Menelaah Kontroversi Film Animasi Nussa dan Potensinya Menuju Pasar Dunia

 



Campusnesia.co.id - Terpantau hingga Selasa 12 Januari 2021 pukul 22.41 WIB kata kunci "Nussa" masih masuk urutan 11 trending di Twitter Indonesia. Tidak lain tidak bukan Nussa yang dimaksud adalah tokoh dalam animasi 3D berjudul sama yang pada 10 Januari merilis Trailer resminya.

Kontroversi dan perdebatan mulai muncul sesaat setelah Trailer resmi Nussa versi layar lebar di posting oleh sang sutradara Angga Dwimas Sasongko. Penyebab kehebohan ini dimulai karena twit sebuah akun bernama Denny Siregar yang menuduh bahwa Nussa dan Rara dibidani oleh Felix Siauw. Tokoh yang kita kenal pernah aktif di organisasi HTI.

Angga Dwimas Sasongko selaku sutradara sudah menjelaskan bahwa film ini tidak melibatkan tokoh agama sama sekali. Ini film anak-anak kok. Bahkan skenario film Nussa dan Rara ini digarap Skriptura, Divisi IP Development Visinema Group, produksi animasinya oleh The Little Giantz, dan distribusi serta promosinya oleh Visinema Pictures.

Saya tidak mau menyoroti perdebatan di atas, karena sudah jelas siapa para pelakunya, orang-orang yang selama ini kita kenal sebagai Buzzer yang sudah malang melintang dalam aneka perdebatan bernuansa politik dan sosial, ya bisa dikatakan memang membuat "keributan" adalah tugas mereka, semakin direspon semakin senang.

Ada sisi lain yang yang menurut saya lebih menarik untuk dibahas, yaitu potensi animasi Nussa untuk go Internasional, meramaikan dan mewarnai perhelatan animasi dunia sebagaimana film dan tokoh animasi dari negara lain yang sudah lebih dulu sukses di pasaran.

Potensi film Nussa sebagai pembuka jalan bukan khayalan semata, sejak kemunculan pertamanya tokoh yang digambarkan sebagai anak lelaki periang kakak dari Rara ini sudah menuai banyak prestasi, sebut saja channel youtube Nussa Official yang diluncurkan pada 25 Okt 2018 kini telah memiliki subscriber 6,9 juta dan telah ditonton sebanyak 1.422.491.283 kali dan pernah tayang secara reguler di televisi nasional.

Jauh sebelum capaian subscriber dan jumlah penonton yang fantastis, serial Nussa yang tayang di youtube kemunculannya dianggap oase dari isi konten yang cocok dengan anak-anak, penuh edukasi serta ciamik dalam eksekusi konsep terlihat dari kualitas animasi 3D nya yang lebih bagus dari animasi serupa yang pernah tayang di Indonesia.

Tanpa keraguan, Angga Dwimas Sasongko pun pasti melihat berbagai capaian ini sebagai peluang hingga berani membawa ke layar lebar. Sekilas saja dari apa yang diperlihatkan dalam trailer berdurasi 2 menit 3 detik yang saat artikel ini ditulis sudah 493.651 kali ditonton, nampak kualitas animasi yang jauh lebih baik dari versi serialnya dan jalan cerita yang menjanjikan, lebih serius, lebih universal.

Trailer Film Animasi Nussa 2021

Terlepas dari kontroversi, latar belakang karakter semesta Nussa yang memang kental dengan edukasi islam. Saya menyayangkan jika karena polarisasi politik dan sosial karya anak bangsa ini bakal gagal di pasaran. 

Cukuplah perdebatan saat rilis film "A Man Called Ahok" dan "Hanum & Rangga: Faith & the City" di tahun 2018 yang hampir bersamaan karena polarisasi dan aksi saling boikot berujung pada suasana yang tidak produktif.

Besar harapan saya dengan hadirnya Nussa dalam layar yang lebih besar melalui bioskop bisa menjadi batu loncatan kebangkitan film animasi Indonesia menuju pasar yang lebih luas lagi.

Gak usah ngomongin film-film produksi Pixar dan Disney, pasti para pembaca sudah familiar dengan karakter Upin dan Ipin animasi dari negeri jiran Malaysia yang kesuksesanya membuka peluang untuk animasi berikutnya seperti Boy Boy dan Pada Zaman Dahulu.

Atau kalian suka nonton Larva yang pendek namun kocak itu? fyi aja asalnya dari Korea Selatan yang akhirnya membawa peluang serial lain masuk pasar tanah air seperti Tayo, Tobot, Robot Poli dll.

Bahkan kita dengan senang hati menerima serial Krisna dari India, Masha and The Bear dari Rusia kenapa ribut dengan animasi karya anak bangsa sendiri yang kalau dicari inti permasalahanya bukan karena plot cerita atau kualitasnya tapi lebih kepada kebencian pada kelompok dan golongan tertentu, iya kan? jujur saja deh!

Padahal gampang saja, kalau dari sisi cerita dikhawatirkan membawa dampak buruk pada anak-anak sebagai segmen penontonnya, serahkan saja sama Lembaga Sensor Film indonesia, jika tuduhan itu terbukti saya yakin tidak bakal lolos sensor dan tayang di bioskop. Atau pakai cara lain biarkan pasar yang menilai ketika rilis nanti, tak perlu serukan boikot, menebar fitnah dan kebencian. 

Kritik ini berlaku untuk kelompok yang lain, yang kalau ada film, serial atau produk audio visual yang lain dan isinya berbeda dengan keyakinan lalu menghakimi dan menyerukan boikot. Apa yang terjadi pada film Nussa hari ini tidak lepas dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, tinggal tunggu giliran saja, kelompok mana yang mengeluarkan karya kelompok lain akan mencari-cari kesalahnya juga. Gitu terus aja sampai film-film animasi negara lain sudah mendunia dan tanpa sadar sudah menjadi konsumsi kita sehari-hari.

Sebagai penutup, saya punya keyakinan dan harapan besar pada film Nussa yang akan segera rilis di bioskop tahun ini setelah tertunda karena pandemi selama 2020. Bukan hanya sebagai film animasi asal indonesia yang secara kualitas grafis mampu bersaing dengan produk negara lain tetapi juga dari kualitas jalan cerita dan pesan kebaikan universal yang coba disampaikan, dalam hal ini Visinema dengan sederet portofolionya cukup menjanjikan.

Buat yang support jangan lupa nonton di bioskop atau secara online yang legal sebagai bentuk dukungan, sudah koar-koar kalau nonton lewat cara "Agraris" alias bajakan ya sama juga bohong. Semoga bermanfaat sampai jumpa.

penulis: Nandar

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »