Hubungan Bahasa dan Sastra Indonesia


 
 
Campusnesia.co.id - Bahasa merupakan alat komunikasi  yang paling efektif bagi manusia untuk menyampaikan informasi. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga sebagai sarana untuk mencapai nilai estetis dalam karya sastra. 

Dalam bidang sastra, bahasa digunakan oleh pengarang sebagai media penyampai pesan dan  pengungkap pikiran, ide, serta gagasannya. Dapat dikatakan bahwa bahasa sebagai alat penghubung antara pembaca dan pengarang.

Perkembangan bahasa dalam sastra dari dulu hingga sekarang mengalami perubahan. Awalnya karya sastra cenderung berbahasa "indah" dalam artian sifat-sifat baik, bersih, halus, tidak kasar, tidak cacat, dan lainnya. Namun, sekarang karya sastra berubah menjadi "seni"  dalam artian kata kasar dan kotor tidak akan mengurangi nilai estetis suatu karya. 

Perubahan ini merupakan dampak dari fenomena masyarakat. Dimana keinginan dan selera masyarakat berubah, yang awalnya hal tabu menjadi hal umum. Seperti kata tai, pantat, dan kencing yang awalnya dihindari dalam karya sastra namun saat ini dianggap kata yang wajar
.
Lalu menurut Luxemburg (Noor, 2015:37-38) hubungan antara ilmu bahasa dan ilmu sastra sudah ada sejak zaman Romawi Kuno dalam teori tentang "retorika". Retorika ialah ilmu kemampuan berbahasa, seperti peribahasa,  ungkapan, dan gaya bahasa. 

Karya sastra tanpa adanya gaya bahasa bagaikan sayur tanpa garam akan menjadi hambar. Karena bahasa berpengaruh penting dalam menciptakan daya pikat bagi para pembaca. 

Oleh karena itu, untuk memahami sebuah karya sastra, pembaca dan pengarang haruslah menguasai kemampuan bahasa yang baik. Seperti yang dikatakan Teew (1983) untuk memahami sebuah karya sastra diperlukan pengetahuan dan kemampuan tentang  kode bahasa yang dipakai dalam teks sastra. 

Contoh, untuk memahami sastra Sunda maka harus menguasai bahasa Sunda, mencakup simbol, peribahasa, ungkapan, dan lain-lain. 

Jadi, dalam hubungan karya sastra baik lisan maupun tulisan, persolaan penggunan bahasa sepenuhnya pengungkapan isi hati, perasaan, imajinasi, dan kenyataan yang dialami pengarang. 
 
Demikian bahasa karya sastra adalah sesuatu yang umum yang harus diolah pengarang agar menghasilkan suatu gebrakan yang inovatif.  Oleh karena itu, bahasa dan sastra tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.


Daftar Pustaka:
Noor, Redyanto. 2015. Pengantar Pengkajian Sastra. Semarang: Fasindo.
Teew, A. 1983. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia. 
 
 
Penulis: Jeni Setyawati
Editor: Ika Shintya


** Artikel ini merupakan bagian dari program Magang Online Campusnesia season 2

 

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »