Memuat konten...

Aku Menemukan Cara Berteleportasi, Tapi Aku Jadi Gila Karenanya

Aku Menemukan Cara Berteleportasi, Tapi Aku Jadi Gila Karenanya



Campusnesia.co.id - Sesosok monster muncul di tengah kota Angel Group, Alpha menghubungi para ranger yang sedang asyik di kantin kampus. “Tit..tut..titi..titut” suara jam milik Tomy dan empat temannya berbunyi tanda bahaya. Mereka mencari tempat sepi dan berkata, “Zordon kami siap!” seketika lima cahaya menyala dan membawa mereka melayang ke lokasi kemunculan musuh dan bertarung melawannya.

Itulah muscle memory di otak saya ketika ditanya tentang konsep teleportasi, konsep perpindahan manusia dan barang dari satu lokasi ke lokasi lain dalam sekejap tanpa kendaraan.

Kalau teknologi ini ada, siapa yang tidak menginginkannya. Becandaan orang-orang yang ketahuan tidak sholat Jumat ketika ditanya apakah tadi jumatan atau tidak bakal jadi kenyataan, “Tadi habis jumatan di Mekah” karena dengan teleportasi jarak dan waktu yang jadi kendala utama dalam perjalanan bakal sirna dan tak jadi persoalan lagi.

Namun hingga sekarang nyatanya teknologi yang tumbuh subur dalam dunia science fiction tersebut belum juga ada tanda-tanda bakal jadi nyata.

Tapi, apakah mungkin konsep teleportasi jadi kenyataan?
Dengan kapasitas otak saya yang pas-pasan ini, saya coba memikirkan kemungkinannya jadi peluang jadi nyata itu ada, yang setidaknya secerah harapan lah ya.

Dari sekian teori populer teleportasi bisa kita temui dalam referensi pop culture di series dan film Star Trek yang pertama dikenalkan pada tahun 1966 jauh sebelum serial Power Ranger di awal paragraf tadi yang baru muncul tahun 1993.

Di series dan film Star Trek para crew USS Enterprise bisa dengan mudah berpindah dari sebuah planet ke pesawat atau sebaliknya dengan teleportasi yang digambarkan dengan cahaya dan partikel.

Masih agak sulit dipahami hingga saya menonton sebuah drama korea berjudul Sisyphus: The Myth yang tayang pada tahun 2021. Drakor satu ini dibintangi oleh dua aktor favorit saya yaitu mbak Park Shin Hye dan mas Cho Seung-Woo. Berkisah tentang time travel yang dilakukan karakter Gang Seo-Hae (diperankan Park Shin Hye) dari masa lalu ke masa sekarang. Tujuannya menemui Han Tae-Sul (diperankan oleh Cho Seung-Woo) untuk mencegah kehancuran dunia.

Nah alat time travel yang digunakan oleh Gang Seo-Hae dari masa depan adalah alat teleportasi yang ditemukan oleh Han Tae-Sul di masa sekarang.

Konsep yang digunakan adalah dengan mengurai sebuah benda hingga tingkat partikel atom di suatu lokasi, karena menjadi bagian kecil hingga tingkat atom pecahan benda tersebut bisa ditransfer dalam bentuk data ke tempat tujuan kemudian disusun kembali dengan informasi yang diperoleh menjadi benda awal tadi. Dalam drama tersebut peragaan dilakukan dengan gula berbentuk kotak.

Wah kalau teknologi ini bisa diwujudkan jasa pengiriman ekspedisi paket bakal gulung tikar kali ya.

Saya bisa menerima ide tersebut dengan konsep penyusunan kembali ala printer 3D yang saat ini tidak hanya digunakan untuk mencetak benda berbahan plastik, tapi juga berbahan resin, logam hingga protein jadi daging buatan.

Anggap saja di lokasi A kita menscan sebuah botol berbahan plastik dengan spesifikasi tertentu, mengurai informasinya hingga level atom dan di lokasi B kembali mencetaknya dengan bahan dan informasi yang sama sehingga terwujudlah benda yang sama di lokasi A.

Tapi tunggu dulu, kalau pemahaman teori saya di atas berarti benda di lokasi A masih ada dan di lokasi B ada benda yang bahannya sama alias duplikat?

Kebingungan saya ini terkonfirmasi di film Christopher Nolan yang berjudul The Prestige yang tayang tahun 2006. Karena perlombaan membuat trik sulap bertema teleportasi justru terjadi kecelakaan terciptanya alat duplikasi benda dan manusia. Film ini berlatar abad 19 era dimana Tesla baru menemukan listrik, namun saat memikirkan ide teleportasi sudah memunculkan kemungkinan justru yang terjadi adalah duplikasi.

Kembali teori dalam drama korea Sisyphus: The Myth tadi, mereka di masa depan juga sudah menunjukkan beberapa kemungkinan dampak dari mesin teleportasi tadi yaitu pengiriman informasi yang komplek yang diurai dari manusia dan sifatnya yang berbeda-beda bisa mengalami gangguan berupa hilangnya informasi di perjalanan. Anggap saja kita mengalirkan listrik dari jarak tertentu pasti ada energi yang hilang di perjalanan atau saat mengirimkan file, ada potensi corrupt saat di unduh dan dicetak.

Nah, di drakor ini hal seperti itu juga ditampilkan. Manusia yang dikirim dari masa depan ke masa lalu dengan mesin waktu berkonsep teleportasi mengurai tadi beberapa orang tercetak kembali dengan keadaan yang tidak seratus persen utuh alias terjadi kecacatan produk.

Jadi, walau dengan teori mengurai informasi manusia hingga level subatomik terkecil dan mencetaknya di lokasi tujuan adalah hal yang mungkin dilakukan, akan tetapi ada kemungkinan kegagalan seperti hilangnya sebagian informasi di perjalanan tadi.

Tapi gongnya yang membuat saya agak gila memikirkannya bukan hal di atas tapi....

Oke tubuh manusia bisa kita lihat sebagai sebuah benda layaknya gula kotak di awal paragraf tadi, bahkan organ dan darah serta cairan lainnya juga bisa kita sebagai sebuah benda tapi perlu diingat ada kesadaran dalam diri manusia yang membedakannya dengan benda.

Kesadaran tersebut kita sebut nyawa yang bahkan sampai saat ini, sependek sepengetahuan saya masih belum bisa dijelaskan bentuknya seperti apa, letaknya di mana dan bagaimana memindahkannya.

Semakin saya pikir rasanya semakin jadi gila, tapi gak apa-apa kadang otak memang perlu diajak mikir halu hal-hal absurd seperti itu siapa tahu kelak bakal jadi kenyataan.

Dengan semua pembahasan di atas saya lebih memilih teknologi teleportasi ala Doraemon saja yang lebih sederhana yaitu dengan membuat Pintu Kemana saja, sekali buka kita bisa menuju tempat yang kita minta.

Eh tapi, bagaimana penjelasan ruang dan waktu bisa dilipat dan ditembus oleh pintu kemana saja Doraemon? Ah mboh lah...


Penulis
Achmad Munandar

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

Silahkan komen guys..
EmoticonEmoticon