yang mengedepankan kemudahan akses dan kecepatan layanan SAMSAT sebagai nilai jual utama.

Untuk memperkuat branding BUMDes SAMSAT Budiman, tim KKN Undip Desa Susukan mengembangkan konten video kreatif yang menggambarkan proses layanan SAMSAT secara visual, menjadikan layanan ini lebih dikenal di kalangan masyarakat desa. Selain itu, mahasiswa juga membantu dalam pengembangan desain logo dan materi pemasaran lainnya, serta memberikan saran mengenai media digital yang dapat digunakan untuk menjangkau pelanggan secara lebih efektif.

Meskipun program ini berhasil diimplementasikan di dua BUMDes, yaitu Kolam Renang SERUNI dan SAMSAT Budiman, terdapat beberapa kendala dalam menjangkau BUMDes lainnya, seperti BUMDes TPS dan BUMDes Pasar Tradisional Desa Susukan, karena keterbatasan waktu. Namun, tim KKN Undip Desa Susukan tetap optimis bahwa materi dan pelatihan yang telah diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh pengelola BUMDes yang terlibat.

Program ini diharapkan dapat menjadi model bagi BUMDes lain dalam mengembangkan strategi pemasaran digital yang efektif dan branding yang kreatif, sehingga mampu meningkatkan daya saing dan kesejahteraan ekonomi masyarakat Desa Susukan.



Editor:
Achmad Munandar

Dari Sampah Menjadi Karya: Mahasiswa KKN Sulap Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi

0


Campusnesia.co.id - Kota Surakarta (28/07) - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (UNDIP) Tim II tahun 2024 di Kelurahan Baluwarti muncul dengan inovasi dengan ide inovatif yang tak hanya berdampak positif bagi lingkungan, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang tinggi. Riska Maharani, mahasiswa program studi kimia Universitas Diponegoro, menunjukkan bagaimana cara menyulap minyak jelantah yang biasanya dianggap limbah tak berguna menjadi lilin aromaterapi yang bernilai.

Minyak jelantah, atau minyak bekas pakai, biasanya hanya dianggap sebagai limbah yang harus dibuang. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, terutama sumber air. Namun minyak jelantah ternyata bisa diolah menjadi produk yang bernilai tinggi, seperti lilin aromaterapi. 

Inisiatif kreatif dan ramah lingkungan ini diadakan bersama ibu-ibu RW 02 di Kelurahan Baluwarti pada tanggal 28 Juli 2024. Dalam kegiatan ini, Riska memaparkan cara membuat lilin aromaterapi dari minyak jelantah dan membagikan beberapa produknya. Inovasi ini disambut dengan sangat baik oleh ibu-ibu RW 02 yang menunjukkan ketertarikan untuk membuat lilin aromaterapi secara mandiri di rumah. 

“Dengan adanya program kerja ini, diharapkan masyarakat Baluwarti dapat berkontribusi untuk meminimalisir dampak pencemaran akibat minyak jelantah dan menciptakan peluang ekonomi baru,” ucap Riska.

Melalui program ini, mahasiswa KKN berhasil menunjukkan bahwa dengan kreativitas dan pengetahuan, limbah yang selama ini dianggap tak berguna bisa diubah menjadi karya yang bernilai tinggi. 
 


Editor:
Achmad Munandar

Kembangkan UMKM! Mahasiswa KKN Undip Inisiasi Pemberdayaan Pengembangan Inovasi Ide Bisnis

0


Campusnesia.co.idTemanggung (7/8/2024) - Di era perkembangan teknologi seperti saat ini, usaha lokal dituntut untuk dapat lebih bersaing baik dalam segi produksi maupun pemasaran produk mereka. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro tahun 2023/2024 memutuskan untuk mencanangkan program pemberdayaan dan pendampingan UMKM lokal dalam bidang perencanaan dan pengembangan ide bisnis di Desa Muneng, Kecamatan Candiroto, Kabupaten Temanggung. 

Kurangnya pemahaman dan pengetahuan mengenai visualisasi bisnis yang ada serta pengembangan inovasi kedepannya menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi UMKM Desa Muneng. Keterbatasan akan pemahaman mengenai inovasi bisnis menjadi hambatan usaha lokal untuk lebih mengembangkan bisnis mereka kedepannya, hal ini didukung dengan keterbatasan produk yang ada. “Pelaku usaha lokal terbatas pada pemahaman untuk sekedar memenuhi kebutuhan keseharian mereka saja, tanpa menyadari bagaimana potensi dari produk yang mereka hasilkan.” Ujarnya. 


(Penyerahan Hasil Program Kerja Business Model Canva 
Kepada Pak Surahman)

Dalam mengatasi tantangan tersebut, Jiddan Nawfal Hidayat mahasiswa program S1 Ekonomi bekerja sama dengan Pak Surahman selaku pemilik UMKM lokal “118 Coffee Kampoeng” untuk mengembangkan Business Model Canva (BMC) dalam rangka memvisualisasikan strategi bisnis dan melihat kemungkinan inovasi produk yang bisa dilakukan kedepannya. Program kerja tersebut dilaksanakan pada Rabu, 7 Agustus 2024 di rumah produksi Pak Surahman.

Program kerja tersebut dilakukan dengan cara pemberdayaan dan pendampingan kepada Pak Surahman selaku pemilik usaha. Dalam prakteknya, Jiddan mengawali dengan observasi lapangan melihat-lihat kondisi rumah produksi “118 Coffee Kampoeng” beserta proses produksi yang dilakukan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan wawancara dan diskusi dengan Pak Surahman, termasuk menjelaskan elemen-elemen yang ada pada Business Model Canva serta pentingnya inovasi dan pengembangan produk yang sudah ada agar dapat lebih luas dikenal masyarakat luas. 

Dalam proses pendampingan dan pemberdayaan tersebut, Jiddan membantu proses pengembangan pola berpikir dan inovasi ide produk yang sudah ada. Menurutnya, dengan adanya inovasi dan pengembangan hasil produksi akan meningkatkan angka penjualan secara signifikan dan memperluas pangsa pasar dari UMKM “118 Coffee Kampoeng” ini. Pembuatan BMC ini bertujuan agar pemilik usaha dapat melihat potensi usaha mereka.

Program yang dijalankan oleh Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro ini menjadi sebuah cara pandang baru yang diharapkan dapat membantu Pak Surahman dalam melihat peluang usaha yang lebih luas. Jika sebelumnya beliau hanya berfokus pada produksi di lingkup yang terbatas, kini beliau dapat menemukan inovasi baru berdasar pada analisis visualisasi bisnis pada BMC yang telah dibuat sebelumnya.

Dengan adanya program ini, diharapkan perkembangan usaha Pak Surahman kedepannya dapat menjadi lebih inovatif dan variative sehingga dapat lebih meningkatkan angka penjualan secara konstan setiap bulannya serta pangsa pasar yang jauh lebih luas. 



Editor:
Achmad Munandar