Implementasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia



Campusnesia.co.id -- Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mencanangkan grand design tentang penerapan pendidikan karakter bagi semua tingkat pendidikan, mulai sekolah dasar sampai dengan Perguruan Tinggi. Pendidikan karakter dilakukan untuk melahirkan generasi emas bangsa Indonesia yang cerdas akal sekaligus cerdas secara moral.


Pendidikan karakter dapat diintegrasikan dalam semua mata pelajaran termasuk Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan karakter bagi siswa. 


Pelaksanaan pendidikan karakter dalam pembelajaran Bahasa Indonesia memerlukan pemahaman guru sebagai pelaksana kurikulum dan fasilitator bagi siswa. Pendidikan karakter dilakukan melalui kegiatan pembelajaran di sekolah sehingga siswa tidak hanya memiliki kompetensi yang baik, melainkan juga memiliki budi pekerti yang terpuji. Pendidikan karakter dalam pembelajaran Bahasa Indonesia meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.


Pada bagian perencanaan guru menyiapkan dengan baik melalui RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran). Nilai karakter apa saja yang akan ditanamkan harus ditulis detail sesuai dengan kegiatan pembelajaran (awal, inti, penutup) yang dilakukan. Misal nilai karakter religius dilakukan pada saat pembukaan pembelajaran dengan mengucap salam. Selain itu, guru juga dapat menyisipkan nilai karakter pada saat pengondisian siswa agar siap mengikuti pembelajaran misal dengan berdoa. 


Nilai karakter nasionalisme dapat dilakukan dengan menyanyikan bersama lagu-lagu nasional misal Padamu Negeri sebelum pelajaran dimulai. Nilai karakter peduli dengan sesama juga bisa disisipkan pada saat pengondisian kelas misalnya pada saat guru bertanya ada siswa yang tidak masuk kelas atau tidak. 


Misal ada siswa yang tidak masuk sekolah karena sakit maka siswa diajak untuk menjenguk temannya yang sedang sakit tersebut. Guru juga dapat memberi penguatan siswa tentang keutamaan menjenguk orang sakit.


Pada video pembelajaran Bahasa Indonesia SMPN 2 BANJIT yang memperoleh juara 2, guru sudah menyisipkan nilai-nilai pendidikan karakter pada setiap kegiatan pembelajaran mulai dari awal sampai dengan akhir. 


Video pembelajaran tersebut adalah contoh pembelajaran Bahasa Indonesia dengan mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan karakter yang diunggah di channel YouTube pada laman https://www.youtube.com/watch?v=ORTh-yz4j0U


Pada saat siswa sampai di halaman sekolah sudah disambut oleh guru dan siswa segera mencium tangan guru tersebut. Sambil berjalan menuju kelas siswa mengambil sampah yang berserakan lalu dimasukkan ke tempat sampah. 


Sampai di depan ruang kelas siswa tidak langsung memasuki kelas, tetapi berbaris dengan rapi terlebih dahulu dipimpin oleh ketua kelas. Guru pun segera datang mendampingi siswa yang sedang berbaris. Setelah rapi satu per satu siswa memasuki ruang kelas dan mencium tangan gurunya yang sudah menunggu di depan pintu kelas. 


Setelah semua siswa memasuki kelas guru mengucapkan salam dan dijawab dengan semangat oleh siswa. Selanjutnya guru mengajak siswa untuk melakukan “Operasi Adiwiyata” untuk membersihkan sampah yang ada di kelas dan membuangnya ke tempat sampah. 


Kegiatan mencium tangan guru, berbaris, membuang sampah, mengucapkan dan menjawab salam adalah bagian dari pendidikan karakter yang dilakukan sebelum pembelajaran dimulai. 


Hal tersebut didasari dari Imam Darul Hijrah, Imam Malik rahimahullah yang pernah berkata pada seorang pemuda Quraisy, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu.” Mengapa para ulama berpesan untuk mendahulukan mempelajari adab? Sebagaimana Yusuf bin Al Husain berkata, “Dengan mempelajari adab, maka engkau jadi mudah memahami ilmu.”


Pembelajaran yang dipraktikkan pada video tersebut adalah menyimpulkan struktur teks laporan percobaan. Sebelum pelajaran dimulai guru mengajak siswa untuk berdoa yang dipimpin oleh ketua kelas. 


Mengawali pelajaran dengan doa merupakan implikasi karakter religius. Setelah berdoa guru menyiapkan secara psikis dan fisik untuk mengikuti pelajaran. Guru juga mengajak siswanya untuk mencintai bahasa Indonesia dengan mengucap Salam Bahasa Indonesia yang berbunyi “Kami cinta bahasa Indonesia”, ”Kami bangga berbahasa Indonesia”, “Bahasa Indonesia wahana pemersatu bangsa.” 


Agar lebih menguatkan lagi kecintaan siswa kepada bahasa Indonesia guru mengajak siswa untuk menyanyikan lagu nasional berjudul Satu Nusa Satu Bangsa. Dengan mengucapkan Salam Bahasa Indonesia dan menyanyikan lagu nasional siswa sedang dipupuk untuk cinta tanah air Indonesia. 


Tahap selanjutnya guru mempresensi siswa untuk mengetahui siswa yang tidak hadir pada hari itu. Guru bertanya kepada siswa, “Siapa yang tidak masuk hari ini?” selain untuk mengisi data presenssi juga agar siswa peduli kepada teman apalagi jika ada teman yang tidak masuk karena sakit. Guru mengajak siswa untuk mendoakan temannya yang sedang sakit agar cepat sembuh dan bisa belajar di sekolah lagi. Bila perlu siswa diajak untuk menjenguk teman yang sedang sakit tersebut. 

Untuk menanamkan karakter gemar membaca, sebelum kegiatan belajar dimulai siswa diminta untuk berliterasi dengan membaca buku apa saja yang mereka sukai selama 15 menit. Kegiatan berliterasi ini dilakukan setiap hari pada jam pelajaran pertama. 


Setelah kegiatan berliterasi guru melakukan apersepsi untuk mengingatkan lagi kegiatan belajar yang sudah dilakukan dan mengaitkannya dengan pelajaran yang akan dilakukan. Pada kegiatan apersepsi siswa diberi pertanyaan pancingan agar aktif menyampaikan pendapatnya. 


Pada tahap ini nilai karakter yang ditanamkan adalah aktif dan percaya diri. Siswa diberi pujian jika menjawab pertanyaan dengan benar dan diberi motivasi kembali jika belum bisa menjawab pertanyaan dengan benar. 


Sebaiknya guru tidak memberikan kata yang dapat mematahkan mental siswa jika memang belum bisa menjawab pertanyaan atau belum bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Justru siswa diberi motivasi agar lebih percaya diri sehingga dapat mengikuti pelajaran dengan baik seperti teman-temannya.

Pada bagian pelaksanaan guru sudah mendesain kegiatan apa saja yang akan dilakukan pada saat pembelajaran. Misalnya siswa membentuk kelompok untuk mendiskusikan tugas yang diberikan guru pada saat pelajaran maka nilai karakter yang dapat diajarkan di antaranya adalah kerja sama, tanggung jawab, percaya diri, bekerja keras, saling menghormati, mandiri, jiwa kompetitif, dan lain-lain. 


Pada saat siswa membentuk kelompok sendiri siswa sedang dilatih untuk mandiri. Pada saat siswa berdiskusi dengan kelompoknya siswa sedang dilatih untuk dapat bekerja sama sesuai dengan tanggung jawab masing-masing. Setelah sesuai mendiskusikan tugas yang diberikan guru, siswa mempresentasikan hasil pekerjaan di depan kelas maka siswa dilatih untuk bertanggung jawab, percaya diri, saling menghargai, dan memiliki jiwa kompetitif. Siswa harus bekerja keras agar menjadi yang terbaik dari kelompok lainnya.

Pada bagian penutup nilai pendidikan karakter yang bisa diajarkan guru misalnya kreatif, gemar membaca, disiplin, tanggung jawab, dan lain-lain. Nilai-nilai karakter tersebut harus secara intens ditanamkan pada siswa dalam setiap kegiatan pembelajaran agar siswa terbiasa. 


Jika siswa sudah terbiasa harapannya nilai-nilai karakter tersebut tertanam benar pada jiwa siswa dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Artinya siswa tidak hanya mengaplikasikan di sekolah saja karena dalam pengawasan guru. 


Implikasi nilai-nilai pendidikan karakter dapat dilakukan disetiap kegiatan pembelajaran dari sebelum sampai dengan sesudah pembelajaran. Guru adalah teladan bagi siswa-siswanya maka hendaknya guru memberikan contoh yang baik sesuai dengan nilai-nilai pendidikan karakter yang ditanamkan. 


Dengan demikian, pendidikan karakter yang dilakukan sesuai dengan konsep Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sun Tulodho”, yang berarti di depan (pimpinan) harus memberi teladan, “Ing Madyo Mangun Karso”, yang bermakna di tengah memberi bimbingan, dan “Tut Wuri Handayani”, yang mengandung arti di belakang memberi dorongan.


Penulis: 
Meilan Arsanti
(Dosen PBSI, FKIP, Unissula dan Mahasiswa S-3 IPB, Pascsarjana Unnes)

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »