Mangga Melimpah Cuma Dijual Mentah? Pengembangan Potensi Lokal Menjadi Produk Makanan oleh TIM KKN UNDIP

0
 Foto Bersama ibu-ibu Fatayat Desa Pucung


Campusnesia.co.idDesa Pucung, Kabupaten Pekalongan (02/08/2024) - Buah mangga menjadi hasil bumi yang melimpah di Desa Pucung. Jenis buah mangga yang banyak tumbuh di Desa Pucung meliputi mangga Harum manis dan Manalagi. Mayoritas mangga-mangga tersebut hanya dijual dalam bentuk buah segar di pasar dan tidak diolah sama sekali oleh warga setempat yang didominasi oleh pelaku konveksi. Melihat potensi tersebut, mahasiswa Tim II KKN Undip di Desa Pucung melakukan program kerja multidisiplin untuk mengembangkan potensi buah mangga dengan mengolahnya menjadi produk makanan berbahan dasar mangga. Mahasiswa KKN Undip dari jurusan Teknologi Pangan, Dimas Anugrahillah memberikan berbagai ide pengolahan berbahan dasar mangga yang disertai resep dan cara pembuatannya dengan lengkap untuk memberikan panduan pada ibu-ibu yang ingin mencoba.

Potensi sumber daya alam yang melimpah ini dapat dimanfaatkan oleh warga setempat untuk menciptakan diversifikasi usaha, membuka lapangan pekerjaan, serta pemberdayaan ibu-ibu setempat untuk membuat usaha yang bergerak di bidang pangan. Terdapat berbagai macam olahan yang dapat dibuat dari mangga seperti puding, manisan, dan mango sticky rice. Namun, Tim KKN Undip mengolah mangga menjadi bolu kukus yang dapat dijadikan oleh-oleh khas Desa Pucung. “Pemilihan bolu kukus sebagai olahan kami adalah mencoba membuat olahan yang bisa menjadi ikon Desa Pucung dan kami terinspirasi oleh bolu talas dari Kota Bogor” ujar Dimas Anugrahillah, mahasiswa KKN Undip yang berasal dari Kota Bogor.

Kegiatan program kerja multidisiplin diawali dengan pembuatan bolu kukus mangga di Posko Tim KKN Undip yang akan dibawa pada pemaparan sebagai sampel produk dari olahan mangga. Pemaparan materi dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 2 Agustus 2024 bersamaan dengan kegiatan pengajian rutin ibu-ibu Fatayat Desa Pucung yang dilaksanakan dengan metode workshop. 

Pemaparan dilaksanakan dengan komprehensif dari latar masalah hingga pengolahan limbah. Penyampaian materi dilakukan satu per satu mahasiswa sesuai disiplin ilmu dan kontribusi dalam program kerja multidisiplin. Salah satu mahasiswa KKN Undip dari jurusan Teknologi Pangan, Dimas Anugrahillah memaparkan manfaat dari nutrisi buah mangga, menjelaskan proses pembuatan bolu kukus, dan memberikan beberapa ide pengolahan dari buah mangga. Materi program kerja secara komprehensif tertulis dalam booklet yang dapat dibaca baik dalam bentuk fisik atau digital. Acara pemaparan program kerja diakhiri dengan pemberian potongan bolu kukus untuk dicoba oleh ibu-ibu dan dipersilakan untuk menilai dari segi rasa, tekstur, dan tampilannya.


Bolu kukus mangga hasil kreasi 
mahasiswa KKN Undip Desa Pucung 

Pemaparan dari program kerja ini mendapatkan respon yang positif dari ibu-ibu. Ibu-ibu ramai bertanya mengenai tips dalam pembuatan bolu kukus, jenis mangga yang digunakan, hingga metode pemasaran yang dapat dilakukan. Program kerja multidisiplin ini diharapkan mampu memantik warga Desa Pucung untuk mengolah buah mangga yang merupakan sumber daya melimpah menjadi olahan pangan yang dapat memberikan warna dalam kegiatan wirausaha di Desa Pucung yang didominasi oleh usaha konveksi.



Penulis: 
Dimas Anugrahillah
Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian
Universitas Diponegoro

Dosen Pembimbing: 
Dr. Rina Dwi Indriana, S.Si., M.Si

Lokasi: 
Desa Pucung, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan

Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN Undip Kenalkan Inovasi Pembuatan Pakan Lele dari Limbah Sayuran Rumah Tangga untuk Masyarakat Desa Rembun

0
 


Campusnesia.co.id - Kabupaten Pekalongan- 26 Juli 2024 mahasiswa KKN Universitas Diponegoro mengadakan demonstrasi pembuatan pakan lele dari limbah sisa sayuran rumah tangga. Limbah adalah sisa proses produksi, bahan yang tidak mempunyai nilai, dan tidak memiliki harga. Limbah berasal dari kegiatan manusia maupun fenomena alam dan memiliki dampak negative bagi lingkungan jika tidak dikelola dengan baik.

Nita Zaky Novita mahasiswa program studi Perikanan Tangkap mengungkapkan bahwa “sebagian besar limbah sayuran dari rumah tangga langsung dibuang begitu saja atau hanya digunakan untuk pakan ternak seperti ayam.” Berdasarkan hasil survey dan wawancara kepada pemilik kolam budidaya lele diketahui bahwa pakan lele yang digunakan seringkali hanya pelet biasa, pakan subsidi, dan limbah ayam mati. Oleh karena itu, Nita menginisiasikan program kerja yang berjudul “Strategi Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga untuk Pakan Lele”

Limbah rumah tangga yang seringkali dibuang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan pakan ikan lele. Pakan atau pelet ikan yang memiliki harga tinggi menjadikan pembudidaya mengeluarkan biaya pakan yang relative lebih tinggi. Manfaat pakan lele dari limbah organik rumah tangga adalah nutrisi yang tingi, dapat digunakan sebagai pakan alternatif, dan pemanfaatan limbah rumah tangga.

“Saya pakainya pakai pakan pelet dan pakan subsidi karena belum pernah mencoba membuat pakan lele dari sisa-sisa sayuran kaya gini” ujar Kang Apuk pemilik kolam budidaya ikan lele di Desa Rembun.

Melalui kegiatan KKN yang berlokasi di Desa Rembun, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Boyolali, Nita Zaky Novita mahasiswa KKN Tim II Undip mengenalkan cara pembuatan pakan lele dari limbah sayuran rumah tangga untuk membantu peternak lele dalam memberi pakan yang efektif dan ramah dikantong.

Bahan yang diperlukan untuk pembuatan pakan lele hanya limbah sayuran, cairan gula pasir, cairan gula merah atau gula jawa, probiotik EM4 perikanan, dan bekatul. Sedangkan untuk alat yang diperlukan adalah ember dan kantong kresek atau karung.


Pembuatan pakan lele dari limbah sayuran sangat mudah dilakukan yaitu dengan langkah berikut:

• Siapkan alat dan bahan 

• Masukkan limbah sayuran yang telah dipotong kecil-kecil ke dalam ember 

• Campurkan EM4 sebanyak 4 tutup botol ke dalam cairan gula merah dan cairan gula pasir

• Masukkan limbah sayuran dan dedak bekatul aduk hingga tercampur

• Tambahkan campuran EM4, cairan gula merah, dan cairan gula pasir ke dalam ember kemudian aduk hingga rata

• Jika sudah tercampur rata, masukkan ke dalam kantong kresek atau karung yang anti udara

• Ikat sampai rapat dan simpan selama 3 hari

• Tunggu sampai 3 hari dan pakan siap digunakan.


Pemanfaatan limbah sayuran rumah tangga menggunakan bahan yang mudah didapatkan. Pembuatan pakan lele diharapkan dapat menjadi alternatif yang efektif dan efisien bagi para peternak lele di Desa Rembun, Kecamatan Siwalan. 



Penulis: 
Nita Zaky Novita

DPL: 
Dr. Hari Susanta Nugraha, S.Sos., M.Si

Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN Undip Adakan Pengenalan Kehidupan Laut “CERITA LAUT INDONESIA” Kepada Anak-anak MIS Rembun di Desa Rembun

0


Campusnesia.co.idKabupaten Pekalongan - 18 Juli 2024 mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro, Nita Zaky Novita dari program studi Perikanan Tangkap melakukan program kerja mengenai Cerita Laut Indonesia bagi anak-anak di MIS Rembun, Desa Rembun, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan.

Program ini berhasil dilakukan dengan menanyangkan video berupa kehidupan bawah laut, ekosistem laut, jenis biota yang hidup di laut, dan cara penangkapan ikan yang baik untuk penangkapan yang berkelanjutan. Video dibuat dengan gambar animasi agar anak-anak lebih memahami maksud dan tujuan dari video tersebut. 

Antusias anak-anak dalam menonton dan menjawab pertanyaan-pertanyaan menjadikan program kerja ini berjalan dengan baik. Selain itu, dijelaskan juga mengenai pentingnya menjaga laut Indonesia agar ikan dapat  berkembang dengan baik dan perairan laut Indonesia terbebas dari sampah yang mengotori lingkungan laut. 

“Saya senang anak-anak diajarkan tentang kehidupan laut, bisa untuk menambah wawasan untuk anak-anak nantinya” ujar Ibu Mus selaku Kepala Sekolah MIS Rembun.

Adanya program kerja ini diharapkan anak-anak lebih kenal dan cinta terhadap dunia laut Indonesia. 



Penulis: 
Nita Zaky Novita

DPL: 
Dr. Hari Susanta Nugraha, S.Sos., M.Si

Editor:
Achmad Munandar

Optimalisasi Kesadaran UMKM: Memaksimalkan Hak, Kewajiban, dan Tanggung Jawab untuk Pertumbuhan Bisnis

0



Campusnesia.co.idSoroyudan, Tegalrejo, Magelang (29/07/2024) - Di tengah semangat pengabdian kepada masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Diponegoro telah meluncurkan program inovatif di Desa Soroyudan. Program kerja ini berfokus pada pengoptimalan kesadaran hak, kewajiban, dan tanggung jawab pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dalam upaya mendorong pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. 

Mahasiswa KKN menyadari bahwa UMKM adalah tulang punggung ekonomi di banyak desa, termasuk Desa Soroyudan. Namun, banyak pelaku usaha yang belum sepenuhnya memahami hak dan kewajiban mereka sebagai pemilik usaha. Kekurangan ini sering kali menghambat pertumbuhan bisnis mereka dan mengurangi daya saing di pasar yang semakin kompetitif.

Dalam rangka menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKN merancang penyuluhan yang menyeluruh, yaitu terhadap UMKM Jajanan Pasar Dusun Soroyudan yang dikelola oleh Ibu Nur Hidayah. Penyuluhan ini mencakup berbagai aspek penting, mulai dari pemahaman hukum usaha, pentingnya pendaftaran merek, hingga tanggung jawab sosial perusahaan. Program ini dirancang tidak hanya untuk memberikan pengetahuan, tetapi juga untuk membekali pelaku UMKM dengan keterampilan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam menjalankan bisnis mereka.

 
Selain penyuluhan, mahasiswa juga menyediakan sesi konsultasi individu untuk membantu pelaku UMKM menerapkan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pendekatan ini memungkinkan mahasiswa untuk memberikan solusi yang lebih personal dan tepat sasaran, sesuai dengan kebutuhan masing-masing usaha. 

Dengan adanya program ini, mahasiswa KKN berharap dapat menciptakan lingkungan bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan di Desa Soroyudan. Mereka juga berharap program ini bisa menjadi model bagi desa-desa lain untuk mengoptimalkan potensi UMKM di daerah mereka.

Program kerja yang digagas oleh mahasiswa KKN ini adalah bukti nyata bahwa sinergi antara pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat dapat memberikan dampak positif yang signifikan. Dengan meningkatnya kesadaran akan hak, kewajiban, dan tanggung jawab, pelaku UMKM di Desa Soroyudan kini lebih siap menghadapi tantangan bisnis dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi desa mereka.



Penulis:
Chalysta Fhatima Azaira

Editor:
Achmad Munandar

Gerakan Mahasiswa KKN di Desa Soroyudan: Membangun Desa Anti Kekerasan Demi Perlindungan Hak Perempuan dan Anak

0



Campusnesia.co.idDesa Soroyudan, Tegalrejo, Magelang (3/8/2024) - Kekerasan terhadap perempuan adalah tindakan kekerasan berbasis gender yang menyebabkan atau bisa menyebabkan penderitaan fisik, seksual, atau mental pada perempuan. Ini termasuk ancaman kekerasan, pemaksaan, atau perampasan kebebasan secara sewenang-wenang, baik di depan umum maupun dalam kehidupan pribadi. Berdasarkan data dari website Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), pada tahun 2024 terdapat 14.776 kasus kekerasan, dengan 12.833 korban perempuan. Data ini menunjukkan bahwa perempuan sering menjadi target utama dalam kasus kekerasan.

Untuk menanggapi masalah tersebut, mahasiswa KKN Tim II Undip 2024 mengadakan program edukasi tentang peningkatan perlindungan hak perempuan dan anak serta pencegahan kekerasan di Desa Soroyudan, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Magelang, pada 3 Agustus 2024. Tujuan program ini adalah mencegah kekerasan dan memberikan edukasi kepada remaja perempuan di Desa Soroyudan agar berani melaporkan jika mengalami kekerasan.
 

Dalam program tersebut, mahasiswa KKN Tim II Undip menjelaskan berbagai jenis kekerasan terhadap perempuan dan anak, dasar hukum perlindungan mereka, langkah-langkah yang harus dilakukan jika menjadi korban kekerasan, dan cara mencegah kekerasan. Mereka juga memperkenalkan jargon “Kami Perempuan, Kami Berani Melawan” untuk memotivasi perempuan Desa Soroyudan agar berani melawan kekerasan. Program ini merupakan langkah antisipatif dari mahasiswa KKN Undip untuk memperkuat perlindungan hak perempuan dan anak dari kekerasan. Selain itu, mereka membagikan leaflet yang berisi informasi singkat tentang pengertian, jenis-jenis kekerasan, dan memperkenalkan layanan SAPA 129 dari KemenPPPA untuk memudahkan pemahaman masyarakat Desa Soroyudan.

Dengan adanya kegiatan edukasi ini, diharapkan masyarakat semakin sadar akan pentingnya perlindungan hak perempuan dan anak serta berperan aktif dalam mencegah kekerasan. Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan bebas dari kekerasan, tetapi juga untuk memberdayakan perempuan dan anak agar mereka berani melawan ketidakadilan yang mereka hadapi. Melalui kolaborasi dan partisipasi seluruh elemen masyarakat, kita dapat mewujudkan Desa Soroyudan yang lebih harmonis dan sejahtera.



Penulis:
Chalysta Fhatima Azaira

Editor:
Achmad Munandar

Mahasiswa KKN UNDIP Mengungkap Pemanfaatan Bonggol Jagung Menjadi Arang Briket dari Bonggol Jagung di Desa Jatilawang

0
 
Dokumentasi kegiatan workshop  dan penyerahan arang  
dari bonggol jagung di Balai Desa Jatilawang yang dihadiri 
oleh Ibu Ibu PKK setempat


Campusnesia.co.idPeserta KKN dari Universitas Diponegoro memiliki ide inovasi yang dapat mengubah bonggol jagung menjadi arang briket yang belum diolah sepenuhnya pada masyarakat di Desa Jatilawang, Kecamatan Wonosamodro, Kabupaten Boyolali (25/07). Dari informasi yang didapatkan dari wawancara singkat kepada Bapak Budi Prayitno, Sekretaris Desa Jatilawang, Desa Jatilawang merupakan suatu penghasil pertanian jagung yang cukup banyak dan ketika hasil pasca panen jagung masyarakat banyak belum mengolah bonggol jagung secara maksimal.

“Biasanya kalau warga desa sini untuk mengolah bonggol jagung hanya dibakar saja untuk menjadi pupuk,” ujar Bapak Budi Prayitno dalam wawancara singkat.

Maka dari itu, Jesaya Hansel membuat sebuah ide inovasi yang merupakan Program Kerja Mono-Disiplin selama mengikuti Kuliah Kerja Nyata di Desa Jatilawang. Ide inovasi ini adalah pembuatan arang briket dari bonggol jagung sebagai bahan utama. Ide inovasi ini disampaikan dengan cara melakukan workshop bagaimana cara pembuatan arang briket bonggol jagung dengan memperlihatkan hasil arang briket secara langsung di balai Desa Jatilawang yang diperhatikan oleh ibu-ibu Kader PKK setempat (25/07).
  
Kegiatan workshop bersama ibu-ibu PKK 
dan hasil arang briket bonggol jagung

Ibu-ibu PKK tampak tertarik dan antusias dalam pelaksanaan workshop bagaimana cara pembuatan arang briket bonggol jagung dan hasil arang briket bonggol jagung. Dalam proses pembuatan  bonggol jagung, hanya memanfaatkan bonggol jagung yang merupakan hasil pertanian terbesar di Desa Jatilawang. Proses pembuatan dengan melakukan pembakaran kemudian ditumbuk hingga halus, selanjutnya dicampurkan dengan tepung kanji dengan perbandingan 3:1, selanjutnya dicetak dan dikeringkan selama 4 hari.

Diharapkan warga Desa Jatilawang dapat mengelola limbah bonggol jagung menjadi arang briket lebih baik lagi  yang dapat dijadikan inovasi alternatif untuk menambah pemasukan perekonomian desa Jatilawang dan menjadi produk bernilai ekonomis.




Editor:
Achmad Munandar

Demonstrasi dan Edukasi Budidaya Ikan Lele dalam Ember (BUDIKDAMBER) - Solusi Praktis di Tengah Urbanisasi

0


Campusnesia.co.idPemalang, 30 Juli 2024 - TIM II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro 2023/2024 menyelenggarakan Program Demonstrasi dan Edukasi Budidaya Ikan Lele dalam Ember (BUDIKDAMBER) di Desa Jatingarang, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang pada hari Selasa, 30 Juli 2024. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kegiatan budidaya ikan tanpa memerlukan lahan yang luas. 

Di tengah urbanisasi yang pesat dan terbatasnya lahan, budidaya ikan lele dalam ember telah muncul sebagai solusi inovatif bagi masyarakat kota yang ingin bercocok tanam dan berbudidaya ikan secara efisien. Konsep ini tidak hanya menyediakan cara yang praktis untuk memanfaatkan ruang terbatas, tetapi juga menawarkan keuntungan ekonomi dan lingkungan. Kegiatan program ini diisi dengan berbagai materi edukasi, mulai dari pengenalan umum BUDIKDAMBER, prosedur pembuatan dan cara pemeliharaan melalui poster.


Konsep Budidaya Ikan Lele dalam Ember
Budidaya ikan lele dalam ember merupakan metode aquaponik yang memanfaatkan ember sebagai wadah utama untuk menampung ikan dan mengolah air. Dalam sistem ini, ember digunakan sebagai tempat pemeliharaan ikan lele, sementara tanaman dapat diletakkan di atas ember untuk memanfaatkan air dari wadah ikan sebagai pupuk.

Keuntungan dan Manfaat:

1. Pengurangan Biaya: Dengan menggunakan ember yang tersedia di rumah, biaya investasi awal menjadi lebih rendah dibandingkan dengan sistem budidaya ikan tradisional.

2. Kualitas Ikan dan Lingkungan: Lele merupakan ikan yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang berubah-ubah dan mudah beradaptasi, membuatnya ideal untuk pemula. Selain itu, sistem ini mengurangi limbah dengan mengolah sisa makanan ikan menjadi nutrisi bagi tanaman, menciptakan ekosistem yang saling mendukung.

3. Sumber Pangan Segar: Budidaya ikan lele dalam ember memungkinkan petani urban untuk menghasilkan ikan segar di rumah sendiri, mengurangi ketergantungan pada pasokan pasar dan meningkatkan ketahanan pangan lokal.




Meskipun banyak manfaatnya, budidaya ikan lele dalam ember juga menghadapi beberapa tantangan, seperti kebutuhan akan perhatian terhadap kualitas air dan potensi penyakit pada ikan. Namun, dengan pengetahuan yang tepat dan perawatan yang baik, tantangan ini dapat diatasi dengan efektif.

Kegiatan program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif serta pemahaman yang lebih luas mengenai Budidaya ikan lele dalam ember sebagai contoh bagaimana inovasi sederhana dapat membantu mengatasi masalah keterbatasan ruang dan meningkatkan ketahanan pangan di lingkungan urban. Dengan pendekatan yang tepat, metode ini menawarkan solusi yang praktis dan berkelanjutan bagi masyarakat yang ingin terlibat dalam pertanian dan akuakultur di tengah kesibukan kota.




Penulis: 
Risnanda Wahyuning Tyas
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 
Universitas Diponegoro 

Dosen Pembimbing: 
Aulia Vidya Almadana, S.E., M.M.

Mahasiswa KKN TIM II UNDIP Membuat Inovasi MPASI Bubur Ikan Lele - Langkah Efektif Mencegah Stunting pada Anak

0


Campusnesia.co.idPemalang, 30 Juli 2024 - Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro 2023/2024 mengadakan program kerja mengenai pembuatan inovasi MPASI bubur ikan lele sebagai langkah untuk mencegah stunting pada anak di Desa Jatingarang, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang pada hari Selasa, 30 Juli 2024. Pertemuan dalam program ini dihadiri oleh beberapa ibu-ibu pengajian Desa Jatingarang yang berkeinginan untuk membuat inovasi baru terkait MPASI bubur ikan lele. Kegiatan program ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan serta keterampilan kepada ibu-ibu dalam mengolah ikan menjadi produk makanan yang memiliki nilai protein tinggi. 

Dalam upaya mencegah stunting, sebuah masalah gizi yang mengancam perkembangan anak-anak di berbagai belahan dunia, bubur ikan lele kini muncul sebagai solusi inovatif dan bergizi. MPASI (Makanan Pendamping ASI) berbasis ikan lele, dengan kandungan nutrisi yang kaya, diyakini dapat membantu memastikan pertumbuhan optimal anak dan mengurangi risiko stunting. 

Pentingnya MPASI dalam Mencegah Stunting
Stunting adalah kondisi dimana anak mengalami kekurangan pertumbuhan yang signifikan akibat kurangnya asupan gizi pada periode pertumbuhan awal. Masalah ini dapat mengakibatkan keterlambatan perkembangan fisik dan kognitif, serta meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang. MPASI mulai diperkenalkan saat bayi berusia sekitar 6 bulan, memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi anak yang tidak lagi tercukupi hanya dari ASI. Ikan lele, dengan kandungan protein tinggi, omega-3, dan mikronutrien penting, menjadi pilihan utama dalam menyusun bubur MPASI yang tidak hanya lezat tetapi juga nutrisi padat.


Dr. Rina, seorang ahli gizi di Rumah Sakit Umum Jakarta, menjelaskan, “Bubur ikan lele adalah pilihan MPASI yang sangat baik karena memberikan kombinasi nutrisi yang penting. Protein, omega-3, dan mikronutrien dalam ikan lele mendukung pertumbuhan yang sehat dan dapat membantu mencegah stunting” jelasnya.

Meskipun bubur ikan lele menawarkan banyak manfaat, beberapa tantangan mungkin muncul, seperti potensi alergi ikan dan kesulitan mendapatkan ikan lele yang segar. Namun, dengan pengawasan medis yang tepat dan edukasi tentang alergi makanan, serta pemilihan sumber ikan yang terpercaya, masalah ini dapat diatasi. Bubur ikan lele sebagai MPASI menawarkan solusi praktis dan bergizi untuk mencegah stunting pada anak-anak. 

Dengan kandungan protein tinggi, omega-3, dan mikronutrien penting, ikan lele dapat menjadi bagian integral dari diet anak untuk mendukung pertumbuhan yang sehat dan optimal. Laporan ini menyoroti manfaat bubur ikan lele sebagai bagian dari MPASI untuk mencegah stunting. Dengan integrasi makanan bergizi ini dalam pola makan anak, diharapkan dapat membantu memerangi kekurangan gizi dan mendukung perkembangan yang optimal pada masa awal kehidupan.



Penulis: 
Risnanda Wahyuning Tyas
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan 
Universitas Diponegoro 

Dosen Pembimbing: 
Aulia Vidya Almadana, S.E., M.M.

Dibalik Minyak Jelantah Tersimpan Unsur Hara untuk Tanaman, Mahasiswa KKN Tim II Undip Edukasi Warga Tentang Pemanfaatan Minyak Jelantah Menjadi Pupuk

0


Campusnesia.co.idDesa Pundungrejo, 26 Juli 2023 - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II dari Universitas Diponegoro melaksanakan pelatihan inovatif tentang pemanfaatan limbah minyak jelantah menjadi pupuk organik cair pada tanggal Jumat, 26 Juli 2024 pukul 13.30 – 14.30 WIB. Acara yang diadakan di rumah pak RT Dukuh Banaran ini diikuti oleh 20 dari berbagai kalangan, mulai dari ibu rumah tangga hingga kelompok wanita tani. Para peserta antusias mengikuti setiap tahapan pembuatan pupuk organik cair, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses fermentasi. Pelatihan pemanfaatan minyak jelantah menjadi pupuk organik cair ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan memberikan keterampilan baru bagi masyarakat untuk mengolah limbah menjadi produk yang bernilai tambah. Dengan demikian, masyarakat dapat secara mandiri membuat pupuk organik cair untuk kebutuhan pertanian mereka.

Di daerah pedesaan, minyak jelantah seringkali dibuang langsung ke lingkungan atau digunakan untuk pakan ternak. Padahal, minyak jelantah memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan produktivitas pertanian Minyak jelantah yang selama ini dianggap sebagai sampah ternyata memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Dengan teknologi yang tepat, minyak jelantah dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, salah satunya adalah pupuk organik cair. Pupuk organik cair dari minyak jelantah memiliki kandungan nutrisi yang lengkap dan mudah diserap oleh tanaman. Selain itu, pembuatan pupuk organik cair juga dapat membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Kegiatan ini diawali dengan pemaparan tentang dampak negatif minyak jelantah terhadap lingkungan jika dibuang sembarangan. Kemudian penjelasan alat dan bahan yang digunakan serta kandungan atau peran setiap bahan dalam proses fermentasi. Bahan-bahan utama yang digunakan antara lain minyak jelantah, EM4, bekatul, molase dan air. Selanjutnya masuk ke tahap demonstrasi pembuatan pupuk organik dari minyak jelantah oleh mahasiswa KKN Tim II Undip dari prodi Agroekoteknologi. Langkahnya diawali dengan mencampurkan seluruh bahan ke dalam ember sambil diaduk sampai rata, campuran bahan kemudian dituang ke dalam jerigen. Tutup jerigen dilubangi untuk dimasukkan selang kecil dan dihubungkan ke botol yang terisi air, tujuannya untuk mengontrol suhu selama proses fermentasi berlangsung. Proses fermentasi berlangsung selama 21- 30 hari. 

Tanda fermentasi yang berhasil adalah warna coklat tua atau kehitaman, tidak berbau busuk tetapi bau masam manis khas POC seperti tape, tidak ada lapisan minyak di permukaan, tidak ada cacing, serangga atau jamur. Selain itu apabila digoyang maka muncul gelembung - gelembung kecil dalam jumlah banyak membentuk busa. Pupuk organik ini bisa untuk semua tanaman dengan dosis 10 ml - 15 ml dan rentang waktu 1 -2 minggu sekali. Namun perlu diingat bahwa pupuk organik dari minyak jelantah ini hanya digunakan sebagai pupuk tambahan. Artinya tetap harus menambahkan pupuk dasar berupa pupuk kandang atau kompos dan pupuk anorganik seperti NPK yang tujuannnya untuk menjaga suplai pupuk selama tanaman hidup.

Dengan adanya pelatihan ini, diharapkan masyarakat dapat memanfaatkan limbah minyak jelantah secara lebih bijak dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Selain itu, pupuk organik cair yang dihasilkan juga dapat meningkatkan produktivitas pertanian dan mewujudkan pertanian yang berkelanjutan.



Editor:
Achmad Munandar

Tanaman Serai Tidak Disukai Hama Monyet, Mahasiswa KKN Tim II Undip Edukasi Warga Tentang Budidaya Serai di Desa Pundungrejo

0


Campusnesia.co.id Desa Pundungrejo, 6 Agustus 2024 - Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II dari Universitas Diponegoro berhasil menggelar workshop budidaya tanaman serai yang menarik minat masyarakat Desa Pundungrejo pada tanggal 6 Agustus 2024 pukul 10.00 – 12.00 WIB. Kegiatan yang diadakan di tempat posyandu ini 11 orang ibu-ibu PKK dan bertujuan untuk memberikan edukasi dan pelatihan dalam budidaya tanaman serai yang memiliki potensi ekonomi tinggi khususnya di desa ini. 

Tanaman serai merupakan tanaman yang cukup adaptif  dan dapat tumbuh di berbagai daerah khususnya tropis sehingga cocok tumbuh di Desa Pundungrejo. Serai cocok tumbuh pada suhu 25-30℃, curah hujan yang merata sepanjang tahun dan ketinggian dataran rendah hingga ketinggian sedang. Namun, tanaman ini dapat beradaptasi dengan berbagai ketinggian. Desa Pundungrejo yang bersuhu cenderung panas dan memiliki banyak ketersediaan air ini cocok ditanami tanamn serai. Selain itu, serai cocok di budidaya di desa ini karena desa ini memiliki permasalahan hama monyet/kera. Monyet umumnya tidak menyukai tanaman berbau tajam seperti serai dan monyet cenderung menyerang bagian buah tanaman sehingga tanaman serai dipastikan aman dari serangan hama monyet. 

Workshop ini didukung oleh perangkat desa khususnya sekretaris desa “Monggo mba tolong edukasi warga bahwasanya tanaman serai cocok ditanam di desa ini” Ujar Pak Sutardi selaku sekretaris Desa Pundungrejo.

Workshop ini dimulai dengan sesi penyuluhan tentang potensi tanaman serai di desa ini, bagaimana syarat tumbuh yang sesuai untuk budidaya serai dan seluruh teknik budidaya serai yang baik dan benar, mulai dari pemilihan bibit, persiapan lahan, perawatan tanaman hingga panen. Selanjutnya mahasiswa agroekoteknologi ini mendemonstrasikan teknik pembibitan yang baik dan benar serat cara pemupukan yang benar. Kemudian ditutup dengan penyerahan 10 bibit untuk ibu-ibu PKK. 

Di akhir acara, diadakan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta aktif bertanya mengenai solusi permasalahan yang dihadapi dalam budidaya serai karena beberapa ibu-ibu PKK sudah pernah menanam tanaman serai. Kendala yang dihadapi yaitu karena terlalu panas. Mahasiswa agroekoteknologi ini memberi saran yaitu dipasang paranet/peneduh sehingga tanaman serai tidak terpapar langsung sinar matahari. Mahasiswa Agroekoteknologi dengan sigap memberikan jawaban dan solusi berdasarkan teori dan pengalaman praktis yang mereka miliki. Dengan berakhirnya workshop ini, diharapkan ibu-ibu PKK dapat memanfaatkan lahan yang optimal dan meningkatkan pendapatan keluarga. Selain itu, budidaya tanaman serai juga berkntribusi dalam pelestarian lingkungan.



Editor:
Achmad Munandar