Transisi Perubahan Iklim dan Fenomena El Nino Di Tahun 2023 Sampai 2024 Bagi Para Petani

Persawahan di kampung Cukang Bungur dan kampung Serang 
di desa Sukamerang, Kab Garut. (Sumber: Youtube, Dibra Channel)



Campusnesia.co.idBertani sudah menjadi mata pencaharian umum bagi warga di desa Sukamerang yang terletak di Kabupaten Garut. Warga yang tidak bermata pencaharian sebagai petani pun memiliki lahan sawah untuk digarap. Di desa Sukamerang memang masih banyak sekali persawahan, terutama di kampung Cukang bungur dan Serang. Kebanyakan pekerjaan warga dari kedua kampung tersebut adalah sebagai petani. Bahkan persawahannya pun bisa dilihat dari jalan raya.

Namun, pada tahun 2023 curah hujan yang tidak menentu menjadi malapetaka bagi para petani. Hal ini menyebabkan gagal panen ataupun tidak mendapat kesempatan untuk mulai menggarap lahan karena lahan sawah yang kering. Hal ini juga berdampak pada harga beras yang naik secara drastis di pasaran. Bahkan warga yang tidak terbiasa membeli beras pun harus membeli beras karena tidak ada hasil panen.

“Saya menyesal telah menjual semua hasil panen terakhir sebelum hujan turun tidak menentu. Karena itu sekarang saya harus membeli beras dari warung dengan harga yang tidak murah sampai panen selanjutnya,” Ucap bapak Ma’mun pada hari sabtu (02/03/2024).
Seperti yang diterangkan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), Hal yang menyebabkan tidak tentunya hujan turun pada tahun 2023 adalah adanya fenomena El Nino dan juga perubahan iklim. El Nino Sendiri ialah angin pasat yang biasa berhembus dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah. Pelemahan ini dikaitkan dengan meluasnya suhu muka laut yang hangat di timur dan tengah Pasifik. Fenomena ini terjadi sampai bulan oktober tahun 2023. Setelah fenomena El Nino pun cuaca masih belum menentu. Lalu, musim kemarau juga menjadi salah satu factor terjadinya gagal panen dan lahan sawah yang kering.

Persawahan di kampung Cukang Bungur dan kampung Serang, 
Desa Sukamerang, Kab. Garut. (Sumber: Sabbrina Nurmalla)

Pada tahun 2024, BMKG mengeluarkan pernyataan lewat “Pandangan Iklim” bahwa El Nino yang terjadi di tahun 2023 diperkirakan akan berada di fase lemah. Namun, masih ada kemungkinan bahwa fenomena El Nino ini akan berubah menjadi fenomena La Nina di tahun ini. Kebalikan dari El Nino, fenomena La Nina menyebabkan curah hujan semakin tinggi dan udara kian menjadi dingin. Tidak perlu khawatir akan terjadi Fenomena El Nina, karena kemungkinan hal tersebut sangat kecil. Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, juga menyatakan bahwa pada akhir tahun 2024 iklim akan kembali menjadi normal.

Untungnya, di pertengahan kuarter awal tahun 2024 ini para petani di Desa Sukamerang sudah kembali menggarap lahan sawah mereka. Curah hujan sudah lebih meningkat dari tahun kemarin sehingga sawah pun dapat diairi dengan baik.




Penulis
Sabbrina Nurmalla
Mahasiswa Jurusan Kimia 
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Silahkan komen guys..
EmoticonEmoticon