Nostalgia Sinetron Laga Asli Indonesia yang Tidak Kalah dengan Drama Sageuk asal Korea

 




Campusnesia.co.id - Ketika drama korea berjudul Jewel in the Palace (rilis tahun 2003) viral di Indonesia, masyarakat yang mulai ketagihan dengan drama korea berharap indonesia punya sinetron dengan tema serupa.

Kesukseskan drama bertema era kerajaan tersebut kembali naik tatkala rilis beberapa drama diantarnya Moon Embracing the Sun (2012), Empress Ki (2013), Hwarang (2016) dan Moon Lovers (2016), drama korea bernama bertema era kerajaan seperti ini disebut Sageuk.

Secara etimologi, Sageuk dalam bahasa Korea berarti drama yang mengangkat tentang sejarah, khususnya sejarah Korea Selatan (Korsel). Di Korea Utara, drama sejarah Korsel biasanya disebut gojeon yeonghwa atau yang secara harfiah berarti film klasik. 

Buat sobat yang hobi streaming drama Korea pasti familiar dengan genre drama Sageuk.  Biasanya selain menceritakan tentang sejarah Korea Selatan drama tema ini juga dibumbui dengan beberapa intriks perebutan kekuasaan, politik, aksi laga dan romantisme percintaan yang terjadi di era kerajaan, bahkan drama sageuk berjudul Kingdom yang rilis di Netflix tahun 2019 silam menambahkan unsur Zombie.

Stigma jelek pada sinetron Indonesia dengan tema era kerajaan pasca 2005 memang tidak sepenuhnya salah, faktanya demikian jika dirujuk pada kualitas sinematografi, jalan cerita dan tentu saja adegan laganya.

Namun kurang berkualitas bukan berarti tidak populer, beberapa sinetron tema kerajaan yang coba diangkat kembali banyak juga disukai masyarakat, sebut saja sineron Raden Kian Santang (2006) yang dibintangi Alwi Assegaf atau Tutur Tinular Remake versi 2011 yang akhirnya disomasi oleh penulis naskah aslinya pak S. Tijab karena terlalu melenceng jauh.

Gimana beliau gak marah? masak era kerajaan Majapahit yang jadi latar Tutur Tinular tiba-tiba cross over dengan Mak Lampir yang semestinya secara time line ada di era kerjaan Demak bahkan ada karakter Batman dan Joker, ngawur...ngawur karena terlalu ngikuti tren kala itu yang lagi hype dengan film Batman the Dark Knight.

Tapi bukan berarti Indonesia tidak pernah punya sinetron Sageuk berkualitas lho, justru di era akhir 90-an hingga 2000-an sinetron dengan latar era kerajaan mengalami masa kejayaan dan silih berganti menghiasi layar kaca televisi kala itu.

Atas nama nostalgia, kali ini Campusnesia akan membuat list Sinetron Laga Asli Indonesia yang Tidak Kalah dengan Drama Sageuk asal Korea, apa saja? ini daftarnya.


1. Saur Sepuh 1993

Jika sobat tertawa dengan iklan viral indo eskrim meiji yang naik rajawali dan pake gps, banyak yang tidak tahu jika adegan tersebut mengambil referensi dari sinetron laga Saur Sepuh dimana tokoh utamanya Brama Kumbara punya rajawali dan bisa dinaiki.

Sinetron ini tayang pada tahun 1992 di saluran TPI (sekarang jadi MNC TV) sebanyak 80 episode setiap hari rabu tayang jam 10.00 wib dengan judul Saursepuh Darah Biru. Berkisah tentang Brama Kumbara, seorang pendekar keturunan raja Madangkara sebuah kerajaan fiktif di tanah jawa.

Ia sakti mandraguna, membasmi kejahatan, memiliki senjata asndalan bernama Pedang Biru dan Rajawali raksasa yang bisa ia tunggangi untuk bepergian, jadi gak perlu naik pesawat yang ribet wajib tes pcr dulu.

Dalam sinetron laga epik ini, Brama Kumbara diperankan oleh aktor spesialis laga Jeorge Rudy, karakter iconik lain yang pasti masih segar diingatan adalah karakter Lasmini diperankan oleh aktris Murti Sari Dewi love interestnya Brama. Adapula karakter Mantili yang terkenal dengan senjata Pedang Setan diperankan oleh Elly Ermawati.

Ketika riset untuk tulisan ini, saya mencari di youtube episode Saur Sepuh dan merinding saat melihat lagu opening dan tiupan terompet tanduk kerbau untuk memulai peperangan.

Sebelum diangkat ke layar lebar dan sinetron, Saur Sepuh merupakan sandiwara radio yang legendaris di Indonesia. 

Naskah asli ditulis oleh pak Niki Kosasih (almarhum) disiarkan melalui media radio pada tahun 1980-an, mengambil latar pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk zaman kerajaan Hindu Buddha Majapahit di nusantara. 

Serial ini memukau jutaan pendengarnya di seluruh pelosok nusantara. Pada saat itu, radio merupakan satu-satunya media hiburan rakyat Indonesia yang masih langka, sehingga untuk mendengarkannya harus secara beramai-ramai ke rumah tetangga.

Perusahaan farmasi Kalbe Farma sebagai produsen obat-obatan ternama kala itu menjadi mitra utama dari serial ini. Dengan durasi 30 menit dipotong iklan produk obat-obatan, serial ini berhasil menghipnotis para pendengarnya break sejenak dari aktivitas, dan berkonsentrasi mendengarkan.


2. Kaca Benggala 1994

Berdasar tahun kita beranjak ke sinetron laga keren selanjutnya yaitu Kaca Benggala, dalam bahasa jawa berarti cermin keburukan. 

Sinetron ini dibintangi Adjie Pangestu sebagai Mondosiyo, Meriam Belina sebagai Nyi Basingah/Srikanthi. 

"Kaca bengkala...cermin ambisi nafsu keduniawian...gejolak berawalkan penderitaan.." lagu opening ini sangat familiar, kalau sobat baca sambil bernada, fix kamu generasi era emas sinetron laga indonesia.

Advent Bangun sebagai sebagai Demang Wirojoyo, Agus Kuncoro sebagai Senopati Ing Alaga, dll ditayangkan TPI pada tahun 1994.

Sinetron ini menggambil latar jaman Kerajaan Islam Pajang di tanah Jawa, dan awal mula berdirinya kerajaan Mataram Islam.

Di dalam Kaca Benggala juga menggunakan formula pada drama korea Sageuk, banyak tokoh sejarah yang ada dalam cerita, dan diceritakan kisahnya sesuai alur sejarah, berikutnya diarahkan ke cerita mengenai tokoh seperti Modosiyo dan Nyai Basingah sebagai tokoh utama dalam cermin prilaku keburukan manusia.

Kaca Benggala diawali bagaimana Ki Ageng Pemanahan Bersama Anaknya Sutawijaya yang ditugasi untuk menumpas Arya Penangsang yang terkenal sakti.

Sampai berikutnya Ki Ageng Pemanahan mendapat hadiah alas Mentaok cikal bakal Mataram, di mana di situ juga dikisahkan Ki Ageng Pemanahan dibantu Sunan Kalijaga dalam menagih Janji ke Hadiwijaya Sultan Pajang Hadiwijaya yang sengaja mengulur karena ketakutannya berdasar sebuah ramalan.

Memori yang masih saya ingat, Kaca Benggala lebih menonjolkan sisi horornya, sebagai anak kecil kala itu ketika menonton sesekali harus menutup mata saking takutnya, karakter Nyi Basingah/Srikanthi yang diperankan Meriam Belina sangat melekat di ingatan.

Sebagaimana Saur Sepuh, Kaca Benggala juga snetron yang diadaptasi dari sandiwara radion sukses kalau itu yang merupakan karya S. Tidjab (14 Mei 1946 – 1 Maret 2019) 

S. Tijab adalah seorang penulis sandiwara radio, cerita, dan skenario film maupun sinetron asal Indonesia. Ia dikenal sebagai penulis sandiwara radio, seperti Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, Kaca Benggala, dan Kidung Keramat yang populer pada tahun 1980-an. 

Dialog-dialog sandiwara radio yang ia tulis disebut benar-benar hidup sehingga bisa membawa pendengarnya masuk ke dalam latar belakang cerita zaman sandiwara radio tersebut.


3. Wiro Sableng 1995

Tayang setiap hari minggu di RCTI, sinetron Wiro Sableng membuat saya berasa jadi pendekar ketika selesai menonton.

Membuat ikat rambut putih dengan buku, mencoret dada dengan angka 212, hingga mempraktekkan jurus pukulan matahari yang iconik itu, sebenarnya pengin juga bikin kapak maut 212 tapi belum bisa.

Wiro sableng versi sinetron pernah diperankan oleh dua aktor, yaitu Ken Ken (Herning Soekendro) dan Abhie Cancer (Erdhityo Wibowo).

Lagu openingnya masih terngiang hingga sekarang dan jujur masih hafal lirik dan nadanya saking iconiknya.

Diangkat dari novel karya Bastian Tito, sebelumnya diadaptasi sebagai sinetron sudah lebih dulu dijadikan film layar lebar.

Wiro terlahir dengan nama Wira Saksana yang sejak bayi telah digembleng oleh gurunya yang terkenal di dunia persilatan dengan nama Sinto Gendeng. Senjata andalannya Kapak Maut Naga Geni 212 dan memiliki rajah "212" di dadanya. Wiro memiliki banyak kesaktian yang diperoleh dari berbagai guru selama petualangannya di dunia persilatan. 

Tahun 2017 yang kembali diremake dalam bentuk film layar lebar dengan pemeran Vino G Bastian, iya namanya sama dengan pengarang novelnya karena memang anaknya pak Bastian Tito.

Melihat Vino dengan kegilaannya memerankan Wiro Sableng seakan ia memang terlahir untuk memerankan karakter ini, tanpa bermaksud mengurangi apresiasi pada aktor lain yang pernah memerankan pendekar sinting ini.


4. Tutur Tinular rilis tahun 1997 dan 1999


Salah satu sinetron terbaik bertema laga pada masanya, membuat anak kecil sperti saya bercita-cita jadi Arya Kamandanu dengan pedang naga puspa.

Sinetron kolosal ini diproduksi oleh PT. Genta Buana Pitaloka atau Genta Buana Paramita. Serial ini disutradarai oleh Muchlis Raya dan skenario ditulis oleh Imam Tantowi.

Ditayangkan pertama kali pada tanggal 25 Oktober 1997 di ANteve Season 1 sebanyak 25 episode dan di Indosiar Season 2 tahun 1999 sebanyak 25 episode, keduanya meraih sukses besar dan kalau diperhatikan dari jumlah episode seperti formula yang digunakan drama korea genre Sageuk sesukses apapun kalau tamat ya tamat berbeda dengan pendekatan sinetron sekarang selama masih trending bisa sampai ribuan episode.

Bagian pertama berkisah tentang kehidupan awal Arya Kamandanu sampai peresmian Sanggrama Wijaya sebagai raja Kerajaan Majapahit. 

Sementara bagian kedua berkisah tentang pemberontakan Ranggalawe sampai pemberontakan Ra Kuti. Dengan demikian, serial sinetron Tutur Tinular merupakan visualisasi gabungan dua sandiwara radio, yaitu Tutur Tinular dan Mahkota Mayangkara.

Sinetron ini juga pernah mendapat penghargaan khusus di Festival Film Bandung tahun 1998.

Selain karakter Arya Kamandanu yang diperankan oleh Anto Wijaya, Tutur Tinular meninggalkan ingatan karakter lain seperti Arya Dwipangga kita kenal sebagai Pendekar Syair Berdarah, Murti Sari Dewi sebagai Sakawuni dan bibi Mei Shin yang diperankan oleh aktris asal Hong Kong Lie Yun Chin.


4. Misteri Gunung Merapi 1999

"Heh..heh..heh..heh..tunggu pembalasannku sembara..." 
tawa mak Lampir ini pernah menjadi mimpi buruk saat saya masih kecil, itu mengapa dahulu saya memutuskan untuk tidak mengikuti sinetron ini, baru beberapa tahun yang lalu ketika indosiar kembali meyiarkan ulang saat dini hari, sesekali saya tonton lagi sambil menunggu ngantuk.

Misteri Gunung Merapi adalah sinetron Indonesia yang diproduksi oleh Genta Buana Pitaloka. yang ditayangkan di Indosiar pada tanggal, 22 Januari 1999.

Seingat saya episode pertama, Mak Lampir dikunci di dalam sebuah peti mati bertuliskan ayat Alquran oleh Kyai Ageng Prayogo, murid Sunan Kudus yang diperintahkan oleh Sultan Raden Patah untuk membasmi bid'ah dan menghancurkan Mak Lampir yang jahat.

130 tahun kemudian, ketika sekelompok pria saat berburu babi hutan, keduanya menjelajahi gua dan menemukan peti Mak Lampir.

Mereka berdua mengira itu berisi peti harta karun, mencoba membukanya dan saling berkelahi memperebutkannya. 

Darah salah satu dari mereka menetes ke bibir Mak Lampir membuat penyihir itu bangkit dan menyatakan akan balas dendam kepada keturunan Prayogo yang mengurungnya dahulu kala.

Pahlawan dalam sinetron Misteri Gunung Merapi adalah pemuda bernama Sembara diperankan oleh Marcelino, ditemani sohibnya yang lucu bernama Basir diperankan Syamsul Gondo.

Mereka berdua dalah murid kiyai Jabat, Sembara punya senjata sakti bernama Cemeti Amal Rasuli berwujud cambuk. Tugasnya menumpas mak Lampir dan menyelamatkan gadis keturunan Ki Prayogo bernama Farida yang jadi love interestnya Sembara.

Dalam peejuangannya Sembara kadang dibantu oleh Siluman Kumbang.


5. Angling Dharma 2000

Sebelum menonton versi sinetron, saya sudah pernah menyaksikan kisah Angling Dharma dalam pagelaran Kethoprak yang kala itu ditayangkan oleh TVRI stasiun Yogyakarta.

Angling Dharma merupakan sebuah sinetron kolosal produksi Genta Buana Pitaloka yang ditayangkan di Indosiar pada tanggal, 3 Februari 2000 dan berakhir pada tanggal, 16 November 2005. 

Pemain utama di sinetron ini ialah Anto Wijaya, Candy Satrio, Rahma Azhari, Roy Jordy, Choky Andriano, Yuni Sulistyawati dan masih banyak lagi.Sinetron ini juga pernah meraih penghargaan sebagai drama seri laga terfavorit di Panasonic Awards 2002 & sinetron laga terpuji di Festival Film Bandung tahun 2004.

Kemudian ditayangkan ulang di TV7 pada tanggal, 14 Mei 2006, ANTV pada tanggal, 11 Mei 2008, Acara ini ditayangkan oleh Indosiar mulai hari Kamis, 15 April 2010 jam 18.00 WIB, di Rajawali Televisi pada tanggal, 16 Juli 2016, dan Acara ini ditayangkan oleh OKTV mulai hari Sabtu, 10 April 2021 jam 22.30 WIB.

Anto Wijaya di sini agak gemukan tak lagi selangsing saat berperaan sebagai Arya Kamandanu di Tutur Tinular, namun wibawanya sangat terasa sebagai prabu Angling Dharma, gaya bertarungnya mirip Steven Seagel yang nir effort namun bisa menghempas lawan-lawannya.

Kesuksesan sinetron Angling Dharma membuat masa kanak-kanak saya ingin punya ajian Rengkah Gunung milik Sudawirat.

Secara harfiah, ajian rengkah gunung artinya meretakkan gunung. Bayangin guys, gunung saja bisa retak akibat pukulan ajian ini, apalagi cuma tubuh manusia, Tentu langsung tewas, kecuali punya kanuragan lebih.

Waktu kecil saya dan teman-teman sering menirukan Sudawirat mengeluarkan ajian rengkah gunung, dimulai dengan mengambil jarak dari target sasaran musuh, ambil ancang-acang, mengatur napas, dan menghentakkan tangan di tanah.

Membayangkan dalam waktu sekejap, sukma (bukan arwah atau roh) akan keluar menuju target sasaran. Telapak tangan sukma kemudian dipukulkan pada dada target atau musuh. Seketika, musuh langsung meledak, luka dalam, keluar darah matang, dan gosong.

Selain Rekah Gunung adapula ajian iconik lain yaitu Pancasona, pemilik ajian ini tidak akan mati selama tubuhnya masih menyentuh bumi serta terpapar angin dan setiap terluka akan segera pulih kembali seperti sediakala.

Dalam sinetron Prabu Angling Dharma Pancasona dimiliki oleh Sudawati, ia mendapatkan ajian ini setelah bertapa, tidak makan tidak minum hingga ditemui dengan Bathara Wisnu yang dipanggil dengan nama Romo Pangeran. Sudawati meminta petunjuk untuk mengalahkan ajian rengkah gunung yang dimiliki oleh antagonis Durgandhini dan Sudawirat yang secara sewenang-wenang menggunakan ajian tersebut untuk kejahatan.

Salah satu korbannya adalah Maha Sura dan anaknya, Galuh. Sudawati, istri Maha Sura tidak terima suami dan anaknya dibunuh dengan ajian rengkah gunung hingga tewas secara mengenaskan.

Satu lagi yaitu ajian Rawa Rontek, ajian ini dimiliki oleh karakter Priyamitra digunakan saat melawan Sudawirat, dengan ajian Rawa Rontek Priyamitra berhasil menyembuhkan dirinya walau sudah gosong terkena ajian Rekah Gunung Sudawirat, konon untuk membunuh pemilik ajian Rawa Rontek empunya harus di penggal dan dipisah antara kepala dan tubuhnya, karena selama masih menyentuh tanah akan bisa bangkit kembali.

Karekter lain yang jadi idola adalah Suliwa, berawal dari tabib dengan ilmu pengobatan yang manjur tapi culun berubah jadi pendekar sakti yang pelan-pelan menggeser karisma Angling Dharma sendiri.

Adegan laga, kisah instrik yang dihadirkan sinetron Angling Dharma asyik diikuti, kalau versi naskah asli seperti dalam pementasan kethoprak mungkin hanya butuh beberapa episode, karena penambahan karakter sinetron ini akhirnya berjumlah 288 episode, walau tanpa lagu opening namun scorring atau musik latar sinetron angling dharma ini khas banget.


6. Karmapala 2002

Jujur, karya Genta Buana Paramita yang paling epik dalam hal koreografi pertarungannya Karmapala ada diurutan nomer 1.

Sinetron yang menganggkat kisah Ramayana (Rama Shinta) dan Mahabarata (Pandwa Lima) ini digarap dengan peningkatan kualitas yang signifikan dari sinetron-sinetron laga sebelumnya.

Walau sebagai penonton secara keseluruhan kisahnya kita sudah tahu setiap bagian dan endingnya karena sering mainkan lewat wayang kulit, namun interprestasi Imam Tantowi seagai penulis skenario sangat unik dan disajikan dengan menarik.

Dua seri Karmapala berhasil mengusung sinetron kolosal yang penuh dengan adegan laga yang dinantikan setiap episodenya.

Sisi akting para pemerannya yang kebanyakan sudah kita kenal lewat Angling Dharma juga mengalami peningkatan, sperti karakter Subali yang diperankan oleh Coky Andriano, Sugriwa oleh Irman, Rahwana oleh Rivaldo, sri Rama oleh Roy Jordy dan Shinta oleh Jill Carissa.


Itu tadi sobat Campusnesia. Nostalgia bersama 6 Sinetron Laga Asli Indonesia yang Tidak Kalah dengan Drama Sageuk asal Korea

Mana judul sinetron favortimu? dan kenangan apa yang masih terngiang bagi kalian? share di kolom komentar ya.


Penulis: Nandar

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »