Review Film: Captain America – Civil War


Film superhero Marvel terbaik sejauh ini, penghargaan ini tampaknya tak berlebihan untuk “menyederhanakan” sensasi seperti apa yang ditawarkan Captain America: Civil War kepada Anda. Ada rasa kekaguman dan kepuasan tersendiri ketika melihat daftar panjang credits mulai berputar di layar lebar, menyederhanakan semua aksi superhero Anda ke dalam daftar panjang nama sederhana yang juga tentu saja, memuat ekstra scene di dalamnya. Ia berakhir jadi sesuatu yang lebih baik dari yang kami antisipasi.

Ada ketakutan bahwa Russo Brothers, terlepas dari apa yang berhasil mereka capai dengan Winter Soldier yang memesona, tak akan mampu merangkum aksi perang antar superhero yang begitu fenomenal ini menjadi sebuah film yang tak berakhir sekedar sebagai sebuah fan-service. Ini adalah film yang tak hanya akan memuat hampir semua superhero yang sudah sempat diperkenalkan Marvel lewat film solo dan Avengers, tetapi juga dua superhero baru yang akhirnya masuk ke dalam Marvel Cinematic Universe (MCU). Bahwa pada akhirnya, mereka mau tak mau, harus mengorbankan apa yang membuat Winter Soldier begitu luar biasa dua tahun yang lalu. Namun untungnya, tak ada satupun kekhawatiran tersebut terjadi. Civil War adalah sebuah film superhero luar biasa yang akan membuat Anda jatuh hati dan menempatkannya sebagai salah satu yang terfavorit di hati Anda. Tak percaya? Anda akan berakhir menganggukkan kepala Anda setelah mencicipinya secara langsung.

Motivasi


Lantas, apa yang membuat kami terpesona dengan Captain America: Civil War ini? Bagi Anda yang masih belum familiar dengan garis ceritanya, Civil War menjual konflik antara dua “bintang” Avengers – Captain America dan Ironman yang akhirnya memaksa anggota Avengers yang lain untuk mulai memihak.
Fakta bahwa mereka tak punya kewajiban untuk “menjawab” pada otoritas manapun dan tak bisa dikendalikan membuat ratusan negara di seluruh dunia khawatir. Tergabung dalam komite khusus PBB,  negara-negara ini menuntut tanggung jawab dan kendali bersama atas tim superhero yang tak hanya punya potensi untuk menyelamatkan dunia ini, tetapi juga menghancurkannya. Tony Stark setuju dengan hal ini, namun Steve Rogers – si Captain America tidak. Cap merasa bahwa keputusan politis seperti ini justru akan membuat Avengers tak lagi efektif menjalankan perannya. Namun konflik antara keduanya memuncak setelah sang sahabat lama Cap – Bucky Barnes aka The Winter Soldier kembali menunjukkan batang hidungnya dan justru memicu banyak kekacauan dan kematian. Cap percaya bahwa Bucky masih bisa “diselamatkan”, sementara Tony Stark melihatnya sebagai awal untuk memperlihatkan akuntabilitas tim Avengers itu sendiri.



Menjawab pertanyaan yang kami lemparkan di atas, Civil War memesona karena kemampuan sang sutradara dan penulis cerita untuk meracik sebuah konsep konsekuensi dan motif dalam proporsi yang begitu pas dan rasional. Kita semua paham bahwa tak akan mudah untuk memastikan 10 karakter superhero yang melebur dalam satu ruang yang sama akan bisa berakhir jadi fokus perhatian. Selalu ada yang akan dikorbankan atau berakhir dipaksakan. Tapi tidak di Civil War. Kehebatannya adalah keberhasilan untuk memastikan semua karakter ini punya porsi cerita dan momen penting memorable yang membuat peran mereka lebih bersinar dan tak sekedar berakhir jadi cameo atau karakter pendukung yang tak punya kontribusi sama sekali di sisi cerita. Ini membuat motivasi mereka untuk bertarung dan memihak pada salah satu pihak – Team Captain America ataupun Team Ironman menjadi sesuatu yang rasional, sesuatu yang bisa Anda mengerti, dan mungkin berakhir jadi sesuatu yang Anda dukung dengan penuh. Hasilnya? Ketika momen besar itu tiba dan “Civil War” itu terjadi, Anda berhasil melihat masing-masing karakter ini sebagai individu berbeda dengan motivasi yang berbeda pula. Luar biasa.


Bahkan, Civil War berhasil membuat karakter-karakter yang tak terasa begitu penting di seri-seri MCU sebelumnya seperti War Machine, Falcon, atau bahkan si Scarlet Witch sendiri berakhir sebagai bintang. Dari sisi scene yang lebih emosional, yang memancing tawa, hingga yang membuat adrenalin Anda berpacu kencang, ketiga karakter ini punya porsi yang luar biasa di Civil War dan memperkayanya dengan cara yang tak akan pernah Anda prediksi sebelumnya. Tapi kompleksitas cerita tak pernah hanya soal scene fighting dan kehancuran di sana-sini. Bahkan scene super tenang dimana tim Avengers sekedar membicarakan sudut pandang pribadi mereka soal akuntabilitas jadi daya tarik sekaligus landasan cerita yang keren. Civil War tak hanya melemparkan Anda scene pertarungan epik dan sejenisnya, tetapi juga beragam pilihan moral yang cukup untuk membuat Anda bertanya pada diri Anda sendiri, “Siapa yang benar?”.

Black Panther dan Spiderman

Jika membuat karakter-karakter Avengers, minus Thor dan Hulk, untuk saling bertarung satu sama lain di dalam satu film tak terdengar meyakinkan bagi Anda, bayangkan keraguan yang muncul jika film yang sama ternyata akan digunakan sebagai media untuk memperkenalkan dua karakter superhero baru ke MCU – Black Panther dan Spiderman. Benar sekali, si manusia laba-laba akhirnya menunjukkan batang hidungnya di sini! Pertanyaannya, apakah kedua karakter ini akan berakhir jadi sekedar cameo untuk film solo selanjutnya? Ataukah Russo Brothers memang cukup “cerdas” untuk memastikan keduanya bergerak dalam satu benang merah yang sama dengan sisa tim Avengers yang lain? Untungnya, yang kedua. Black Panther dan Spiderman tampil begitu fantastis di film ini.



Kami pribadi bukanlah penggemar berat komik Marvel dan semua universe yang ia usung, dan tak punya kedekatan sama sekali dengan sosok Black Panther yang cukup asing di telinga dan mata kami. Dan kami yakin, ada banyak penonton MCU yang sama seperti kami, yang mulai merangkai semuanya dari layar lebar. Tapi apakah Black Panther berakhir jadi sebuah karakter yang mampu mencuri hati kami di penampilan perdananya ini? Jawabannya, iya. Black Panther adalah karakter yang luar biasa. Kita tidak sekedar membicarakan soal kostum hitam legamnya yang super keren dengan kemampuan fisik seorang Panther yang bisa berlari cepat, lincah, bertarung ganas, atau cakar Vibraniumnya yang badass. Kita juga membicarakan karakternya sendiri. Kita berhadapan dengan sosok pria yang begitu berbeda dengan sisa tim Avengers sejauh ini dengan kepribadian yang membuatnya pantas disegani. Civil War bisa dibilang jadi pengenalan siapa itu Black Panther, dan sejauh yang kami rasakan, melakukannya dengan sangat baik.

Berita baiknya? Hal yang sama juga terjadi dengan Spiderman. Akhirnya tiba di tangan Marvel, Anda tak perlu takut bahwa Spiderman dan Peter Parker yang baru akan berakhir sekedar cameo yang hanya mengucap satu dua patah kata dan kemudian menghilang begitu saja. Spiderman hadir dengan peran yang penting di Civil War ini dan sejauh ini, terlihat sangat menjanjikan. Ia adalah manusia laba-laba remaja yang berusaha tampil relevan di tengah pertarungan para “raksasa”, lengkap dengan kepribadian fun dan mulutnya yang “ringan”. Apa yang ingin Anda lihat dan harapkan dari seorang Spiderman dieksekusi Marvel dengan begitu baik di Civil War ini. Namun walaupun harus diakui, dibandingkan dengan sisa tim Avengers yang lain, motivasinya untuk ikut tak sekuat dan sekompleks yang lain. But that Aunt May… Hmmm…

Scene Pertarungan Terepik


Kekuatan cerita di Civil War hanyalah salah satu dari alasan untuk jatuh hati dengannya, karena seri ini, menurut kami, juga pantas menyandang predikat sebagai salah satu film superhero dengan scene battle terepik sejauh ini. Anda masih ingat dengan adegan pertarungan Thor dan Ironman di Avengers pertama? Atau ketika Hulk Buster berusaha menahan kemarahan Hulk di Age of Ultron? Atau ketika Falcon melawan Ant-Man di film solo Ant-Man? Sekarang bayangkan sensasi yang sama, Anda kalikan 10 kali lipat dengan semua karakter Avengers terlibat langsung di dalamnya. Terdengar gila? Memang segila itu dan sekeren yang dibayangkan.
Anda yang sempat menonton trailer-trailer Civil War sebelumnya mungkin sempat melihat bagaimana kedua tim berlari dan saling berhadapan di bandara, yang harus diakui terlihat seperti scene setengah jadi yang tak terlihat menggoda sama sekali. Tetapi percayalah, itu adalah awal dari salah satu scene pertarungan superhero terbaik yang pernah Anda dapatkan sejauh ini. Marvel tak menahan diri dan membiarkan semua karakter ini untuk melemparkan baku hantam mereka sebaik mungkin dengan tetap mempertahankan karakteristik mereka. Kerennya lagi? Ini bukanlah pertarungan “terhormat” dengan format 1 vs 1. Banyak karakter superhero ini memperlihatkan senjata rahasia mereka dan alasan mengapa mereka bukanlah pribadi yang mudah ditundukkan saja. Selama 15 menit, pertarungan ini akan membuat Anda tersenyum seperti seorang anak kecil yang baru pertama kali menonton film superhero.



Karena harus diakui, hampir semua dari kita yang pergi menonton Civil War memang hadir dengan satu ekspektasi yang sama selain sebuah cerita yang solid – sebuah scene pertarungan yang epik antara anggota Avengers. Dan yakinlah, Anda sama sekali tidak akan kecewa dengan apa yang mereka tawarkan. Atau sebaliknya, Anda mungkin akan keluar dari bioskop dengan perasaan yang begitu puas dan mendapatkan sebuah kualitas yang tak pernah Anda dapatkan sebelumnya.

Kerennya lagi? Walaupun pertarungan di bandara ini jadi highlight, dia bukanlah satu-satunya pertarungan memorable yang akan Anda dapatkan. Bahkan bisa disebut bahwa hampir semua scene pertarungan dan aksi di film ini benar-benar memenuhi apa yang Anda harapkan, dari koreografi, fan-service, kamera, hingga ragam efek yang ada. Dari awal film sampai akhir film, kami tak menemukan sedikit pun momen yang membosankan.

Satu-satunya hal yang kurang dari film ini hanyalah musuh utamanya yang benar-benar tak terasa relevan dengan garis cerita yang ada. Setidaknya di seri Avengers sebelumnya, kisah selalu berakhir dengan pertarungan melawan si “Big Bad Wolf” yang biasanya berakhir punya kemampuan lebih baik dan tak sulit untuk mengalahkan Avengers begitu saja. Di Civil War? Ketidakmampuan Marvel untuk meracik karakter antagonis yang menarik semakin terbukti.

Pantaskah Ditonton di Layar Lebar?


Captain America: Civil War berakhir jadi film superhero Marvel terbaik sejauh ini, setidaknya di mata kami. Hampir semua elemen yang Anda harapkan dari nama “Civil War”, terlepas apakah Anda adalah penggemar si seri komik atau tidak, dieksekusi begitu manis di sini. Apa yang Anda suka dari Winter Soldier disempurnakan dengan garis cerita kuat yang mampu memastikan setiap karakter Avengers yang terlibat di dalamnya memang berangkat dari sebuah motivasi yang bisa dipercaya dan dimengerti. Scene pertarungan super epik yang akan membuat Anda tersenyum seperti anak kecil hingga pengenalan dua karakter – Black Panther dan Spider-Man yang juga dieksekusi dengan manis akan membuat Anda puas ketika daftar credits sudah mengemuka di depan mata.

Jadi, pantaskah film ini ditonton di layar lebar? Kami sangat menganjurkan Anda untuk mencicipinya. Tak ada efek yang membuatnya harus ditonton dalam format 3D, namun kami sangat menganjurkan kualitas definisi lebih tinggi seperti IMAX untuk sensasi yang jauh lebih baik. Apakah Anda harus menghindari spoiler di dunia maya untuk mencicipinya? Kami juga menjawab tidak untuk pertanyaan ini. Karena hampir tak ada kunci cerita yang bisa dibagi soal film ini dan berakhir mengacaukan pengalaman menonton Anda. Apapun yang diceritakan oleh orang lain kepada Anda soalnya, Anda tetap akan menikmati visualisasinya sepenuh hati. You gotta watch this movie..

Artikel Terkait

Previous
Next Post »