Gerakan Membeli ke Warung Tetangga

11:00:00 PM




Campusnesia.co.id -- Perkembangan jaman yang semakin pesat ditandai dengan banyaknya pembangunan pusat-pusat perbelanjaan dan toko-toko riteil yang semakin menjamur di masyarakat. Toko-toko reteil tidak hanya di perkotaan saja tapi sudah merambah ke pedesaan. Hal ini yang menjadikan warung-warung di desa semakin sepi pembeli. 

Pola konsumen yang memilih membeli di toko-toko retail karena tempatnya bersih, nyaman, berAC, lama-kelamaan akan membuat warung-warung yang kalah modal akan gulung tikar. Gerakan membeli ke warung tetangga adalah bukti dari kita hidup bertetangga, hidup berdampingan, yang menandakan kita bersosialisasi dengan masyarakat. Kembali pada fitrahnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, kita butuh tetangga, kita butuh teman, kita butuh saudara dan selamanya akan selalu membutuhkan mereka. Karena kita tidak bisa minta tolong pada saudara kita yang jauh tapi pada tetangga kita bisa minta tolong.


Gerakan membeli ke warung tetangga sebagai wujud kepedulian kita karena kita hidup dengan mereka. Perlu kita ketahui bahwa toko-toko riteil yang sekarang ada disekitar kita pemiliknya bukan orang indonesia melainkan asing, kita hanya dikasih frenchise bagi yang punya modal besar. Sedangkan masyarakat  kita rata-rata golongan menengah kebawah. Kalau perekonomian kita dipegang asing kita tidak dapat apa-apa. 

Coba kita renungkan kalau kita belanja di toko riteil terus, warung tetangga gulung tikar berarti perekonomian tetangga kita lumpuh, dia tidak punya penghasilan, misalnya kita butuh bantuan tetangga, pasti dibantu tapi terbatas pada yang dimiliki yaitu tenaga, tetangga kita tidak bisa membantu finansial. Mungkin sebagian kita akan pinjam ke bank, tapi apakah bank itu hari minggu dan tanggal merah buka, hari sabtu saja setengah hari bahkan sebagian bank sabtu tutup.


Gerakan membeli ke warung tetangga akan menghidupkan perekonomian tetangga kita yang juga berdampak pada diri kita sendiri. Misalnya kita buat produk atau jajanan lalu kita titipkan ke warung tetangga kan lumayan buat tambahan. Kita memang bisa menitipkan produk kita di toko riteil kalau produk kita sudah lengkap ijinnya, terdaftar PIRT dan lain-lain. Mengurus ijin itu butuh waktu, tenaga, pikiran, uang dan harus sudah ada pemasaran terhadap produk. Kalau produk kita tahan lama, kalau cuma sehari misalnya kolak pisang atau bubur kacang hijau jelas tidak bisa.


Roda ekonomi akan terus berputar. Jangan sampai yang menikmati hanya mereka yang memiliki modal besar. Jadilah pelaku ekonomi yang kreatif. Kita membeli di warung tetangga dan kita juga bisa menitipkan produk kita di warung tetangga. Gerakan membeli di warung tetangga mengajak kalian untuk peduli kepada tetangga, kepada sesama. Menumbuhkan rasa sosial yang tinggi, menumbuhkan semangat persaudaraan. Orang yang terbiasa belanja di pusat perbelanjaan atau toko riteil biasanya cuek dan tidak peduli karena tidak kenal dengan pelayannya dengan kasirnya jadi seenaknya sendiri. Berbeda dengan belanja di warung tetangga kita saling sapa, menegur dan berbagi senyuman.



Penulis:
Mukhrisotun Khasanah
Arjowinangun
Kec. Buluspesantren
Kab. Kebumen 

-----
Artikel ini adalah kiriman peserta Lomba Menulis Gagasan 2018, yang diselenggarakan oleh Campusnesia dan Loetju.com dala rangka Hari Pahlawan, ayo kirimkan gagasanmu dan menangkan hadiahnya, info lebih lanjut klik Di Sini. 

Artikel Terkait

Previous
Next Post »