Ngulik Realita Sosial Millenial yang Susah Membeli Rumah dalam Drama Korea Monthly Magazine Home


 
 
Campusnesia.co.id - Baru-baru ini saya sedang  megikuti sebuah drama korea anyar yang ringan, lucu namun asyik dinikmati setelah menamatkan drama Undercover yang berkisah tentang pelemahan KPK ala korea selatan.
 
Drama yang saya maksud berjudul Monthly Magazine Home, sama-sama tayang di JBTC setiap hari rabu dan kamis malam jam 21.00 waktu korea selatan.
 
Digarap oleh sutradara Lee Chang Min (Welcome to Waikiki 1 & 2) dan penulis naskah Myung Soo Hyun (A Poem A Day) membuat saya berharap banyak tentang komedia dan romantisme yang diharapkan, so far sudah 6 episode berjalan dan cukup menjanjikan sebagai hiburan setelah Undercover yang serius banget.
 
Menghadirkan Jung So Min yang berperan sebagai Na Young Wondan Kim Ji Suk berperan sebagai Yoo Ja Sung, Monthly magazine Home mengisahkan tentang Na Young Won yang bekerja sebagai editor di majalah  selama 10 tahun, namun sampai kini ia belum memiliki rumah sendiri. Ia tinggal di rumah sewa yang ia rawat seperti rumahnya sendiri. 

Cerita berjalan seputar kegiatan harian di kantor Monthly Magazine Home yang baru saja diakuisisi dan dipimpin direktur baru Yoo Ja Sung, yang memiliki keyakinan bahwa rumah adalah sarana untuk menambah harta dan tempat tidur semata. Ia dikenal sebagai pakar investasi setelah kini menjadi kaya karena investasi real-estate yang ia pelajari. 

Tentu saja ada komedi dan adegan romantisme lengkap dengan bumbu cinta segitiga sesuai genrenya, tapi di artikel kali ini bukan itu yang akan kita bahas.

Saya tertarik dengan tema sosial yang coba diangkat drama korea ini, tentang bagaimana para staff Monthly Magazine Home yang kesusahan dalam membeli rumah, padahal notabene mereka setiap hari bergulat dengan dunia yang berkaitan dengan rumah dan properti.

Pemimpin redaksi Choi yang hingga punya anak 2 masih tinggal di apartemen pinggiran dengan lift yang sering rusak, di marahi istri yang ingin segera pindah, Editor Nam yang harus datang ke peramal demi mendapat lotre agar mampu beli rumah, editor Yeo rela jadi sugar baby demi tinggal di apartemen mewah, dan Na Young Won sendiri yang sudah 10 tahun bekerja sebagai editor juga belum mampu beli rumah.

 

Realita Sosial Millenial dan Susahnya Beli Rumah
 
Potret sosial yang coba dihadirkan dalam drama ini menarik karena dalam dunia nyata juga sedang terjadi tren yang sama, penulis kurang tahu seperti apa persisinya di korea selatan, namun yang membuat relate di indonesia juga terjadi hal yang sama.
 
By definisi, Milenial adalah kelompok umur yang lahir antara tahun 1980-2000. Mereka kerap disebut dalam tiap pidato politik dan disanjung sebagai tumpuan perekonomian Indonesia di masa depan.

Generasi milenial kini mendominasi piramida penduduk Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut jumlah warga yang dikategorikan usia milenial mencapai 63,5 juta jiwa.
 
Bank Indonesia (BI) mencatat debitur usia muda berusia 26-35 tahun saat ini lebih mendominasi pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) untuk tipe rumah tapak berukuran 22-70 m2, rumah susun 22-70 m2, dan rumah susun di bawah ukuran 21 m2. Sementara debitur berusia 36-45 tahun mengalami penurunan sejak tahun 2014.
 
Data tersebut menunjukkan kebutuhan hunian dari golongan masyarakat yang lahir antara tahun 1980-1990-an alias generasi milenial masih tergolong tinggi. Sayangnya, belum seluruh milenial memiliki kesempatan mengajukan KPR untuk memiliki hunian sendiri.
 
Ignatius Untung Country General Manager Rumah123.com, menjelaskan kelompok debitur di rentang usia 26-35 tahun hanya berkisar 40 persen dari total jumlah milenial yang ada di Indonesia. Artinya, kata Untung, terdapat 60 persen milenial yang masih belum memiliki akses terhadap KPR. (Tirto.id 26/1/2019)
 
 
Lalu sebenarnya apa yang menyebabkan Milenial Susah membeli Rumah? 
setidaknya ada 7 sebab Milenial Susah membeli Rumah
 
1. Kenaikan upah rendah
Kenaikan harga tempat tinggal sebesar 39,7% di 14 kota besar di Indonesia demikian menurut data Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) pada satu dekade terakhir.

Akan tetapi kenaikan UMR hanya sekitar 10% saja
setiap tahunnya. Kita dapat melihat adanya kesenjangan antara kenaikan harga rumah yang tinggi dengan kenaikan gaji yang lebih rendah. 
 
2. Mindset yang berkembang
Akan berhubungan dengan poin ketiga, alasan generasi milenial susah untuk bisa beli rumah adalah mindset mereka. Saat ini sebagian generasi milenial belum sepenuhnya menganggap rumah sebagai kebutuhan pokok.

Menurut Prita Hapsari Gozhie pada laman Sharia green land, sebagian generasi milenial beranggapan jika dibandingkan harus membeli rumah dengan harga yang belum terjangkau, lebih baik uangnya dialokasikan untuk hal lain.


3. Gaya hidup konsumtif
Berbeda dengan baby boomers (tahun kelahiran 1946—1964), generasi milenial cenderung memiliki tingkat konsumsi yang lebih tinggi terhadap sesuatu yang sifatnya hanya rekreasional dan kurang esensial.

Hal ini bukan karena mereka meremehkan harga rumah yang semakin tinggi tiap tahunnya. Justru karena generasi milenial merasa jika harga rumah sangat mahal, maka skala prioritasnya dialihkan ke hal lain, misalnya tiket konser atau liburan.

Esensi pilihan ini juga dipengaruhi adanya tuntutan generasi milenial untuk eksis di media sosial.

4. Suku bunga KPR
Generasi milenial cocok untuk mengajukan KPR dengan skema fixed rate. Karena dengan skema ini memungkinkan mereka dapat mengelola penghasilannya dengan lebih baik, khususnya para pekerja kreatif.

Sayangnya, bank yang menerapkan skema bunga fixed rate masih sangat jarang. Peluang naiknya bunga floating ini banyak membuat milenial kesulitan dengan cicilan yang harus dibayarkan.

Selain itu kendala lain yang juga dihadapi milenial adalah ketidaksiapan mereka untuk membayar uang muka atau DP.

5. Ranah kerja industri kreatif
Salah satu faktor yang memengaruhi milenial sulit untuk membeli rumah adalah pekerjaan. Saat ini bekerja di industri kreatif sedang menjadi tren di Indonesia, khususnya bagi generasi milenial.

Para milenial ini juga cenderung memilih untuk membuka usaha sendiri dibandingkan bekerja dengan orang lain atau perusahaan. Hal tersebut yang menyebabkan mereka tidak memiliki penghasilan tetap dan slip gaji resmi, sehingga sulit untuk mengajukan KPR ke bank. (berkeluarga.id)
 
6.  Harga Rumah yang Meningkat namun Daya Beli Menurun
Kenaikan harga properti tiap tahunnya adalah hal yang tidak dapat dicegah. Ignatius Untung, country general manager rumah123dotcom, menyatakan bahwa harga rumah terus mengalami peningkatan berdasarkan siklus 8 tahun-an. Kenaikan harga properti juga dipengaruhi oleh tingkat inflasi.

Peningkatan harga properti tiap tahun tidak kongruen dengan pemasukan yang diterima oleh generasi milenial. Generasi milenial yang fresh-graduate dengan gaji umr akan kesulitan membeli rumah. Generasi milenial, menurut data yang disampaikan Untung, akan menjadi
generasi penyewa bila perencanaan finansial tidak dilakukan sejak dini.  
 
Daya beli properti generasi milenial menurun sebab jumlah pemasukan yang diterima dianggap tidak cukup untuk membeli rumah. Membeli rumah dengan KPR dianggap terlalu memberatkan keuangan. Akibatnya, generasi milenial lebih memilih jalur alternatif yakni menyewa rumah atau menyewa kost-an. (unpaders.id)
 
 
7. Rumah sebagai Investasi bukan Kebutuhan Hunian
Senin Harga Naik, Ayo beli sekarang juga! pasti familiar dengan tagline iklan tersebut sangat umum digunakan dalam promosi properti.
 
Mendorong orang untuk membeli properti sebagai sarana investasi bukan memenuhi kebutuhan hunian. Akibatnya selain harga yang nyaris turun, dorongan konsumsi porperti sebagai investasi berdampak pada banyaknya rumah, ruko, apartemen yang bahkan setelah dibeli tidak ditinggali oleh yang pemilik.
 
Sebagian disewakan, namun tidak jarang kita temukan rumah atau properti yang mangkrak begitu saja tanpa terkelola, sang pemilik tentu saja sudah punya rumah utama, dulunya di beli berharap seuatu hari harganya jadi melambung tinggi.
 
Dampaknya tentu saja, mestinya bisa dibeli oleh mereka yang benar-benar membutuhkan tapi jadi tidak terbeli, yang dikhawatirkan suatu hari aka terjadi bubble properti.
 

Apa yang dimaksud dengan bubble properti?

Bubble property atau gelembung properti ditandai dengan melonjaknya harga perumahan akibat meningkatnya permintaan dan spekulasi. Kenaikan harga ini diibaratkan seperti gelembung udara yang terus membesar. Pada titik tertentu, permintaan akan mandeg atau terjadi kelebihan pasokan rumah sehingga harga mulai menurun. Inilah yang kemudian diartikan gelembung mulai kempes. 
 
Apa penyebab melonjaknya harga properti?
Kenaikan harga properti bisa terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya karena meningkatnya permintaan. Penyebabnya tingginya permintaan juga ada berbagai sebab. Salah satu penyebabnya adalah bunga kredit. Dengan bunga kredit yang semakin kuncup akan mendorong orang akan semakin tergoda untuk memperoleh pembiayaan rumah.

Faktor lainnya adalah lokasi perumahan. Lokasi yang strategis menyebabkan banyak orang ingin pindah ke tempat tersebut. Ini menimbulkan banyak permintaan.
 
Kenaikan properti juga karena aksi spekulasi. Menurut Michael C. Thomsett dan Joshua Kahr, penulis Beyond the Bubble, aksi spekulasi dipicu oleh emosional manusia. Hal ini terlihat ketika harga bergoyang. Saat harga tinggi, para investor ingin terjun berinvestasi dengan harapan nilainya akan terus meninggi. Orang menjadi lebih haus keuntungan (rakus).

Ketika harga merunduk, investor mulai berlomba-lomba keluar dari pasar supaya investasinya tidak tergerus (ketakutan). Dua emosi, rakus dan ketakutan, inilah yang memunculkan sikap irasional para investor sehingga melupakan jargon investasi paling dasar yakni "beli saat rendah dan jual saat harga tinggi." Yang terjadi kemudian adalah orang cenderung beli saat harga tinggi dan jual ketika rendah.
 
Apa dampak gelembung properti bagi ekonomi?

Pecahnya gelembung properti di Jepang telah memicu resesi ekonomi yang berkepanjangan hingga sekarang. Asal tahu saja, harga properti di Jepang secara nasional melonjak dua kali lipat dalam tempo 10 tahun. Bahkan, di kota-kota besar di Jepang seperti Tokyo, harga properti telah terbang tiga kali lipat pada 1989 silam.

Di Amerika, pecahnya gelembung properti pada musim panas 2006 juga menimbulkan resesi ekonomi. Bahkan, dampaknya terasa bagi perekonomian global. Harga perumahan yang turun tajam telah menyebabkan anjloknya nilai kekayaan rumah tangga, mengurangi belanja konsumsi dan akhirnya berakibat terhadap pertumbuhan ekonomi. 
 
Penurunan harga rumah menyebabkan kredit macet dan terjadinya penyitaan asset. Hal ini berujung pada pasokan rumah tinggi di pasaran sementara harganya jatuh karena permintaan loyo. 
 
 
Nah itu tadi sobat campusnesia, pembahasan kita tentang realita dalam drama korea Monthly Magazine Home dan fenomena susahnya generasi milenial dalam membeli rumah serta faktor yang menyebabkannya.

Namun jangan ovethinking dulu, walau mungkin harga hunian makin mahal dan pendapatannya kita masih berjalan pelan apalagi sedang terjadi pandemi seperti ini ya kan, karena pak Yoo Ja Seong juga punya tips untuk kita yang ingin punya rumah sendiri, apa saja tipsnya? kita bahas di artikel selanjutnya.
 
 

penulis: 
Nandar 
Korean Drama Enthusiast
 
==
Baca Juga:
 
 

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »