Campusnesia.co.id - Waktu itu tahun 2021, setelah kurang lebih menelateni sebuah blog selama 5 tahun akhirnya ada tanda-tanda peningkatan traffic pengunjung yang tinggi. Atas bantuan seorang rekan saya kembali mendaftarkan ke Google Adsense dan benar saja dalam kurun waktu dua bulan akhirnya merasakan gajian pertama dari mbah Google.
Dari Agustus hingga Desember 2021 saya merasakan nikmatnya menjadi blogger yang mendapatkan bayaran dari Google Adsense, monimalnya cukup besar nyaris dua kali lipat UMK Kabupaten Pati. Hal ini membuat terlintas di benak saya untuk pensiuan dari pekerjaan yang sedang saya geluti, pulang kampung dan jadi full-time blogger. Beruntung sahabat saya mengingatkan bahwa bisnis di dunia digital sangat rentan, bisa saja hal tak terduga esok hari dan seketika harapan runtuh tak tersisa. Weajangan ini saya turuti, Sebagian uang hasil Adsense saya gunakan mendirikan usaha konter pulsa di desa yang dikemudian hari bakal jadi penyelamat saya.
Bulan madu dengan Adsense tersebut hanya berlangsung selama kurang lebih 8 bulan, setelahnya traffic dan cuan harian turun drastic, dari yang awalnya bisa payout setiap bulan kini harus menunggu tiga bulan sekali, lalu empat bulan dan makin terus berkurang, puncaknya tahun lalu saya harus sabar menunggu selama setahun untuk bisa merasakan bayaran dari mbah Google sebesar minimal 1,3 juta rupiah.
Kalau ditanya apa sebabnya jawabannya banyak, salah satunya adalah jumlah pengunjung yang turun. Dahulu saat traffic berada di puncak ada beberapa artikel andalan yang mendulang traffic, namun namanya tren pasti ada perubahan. Tema tak lagi relevan, kata kunci pencarian berganti dan tentu saja perkembangan social media dan Ai mempengaruhinya.
Gen Z lebih suka mencari informsai lewat sosial media dan tak lagi menggunakan mesin pencari. Dengan bertanya ke Ai seseorang tak lagi harus mengklik web dan membaca artikel panjang lebar, hal-hal seperti ini juga sangat berpengaruh terhadap penurunan traffic blog dan tentu saja pendatannya dari Adsense.
Pulang Kampung
Long story short, pertengahan tahun 2024 saya harus pulang kampung dan melepaskan pekerjaan utama di kota. Hal ini membuat status saya dalam dunia blogger yang awalnya jadi sampingan project sepulang kerja, kini mau tidak mau jadi kegiatan utama.
Tentu saja saya menikmati prosesnya, bagaimana tidak hidup di desa dengan suasana yang lebih slow, bangun tidur sarapan sembari menyeruput kopi dilanjutkan menulis artikel. Siang hari menonton youtube atau series, malam hari menonton film streaming dan bermain sosial media sambil mencari bahan untuk tulisan selanjutnya.
Sayangnya fakta bahwa pendapatan dari Google Adsense tak seindah dulu membuat semua kesenangan di atas juga dibarengi dengan rasa was-was.
Sekeras apapun usaha saya meningkatkan penghasilan dari Adsense rasanya sangat sulit, dashboard yang dahulu menujukkan ratusan ribu setiap hari, kini isinya hanya ribuan saja, kadang tak lebih besar dari biaya parkir.
Anehnya pendapatan harian tersebut tidak berbanding lurus dengan traffic pengunjung, sesekali blog saya mendapat kunjungan hingga puluhan ribu namun pendapatan adsensenya tak serta merta mengikutinya. Hingga terjadi beberapa case yang menurut saya jadi sebuah pola.
Ada sebuah postingan tentang Motogp yang mendapatkan traffic tinggi yang dibarengi dengan jumlah adsense yang tinggi, pol aini coba saya replikasi saat gelaran Piala Dunia dan berhasil mendapatkan 400 ribu selama sebulan. Kesimpulan saya peningkatan pendapatan adsense bakal naik jika jumlah pengunjung yang banyak berasal dari orang baru yang sebelumnya belum pernah mengunjungi blog kita atau dalam istilah Google disebut Unique Visitor.
Cara bertahan hidup jadi seorang full-time blogger
Sesuai judul di atas, lewat tulisan ini saya akan coba membagi pengalaman saya bertahan hidup dengan label sebagai blogger purna waktu.
Pendapatan dari Google Adsense yang tak lagi seberapa tadi akhirnya saya anggap jadi Tabungan harian saja. Kadang dapat seribu duaribu tapi kadang juga puluhan ribu. Untuk menikmatinya (baca payout) saya harus menunggu setahun, ya anggap saja celengan untuk biaya perpanjang domain tahunan.
Lalu darimana sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan harian dan bulanan?
Saya membuka layanan publikasi artikel, baik yang berupa artikel biasa tanpa backlink, yang menyertakan backlink hingga yang hanya minta memasukan backlink di artikel yang sudah pernah tayang.
Kliennya beragam, dari mahasiswa, pemilik usaha hingga brand ternama dari dalam dan luar negeri. Untuk klien dalam negeri harga cukup terjangkau mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu tergantung siapa dan apa tujuannya.
Menariknya sesekali klien tersebut datang dari luar negeri, walau dalam sebulan hanya hitungan jari jika deal hasilnya bisa hidup sebulan di desa karena bayarannya dengan dolar. Entah dari mana mereka tahu, namun nyari setiap pekan ada saja email yang menanyakan tentang layanan publikasi artikel dari luar negeri tersebut. Sayangnya tidak semua permintaan bisa saya kabulkan karena jenis artikel dan link yang dimaksud tidak sesuai dengan aturan di Indonesia. Sebagai pemilik blog saya harus selektif tidak boleh asal menerima order karena bisa berdampak pada keberlangsungan blog saya juga, kalua melanggar bisa kena kick dari Google atau Komdigi.
Sumber penghasilan lainnya, setahun terakhir saya tergabung dalam sebuah platform jual beli backlink yang mempertemukan antara pemilik blog dan klien yang butuh blog untuk memposting artikel dan backlink.
Setiap pekan ada saja satu dua orderan yang masuk, memang bayarannya tidak sebesar klien dari luar negeri namun menurut saya dengan effort yang tidak sampai satu jam untuk mengerjakan orderannya masih jadi alternatif sumber pemasukan yang ok, tapi jujurly potongan adminnya lumayan.
Sejauh ini Alhamdulillah masih bisa saya Jalani, kadang juga tidak menyangka sebuah aktifitas yang awalnya hanya sampingan kini jadi pekerjaan utama.
Label full-time blogger memang terlihat keren namun kadang juga ada kekhawatiran apa yang terjadi jika tiba-tiba ada kebijakan yang mematikan platform-platform yang biasa saya gunakan.
Kadang juga terbersit apakah deklarasi sebagai full-time blogger yang saya lakukan sudah ketinggalan jaman? Idealnya mungkin saat blogger dipuncak reputasi misalnya tahun 2008 hingga 2015 tapi sayangnya saya justru baru memulai ketika semua orang sudah mencapai titik yang lebih tinggi, ibarat kata saya baru nyebur saat orang lain sudah kering.
Tapi hal positif yang bisa saya petik adalah saya punya sarana untuk menuangkan pikiran saya dalam bentuk tulisan, berlatif berfikir secara runut dengan jalan menjadi blogger.
Untuk rekan-rekan blogger di luar sana tetap semangat jangan menyerah!
Penulis
Achmad Munandar
Fulltime Blogger
