7 Kasus Pembunuhan Psikopat di Indonesia yang Mirip Drama Korea Mouse

 


Campusnesia.co.id - Sebuah drama korea berjudul Mouse yang tayang di saluran TvN dan Viu sejak 3 maret lalu menghebohkan netijen. Tema yang diangkat tentang Psikopat dan pembunuhan berantai dengan tema besar sience fiction apakah gen psikopat bisa diturunkan.
 
Drama ini dibintangi oleh Lee Seung Gi memerankan sosok polisi di sebuah daerah kecil yang baik hati dan tidak sombong, sejak tayang pertama kali drama ini sudah mendapat rating 19+ sejak episode pertama karena menayangkan adegan kekerasan dan pembunuhan, bagi anda yang tidak suka tema kekerasan dan pembunuhan sebaiknya tidak menonton.
 
Dari episode 1 hingga 13, penonton dibuat yakin bahwa pelaku pembunuhan berantai dalam drama ini adalah seorang dokter muda yang bernama Sung Yo Han Kwon Hwa Woon yang diduga merupakan anak seorang dokter bedah bernama Han Seo Jon yang menjadi pembunuh berantai sejak awal drama dengan julukan head Hunter, karena membunuh korbannya dengan memenggal kepala.
 
Baru di episode 14 plot twist muncul  yang membalikkan semua Mouse Theory para penontonya, satu persatu fakta mulai diungkap justru Jung Ba Reum lah selama ini yang menajdi psikopat dan pembunuh berantai. Ia menyembunyikan identitas aslinya dengan berpura-pura menjadi polisi baik. 

Bagaimana endingnya? saya juga masih menantikan kelanjutannya hingga nanti episode 20. 

Sembari menunggu akhir dari nasib Jung Ba Reum si pembunuh psikopat, kali ini saya akan berbagi tentang kasus-kasus pembunuhan yang pernah terjadi di Indonesia yang tidak kalah ngeri dibanding drama Mouse, dari cara pembunuhannya dan jumlah korbanya menurut saya, pelakunya sudah bisa dikatakan Psikopat, apa saja? ini daftarnya

(Peringatan: berita-berita di bawah ini mengandung unsur kekerasan, bagi yang tidak suka harap jangan melanjutkan membaca)

1. Dukun Ahmad Suradji Pembunuh 42 Wanita

Suatu sore di tanggal 27 April 1997 Desa Sei Semayang, Deli Serdang tempat Suradji tinggal mendadak gempar ketika ditemukan sosok mayat wanita tanpa busana di kebun tebu.

Diduga wanita itu bernama Sri Kemala Dewi (21) yang hilang sejak tiga hari terakhir. Benar saja, ternyata mayat itu adalah Sri Dewi. 

Mendapati kasus tersebut, Kepolisian Mapolsek Sunggal segera menerjunkan para aparatnya untuk mengendus apa, siapa dan bagaimana mayat Dewi bisa sampai disitu.

Sebelum menghilang Dewi sempat dikabarkan bertengkar dengan suaminya, Tumin. Orang tua Dewi dan warga menuding Tumin pelaku pembunuhan istrinya sendiri.

Polisi lantas menahan sementara Tumin untuk dimintai keterangan. Polisi tidak serta merta langsung menetapkan Tumin sebagai tersangak dan masih melakukan penyelidikan karena beberapa tahun sebelumnya pernah ditemukan juga mayat wanita di ladang tebu.

Kasus sempat dihentikan karena tidak adanya bukti kuat.

Secercah harapan datang ketika seorang warga desa bernama Andreas berujar dirinya mengantarkan Dewi ke rumah dukun Ahmad Suradji untuk berkonsultasi dihari menghilangnya wanita itu.

Polisi kemudian menindaklanjuti laporan itu dan mendatangi rumah Suradji untuk menanyainya perihal Dewi.

Suradji mengakui bahwa Dewi memang datang ke rumahnya untuk berkonsultasi dan selepas maghrib wanita itu pulang ke rumahnya.

Tak cukup bukti untuk menangkap Suradji, kasus dihentikan.

Polisi tak menyerah, satu persatu laporan orang hilang mereka dalami beberapa tahun terakhir. Nyatanya banyak orang dilaporkan hilang yang kebanyakan pasien Suradji.

Tak tunggu waktu lama polisi langsung menggerebek dan menggeldah rumah Suradji. Disana mereka menemukan pakaian dan perhiasan wanita yang salah satunya milik Dewi. Suradji dan ketiga istrinya kemudian dibekuk untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Lewat proses interogasi panjang, Suradji mengaku dirinya memang membunuh Dewi, didesak lagi oleh polisi ia mengakui sudah membunuh 16 wanita, didesak lagi Suradji berujar dia sudah menghabisi nyawa 42 orang wanita!

Dalam aksi koboinya membunuhi para wanita itu, Suradji dibantu oleh salah satu istrinya yang bernama Tumini.

Dalam pengadilan, Suradji dijatuhi vonis hukuman mati dan Tumini divonis penjara seumur hidup.

10 Juli 2008 pukul 22.00, eksekusi mati dilakukan oleh pihak berwenang. Tiga buah peluru dilesakkan ke dada Suradji, mengakhiri riwayat pembunuh paling bengis di Indonesia itu. (sumber: grid.id )

Kasus dukun Jagal AS ini pernah difilmkan salah satu scene menarik bagaimana upaya polisi menyelidiki tersangka dengan menyamar sebagai penjual keliling.

2. Sumanto Manusia Kanibal
Pada 11 Januari 2003, Sumanto membuat heboh seluruh Indonesia, karena ia melakukan pencurian dan praktik kanibalisme terhadap mayat yang diketahui bernama Mbok Rinah. 
 
Setelah pihak kepolisian melakukan penyelidikan selama beberapa hari, akhirnya Sumanto berhasil ditangkap di rumahnya tanpa melakukan perlawanan. Ia juga mengakui sebelumnya pernah memakan 2 mayat lain saat ia masih bekerja di perkebunan tebu di Lampung.

Akibat perbuatannya, ia dijatuhi hukuman pidana selama 5 tahun, tetapi dibebaskan pada tanggal 24 Oktober 2006 yang bertepatan dengan Hari Idul Fitri, setelah beberapa kali mendapatkan remisi. 
 
Ia kemudian ditampung di rumah rehabilitasi An-Nur, Bungkanel, Karanganyar, Purbalingga. Sumanto ditempatkan di pesantren karena warga Purbalingga tidak mau menerima kembali Sumanto untuk pulang ke desanya. 

Kepercayaan Sumanto didasarkan pada kepercayaan mistis lokal. Para pakar berpendapat bahwa Sumanto mengidap penyakit jiwa.  (sumber: wikipedia.org)

3. Ryan Jombang Pembunuh Berantai dalam Ransel
Kasus pembunuhan berantai oleh Ryan Jombang sempat menghebohkan publik. Kasus pembunuhan oleh Ryan terungkap setelah polisi menemukan potongan mayat salah satu korban bernama Hery Santoso pada tahun 2008. 
 
Tidak hanya membunuh Hery Santoso, Ryan juga membunuh 10 orang lainnya yang dikubur di belakang rumah orangtuanya di Jatiwaes, Jombang, Jawa Timur.
 
Berbeda dari kasus Heri yang didasari motif asmara, aksi pembunuhan yang dilakukan dalam kurun waktu 2006 hingga 2008 tersebut lebih didasari motif ekonomi. 
 
Ryan mengajak para korbannya bertamu ke rumah orangtuanya, kemudian membantai dan merampas barang-barang berharga milik korban. Ryan kemudian divonis hukuman mati oleh Pengadilan Negeri Depok pada 6 April 2009. 
 
Kini, Ryan memanfaatkan waktunya dengan beribadah di LP Kelas I Cirebon, Jawa Barat sambil menunggu waktu eksekusi mati. (sumber: Kompas.com)

4. Kasus Pembunuhan Anak bernama Angeline
 


Bermula pada 16 Mei 2015 Angeline terakhir terlihat di halaman rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali. Investigasi Komnas Anak menyatakan tetangga melihat pintu pagar rumah Angeline terkunci saat itu. "Artinya, hanya orang rumah yang tahu keberadaan terakhir Angeline. Dia tidak keluar," kata Arist.

Pada 17 Mei 2015 Kakak angkat Angeline, Christina dan Ivon, mengumumkan hilangnya Angeline pada laman Facebook berjudul "Find Angeline-Bali's Missing Child". Mereka memasang sejumlah foto bocah yang senyumnya tampak ceria itu. Keduanya juga mengajak masyarakat ikut mencari Angeline. Masyarakat, dari artis hingga pejabat, geger ikut membantu pencarian bocah malang tersebut.

Selanjutnya 18 Mei 2015 Tiga hari setelah menghilang, keluarga melapor ke Kepolisian Sektor Denpasar Timur. Polisi memeriksa sejumlah saksi, yaitu Margareth (ibu angkat Angeline), Antonius (pembantu sekaligus penjaga rumah), dan seorang penghuni kontrakan milik Margareth bernama Susianna.

Polda Bali memperluas pencarian di seluruh perbatasan Bali, Banyuwangi, dan Nusa Tenggara Barat. Mereka juga memeriksa rumah Margareth tiga kali. Pemeriksaan pertama dan kedua selalu dihalangi pemilik rumah.

Tanggal 24 Mei 2015 Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengunjungi rumah Margareth pada malam hari. Arist menengok kamar tidur Margareth yang juga sering dipakai Angeline. Menurut Arist, rumah itu tak layak huni karena acak-acakan, kotor, dan bau kotoran hewan. Margareth memelihara puluhan anjing dan ayam di rumahnya.

Di kamar tidur, Arist mencium bau anyir yang berbeda dengan bau kotoran hewan. "Tidak ada seprei terpasang dan ruangannya bau anyir," ujar Arist. Kecurigaan itu segera dilaporkan kepada polisi.

Berlanjut 5-6 Juni 2015 Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mengunjungi rumah Margareth dalam kesempatan berbeda. Namun kedatangan keduanya ditolak keluarga Angeline.

Lalu pada 9 Juni 2015 Guru SD Negeri 12 Sanur Bali, tempat Angeline sekolah, menggelar sembahyang di depan Pura Penyimpangan Batu Bolong, di depan rumah Angeline. Persembahyangan digelar untuk meminta petunjuk paranormal. Mereka mengaku mendengar suara Angeline.

Pada 10 Juni 2015 Polisi menemukan jasad Angeline di pekarangan rumah Margareth. Angeline ditemukan dikubur pada kedalaman setengah meter, dengan pakaian lengkap dan tangan memeluk boneka. Tubuhnya dililit seprei dan tali. (sumber: Tempo.co )

5. Kasus Wayan Mirna Salihin
Pada tanggal 6 Januari 2016, Wayan Mirna Salihin, 27 tahun, meninggal dunia setelah meminum Kopi es vietnam di Olivier Café, Grand Indonesia. 
 
Saat kejadian, Mirna diketahui sedang berkumpul bersama kedua temannya, Hani dan Jessica Kumala Wongso. Menurut hasil otopsi pihak kepolisian, ditemukan pendarahan pada lambung Mirna dikarenakan adanya zat yang bersifat korosif masuk dan merusak mukosa lambung. Belakangan diketahui, zat korosif tersebut berasal dari asam sianida. 
 
Sianida juga ditemukan oleh Puslabfor Polri di sampel kopi yang diminum oleh Mirna. Berdasarkan hasil olah TKP dan pemeriksaan saksi, polisi menetapkan Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka. Jessica dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. (sumber: wikipedia.org )  

Sate Sianida
Baru-baru ini, pembunuhan dengan menggunakan sianida kembali terjadi, modus menggunakan ojek online layanan pesan makanan tapi justru memakan korban anak dari driver ojek online, kami segenap redaksi turut prihatin dan berbela sungkawa.

Pelaku kasus sate beracun yang menewaskan anak pengemudi ojek online, akhirnya terungkap. Korban berinisial NF (10), warga Salakan, Bangunharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta meninggal karena menyantap sate yang dibawa oleh ayahnya, Bandiman. Budiman mendapat sate itu dari NA (25) perempuan warga Majalengka.

Pada Minggu (24/4/2021) lalu, Bandiman sedang beristirahat di sebuah masjid di jalan Gayam, Kota Yogyakarta. Kemudian, dia mendapat order offline. 
 
Sebenarnya, hal itu dilarang oleh perusahaan aplikasi ojek. Tetapi, karena orderan di aplikasi sedang sepi, Bandiman menerima order itu. "Sebenarnya nggak boleh (aplikasi offline). Kan saya panggilan hati. Ya saya enggak munafik juga butuh duit," kata Bandiman. 
 
Order itu berasal dari seorang perempuan yang belakangan diketahui bernama Nani Apriliani Nurjaman, yang berlokasi di Jalan Gayam, Kota Yogyakarta. Order offline itu berupa takjil sate lontong yang ditujukan kepada Tomy warga Kasihan, Bantul. 
 
Saat itu disepakati tarif pengirimannya Rp 25.000, tetapi NA membayar Rp 30.000. Bandiman diminta untuk berkata bahwa makanan itu dari Pak Hamid di Pakualaman untuk Tomy.
 
Menggunakan sepeda motornya, Bandiman pun mengantarkan sate ke alamat Tomy. Namun, sesampainya di sana, ia mendapati rumah itu Tomy sepi. 
 
Bandiman pun menelepon Tomy untuk mengabarkan bahwa ia menerima paket takjil. Berdasarkan pemberitaan Kompas.com, Senin (3/5/2021), Tomy menolak paket takjil karena tidak mengenal nama pengirimnya. "Pak Tomi bilang 'Saya tidak merasa punya teman yang namanya Hamid (asal) Pakualaman'. Apalagi sahabat apa saudara tidak punya, lalu saya telepon ibunya (istri Tomy) dan ternyata juga tidak kenal," ucap Bandiman. 
 
Belakangan diketahui, Tomy merupakan seorang anggota polisi yang bertugas di Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polresta Yogyakarta. Ia berpangkat Aiptu dan saat ini sudah menjadi penyidik senior di instansinya tersebut.

Sate tersebut kemudian diberikan kepada Bandiman. Ia pun membawanya pulang untuk makanan buka puasa. Melansir Kompas.com, Minggu (2/5/2021), sesampainya di rumah, sate itu dimakan oleh istri dan anaknya, NF. "Anak saya bilangnya pahit, panas dan lari ke kulkas minum," ujar Bandiman. Ketika berjalan, NF, anak Bandiman mendadak tersungkur. 
 
Tidak lama setelah itu, Titik Rini, istri Bandiman, muntah. Keduanya kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Kota Yogyakarta. Istrinya berhasil diselamatkan. Namun, sang anak tidak tertolong. Ia tewas karena sate tersebut. Titik yang kini masih dalam perawatan di rumah sakit mengatakan, dari tampilannya tidak ada yang mencurigakan dari lontong itu.
 
terdapat racun sianida 
Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Dinas Kesehatan DIY mengungkap ada kandungan potasium sianida dalam paket takjil itu. Ahli Forensik Universitas Gadjah Mada (UGM), Lipur Riyantiningtyas, mengatakan potasium sianida merupakan jenis racun yang bisa dibeli secara bebas. Zat ini biasanya terkandung dalam racun tikus. 
 
Jika masuk ke dalam tubuh, racun itu akan mencegah sel menggunakan oksigen. Akibatnya, sel-sel dalam tubuh akan mati. “Dalam jumlah yang kecil, sianida akan menimbulkan gejala mual, muntah, sakit kepala, pusing, gelisah, napas sesak dan tubuh lemas,” kata Lipur, mengutip Kompas.com, Minggu.
 
“Korban juga bisa kejang, kerusakan paru, gagal napas yang akhirnya akan meninggal. Dosis letalnya 1,5 miligram per kilogram berat badan,” katanya.

Motif Pelaku 
Dir Reskrimum Polda DIY Kombes Burkan Rudy Satriya mengatakan, setelah dilakukan penyelidikan selama empat hari, polisi akhirnya mengamankan terduga pelaku pengiriman sate. "Diamankan NA (25), warga Majalengka, Jumat (30/4/2021)," kata Burkan mengutip Kompas.com, Senin (3/5/2021). 
 
Mengutip Kompas.id, Senin, NA mengaku sakit hati kepada Tomy, laki-laki yang seharusnya menerima sate itu. Sate beracun itu awalnya ingin diberikan pada Tomy, mantan kekasihnya. NA mengaku sakit hati lantaran urung bersanding di pelaminan bersama Tomy. Mantan kekasihnya itu telah menikah dengan perempuan lain. (sumber: Kompas.com)

6. Pembunuhan Sadis di Sukoharjo
Kasus penemuan jasad seorang wanita asal Pasar Kliwon, Solo, berinisial Y (42) di mobil yang terbakar di Bendosari, Sukoharjo, Jawa Tengah, mulai terungkap. 
 
Seseorang berinisial E, terduga pelaku, warga Dukuh Ngesong, Desa Puhgogor, Kecamatan Bendosari, Sukoharjo. "Ada dua orang, satu di antaranya hanya membantu, inisialnya E," kata dalam keterangan yang diterima, Jumat (23/10/2020).
 
Menurut Kapolda Jateng Irjen Pol Ahmad Luthfi saat menggelar jumpa pers di Polres Sukoharjo, Jumar (23/10/2020), kasus pembunuhan tersebut dipicu masalah utang piutang antara pelaku dan korban. Pelaku diduga memiliki utang dengan korban sebesar Rp 145 juta. 
 
Dari pengakuan E, dirinya nekat membunuh korban agar tak lagi berutang. "Selasa sore korban menemui pelaku di kandang ayam daerah Ngesong, Bendosari. Dia melakukan pengecekan ayam karena bisnis berdua (korban dengan pelaku). 
 
Kemudian korban akan masuk mobil dipukul dari belakang menggunakan linggis sebanyak dua kali. Kemudian diseret dan dilakban," katanya.
 
Dari hasil penyelidikan polisi, pelaku sempat meminta nomor pin ATM ke korban. Setelah itu, itu pelaku mengambil uang milik korban yang dibawa korban dan di ATM. "Jadi, sebelum meninggal pelaku meminta pin ATM korban. 
 
Pelaku sempat ambil uang korban Rp 8 juta melalui ATM di hari yang sama sebelum meninggal. Uang yang dibawa juga diambil. Cash Rp 8 juta, ATM Rp 15 juta. Dua ATM," katanya.
 
Selanjutnya, pelaku memasukkan korban di mobil dan membakarnya di halaman toko bangunan di Dukuh Cendono Baru RT 004, RW 007, Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari. Diduga kuat, menurut polisi, hal itu dilakukan untuk menghilangkan jejak. 
 
Seperti diberitakan sebelumnya, warga Desa Toriyo gempat saat melihat sebuah mobil terbakar, Selasa (20/10/2020). Saat itu warga segera memanggil petugas pemadam kebakaran dan berusaha memadamkan api. Tak disangka, usai api padam, warga dan petugas melihat jasad sosok wanita di dalam mobil. (sumber: Kompas.com)

7. Perampok pembunuh 2 balita di Semarang terlacak berkat HP
Pada 2013 terjadi perampokan disertai pembunuhan terhadap dua balita di Semarang murni bermotif ekonomi. Kedua tersangka dikenai pasal berlapis. "Pasal perampokan dan pasal pembunuhan," tegasnya.

Pelaku Ahmad Musa (28) mengaku nekat melakukan perbuatannya karena tidak memiliki uang. Dia awalnya hanya berniat untuk mengambil uang dan barang berharga di rumah tersebut.

Namun saat akan mengambil barang, dua balita terus menangis dan menjerit sehingga dia memukul kepala mereka dengan linggis. Menurut Musa, saat dia meninggalkan lokasi, kedua korban masih hidup meskipun terluka parah.
 
Kedua tersangka berhasil ditangkap usai melakukan pengejaran melalui pelacakan pesawat handphone milik korban Murni (39) yang merupakan pembantu yang mengasuh 2 balita. HP tersebut juga dibawa lari oleh 2 pelaku perampokan beserta perhiasan hasil rampokan.


Dua balita kakak beradik ditemukan tewas di rumah milik Sugeng Wiyono di Jalan Mulawarman Barat I RT 01 RW 01 Kelurahan Kramas, Tembalang, Semarang, Kamis (10/10) sore ditemukan tewas saat ibu kandungnya Eni pulang dari bekerja sebagai bendahara di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang.

Dua balita tersebut yakni Kanaya Nadin Aulia Zahrani Wiyana (2) dan Keanu Rifky Ontoseno Wiyono (1). Keduanya putra Sugeng Wiyono, Kepala Kas BPR Gunung Rizki dan Eni.

Selain menangkap Ahmad Musa sebagai eksekutor, dan Abdul Rahman (29), polisi juga membekuk Sutriman (51), pemilik toko emas di salah satu pasar di Kawasan Pecangaan, Jepara sebagai penadah perhiasan barang curian.

Sejumlah barang bukti yang diamankan antara lain 3 cincin dan sebuah kalung emas. Kemudian juga uang tunai dan telepon seluler milik korban Murni yang merupakan pembantu sekaligus pengasuh anak korban. (sumber: merdeka.com)


Itu tadi sobat 7 kasus pembunuhan yang pernah terjadi di indonesia dengan indikasi pelaku memiliki karakter psikopat dilihat dari cara dan korbannya. Cupilikan-cuplikan berita di atas hanya sedikit dari banyaknya berita kriminal yang terjadi di tanah air.
 
Bukan bermaksud membanding-bandingkan dengan drama korea Mouse yang tentu saja fiksi, tetapi semoga bisa jadi pengingat bahwa di kehidupan nyata bisa saja terjadi aneka kekerasan dan kejahatan yang dilakukan orang, oleh karena itu kita harus selalu waspada dan menjaga diri dan keluarga.
 
Atas nama redaksi kami menyampaikan duka dan belasungkawa yang sebesar-besarnya untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan dalam kliping berita di atas, semoga almarhum dan almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi-Nya, untuk keluarga semoga diberikan ketabahan dalam menghadapi ujian.
 
Untuk para pelaku, kepada negara dan pihak penegak hukum agar diberikan hukuman yang setimpal sesuai dengan hukum dan undang-undang yang berlaku.
 
 
Baca Juga: 

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »