Rekomendasi 4 Film Mandarin Terbaik Karya Sutradara Zhang Yimou Cocok Ditonton selama PPKM Darurat

 


Campusnesia.co.id - Presiden Jokowi mengumumkan PPKM Darurat kembali diperpanjang hingga 25 juli 2021, demi memutus rantai penyebaran virus covid-19 ya sudah lah ya, mari kita patuhi saja.

Banyak sudah artikel yang kami terbitkan sebagai referensi mengisi waktu selama di rumah saja, kali ini kami kembali hadir dengan referensi beberapa film asal Mandarin yang secara cerita dan drama sangat apik, bukan hanya menurut saya saja tapi setidaknya terbukti dari penghargaan yang didapat film-film ini.

Film mandarin yang akan kita bahas kali ini spesifik hasil bah karya tangan dingin sutradara Zhang Yimou, pria kelahiran  Xi'an, Shaanxi, pada 2 April tahun 1950 saat artikel ini ditulis usia beliau sudah 71 tahun.


Dari sekian banyak karyanya konsisten menghadirkan nuansa ketegaran rakyat Cina dalam menghadapi kehidupan yang sulit dan penuh tantangan, warna juga merupakan elemen penting dalam film-filmnya, seperti terlihat pada Raise the Red Lantern (1990) dan Hero (2002). 

Film pertama yang disutradarainya adalah Red Sorghum (1987) yang memenangi penghargaan Beruang Emas (Film Terbaik) pada Festival Film Internasional Berlin 1988 dan juga merupakan film pertama aktris Gong Li, yang kemudian menjadi salah satu kolaborator utamanya. Pada Olimpiade Beijing 2008, ia ditunjuk menjadi pengarah acara upacara pembukaan dan penutupan.

Langsung saja, berikut 4 rekomendasi film mandarin karya sutradara  Zhang Yimou yang cocok ditonton ulang saat PPKM Darurat.


1. Hero (2002)

Hero adalah sebuah film yang disutradarai Zhang Yimou dan dirilis pertama kali di Tiongkok pada 24 Oktober 2002. Ia merupakan film salah satu film dengan biaya mahal dan paling sukses dalam sejarah perfilman Tiongkok. Film Hero dinominasikan dalam kategori Film Berbahasa Asing Terbaik pada Academy Awards.

Film ini juga meraih kesuksesan besar ketika ditayangkan di Amerika Serikat. Ia menjadi film dengan penghasilan terbesar dalam minggu pertama rilisnya di sana (US$ 18 juta) dan tetap berada di peringkat pertama pada minggu berikutnya sebelum jatuh ke posisi 4 pada minggu ketiga. Film ini juga membukukan rekor sebagai film berbahasa asing dengan penerimaan tiket terbesar di Amerika Serikat.

Hero adalah film bergenre wuxia (silat). Ia dibintangi Jet Li sebagai sang pahlawan tanpa nama (Nameless). Sebuah kelompok pembunuh dimainkan oleh Maggie Cheung (Flying Snow), Tony Leung Chiu Wai (Broken Sword), Donnie Yen (Long Sky), dan Zhang Ziyi (Moon). Chen Daoming berperan sebagai target mereka, sang Kaisar Qin.

Alur Cerita Film Hero 
Film ini diset pada Masa Negeri-negeri Berperang (Warring States Period). Ia bercerita tentang percobaan pembunuhan terhadap Kaisar Qin oleh pendekar-pendekar legendaris yang ingin membalaskan dendam mereka karena telah menaklukkan negeri mereka.

Sang kaisar membela dirinya dengan mengatakan bahwa dengan mempersatukan Tiongkok maka rakyat Tongkok akan mempunyai sistem tulis yang satu dan seragam. Pada akhir filmnya, sang Raja disebut bernama Ying Zheng, yang pada 221 SM memang benar-benar mempersatukan Tiongkok dan menjadi kaisar pertamanya, Qin Shi Huang (hidup tahun 259-210 SM; berkuasa tahun 246-210 SM).

Film ini adalah upaya pertama Zhang Yimou pada genre ini, dan ia menggunakan striktur yang sangat unik. Versi-versi kejadian-kejadian dalam film tersebut yang saling bertentangan diceritakan oleh tokoh-tokoh yang berbeda, dalam struktur yang mengingatkan kita pada Rashomon karya Akira Kurosawa (1950). Setiap bagian menggunakan skema warna yang erbeda tergantung sang narator, mirip seperti bagaimana seluruh hal menjadi berwarna hijau dalam The Matrix; film-film Zhang sering menampilkan skema warna yang sangat tepat.

Film ini mempunyai struktur yang tragis; keenam tokoh utamanya akhirnya sadar bahwa persatuan Tiongkok bergantung pada keputusan dan kelakuan mereka sendiri. Rasa tanggung jawab patriotis ini bertentangan dengan keinginan pribadi untuk membalaskan dendam, dan dengan hubungan mereka antara satu sama lain. Pada akhirnya, film ini mempunyai akhir seperti sebuah tragedi klasik.


2. House of Flying Daggers (2024)

Selang 2 tahun setelah kesuksesan film Hero, Zhang Yimou menyutradari  film bertema era kerajaan dan pendekar lagi berjudul House of Flying Daggers.

House of Flying Daggers adalah sebuah film wuxia 2004 dibintangi oleh Andy Lau, Zhang Ziyi dan Takeshi Kaneshiro. Tidak seperti film wuxia lainnya, film tersebut lebih ke arah film percintaan dan ketimbang film seni bela diri, namun bukan berarti adegan pertarungannya tidak keren, kita akan disajikan permainan pedang dan belati yang melayang-layang sepanjang film, favorit saya pertarungan di hutan bambu yang menegangkan.

Film tersebut dibuka dalam perilisan terbatas di Amerika Serikat pada 3 Desember 2004, di New York City dan Los Angeles, dan dibuku di layar lebar lainnya di seluruh negara tersebut dua minggu kemudian.

Film tersebut terpilih sebagai perwakilan China dalam Academy Award untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 2004, tetapi tidak masuk nominasi dalam kategori tersebut, meskipun film tersebut dinominasikan pada Academy Award untuk Sinematografi Terbaik.

Tak kalah spesial, dalam film ini terdapat 20 lagu original soundtrack. Soundtrack tersebut  diproduksi dan dibuat oleh Shigeru Umebayashi, yang menampilkan nyanyian dari Zhang Ziyi dan Kathleen Battle. Film tersebut dirilis di Hong Kong pada 15 Juli 2004 oleh perusahaan produksi dan distributor film Edko Films. Versi AS-nya dirilis oleh Sony Music Entertainment pada 7 Desember 2004.

Spoiler, sebagaimana kebanyakan film Andy Lau yang lain jangan sedih karena karakter yang ia perankan juga mati di film ini.


3. Curse of the Golden Flower (2006)

Curse of the Golden Flower adalah sebuah film drama epik Tiongkok 2006 yang ditulis dan disutradarai oleh Zhang Yimou. Pada tahun 2007, film tersebut meraih 14 nominasi dalam Penghargaan Film Hong Kong ke-26 dan memenangkan Aktris Terbaik untuk Gong Li, Penyutradaraan Seni Terbaik, Rancangan Kostum dan Make Up Terbaik dan Lagu Film Asli Terbaik untuk "菊花台" (Teras Seruni) karya Jay Chou.

Dengan biaya sebesar US$45 juta, pada saat dirilis, film Curse of the Golden Flower menjadi film Tiongkok paling mahal, mengalahkan The Promise karya Chen Kaige. 

Film tersebut terpilih sebagai perwakilan Tiongkok untuk Penghargaan Akademi untuk Film Berbahasa Asing Terbaik pada tahun 2006, namun tidak masuk nominasi. Namun, film tersebut dinominasikan untuk Rancangan Kostum. 

Nama-nama besar aktor mandarin menghiasi film ini, Chow Yun-fat sebagai Kaisar Ping, Gong Li sebagai Permaisuri Phoenix, Jay Chou sebagai Pangeran Jai, Qin Junjie sebagai Pangeran Yu, Liu Ye sebagai Pangeran Mahkota Wan, Ni Dahong sebagai Dokter Kekaisaran Jiang, Chen Jin sebagai istrinya dokter Mrs. Jiang, Li Man sebagai Jiang Chan putrinya dokter.

Judul Tionghoanya pada film tersebut diambil dari baris terakhir sebuah puisi dinasti Tang yang diatributkan kepada pemimpin pemberontak Huang Chao, "Diatas Seruni, setelah kejatuhan Eksaminasi Kekaisaran atau singkatnya "Seruni".

Permainan latarnya berdasarkan pada Thunderstorm, sebuah permainan panggung yang dimilik Tiongkok yang ditulis oleh Cao Yu pada 1930-an.

Versi bahasa Inggrinya menyatakan bahwa film ini berlatar belakang "dinasti Tang" pada tahun 928. Versi Tiongkok-nya tidak menjelaskan secara spesifik tentang periode waktunya.


Alur film Curse of the Golden Flower berdasarkan pada permainan panggung 1934 karya Cao Yu yang berjudul Thunderstorm Léiyǔ, tetapi mengambil latar belakang dewan Kekaisaran pada masa Tiongkok kuno.

Bunga-bungsa seruni kuning berjatuhan di istana kekaisaran pada malam Zhong Yang. Kaisar (Chow Yun-fat) pulang dari kampanye militernya bersama dengan putra keduanya dan jenderalnya, Pangeran Jai (Jay Chou), dalam rangka untuk merayakan liburan tersebut bersama dengan keluarganya.

Cerita yang dihadirkan sangat kuat, kental dengan nuansa perbutan kekuasaan, persekongkolan dan penghiatanan demi kerajaan. Untuk urusan koreografi pertarungan sudah tidak diragukan lagi kualitasnya.



4. Cliff Walkers (2021)

Di tengah pandemi, Zhang Yimou kembali merilis film bagus lainya yang berjudul Cliff Walkers dengan tema drama dan mata-mata.

Cliff Walkers, sebelumnya berjudul Impasse Hanzi menampilkan Zhang Yi, Yu Hewei, Qin Hailu, Zhu Yawen, dan Liu Haochun tayang perdana pada 30 April 2021.

Berlatar di Timur Laut Cina pada  tahun 1931 era penjajahan Jepang di China, di dunia bersalju di negara Manhukuo. Manchukuo sendiri sebetulnya merupakan negara boneka yang didirikan di Tiongkok utara oleh kekaisaran Jepang sebelum Perang Dunia II. Cliff Walkers berkisah tentang 4 mata-mata China yang dikirim untuk menyelamatkan seorang saksi kunci yang mengetahui tindakan penyiksaan oleh Jepang.

4 mata-mata tersebut diperankan oleh Zhang Yi (Operation Red Sea), Yu Hewei (I Am Not Madame Bovary), Qin Hailu (The Pluto Moment) dan Zhu Yawen (The Captain), ‘Cliff Walkers’ mengikuti empat agen khusus partai komunis yang telah kembali ke Tiongkok setelah menerima hadiah spesial berupa pelatihan di Uni Soviet.

Bersama-sama, mereka memulai misi rahasia yang diberi nama kode “Utrennya”. Sayangnya, kedatangan mata-mata ini diketahui pihak jepang setelah ada agen rahasia china pendahulu yang berkhianat. tim menemukan diri mereka dikelilingi oleh ancaman di semua sisi sejak mereka tiba di tempat tersebut.

Otoritas polisi dan mata-mata jepang di daerah tersebut berencana menjebak para mata-mata china dengan menyamar sebagai penghubung di wilayah tersebut.

Film yang berdurasi 2 jam 5 menit ini memang berjalan lambat diawal, namun aksi kucing-kucingan antar agen rahasia dari jepang dan china ini sangat menegangkan untuk diikuti, lengkap dengan bumbu kode-kode rahasia, adegan aksi tembak menembak dan baku hantam yang menambah suasana semakin intens.

Spoiler, sebagai film dengan latar sejarah, kita pasti sudah tahu endingnya, penyiksaan yang dilakukan oleh pihak jepang berhasil diungkap, siapa sangka ada mata-mata china yang selama ini sudah ada di pihak aparat jepang dan menjadi plot twist.

Buat sobat pecinta film bertema agen inteligen dan mata-mata, film ini asyik dinikmati selama PPKM Darurat.

Di Tingkok rating ‘Cliff Walkers’ adalah yang tertinggi dari semua judul yang saat ini dirilis, yaitu 7,7 di Douban dan 9,1 di Maoyan dan Taopiaopiao, mengalahkan film  ‘My Love’ yang mendapat skor ulasan rata-rata 5,3/10 di situs penggemar film Douban, 8,1 dan 8 dari raksasa tiket Maoyan dan Taopiaopiao. ‘My Love’ sendiri merupakan film remake dari film romantis Korea Selatan berjudul ‘On Your Wedding Day’ (2018). 


Itu tadi sobat campusnesia, Rekomendasi 4 Film Mandarin Terbaik Karya Sutradara Zhang Yimou. dari sekian judul di atas, mana saja yang sudah pernah kalian tonton? jangan lupa share di kolom komentar ya.


Penulis: Nandar
Sumber: Wikipedia dll


==
Baca Juga:



Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »