Makalah Sejarah Indonesia Pahlawan Nasional Abdul Rahman Saleh


 

Campusnesia.co.id -- Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan makalah ini dengan baik walaupun jauh dari kesempurnaan dimana tugas ini disusun dan diajukan untuk memenuhi tugas mata pelajaran ‘Sejarah’.


BAB I PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Abdulrahman Saleh, lebih dikenal dengan nama julukan 'Karbol' ini lahir di Jakarta, 1 Juli 1909. Bergelar Prof. dr. SpF, Marsekal Muda Anumerta, Abdulrahman Saleh adalah tokoh Radio Republik Indonesia, dan juga bapak fisiologi kedokteran Indonesia.

RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana profil Abdul Rahman Saleh?
2. Bagaimana riwayat masa kecil Abdul Rahman Saleh?
3. Bagaimana keaktifan dan militer Abdul Rahman Saleh?
4. Bagaimana biografi TNI AU Abdul Rahman Saleh?
5. Bagaimana akhir hidup Abdul Rahman Saleh?

TUJUAN PENULISAN
1. Untuk mengetahui profil Abdul Rahman Saleh
2. Untuk mengetahui riwayat masa kecil Abdul Rahman Saleh
3. Untuk mengetahui keaktifan dan militer Abdul Rahman Saleh
4. Untuk mengetahui biografi TNI AU Abdul Rahman Saleh
5. Untuk mengetahui akhir hidup dari Abdul Rahman Saleh

BAB II PEMBAHASAN

1.PROFIL ABDUL RAHMAN SALEH
Abdulrahman Saleh adalah pahlawan Indonesia yang lahir di Jakarta, 1 Juli 1909. Ia dikenal
memiliki banyak talenta, sebagai dokter, ahli ilmu faal, perintis teknologi radio, dan sekaligus
perintis penerbangan Indonesia.

Dalam bidang medis, ia dikenal sebagai sosok yang ahli dalam ilmu fisiologi. Ilmu ini
merupakan salah satu cabang ilmu dari biologi. Ilmu faal mempelajari berlangsungnya
kehidupan. Dalam ilmu ini ada beberapa metode yang musti dikuasai peminatnya, yakni metode untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan dalam menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya dalam mendukung kehidupan.

Ilmu ini dikuasai oleh Abdulrahman Saleh dari Universitas Indonesia, pada 5 Desember 1958.
Karena keahliannya ia diberi gelar sebagai Bapak Ilmu Faal Indonesia. Dengan demikian,
Abdulrahman Saleh adalah seorang anggota dokter yang bergelar Prof. Dr. Sp. F.

2. RIWAYAT MASA KECIL ABDUL RAHMAN SALEH
Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909 di Jakarta. Pada masa mudanya, beliau bersekolah di HIS ( Sekolah rakyat berbahasa Belanda atau Hollandsch Inlandsche School ) MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs ) atau saat ini SLTP, AMS ( Algemene Middelbare School ) kini SMU, dan kemudian selanjutnya di teruskannya ke STOVIA ( School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen ). 

Karena ketika itu STOVIA dibubarkan sebelum beliau  menyelesaikan studinya di sana, maka beliau meneruskan studinya di GHS ( Geneeskundige Hoge School ), semacam sekolah tinggi dalam bidang kesehatan atau kedokteran. Ayahnya, Mohammad Saleh, tidak pernah memaksakannya untuk menjadi seorang dokter, karena ketika hanya ada STOVIA saja. Pada saat beliau masih menjadi seorang mahasiswa, beliau sempat giat dalam berpartisipasi dalam berbagai organisasi seperti Jong Java, Indonesia Muda, dan KBI atau Kepanduan Bangsa Indonesia.

3. KEAKTIFAN KEDOKTERAN DAN MILITER
Setelah ia mendapat ijazah dokter, ia mendalami pengetahuan pengetahuan faal. Setelah itu ia mengembangkan pengetahuan faal ini di Indonesia. Oleh karena itu, Universitas Indonesia pada 5 Desember 1958 menetapkan Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Pengetahuan Faal Indonesia.

Ia juga aktif dalam perkumpulan olah raga terbang dan berhasil mendapat ijazah atau surat
izin terbang. Selain itu, ia juga memimpin perkumpulan VORO (Vereniging voor Oosterse Radio Omroep), sebuah perkumpulan dalam aspek radio. Maka setelah kemerdekaan diproklamasikan, ia menyiapkan sebuah pemancar yang disebut Siaran Radio Indonesia Merdeka. Melewati pemancar tersebut, berita-berita tentang Indonesia terutama tentang proklamasi Indonesia dapat disiarkan sampai ke luar negeri. Ia juga berperan dalam mendirikan Radio Republik Indonesia yang berdiri pada 11 September 1945.

Setelah menyelesaikan tugasnya itu, ia beralih ke aspek militer dan memasuki dinas Tingkatan Udara Ia diangkatkan menjadi Komandan Pangkalan Udara Madiun pada 1946. Ia ikut mendirikan Sekolah Teknik Udara dan Sekolah Radio Udara di Malang. Sebagai Angakatan Udara, ia tidak melalaikan profesinya sebagai dokter, ia tetap memberikan kuliah pada Perguruan Tinggi Dokter di Klaten, Jawa Tengah.

4. BIOGRAFI TNI AU ABDUL RAHMAN SALEH
Abdulrachman Saleh dilahirkan dari keluarga dokter yang mempunyai disiplin dan pendidikan yang sangat kuat. Tepatnya Abdulrachman Saleh dilahirkan pada tanggal 1 Juli 1909, di kampung Ketapang (Kwitang Barat) Jakarta. 

Dan sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa dia, pemerintah belakang menetapkan nama perlintasan tersebut menjadi perlintasan dr. Abdulrachman Saleh. Ayah dia, dr. Mohammad Saleh bersumber dari Salatiga dan beristrikan seorang gadis Jakarta yang bernama Ismudiati. Dia lulus menjadi dokter seangkatan dengan dr. Sutomo tokoh nasional pendiri Budi Utomo. Dr. Mohammad Saleh juga termasuk noda satu pendiri organisasi Boedi Oetomo. 

Dr Moh. Saleh ini sering beralih lokasi seiring keaktifan organisasi Boedi Oetomo-nya. Sampai pada sebuah masa ia memutuskan bagi menetap di Probolinggo dan semakin berkonsentrasi bagi keaktifan dokternya. Dan disinilah ia memainkan pekerjaan sebagai dokter praktek di rumahnya (sekaligus bagi mengelabui Belanda). 

Namun sebenarnya rumah ini juga menjadi rumah sakit dadakan dan menjadi gudang pemasok obat-obatan bagi para gerilyawan pejuang kemerdekaan Indonesia. Bermodalkan istri seorang saudagar pintar dan kaya, dan juga halaman belakangan rumah luas yang menjadi kebun tanaman obat (karena sulitnya memperoleh obat di Jaman Jepang) ia sering memberikan pelayanan kesehatan kepada rakyat sekitar Probolinggo, mengobati, menyelamatkan hidup dan memasok obat-obatan ke para gerilyawan ini dengan gratis. 

Nama Mohammad Saleh diketahui sebagai seorang dokter yang sosiawan di kalangan masyarakat, terutama masyarakat kota Probolinggo. Karena itulah namanya menjadi nama rumah sakit dan noda satu nama perlintasan utama di Probolinggo (nama perlintasan di hadapan rumah tersebut, yaitu perlintasan dr. Moh. Saleh, masyarakat sekitar semakin mengenal dengan nama perlintasan Dokter Saleh). 

 Sejak kecil Abdulrachman Saleh dan saudara-saudaranya selalu dalam hasil mendidik ayah bunda dengan penuh kasih sayang, tetapi mereka juga dibiasakan hidup tertib dan serba mandiri. Keluarga Mohammad Saleh yaitu keluarga akbar, sebelas orang putranya, dua berpulang waktu sedang anak-anak dan sekarang hanya tinggal sembilan orang. 

Putra dan putri keluarga Saleh mendapat hasil mendidik disiplin yang kuat, sampai-sampai pada makanpun sangat menjadi perhatian bagi keluarganya bagi pertumbuhan badan putra putrinya. Pengetahuan yaitu prinsip utama bagi hari hadapan mereka. 

Buah menggembirakan yang dia peroleh sebagai hasil jerih payah mendidik dan memberi disiplin kepada putra-putranya. Memang hasil dari pendidikan dan pengajaran yang ditanamkan di hati setiap putra-putranya membuktikan kenyataan bahwa ketujuh putra-putranya kesemuanya menjadi orang yang bermanfaat bagi masyarakat. 

Maman, demikian panggilan Abdulrachman, dari waktu ke waktu setiap hari hampir tiada waktu yang terbuang tidak berjasa, setiap waktu yang mempunyai selalu dimanfaatkan bagi mengetahui sesuatu. 

Putra ini mewarisi sifat ayahnya yang mempunyai sifat periang dan adil hati. Sejak kecil Maman dijiwai hidup dan sifat serba mau tahu terhadap sesuatu yang sangat menonjol. Setiap mainan pemberian orang tuanya selalu mau dibongkarnya, dan senantiasa bagian-bagian mainan yang telah berserakan tidak menentu, dapat dipasangnya kembali. Hal ini sering menimbulkan kesal pada orang tuanya karena mainan yang baru tidak pernah dibiarkan utuh dalam keadaan semula. Pembawaan sifat serba mau tahu yang dipunyai sejak kecil, kelak menjadi dasar bagi berhasil dalam hidupnya, sehingga menjadi tokoh yang all round.

Ketika belum sekolah Maman kecil lokasi tinggalnya berpindah-pindah, karena keluarga Saleh mendarmabaktikan pengetahuannya kepada masyarakat dari kota yang satu pindah ke kota yang lain. Tenaga dokter waktu itu sangat dibutuhkan dan banyaknya sangat sedikit sekali jika dibandingkan masyarakat yang membutuhkan, karena tidak keadaan keseimbangan selang penderita dan dokter-dokter pribumi maka keluarga Saleh selalu berpindah-pindah. 

Semula dari Jakarta dipindahkan ke Boyolali, Jawa Tengah, tidak lama menduduki kota ini keluarga Saleh menuju Kolonedale, Sulawesi Tengah disusul lagi kepindahannya ke Bondowoso, Pasuruan, Probolinggo.

Beruntunglah Maman yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang berpandangan luas dan jauh ke hadapan, oleh karena itu persoalan pendidikan menjadi hal yang utama dalam keluarga tersebut. Pendidikannya dimulai dengan Holland Indische School (HIS), Meer Urgebreid Lagere Onderwijs (MULO). Setelah lulus MULO maksudnya mau melanjutkan studinya ke School Tot Opleding van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta, bagi mengikuti jejak ayahnya. Akan tetapi baru beberapa bulan ia masuk STOVIA, sekolah itu dibubarkan.
 
Pemerintah Belanda beranggapan bahwa dasar sekolah ini kurang memenuhi syarat-syarat,
karena bagi menjadi dokter dibutuhkan dasar yang kuat dari Algemene Middelbare School (AMS). Sekolahnya terpaksa dilanjutkan ke AMS Malang. Kecerdasan dan daya menghadapi sesuatu, yaitu modal bagi kelancaran pelajarannya, sehingga Maman terkenal anak yang bijak di kelasnya.

Mengikuti Jejak Orang Tua Sebagai seorang dokter, bapak Mohammad Saleh tentu menginginkan putra dia melanjutkan citacita dan jejak dia. Ditambah pula sekeliling yang terkait dan nilai-nilai sekolah semakin mendorong pemuda Abdulrachman bagi terjun dalam aspek kedokteran. Kegagalannya di STOVIA tidak menghambat cita-citanya. Setelah menamatkan AMS dengan nilai-nilai yang gemilang, ia memasuki Geneeskundige Hooge School (GHS) di Batavia. 

Masa-masa kemahasiswaannya, tidak disia-siakan begitu saja. Dia aktif di aspek kemahasiswaan, begitu pula kegiatan-kegiatannya di luar fakultas. Ia bukan seorang mahasiswa yang berjiwa text-book thinker. Jiwanya yang serba mau tahu mendorongnya bagi menyeburkan diri dalam organisasi-organisasi atau perkumpulan-perkumpulan yang sangat sesuai bagi dirinya.

Bakatnya di aspek olahraga sangat akbar. Waktu luang diisinya dengan kegiatan-kegiatan dalam organisasi keolahragaan, dimana ia dapat memupuk bakatnya. Maman pernah menjadi anggota Indonesia Muda. Dalam perkumpulan ini ia terjun dalam aspek olahraga atletik, berlayar, dan anggar. Di samping perkumpulan olahraga, perkumpulan yang bersifat sosial juga tidak luput dari perhatiannya. Sebelum masuk dalam Kepanduan iapun menggabungkan diri dalam persatuan pemuda Jong Java yang bersifat kedaerahan dan ikut aktif pula di dalamnya.

Ketika Indonesische Padvinderij Organisatie (INPO) berdiri, ia bergabung dalam perkumpulan itu. Pada tahun 1952 INPO beralih nama menjadi KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Peleburan ini dimainkan bagi mengganti nama Belanda dengan nama Indonesia.

Organisasi Kepanduan inipun menuntut segenap perhatiannya. Di kalangan KBI ia disayangi karena keramahan dan keuletannya, dan juga disegani oleh anggota-anggota lainnya karena sifatnya yang disiplin. Yang belakang sekalinya ia menjadi seorang pemimpin yang berwibawa dalam Kepanduan. Bakat-bakat kepemimpinanannya kelihatan semakin nyata. 

Dengan sifat yang tegas dan progresif sebagai pemimpin, Maman juga sanggup memberantas segala sesuatu yang kurang adil dalam organisasi Kepanduan. Hal-hal yang tidak pada lokasinya selalu diusahakan bagi menjadi semakin teratur. Ia juga tidak segan-segan mengoreksi sesama kawan yang menyeleweng atau kurang disiplin. 

Bagi ini teman-teman sekepanduan semakin menyukai menyebut pemuda Abdulrachman dengan Karbol. Karbol asalnya dari Krullebol yang waktu perpeloncoan disebut Karbol.

Sebelum Perang Dunia II, mempunyai sebuah Aeroclub di Jakarta berlokasi di Kemayoran yang yaitu perkumpulan olahraga terbang. Anggotanya beberapa akbar hanya terdiri dari bangsa Belanda. 

Biaya bagi masukpun dalam perkumpulan tersebut sangat tinggi, sehingga pemudapemuda Indonesia banyak yang tidak mampu menjadi anggota. Aspek penerbangan ini mulai menarik baginya. Berkat kemauannya yang keras, dan semangat pantang mundur dalam berlomba dengan pemuda-pemuda Belanda, yang belakang sekalinya brevet terbang dapat didapatnya.
 
Selama masa kemahasiswaan yang dilaluinya dari tahun ke tahun, di samping berupaya dapat bagi menjadi dokter, ia juga mengembangkan keterampilannya dalam bidang-bidang lain sehingga ia sungguh-sungguh menjadi orang yang all round.
 
Telah menjadi tradisi bagi keluarga dr. Saleh yang menurun dari ayah kepada putra-putranya, bahwa sebelum mengakhiri masa berupaya dapatnya, mereka telah melangsungkan perkawinan terlebih dahulu. Pada tahun 1933, Maman memasuki kehidupan berumah tangga dengan gadis pilihannya bernama Ismudiati, seorang pendidik yang bersumber dari Purworejo. Perkenalannya dimulai di rumah Dr. Mardjono di Probolinggo, dari perkawinan ini lahirlah dua orang putra yang bernama Pandji Saleh dan Triawan Saleh.
 


Setelah mendapat gelar dokter, ia memperdalam pengetahuannya di aspek pengetahuan faal. Dokter muda ini termasuk mahasiswa yang bijak, sehingga terpilih menjadi asisten dalam pengetahuan faal, mula-mula dosen pada NIAS - Surabaya, dan yang belakang sekalinya iapun menjadi dosen pada Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta, dan belakang menjadi guru akbar di Klaten sampai wafatnya.
 
Pendiri Radio Republik Indonesia (RRI)
Pada tahun 1934 berdirilah perkumpulan yang menamakan dirinya Vereniging voor Oosterse Radio-Omroep (VORO) di mana noda satu pelopor dari perkumpulan tersebut yaitu dr. Abdulrachman Saleh. Tujuan perkumpulan ini menyiarkan kesenian-kesenian ketimuran. 

VORO mempunyai pemancar sendiri berketetapan 40 Watt dengan gelombang 88 meter. Pada tahun 1936 pemimpin VORO beralih dari tangan Gunari ke tangan dr. Abdulrachman Saleh. Waktu itu VORO merasakan kemacetan dalam aspek keuangan, karena itu studio beralih lokasi mencari sewa yang semurah-murahnya. Mula-mula studio berlokasi di Kramat 81 belakang pindah ke perlintasan Menteng 20. Sejak tahun 1937-1942, kemajuan VORO bertambah akbar, ini berkat keaktifan dr. Abdulrachman Saleh yang akbar bantuannya dalam
aspek teknik dan keuangan.

Setelah Pearl Harbor di bom pada tanggal 7 Desember 1941, semua daerah Asia Tenggara secara berangsur-angsur beralih kekuasaannya ke tangan “Dai Nippon”. Indonesiapun sebagai daerah yang strategis letaknya, lagi pula kaya akan bahan-bahan mentah tidak luput menjadi yang akan menjadi batu loncatan bagi Jepang bagi menyerbu Australia. Pemerintah Belanda di Indonesia diambil alih oleh Balatentara Jepang. Pada masa Jepang dr. Karbol memainkan pekerjaan sebagai pengajar pada Perguruan Tinggi Jakarta. Keaktifannya di luar perguruan tinggi pada masa Jepang, ikut dengan mahasiswa-mahasiswa dalam latihan militer PETA (Pembela Tanah Air) Jakarta.

Tanggal 14 Agustus 1945 yaitu masa kekalahan Jepang setelah merasakan pemboman atom
di Hirosima. Kekalahan Jepang berjasa akibatnyanya penjajahan dan penindasan bangsa lain
terhadap bangsa Indonesia. Pemuda bersama semua rakyat bangunan melucuti sisa-sisa tentara asing yang sedang tinggal. 

Tidak ketinggalan pemuda-pemuda pegawai Kantor Radio Jepang juga merasa wajib bagi ikut berjuang dan membentuk sebuah gerakan rahasia bagi menduduki kantor itu karena radio yaitu mass media yang utama. Gerakan ini diketahui oleh Kempetai (dinas rahasia Jepang), sehingga proklamasi kemerdekaan yang diucapkan atas nama SukarnoHatta pada tanggal 17 Agustus 1945 pada pukul 10 pagi, tidak dapat langsung disiarkan. Penyiaran proklamasi terpaksa tertunda bagi beberapa jam lamanya.

Bagi dapat menyiarkan proklamasi kemerdekaan terpaksa pegawai-pegawai radio bidang teknik termasuk Pak Karbol menyalurkan siarannya melewati pemancar yang bergelombang 16 meter, yang berada di Bandung. Pemancar ini telah persangkaan lama tidak digunakan, dahulu pemancar tersebut digunakan oleh Markas Balatentara Jepang bagi memberi instruksi-instruksi kepada tentaranya yang tersebar luas di semua pelosok Indonesia. 

Penggunaan siaran gelap ini diketahui oleh Pemimpin Kantor Radio bangsa Jepang. Dua orang Indonesia dimohon pertanggungan jawabnya, yaitu Bachtiar Lubis dan Jusuf Ronodipuro.

Ketika bersua dengan pemuda Jusuf Ronodipuro pada tanggal 18 Agustus 1945 menceritakan bahwa Hosokkyiku (pusat siaran radio pendudukan Jepang di perlintasan Merdeka Barat) ditutup, dia bertekad membikin radio siaran nasional. Pemancar berketetapan 100 Watt segera diciptakan dari ruang Laboratorium Pengetahuan Faal, sejak tanggal 22 Agustus 1945 berkumandanglah “The Voice of Free Indonesia” atau “Radio Suara Indonesia Merdeka”. 

Siaran ini dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Siaran Suara Indonesia Merdeka inilah yang menyiarkan pidato Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia bagi pertama kalinya pada tanggal 25 Agustus 1945 dan Wakil Presiden Republik Indonesia Bung Hatta pada tanggal 29 Agustus 1945.
 
Belakang penyiaran ke luar negeri melewati pemancar di Bandung bagi kedua kalinya dibubarkan atas perintah Markas Akbar Tentara Sekutu di Timur Jauh. Kebutuhan bagi menyelenggarakan penyiaran ke luar negeri dirasakan sangat akbar gunanya, karena keadaan berbagai faktor yang menghalangi berupa larangan penyiaran terpaksa siaran-siaran dimainkan di luar studio. 

Dipelopori oleh dr. Abdulrachman Saleh disiapkanlah pemancar-pemancar secara ilegal. Berkat keahliannya dalam aspek teknik, tidak lama belakang siaran radio kita dapat mengudara dengan nama Radio Indonesia Merdeka dengan gelombang 85 meter, lokasinya di sebuah Gedung di Jl. Mentang Raja Jakarta. 

Belakang dengan berstudio di Perguruan Tinggi Kedokteran di Salemba 6 (kini Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia), mulai memancarlah siarannya di angkasa : Siaran Radio Indonesia Merdeka ke luar negeri dengan call : This is the Voice of Free Indonesia. Waktu itu Balatentara Jepang dengan perasaan geram mencari-cari sumber siaran kita di luar studio, namun usaha mereka tidak pernah berhasil.
 

Semua ini dapat berhasil dengan adil berkat jerih payah dan daya upaya Pak Abdulrachman Saleh, yang sebenarnya bukan seorang pemimpin dari Djawatan Siaran Radio. Tetapi karena wataknya yang ringan tangan dan demi bagi kemerdekaan negara ia mencurahkan tenaga dan ingatannya kepada perjuangan di aspek radio. Dan berkat bimbingan Pak Karbol dengan dibantu oleh para aktivis radio, dapatlah disusun dasar-dasar dari Radio Republik Indonesia pada tanggal 11 September 1945. Terkenal sebagai Tri Prasetya RRI yang yaitu testament Prof. Dr. Abdulrachman Saleh. Dan terkenallah semboyan RRI menantang segenap musuh revolusi : Sekali di udara tetap di udara.

Peran sebagai insan radio ini membawa Profesor dr. Abdulrachman Saleh sebagai ketua organisasi Radio Republik Indonesia. Ketika stasiun radio stasiun radio telah pindah kembali ke Jl. Merdeka Barat organisasinya telah mencakup sepuluh stasiun yaitu :
- Stasiun Jakarta (Pusat)
- Stasiun Bandung
- Stasiun Jogyakarta
- Stasiun Semarang
- Stasiun Surakarta
- Stasiun Purwokerto
- Stasiun Surabaya
- Stasiun Madiun
- Stasiun Kediri
- Stasiun Magelang

Dalam pertemuan pada tanggal 10 September 1945 di kediaman pemuda Adang Kadarusman beberapa keputusan yang mendasar selang lain, 11 September 1945 dipastikan sebagai berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI). Tri Prasetya RRI, yaitu sumpah pegawai RRI kepada Republik Indonesia dan menjaga RRI sebagai alat perjuangan bangsa. Belakang organisasi semua radio tunduk kepada pusat yang diketuai oleh Profesor dr. Abdulrachman Saleh.
 
Setelah siaran-siaran RRI lancar, Pak Karbol merasa bahwa telah tiba masanya dia mempelopori perjuangan di aspek lain. Dia lalu mengundurkan diri dari aspek radio dan masuk ke dalam Tentara Republik Indonesia bagi membentuk Tingkatan Udara Nasional bersama-sama dengan Adi Sutjipto, seorang kesan murid Pak Karbol di Perguruan Tinggi Kedokteran Jakarta.

Mengabdi di AURI (Tingkatan Udara RI) Setelah Indonesia merdeka dia mengalihkan perhatiannya pada perjuangan di aspek kedirgantaraan, dengan memilih berjuang ke AURI. Pada masa AURI sedang dalam pertumbuhan, dia bersama perintis Tingkatan Udara lainnya tidak mengenal lelah dan gentar bagi mengembangkan kejayaan sayap tanah cairan. Dalam tahun 1947 ketegangan selang Pemerintah Indonesia dan pihak kolonialis Belanda semakin lama semakin memuncak.
 
Untunglah bahwa pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1945 telah membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang belakang mempunyai Djawatan Penerbangan. Nama TKRI itu belakang diganti dengan nama Tentara Republik Indonesia (TRI) dan Djawatan Penerbangan dengan Dekrit Presiden pada tanggal 9 April 1946 menjadi TRI Tingkatan Udara. Pucuk pimpinannya dipegang oleh Komodor Udara (sekarang Laksamana) S. Suryadarma dan Wakil I Komodor Sukarnen Martokoesoemo, Wakil II Komodor Muda Udara Adisutjipto. 

Tugas yang dibebankan kepada anggota-anggota TRI Tingkatan Udara tidaklah ringan, terutama pada aspek pembangunan dan pembentukan penerbangan militer. Juga usaha merintis perlintasan ke arah penerbangan sipil dalam keadaan darurat tidak dapat dianggap enteng.

Kebutuhan akan tenaga pandai sangat kurang, ditambah pula pesawat terbang yang tersedia yaitu barang-barang rongsokan, kesan pesawat terbang Jepang. Demikian pula keadaannya dengan penerbang-penerbang Indonesia, hanya mempunyai beberapa gelintir saja. Dari beberapa gelintir penerbang-penerbang Indonesia ini, tenaganya dimohon bagi ikut membentuk Tingkatan Udara. Sebagai mantan penerbang olahraga sebelum Perang Dunia ke II, Pak Karbol tidak ketinggalan menyumbangkan darma baktinya bagi bangsa dan tanah cairannya.

Di Yogyakarta Pak Karbol berupaya dapat mengemudikan pesawat Cureng bersayap dua, dan Adisutjipto berperan sebagai instrukturnya. Dipelajarinya tipe-tipe pesawat lain ditengahnya Glider, Hajabusya, dan Bomber. Pesawat-pesawat tersebut keseluruhan yaitu pesawat yang dibebaskan Jepang di Yogyakarta, yang mesin-mesinnya diperbaiki sendiri oleh dia. Banyak pesawat-pesawat rongsokan Jepang yang telah rusak diperbaikinya sehingga dapat digunakan lagi oleh AURI.
 
Bagi beberapa waktu lamanya dia tinggal di Yogyakarta menjadi instruktur penerbang pembantu Adisutjipto. Tidak lama belakang pada tahun 1946 tugasnya dipindahkan bagi menjabat sebagai Komandan Pangkalan Udara Maospati (Madiun) dan tinggal di Malang.

Ketika tinggal di Madiun putra kedua kelahiran. Pemberian nama bagi putra kedua
berdasarkan kenang-kenangan masuknya dia ke TNI Tingkatan Udara. Nama Tri dan Awan menjadi Triawan. Sifat “air minded” yang dia miliki kelihatan nyata, sampai-sampai putranya diberi nama demikian.
 
Satu kelucuan lagi dalam sifat dr. Abdulrachman yaitu sewaktu kepindahan dia dari Madiun
ke Malang disertai oleh keluarga. Dengan menaiki Cureng, putra Triawan yang sedang bayi
ditempatkan di koper kecil, bagi menghemat lokasi dalam pesawat. Disini kelihatan sifat dia
sejak kecil yang selalu sederhana dan praktis.

Di Malang, Abdulracman mendirikan Sekolah Teknik Udara yang pertama, di Madiun juga membentuk Sekolah Radio Udara. Tenaga dia sangat dibutuhkan dimana-mana, selain aspek penerbangan, aspek teknik, aspek militer, juga aspek kedokteran. Perguruan Tinggi Kedokteran di Jakarta yang selama Clash I telah dipindahkan ke Klaten, membutuhkan tenaga guru akbar.

Bagaimana mungkin dia yang tinggal di Malang wajib mengajar setiap hari ke Klaten yang jaraknya cukup jauh. Bagi memainkan tugas mengajar di Klaten dia memakai pesawat Hayabusha dengan diterbangkan sendiri melewati Pangkalan Udara Maospati.
 
Di sini kita jumpai lagi kepraktisannya dalam kehidupannya setiap hari. Bagi memudahkan tugasnya apabila mempunyai persoalan penting yang wajib dia selesaikan di Madiun, dipasang sebuah tanda oleh ajudannya yang mempunyai di Pangkalan Udara Maospati. Sebaliknya apabila Pak Karbol mau menugaskan sesuatu, dia tinggal melemparkan secarik kertas dengan pesanpesan pada ajudannya. Jika tidak ditemuinya tanda-tanda, perjalanan dilanjutkan ke Pangkalan Udara Panasan dan dari sini dengan mengendarai sepeda motor.
 
Mempunyai sebuah perihal berlakunya istimewa yang mungkin hanya dapat terjadi pada diri dia saja. Ketika dia mendarat di Maguwo, dengan kereta api menuju ke Klaten, tiba-tiba kereta api selesai di tengah perlintasan, lokomotifnya mogok. Tidak segan-segan dia segera turun tangan membetulkan mesinnya yang rusak sehingga kereta dapat meneruskan perjalanan dengan selamat sampai di Klaten. Contoh ini yaitu cermin bagi kita betapa dr. Abdulrachaman Saleh benar-benar memainkan asas “ilmu bagi amal”. Dalam kehidupannya  ia sangat sederhana dalam segala hal, tidak mempunyai padanya sifat-sifat sombong. Hidupnya secara intensif dan penuh inisiatif yang menjadikan dirinya bermanfaat bagi keluarganya, masyarakat dan tanah cairan.

Gugur Bersama Pesawat Dakota VT-CLA
Menjelang bulan Juli 1947 dr. Abdulrachman Saleh bersama-sama dengan Adisutjipto mendapat tugas dari pemerintah bagi berkunjung ke luar negeri yaitu ke India. Tugas ini bagi mencari bantuan luar negeri berupa instruktur dan obat-obatan. Seorang industrialis India bernama Pat Naik meminjamkan pesawatnya macam Dakota bagi tugas mengangkut obat-obatan bagi PMI.

Dalam tugas ini terjadi peristiwa yang sangat menyakitkan bangsa Indonesia yang terjadi pada sore hari tanggal 29 Juli 1947. Pada hari itu bertolak dari Singapura pesawat Dakota India VTCLA ke Yogyakarta dengan membawa obat-obatan sumbangan dari Palang Merah Malaya bagi Palang Merah Indonesia. Pemberangkatan pesawat tersebut telah mendapat persetujuan pemerintah Inggris dan pemerintah Belanda.

Tanggal 28 Juli 1947 pers dan radio Malaya telah menyiarkan berita bahwa sebuah pesawat Dakota VT-CLA dengan muatan obat-obatan akan tiba keesokan harinya (29 Juli 1947) di Yogyakarta. Katanya telah mendapat persetujuan dari Pemerintah Belanda. Namun kenyataannya ketika pada siang hari menjelang sore pesawat udara yang mengangkut obatobatan ini mau mendarat di Pangkalan Udara Maguwo dari arah Utara muncul dua buah pesawat Mustang Belanda. 

Secara berulang-ulang peluru dimuntahkan ke arah pesawat Dakota VT-CLA, pesawat ini kehilangan ketinggian dan membikin pendaratan, ke arah Selatan kota Yogyakarta. Pesawat membentur pohon, patah menjadi dua dan terbakar, hanya bidang ekornya saja yang sedang utuh. Semua awak pesawat dan penumpang berpulang kecuali seorang penumpang yang kebetulan duduk di bidang ekor pesawat yang sedang hidup. Penumpangnya, temasuk dr. Abdulrachman Saleh, Adisutjipto, Adisumarmo Wiryokusumo, Zainal Arifin, pilotnya Alexander Noel Constantine (Wing Comander Australia), Squadron Leader Inggris Roy Hazelhurst, juru teknik India Bidha Ram dan Ny. Constantine, sedangkan yang selamat yakni Gani Handonotjokro.

Masyarakat Yogyakarta tidak menyangka sama sekali bahwa pesawat terbang tersebut berisi orang-orang penting yang membawa obat-obatan, mereka hanya mengira bahwa serangan itu memang sesuai dengan siasat musuh yang akan membom Yogyakarta. Di kalangan AURI mempunyai anggapan bahwa apabila pesawat tersebut dikemudikan oleh Pak Adisutjipto dan Pak Abdulrachman Saleh sendiri yang mengenali udara kubu-kubu musuh dan daerah-daerah di sekitar Yogyakarta dengan adil, mungkin tidak sampai terjadi peristiwa yang menyedihkan itu.

Tetapi bagaimanapun juga perihal berlakunya ini yaitu sebuah musibah yang sangat menyedihkan semua rakyat Indonesia, AURI khususnya. Betapa tidak, pahlawan-pahlawan pembina dan tulang punggung penerbangan kita telah tiada. Ini semua yaitu pengkhianatan Jenderal Spooe, yang secara biadab dan pengecut telah memerintahkan bagi menyerang pesawat Dakota VT-CLA macam angkut yang tidak bersenjata, sehingga tidak bertenaga bagi membela diri. Yang belakang sekalinya pesawat jatuh di desa Tamanan, kecamatan Banguntapan, tidak jauh desa Ngoto, Bantul, Yogyakarta.

Usaha ini memang sejak lama menjadi rencana Belanda yakni bagi melumpuhkan tenagatenaga inti dari penerbangan kita. Kota Yogyakarta berkabung dengan jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA, peti-peti jenazah ditempatkan berjejer di Hotel Tugu. Pada hari pemakaman, rakyat penuh sesak di sepanjang perlintasan Malioboro bagi memberi penghormatan bagi terakhir kalinya pada pahlawan-pahlawan penerbangan kita. Jenazah dr. Abdulrachman Saleh dimakamkan di pemakaman Kuncen, Yogyakarta.
 
Penghargaan Kepada Marsda TNI Prof. dr. Abdulrachman Saleh Sebagai rasa terima kasih AURI yang tidak terhingga atas jasa-jasa dia dan Komodor Muda Udara Adisutjipto yang ikut membina sayap tanah cairan, almarhum dianugerahi pangkat Admiral Muda Udara, dan ditempat jatuhnya pesawat dibangun tugu peringatan. Tepat pada hari ulang tahun Republik Indonesia, 17 Agustus 1952 AURI telah menetapkan Pangkalan Udara Bugis, Malang menjadi Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh.

Sebagai penghargaan budi pekerti yang bergunanya yang sangat akbar di aspek kedokteran umumnya dan bagi pengetahuan faal khususnya, maka Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, pada tanggal 5 Desember 1958 telah meresmikan dr. Abdulrachman Saleh sebagai Bapak Pengetahuan Faal Indonesia. Pada tanggal 16 April 1959 Presiden Sukarno berkenan memberikan Satyalencana Bintang Garuda kepada Ibu Abdulrachman Saleh, sebagai tanda terima kasih rakyat Republik Indonesia atas budi pekerti yang bergunanya. Penghargaan dan penghormatan yang selanjutnya juga telah diberikan pada tanggal 15 Pebruari 1961 oleh Presiden kepada Ibu Abdulrachman Saleh yakni Bintang Mahaputra.

Marsekal Muda Anumerta Prof. dr. Abdulrachman Saleh atau semakin diketahui dengan nama panggilan “Pak Karbol” yaitu noda satu di selang Pahlawan Pembina Tingkatan Udara Republik Indonesia yang serba bisa dan serba guna. Karena dia yaitu seorang penerbang dan pandai teknik radio, seorang guru akbar dalam pengetahuan kesehatan/ilmu faal, seorang bintang lapangan dalam olahraga, seorang pemimpin yang bijak, berwibawa dan jujur serta mendahulukan kebutuhan tugas negara di atas kebutuhan pribadi. 

Oleh karena itu Taruna Akademi Tingkatan Udara sangat perlu mengambil suri tauladan dari pahlawan tersebut dalam semangat, kepandaian dan pengorbanan. Bagi penghargaan, penghormatan dan pengabdian nama pahlawan udara tersebut, maka sesuai dengan Surat Keputusan Komandan Akademi Tingkatan Udara Nomor : 145/KPTS/AAU/1965 tertanggal 3 Agustus 1965 dianggap perlu nama “Pak Karbol” yang diberikan pada Taruna Akademi nama panggilan “Kadet” diganti dengan nama panggilan “Karbol”. Dalam perjalanan sejarah panggilan “Karbol” berubah menjadi “Taruna”, namun sebutan “Karbol” dikukuhkan kembali sebagai panggilan Taruna Akademi Tingkatan Udara berdasarkan Surat Keputusan Kasau Nomor : Skep/179/VII/2000 tanggal 18 Juli 2000.

Prof. dr. Abdulrachman Saleh bukan hanya milik TNI AU saja, tetapi dia yaitu milik bangsa Indonesia, maka telah selayaknya apabila dia menjadi sebagai suri tauladan dalam pengabdian kepada nusa, bangsa dan dipastikan sebagai pahlawan nasional berdasarkan Keputusan Presiden Nomor: 071/TK/1974 tanggal 9 November 1974 tentang Penetapan Pahlawan Nasional. Pada tanggal 14 Juli 2000 atas prakarsa Kepala Staf TNI AU Hanafi Asnan kerangka jenazah Bapak Abdulrachman Saleh dan Adi Sutjipto beserta istri dipindahkan ke lokasi lokasi jatuhnya pesawat VT-CLA. Lokasi tersebut dibangun menjadi monumen yang sangat megah sekaligus sebagai makam kedua tokoh TNI AU beserta istri dengan nama Monumen Perjuangan TNI AU sebagai pengganti nama Monumen Ngoto.

Jelaslah bagi kita mengapa tanggal 29 Juli yaitu Hari Berkabung bagi AURI. Sebab dengan gugurnya kedua pelopor Penerbangan Nasional, bangsa Indonesia telah kehilangan tenaga yang sangat akbar berjasa. Hari Berkabung itu belakang menjadi Hari Bhakti AURI, karena pahlawanpahlawan itu telah gugur dalam kebaktiannya kepada tanah cairan.
 
Berkat hasil serta semangat perjuangan dia di masa lampau, Prof. dr. Abdulrachman Saleh diakui sebagai pelopor bangsa pada berbagai aspek, merintis Pengetahuan Faal di Indonesia, ikut menyatakan suara RRI ke udara dan ikut menaruh dasar-dasar bagi Tingkatan Udara kita sampai dewasa ini semakin kuat, berkuasa di udara.

5.AKHIR HIDUP ABDUL RAHMAN SALEH
Ketika Belanda mengadakan agresi pertamanya, Adisutjipto dan Abdulrachman Saleh diperintahkan ke India. Dalam perjalanan pulang mereka mampir di Singapura untuk mengambil bantuan obat – obatan dari Palang Merah Malaya. Keberangkatan dengan menggunakan pesawat Dakota ini, memperoleh publikasi luas dari media massa dalam dan luar negeri.
 
Pada tanggal 29 Juli 1947, pada saat pesawat berencana kembali ke Yogyakarta dengan melalui Singapura, harian Malayan Times memberitakan bahwa penerbangan Dakota VT – CLA sudah mengantongi ijin pemerintah Inggris dan Belanda. Sore harinya, Suryadarma, rekannya baru saja tiba dengan mobil jipnya di Maguwo. Akan tetapi, pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P – 40 Kitty – Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat tersebut kehilangan keseimbangan dan juga menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.

Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto.  Abulrachman Saleh di makamkan di Yogyakarta dan beliau diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, pada tanggal 9 Nopember 1974. Pada tanggal 14 Juli 2000, atas prakarsa dari TNI – AU, makam Abdulrahman Saleh, Adisucipto, dan juga para istri mereka di pindahkan dari pemakaman Kuncen ke Kompleks Monumen Perjuangan TNI AU Dusun Ngoto, Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta.
 
Nama beliau kemudian diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI – AU dan Bandar Udara di Malang. Disamping itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum ( Medical and General Biology Competition ) disebut dengan Piala Bergilir Abdulrahman Saleh.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN
Abdulrahman Saleh adalah pahlawan Indonesia yang lahir di Jakarta, 1 Juli 1909. Ia dikenal memiliki banyak talenta, sebagai dokter, ahli ilmu faal, perintis teknologi radio, dan sekaligus perintis penerbangan Indonesia.
 
Dalam bidang medis, ia dikenal sebagai sosok yang ahli dalam ilmu fisiologi. Ilmu ini merupakan salah satu cabang ilmu dari biologi. Ilmu faal mempelajari berlangsungnya kehidupan. Dalam ilmu ini ada beberapa metode yang musti dikuasai peminatnya, yakni metode untuk mempelajari biomolekul, sel, jaringan, organ, sistem organ, dan organisme secara keseluruhan dalam menjalankan fungsi fisik dan kimiawinya dalam mendukung kehidupan.

Abdul Rahman Saleh meninggal karena pesawat yang ditumpanginya ditembak oleh dua pesawat P – 40 Kitty – Hawk Belanda dari arah utara. Pesawat tersebut kehilangan keseimbangan dan juga menyambar sebatang pohon hingga badannya patah menjadi dua bagian dan akhirnya terbakar.

Peristiwa heroik ini, diperingati TNI AU sebagai hari Bakti TNI AU sejak tahun 1962 dan sejak 17 Agustus 1952, Maguwo diganti menjadi Lanud Adisutjipto. Abulrachman Saleh di makamkan di Yogyakarta dan beliau diangkat menjadi seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No.071/TK/Tahun 1974, pada tanggal 9 Nopember 1974. Pada tanggal 14 Juli 2000, atas prakarsa dari TNI – AU, makam Abdulrahman Saleh, Adisucipto, dan juga para istri mereka di Desa Tamanan, Banguntapan, Bantul, DI Yogyakarta.

Nama beliau kemudian diabadikan sebagai nama Pangkalan TNI – AU dan Bandar Udara di Malang. Disamping itu, piala bergilir yang diperebutkan dalam Kompetisi Kedokteran dan Biologi Umum ( Medical and General Biology Competition ) disebut dengan Piala Bergilir Abdulrahman Saleh.

B. SARAN
Kami sebagai penyusun makalah ini sangat menyadari bahwa materi yang kami buat ini masih banyak kekurangan. Jadi untuk itu kami meminta kepada saudara saudari semuanya untuk memberikan saran, kritikan, dan hal-hal lainnya yang bisa membangun untuk menuju kepada yang lebih baik. agar manfaat dari makalah ini dapat diambil penyusun dan orang yang membacanya.

Makalah ini ditulis oleh:

Siswi Kelas X
Kompetensi Keahlian Akuntansi dan Lembaga Keuangan

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »