Campusnesia.co.id - Kendal – Sebagai bentuk implementasi pengabdian kepada masyarakat sekaligus upaya mendukung pengembangan peternakan rakyat yang berkelanjutan, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 35 Universitas Diponegoro melaksanakan rangkaian program pemberdayaan peternak kelinci di Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal. Selama 45 hari pelaksanaan KKN, mahasiswa bersama Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Anugrah Robby Pratama, S.Pt., M.Pt., drh. Siti Susanti, Ph.D., dan Prof. Yayuk Astuti, S.Si., Ph.D., menghadirkan berbagai program inovatif yang bertujuan meningkatkan produktivitas sekaligus nilai tambah usaha peternakan kelinci.
Salah satu program unggulan diwujudkan melalui kegiatan bertajuk "SINAU TERWELU: Sosialisasi Pengembangan Potensi Peternakan Kelinci" yang diselenggarakan di Aula Balai Desa Pegandon pada Sabtu (18/7/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh 28 peternak yang tergabung dalam kelompok ternak Kelinci Kendal Hebat.
Program ini dirancang untuk menjawab berbagai tantangan yang masih dihadapi peternak, mulai dari manajemen pemeliharaan, penyusunan ransum sesuai kebutuhan nutrisi ternak, hingga pemanfaatan limbah peternakan menjadi produk bernilai ekonomi. Dengan pendekatan teori dan praktik, Tim KKN-T IDBU 35 berharap peternak mampu meningkatkan efisiensi usaha sekaligus membuka peluang sumber pendapatan baru.
Materi sosialisasi disampaikan oleh Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D., Guru Besar Fakultas Peternakan dan Pertanian Universitas Diponegoro. Dalam paparannya, Prof. Sutaryo menjelaskan bahwa usaha ternak kelinci memiliki prospek yang sangat baik karena membutuhkan modal dan lahan yang relatif lebih kecil dibandingkan ternak ruminansia, namun memiliki tingkat reproduksi yang tinggi serta menghasilkan berbagai produk bernilai ekonomi.
Gambar 1. Pemaparan materi oleh Prof. Sutaryo, S.Pt., M.P., Ph.D. pada Seminar Pengembangan Potensi Peternakan Kelinci di Aula Balai Desa Pegandon, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.
Selain membahas aspek pembibitan, reproduksi, dan manajemen pemeliharaan, Prof. Sutaryo juga menekankan pentingnya penyusunan ransum yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi ternak pada setiap fase pertumbuhan. "Penyusunan ransum harus mempertimbangkan kandungan nutrisi, ketersediaan bahan baku, dan aspek ekonomis agar mampu mendukung produktivitas ternak sekaligus menekan biaya produksi," jelas Prof. Sutaryo.
Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi, Tim KKN-T IDBU 35 melaksanakan demonstrasi pembuatan pakan komplit berbentuk pelet pada Minggu (19/7/2026) di kandang mitra milik Bapak Anton. Demonstrasi dihadiri oleh peternak anggota Kelompok Kelinci Kendal Hebat yang secara langsung mempraktikkan proses formulasi, pencampuran bahan, pencetakan, pengeringan hingga pengemasan pelet.
Pakan komplit yang dikembangkan merupakan hasil formulasi dengan kandungan nutrisi yang telah disesuaikan dengan kebutuhan fisiologis ternak kelinci. Formula tersebut menggunakan bahan baku lokal seperti dedak padi, DDGS, molases, ampas susu kedelai, onggok, dan premix sehingga mampu menghasilkan pakan dengan kualitas yang baik namun tetap lebih ekonomis dibandingkan pakan pabrikan. Inovasi ini diharapkan dapat membantu peternak menekan biaya produksi yang selama ini didominasi oleh biaya pakan.
Tidak hanya berfokus pada pakan, Tim KKN-T IDBU 35 juga memberikan demonstrasi pemanfaatan limbah urin kelinci menjadi Pupuk Organik Cair (POC). Peternak memperoleh pendampingan mulai dari proses penyaringan urin, pencampuran bahan menggunakan EM4, molase, dan air, proses fermentasi, hingga teknik pengemasan produk agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.
Gambar 2. Demonstrasi pembuatan pakan komplit pelet dan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar urin kelinci oleh Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro kepada Peternak
Program ini tidak berhenti pada proses produksi semata. Sebagai bentuk pendampingan berkelanjutan, Tim KKN-T IDBU 35 juga merancang kegiatan lanjutan berupa pelatihan pemasaran digital, sehingga produk pupuk organik cair yang dihasilkan peternak nantinya dapat dipasarkan melalui media sosial maupun berbagai platform marketplace. Langkah ini diharapkan mampu memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan pendapatan kelompok peternak melalui pemanfaatan teknologi digital.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang rangkaian kegiatan. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan mengenai formulasi pakan, proses fermentasi pupuk, hingga peluang pengembangan usaha peternakan kelinci ke depan.
Salah satu peserta, Bapak Muslih, mengaku sangat puas dan merasa terbantu dengan program yang dilaksanakan oleh Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro. "Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai peternak. Kami tidak hanya mendapatkan ilmu mengenai pemeliharaan kelinci, tetapi juga belajar membuat pakan sendiri yang lebih hemat serta memanfaatkan limbah menjadi pupuk yang memiliki nilai ekonomi. Pendampingan seperti ini sangat kami butuhkan. Kami berharap Universitas Diponegoro dapat terus mendampingi kelompok kami, termasuk memberikan pelatihan pengolahan pangan berbasis daging kelinci sehingga produk yang dihasilkan semakin beragam dan mampu meningkatkan pendapatan peternak," ungkapnya.
Testimoni serupa juga disampaikan oleh sejumlah anggota Kelompok Kelinci Kendal Hebat yang menilai kegiatan KKN-T IDBU 35 memberikan manfaat nyata karena materi yang diberikan langsung dapat diterapkan di lapangan. Para peternak berharap sinergi antara Universitas Diponegoro dan kelompok ternak dapat terus berlanjut melalui berbagai program pendampingan, inovasi teknologi, serta penguatan pemasaran hasil peternakan.
Melalui rangkaian kegiatan sosialisasi, demonstrasi teknologi pakan, pemanfaatan limbah, hingga rencana pengembangan pemasaran berbasis digital, Tim KKN-T IDBU 35 Universitas Diponegoro berharap peternak kelinci di Desa Pegandon semakin mandiri, mampu meningkatkan efisiensi usaha, mengembangkan produk bernilai tambah, serta mewujudkan usaha peternakan kelinci yang produktif, berkelanjutan, dan berdaya saing di era digital.
Editor:
Achmad Munandar
Achmad Munandar


