Review Film Outside the Wire Apa Jadinya Jika Android Terlalu Cerdas dan Melawan Penciptanya?

 



Campusnesia.co.id - Di tengah pandemi yang mengharuskan bioskop tutup, aplikasi video on demand jadi salah satu pilihan alternatif untuk tetap bisa menikmati hiburan berupa film dan series. Mengawali tahun 2021 ini, Netflit merilis sebuah film science fiction apik yang dibintangi pemeran Falcon dalam MCU yaitu Anthony Mackie.

Film ini disutradarai oleh Mikael Håfström yang juga pernah mengarahkan film Derailed (2005), naskah ditulis oleh Rob Yescombe tayang secara global pada 15 januari 2021 dengan durasi 115 menit.

Selain Anthony Mackie yang berperan sebagai kapten Leo, sesosok android milik militer amerika, ada nama-nama besar lain yang turut serta meramaikan film aksi ini diantaranya Damson Idris sebagai Letnan Thomas Harp, pilot drone, Emily Beecham sebagai Sofiya, Michael Kelly sebagai kolonel Eckhart, dan Pilou Asbæk sebagai Victor Koval.

Trailer Film Outside the Wire

Sinopsis Film Outside the Wire
Outside the Wire mengisahkan perang saudara antara Rusia dan Ukraina yang terjadi pada 2036. Dalam perang ini, militer AS mengerahkan sejumlah prajurit penjaga perdamaian berupa tentara manusia robot yang disebut Gumps.

Di tempat lain, seorang pilot pesawat tak berawak bernama Thomas Harp karena kesalahanya melawan perintah langsung atasan dalam sebuah misi harus dikirim ke zona militer yang mematikan dan harus bekerja dengan tentara di unit khusus, Kapten Leo.

Leo merupakan seorang prototipe andorid sistesis tentara terbaru yang diluncurkan oleh militer AS. Ia ditugaskan untuk masuk ke daerah konflik yang paling berbahaya dan mematikan untuk sebuah misi khusus mengejar bernama Koval (Pilou Asbaek) yang dikenal dengan Ghost karena saking misteriusnya.

Koval sangat berbahaya karena disinyalir sedang mengejar sebuah kode peluncuran misil Nuklir peninggalan Ukarina yang akan membayakan penduduk dunia.

Review Film Outside the Wire
Dari awal kita disajikan presmis klasik, amerika yang berperan sebagai penjaga perdamaian dunia. Hal menarik adegan pembuka yang menunjukkan bagaimana letnan Harp yang sehari-hari berada di ruang kendali drone membuat keputusan kontroversial, memutuskan menembak sebuah truk yang diyakini berisi bom dengan mengorbankan 2 tentara amerika karena yakin bertujuan menyelamatkan 48 tentara lainya. Adegan ini menjadi kata kunci sebagai Paradoks.

Akibat melawan perintah langsung atasanya itu, Harp di pindahkan ke pekerjaan lapangan dan didampingi oleh kapten Leo yang merupakan sesosok Andorid sintesis produk terbaru dan tercanggih amerika dengan kecerdasan dan emosi mendekati manusia asli.

Akibat paradoks dalam tindakan letnan Harp, membuat Leo dengan kecerdasan buatanya berfikir tekstual dan kebingungan karena hanya mengandalkan logika dan lupa bahwa manusia juga selain berfikir secara logis ada pertimbangan emosi, empati serta potensi bahwa dalam kehidupan dan perjalanan waktu seseorang bisa saja sadar atas sebuah kesalahan dan berubah menjadi pribadi lebih baik, intinya Leo si android ini hanya mampu berfikir hitam putih serta sayangnya kebingungannya membawa pada sebuah keputusan yang fatal.

Alih-alih mencari Koval dan mencegah diluncurkanya nuklir, Leo berfikir inti dari semua masalah ini bukanlah para teroris di perbatasan melainkan sistem yang lebih besar yaitu para pengambil kebijakan di belakang meja yang duduk manis di atas kekuasaan dan jabatan.

Harp yang menyadari kesesatan fikir Leo, merasa selama kebersamaannya dalam misi menemukan Koval adalah tipuan dan rekasaya Leo. Ia menyampaikan temuan dan informasi intel ini kepada atasanya, setelah berdebat panjang akhirnya ia diijinkan untuk melakukan misi mencegah Leo meluncurkan Nuklir ke Amerikan dan negara-negara besar penentu kebijakan perang dan damainya negara-negara kecil dan perbatasan.

Dari sisi premis, film Outside The Wire bukanlah hal yang baru, seketika saya jadi Dejavu dengan salah satu film MCU yaitu Avenger Age of Ultron, tujuan awal Ultron dibuat adalah untuk menjaga keamanan dan kedamaian dunia dari ancaman serangan alien luar angkasa. Sakin cerdasnya, Ultron yang mengakses semua informasi dari Internet membuat kesimpulan yang sebaliknya, bagi Ultron ancaman sebenarnya bukanlah alien luar angkasa melainkan eksistensi manusia itu sendiri yang sudah kelewatan dan harus dimusnahkan.

Dalam konteks tektuals, seimpulan Ultron tidak sepenuhnya salah, berapa banyak bencana alam dan konflik yang terjadi di dunia ini tidak lain akibat ulah manusianya sendiri. Namun pembasmian manusia bukanlah solusi yang manusiawi bagi kita kan, masih banyak solusi yang lebih humanis dan membuka peluang bahwa manusia punya potensi untuk menyadari kesalahanya, intropeksi dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Menarik ya.

Selain Ultron tema serupa bisa kita jumpai di film Scifi lain seperti I Am Mother (baca reviewnya di sini) dan Terminator dengan Skynetnya. Kalau mau dirunut menururt saya sebab utamanya adalah kecerdasan buatan dalam robot atau android hanya memutuskan sebuah hal dengan data-data yang dia punya, sayangnya karena data yang diakses dari internet sangat beragam berpeluang menjadi keputusan yang tidak tepat.

Maka ketika dunia dan para inventor berlomba untuk menemukan kecerdasan buatan yang paling mutahir, ada sebagian kaum skeptis yang khawatir dengan kejadian-kejadian seperti dalam visualisasi film-film di atas. Salah? Kolot? Jadul? saya pikir tidak.

Pada bulan Maret 2016, sebuah chat bot yang ditenagai kekuatan AI bernama Tay, men-tweet postingan yang berbau ofensif, rasis, dan pro terhadap Adolf Hitler. Tay, merupakan sebuah proyek dari Microsoft Technology and Research and Bing. Tay, dibuat oleh Microsoft, untuk berinteraksi dengan pengguna internet di seluruh dunia. Tay memiliki akun di Twitter dan aplikasi chatting seperti GroupMe dan Kik. Dari platform-platform tersebut, Tay berinteraksi dengan pengguna internet di seluruh dunia. Ia bisa membalas tweet yang diarahkan padanya, berkomentar atas foto yang di-tag pada Tay, hingga menciptakan guyonan. Secara sederhana, Chatbot bertenaga AI itu, bisa berinteraksi sama seperti manusia dengan memanfaatkan platform-platform tersebut.

Jelas, Microsoft tidak menciptakan Tay untuk berkata demikian. Diketahui, AI buatan Microsoft tersebut, dapat belajar atas interaksinya dengan pengguna Twitter, GroupMe, dan Kik. Penyalahgunaan interaksi beberapa pengguna internet, diduga merupakan muasal chatbot tersebut bertingkah tidak etis. Atas tindakan yang mempermalukan Microsoft, perusahaan itu akhirnya mematikan Tay berikut dengan menghapus akun-akun Tay di platform-platform miliknya. (Tirto.id)

Secara keseluruhan film ini menarik dari sisi aksi dan scifi secara bersamaan, buat kamu penyuka film perang dan suka dengan penampilan Anthony Mackie sebagai Falcon di MCU bisa jadi obat rindu sebelum nanti tayang series Falcon and The Wintr Soldier rilis. Buat penyuka teori sicfi juga seru karena menghadirkan skeptis akan masa depan dengan fantasi segala kecanggihannya sekaligus kekhatiran peran dominan kecerdasan buat yang bisa jadi pisau bermata dua. Selamat menonton.

Penulis: Nandar

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »