Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri review film. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan
Menampilkan postingan yang diurutkan menurut tanggal untuk kueri review film. Urutkan menurut relevansi Tampilkan semua postingan

Review Film Netflix The RIP, Drama Polisi Korup Penuh Plot Twist

0

 

Campusnesia.co.idJika sobat suka film-film yang dibintangi Matt Damon seperti Jason Bourne atau Tripple Frontier yang dibintangi oleh Ben Affleck, maka besar kemungkinan bakal suka film yang mempertemukan mereka dalam satu frame yang berjudul The RIP.

Film berlatar dunia kepolisian The RIP baru saja rilis di platform Netflix. Tanpa babibu, scene pertama langsung menunjukkan seorang Polisi bernama Jackie disergap oleh dua sosok misterius dengan penutup kepala dan berakhir dengan kematian.

Pertanyaannya, apa motif kedua pembunuh polisi tersebut dan kasus apa yang diselidiki?

Berikutnya seorang letnan bernama Dane yang diperankan oleh Matt Damon di integorasi oleh direktur kepolisian dan agen FBI karena kuat dugaan pembunuhnya adalah polisi.

Film berjalan semakin seru ketika mucul sebuah informasi anonim yang menyebut ada sebuah tempat berisi uang sitaan yang jumlahnya sangat besar.

Seperti yang saya sampaikan di awal, salah satu yang menarik dari film ini adalah plot twistnya yang akan sangat memuaskan.

Dari sisi aksi juga menarik, jelang pertengahan hingga babak akhir sangat khas ala film action hollywood.

Satu lagi poin positif dari film The RIP adalah ruang lingkup dan timelinenya tidak lama, alias hanya sehari semalam to the point langsung persolaan utamanya.


Daftar pemeran film The RIP
- Matt Damon sebagai Letnan Dane Dumars
- Ben Affleck sebagai Sersan Detektif JD Byrne
- Steven Yeun sebagai Detektif Mike Ro
- Teyana Taylor sebagai Detektif Numa Baptiste
- Sasha Calle sebagai Desiree “Desi” Molina
- Catalina Sandino Moreno sebagai Detektif Lolo Salazar
- Scott Adkins sebagai Agen FBI Del Byrne
- Kyle Chandler sebagai Agen DEA Mateo ‘Matty’ Nix
- Néstor Carbonell sebagai Mayor Thom Vallejo
- Lina Esco sebagai Kapten Jackie Velez
- Jose Pablo Cantillo sebagai Agen DEA Dayo Reyes
- Cliff Chamberlain sebagai Petugas Junger
- Alex Hernandez sebagai Petugas Warwick
- Daisuke Tsuji sebagai Agen FBI Logan Casiano


Buat sobat yang suka film aksi ala Hollywood dan kangen dengan Matt Damon dan Ben Affleck saya sarankan langsung nonton saja di Netflix.

Sangat rekomended, semoga berlanfaat sampai jumpa.

Penulis
Nandar


===
Baca juga:

Review Film The Report 2019, Perjuangan Senator Amerika Membongkar Interogasi CIA Pasca 9/11 yang Melanggar HAM



Campusnesia.co.id - Dari sekina genre film, Drama dan Biografi menjadi salah satu favorit saya, walau tidak bisa dipungkiri film dengan tema biografi dan drama kadang membosankan bagi sebagian orang. Banyak adegan dialog, berjalan dengan lambat dan bikin ngantuk, tetapi entah mengapa selalu ada hal menarik sepanjang filmnya apalagi yang berkaitan dengan politik.

Baru-baru ini saya menonton film bertema drama biografi sekaligus bertema politik berjudul The Report. Bercerita bagaimana perjuangan seorang staff senator amerika bernama Dan mengungkap cara-cara interogasi CIA terhadap tersangka penyerangan 11 September 2001 yang bertentangan dengan hak asasi manusia. Rilis tahun 15 November 2019 dengan durasi 119 menit diproduksi dengan Budget $8 juta berhasil mendulang Box office sebesar $517,788 juta. Sutradara dan skenarion oleh Scott Z. Burns.


Daftar Pemain Film The Report
Adam Driver sebagai Daniel Jones
Annette Bening sebagai Dianne Feinstein
Jon Hamm sebagai Denis McDonough
Jennifer Morrison sebagai Caroline Krass
Tim Blake Nelson sebagai Raymond Nathan
Ben McKenzie sebagai Petugas CIA Scrubbed
Jake Silbermann sebagai Yoked up CIA Officer
Matthew Rhys sebagai New York Times Reporter
Ted Levine sebagai John Brennan
Michael C. Hall sebagai Thomas Eastman
Maura Tierney sebagai Bernadette
Sarah Goldberg sebagai April
Dominic Fumusa sebagai George Tenet
Noah Bean sebagai Martin Heinrich
Douglas Hodge sebagai James Elmer Mitchell
Corey Stoll sebagai Cyrus Clifford
T. Ryder Smith sebagai Bruce Jessen
Fajer Kaisi sebagai Ali Soufan
Linda Powell sebagai Marcy Morris
John Rothman sebagai Sheldon Whitehouse
Joanne Tucker sebagai Gretchen
Ian Blackman sebagai Cofer Black
Zuhdi Boueri sebagai Abu Zubaydah
Carlos Gomez sebagai Jose Rodriguez
Ratnesh Dubey sebagai Khalid Sheikh Mohammed
Scott Shepherd sebagai Mark Udall
Kate Beahan sebagai Candace Ames
James Hindman sebagai Inspektur Jenderal Buckley
Austin Michael Young sebagai Agen Miller
Joseph Siravo sebagai John Rizzo

Sinopsis Film The Report 
The Report adalah film thriller yang didasarkan pada peristiwa aktual. Seorang staf yang idealis bernama Daniel J. Jones (Adam Driver) ditugaskan oleh bosnya, Senator Dianne Feinstein  (Annette Bening) untuk memimpin sebuah investigasi Program Penahanan dan Interogasi CIA yang dibuat setelah peristiwa 11 September. 

Penyelidikan Jones berjalan tanpa henti, dan mengarah pada temuan yang mengungkapkan bahwa badan intelejen tertinggi negara itu melakukan tindakan terlarang. Jones menemukan fakta bahwa CIA telah menghancurkan bukti dan memiliki misi menghancurkan hukum, dan menyembunyikan rahasia yang mengejutkan dari publik Amerika.

Review Film The Report
Kesan pertama bikin ngantuk jelas, sepanjang film kita disajikan bagaimana perjuangan Dan adalam mencari bukti-bukti pelanggan HAM oleh CIA dalam menginterogasi tersangka teroris.

Kita akan disajikan 2 color grading untuk membedakan masa sekarang dan flash back dramatisasi masa lalu bagaimana CIA bekerja menginterogasi pasa tersangka dengan cara yang katanya baru dan disempunakan dengan teknik terdahulu tetapi justru melanggar HAM dan hasilnya jauh dari harapan.

Terlepas dari ego nasionalisme, dalam film ini seakan ingin menggambarkan bahwa sebenci-bencinya amerika pada para pelaku terorisme yang kejam, dalam mengungkap dan menangkap pelaku tetap mengedepankan cara-cara yang manusiawi.

Tergambar juga, bagaimana senat atau DPR amerika sangat kuat pengaruhnya hingga berhasil membongkar kejahatan yang disembunyikan ini, memperjuangkan agar artikel rahasia CIA bisa dipublish untuk masyarakat.

Tergambar juga, pihak CIA tidak mau tinggal diam begitu saja ketika mulai diusik, Scene favorit saya adalah saat Dan mulai diancam karena tuduhan meretas komputer CIA untuk mendapatkan dokumen rahasia, dengan kedekatanya dengan media ia berhasil membalikkan keadaan dengan mengarahkan spotlight pada CIA yang menerobos rauang tim pencari fakta DPR. sangat menarik.

Kesimpulan, rekomended buat yang suka film bertema biografi, drama dan politik, selamat menonton.


Penulis: 
Nandar

Review Film Upstarts, Kisah Tiga Pemuda India Membangun Start Up Yang Inspiratif

0
 


Campusnesia.co.id - Baru-baru ini saya menamatkan sebuah film India besutan Netflix yang bisa dibilang masuk kategori underated. Jarang dibicarakan orang namun secara kualitas premis dan jalan ceritanya sangat menarik. Film tersebut berjudul Upstarts karya sutradara Udai Singh Pawar.

Rilis pada tahun 2019 lalu mengangkat teman dunia start up yang memang lagi rame-ramenya di tahun tersebut dan sedikit banyak membawa sebuah pengingat skeptisme bahwa suatu saat bubble tersebut akan meletus yang dikemudian hari beneran terjadi di tahun 2022-2023 sebagai tech winter.

Awalnya ketemu film Upstarts ini karena lagi nyari film-film yang bertema seputar dunia bisnis. Saya suka sekali dengan film semacam The Founder yang bercerita tentang Mc Donalds, The Aviator, The Social Media atau The Billionare dan The Big Short.

Film Upstarts mengangkat genre drama komedi berbahasa Hindi India diproduseri oleh Janani Ravichandran dan Jawahar Sharma. Film ini dibintangi oleh Priyanshu Painyuli, Chandrachoor Rai dan Shadab Kamal sebagai pemeran utama dan mengikuti kisah tiga lulusan perguruan tinggi yang membuat perusahaan rintisan dan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya. Dirilis pada 18 Oktober 2019 di Netflix. 


Daftar pemeran film Upstarts
Priyanshu Painyuli sebagai Kapil

Chandrachoor Rai sebagai Yash

Shadab Kamal sebagai Vinay

Sheetal Thakur sebagai Jaya

Mrinal Dutt sebagai Ajay Bansal

Rajeev Siddhartha sebagai Veer

Ivan Rodrigues sebagai Investor

Ninad Kamat sebagai bos Kapil

Swati Semwal sebagai Richa

Eijaz Khan sebagai Rocky Saxena

Meenakshi Chaudhary sebagai pacar Veer

Rukmini Vasanth sebagai gadis LSM


Review film India Upstarts
Film Upstarts menggambar dengan baik bagaimana para generasi muda fresh graduate yang piunya segunung idealisme dan paparan teknologi ingin memberi solusi permasalahan di masyarakat dengan aplikasi.

Digambarkan idenya cukup valid dan relevan, yaitu membuat aplikasi delivery obat-obatan dari kota ke desa yang kalau kita bercermin pada dunia nyata hari ini startup sejenis disebut sebagai Telemedicine seperti Halodoc.

Dalam perkembangannya demi mendapatkan pendanaan yang lebih besar mereka melebarkan sayap layanan tidak hanya mengantar obat-obatan namun juga sembako, makanan minuman dan pakaian yang kemudian membuat mereka masuk dalam bisnis ekspedisi kayaknya J&T.

Sampai di sini semua tergambarkan penuh semangat dan inspiratif bagi penonton, namun sang sutradara Udai Singh Pawar berhasil menyelipkan drama perbedaan visi antar foundernya yang menyebabkan konflik terjadi dan ketegangan.

Perkembangan karakter para pemerannya menarik, dari yang awalnya lugu penuh idealisme kemudian berubah ketika dihadapkan pada peluang-peluang yang lebih besar.

Skeptisme terhadap dunia startup yang hanya mengandalkan valuasi dan tergantung pada pendanaan investor juga disinggung serta jadi cermin di dunia nyata tidak sedikit yang hanya fokus pada Growth bukan pada Revenue.

Valuasi yang semakin besar diharapkan jadi daya tawar dalam langkah exit melalui IPO. Tidak jarang praktik-praktik curang terjadi seperti manipulasi data dan window dressing pemolesan laporan keuangan demi menyenangkan para investor.

Film ditutup dengan manis, jadi cukup menenangkan bagi sobat yang bertanya bagaimana endingnya. 

Saya penarasan apakah film ini inspired by true event seperti beberapa film tema startup yang lainnya namun ternyata hanya fiktif belaka, namun demikian tetap menarik apalagi bagi sobat yang suka dunia bisnis dan teknologi, rekomended.


Oke demikian tadi ulasan film upstarts kita kali ini, selamat menonton sampai jumpa.



Penuls
Nandar


===
Baca juga:


Review Film No Other Choice, Gambaran Sadisnya Persaingan Dunia Kerja

0
 



Campusnesia.co.id - Baru-baru ini saya menonton film korea berjudul No Other Choice garapan sutradara Park Chan-Wook yang juga dikenal dengan karya-karyanya seperti Decision to Leave dan The Handmaiden.

Film ini berkisah tentang karakter Yoo Man-Soo yang diperankan oleh Lee Byung-Hun, menikah dengan Mi-Ri yang diperankan oleh aktris Son Ye-Jin dan mereka memiliki dua anak. Mereka memiliki rumah yang mereka beli dengan susah payah. Yoo Man-Soo telah bekerja di perusahaan kertas selama 25 tahun. Ia merasa nyaman dan puas dengan hidupnya, tetapi tiba-tiba ia dipecat dari pekerjaannya. Ia berjuang mencari pekerjaan baru untuk melindungi keluarga dan rumahnya.

No Other Chise diangkat dari novel berjudul The Ax karya Donald E. Westlake yang diterbitkan pada tahun 1997 oleh Mysterious Press. The Ax merujuk pada istilah di Korea Selatan untuk menggambarkan keadaan orang yang di PHK seolah-olah memotong kehidupan karyawan terdampak. Proses syuting dimulai 17 Agustus 2024 dan selesai 15 Januari 2025.

Nama-nama besar turut serta meramaikan film ini diantaranya Park Hee-Soon, Lee Sung-Min, Yum Hye-Ran, Cha Seung-Won dan Yoo Yeon-Seok yang tampil sebagai cameo.

Premisnya memang sederhana tentang seorang kepala keluarga yang mencari pekerjaan lagi setelah kena PHK, namun cara dan prosesnya membuat film ini jadi menarik.

Yoo Man Soo harus melakukan tindakan kriminal untuk mempersar peluangnya diterima kerja setelah tahu bahwa untuk posisi manager di pabrik kertas yang ia lamar ada lima kandidat dan tiga diantaranya memiliki kualitas yang lebih baik dengan peluang diterima lebih tinggi.

Tentu saja kesan yang diterima penonton cara Yoo Man Soo sadis, namun bisa jadi sutradara Park Chan-Wook ingin memberi gambaran kerasnya persaingan di dunia kerja.

Fenomena hari ini untuk satu lowongan pekerjaan seorang kandidat harus bersaing tidak hanya dengan puluhan calon lain, bisa jadi ratusan bahkan ribuan. Belum lagi isu tentang batasan usia, mencari kerja di usia yang tak lagi muda apalagi pernah di PHK adalah hal yang sulit.

Keresan tentang peran teknologi, mesin dan Ai dalam sebuah industri juga diangkat. Atas dasar efisiensi mesin-mesin ditempatkan di pabrik dengan konsekuensi mengurangi kebutuhan tenaga kerja manusia yang ujungnya berimbas pada pengurangan karyawan.

Secara keseluruhan film No Other Choice menarik dan rekomended untuk ditonton, namun jika dibandingkan dengan dua karya Park Chan-Wook sebelumnya yaitu Decision to Leave dan The Handmaiden, jujur No Other Choise masih terasa kurang nendang.

Oke demikian tadi sobat Campusnesia, postingan kita kali ini tentang Review Film No Other Choice, Gambaran Sadisnya Persaingan Dunia Kerja, semoga bermanfaat sampai jumpa.



Penulis 
Nandar

 

Review Series Netflix Last Samurai Standing, Sayembara Para Pemegang Katana

0
 



Campusnesia.co.id - Semalam saya baru saja merampungkan 6 episode series Netflix terbaru dari Jepang yang berjudul Last Samurai Standing yang dibintangi oleh Junichi Okada. Jujur ini adalah series yang cukup saya antisipasi di bulan November setelah melihat trailernya yang menjanjikan.

Drama ini berdasarkan novel berjudul Ikusagami Ten dan Ikusagami Ji karya Shogo Imamura yang diterbitkan pada tanggal 15 Februari 2022 dan 16 Mei 2023 oleh Kodansha. Aktor Junichi Okada juga bekerja sebagai produser dan koreografer aksi untuk serial drama ini.

Aktor Junichi Okada sudah tidak diragukan lagi karena sudah banyak film tema samurai yang pernah ia bintangi, diantaranya Baragaki: Unbroken Samurai, A Samurai Chronicle dan Tenchi: The Samurai Astronomer.

Awalnya saya mengira Last Samurai Standing bakal menghadirkan permainan bertahan hidup memperebutkan uang seperti Squid Games tapi ini era Samurai, namun setelah menonton episode pertama ternyata sisi drama dan jalan ceritanya sangat menarik.

Penonton akan diajak mengikuti perjuangan karakter Shujiro Saga, mantan prajurit Samurai yang mengalami kesusahan ekonomi akibat wabah kolera mau tidak mau harus kembali menghunus pedangnya demi mendapat hadiah uang guna mengobati sang istri, anak dan penduduk desanya.

Ada sebuah perlombaan antar samurai bernama Sudoku yang diselenggarakan oleh kepolisian mempertemukan ratusan samurai untuk bisa sampai tujuan akhir di Tokyo. Syaratnya setiap kali melewati pos perbatasan yang telah ditentukan, setiap peserta harus memiliki beberapa poin yang hanya bisa didapat dengan mengambil tanda peserta lain, pilihannya meminta baik-baik atau tentu saja harus lewat adu katana dahulu.

Premisnya sederhana, namun nyatanya cara penyajiannya sangat menarik, back story beberapa karakter utamanya dispill perlahan satu demi satu hingga penonton berempati dan menaruh simpati.

Kini jalan cerita tak hanya tentang saling baku hantam, Shujiro Saga harus menjaga seorang anak perempuan yang juga ikut kompetisi bernama Futaba Katsuki. Sepanjang 6 episode karakter ini jadi beban banget dan kadang bikin berpikir apaan sih, namun di situlah letak dramanya.

Selain bumbu drama dan aksi laga yang ciamik, latar belakang dan sejarah mengapa para peserta saling termotivasi untuk bertarung, bumbu plot twist juga dihadirkan. Ternyata dalam perjalan terungkap ini bukan tentang sayembara mencari siapa yang paling kuat diantara para pemegang katana namun juga aroma politik yang kental tentang bagaimana zaman berubah, jepang yang masuk era modernisasi dalam pengaruh barat sedang berusaha beralih dari era pedang ke senjata api serta tema bagaimana para samurai tak digunakan lagi, terpinggirkan seperti yang beberapa kali diangkat dalam layar kaca misalnya film The Last Samurai atau Kenshin.

Sinopsis drama Jepang The Last Samurai, Pada tahun 1878, larut malam, 292 samurai yang sangat terampil berkumpul di Kuil Tenryuji di Kyoto untuk berpartisipasi dalam sebuah pertarungan berbahaya. Mereka terpikat oleh tawaran hadiah utama sebesar 100 miliar yen. Setiap peserta diberikan sebuah tanda kayu. Peserta yang berhasil mencapai Tokyo akan memenangkan hadiah tersebut. Shujiro Saga (Junichi Okada) ikut serta dalam permainan berbahaya ini untuk menyelamatkan istri dan anaknya yang sakit.

Sangat rekomended jadi tontonan akhir pekan apalagi buat sobat yang suka series tema jejepangan terlebih tentang dunia Samurai. Hanya 6 episode bisa diselesaikan dalam sehari tapi harus sabar untuk lihat endingnya karena ini baru season 1 dan nampaknya bakal ada season 2 untuk melihat hasil akhirnya.

Selamat menonton, sampai jumpa.


Penulis
Nandar

Review Film Relay 2025, Drama Sederhana Penuh Intrik dan Aksi Menegangkan

0
 



Campusnesia.co.id - Baru-baru ini saya habis nonton film seru berjudul Relay yang mengisahkan tentang karakter Ash yang berprofesi sebagai perantara memandu orang-orang bernegoisasi dengan perusahaan atau aparat berwenang terkait barang bukti yang sensitif.

Dalam banyak film maupun series kita sering dipertontonkan ketika seseorang memiliki hal-hal sensitif misalkan berkas rahasia milik perusahaan maka akan berakhir dengan tidak bahagia dan mengancam nyawa. Nah peran karakter Ash ada di sini, menjadi perantara melakukan negosiasi dengan menjamin keselamatan kliennya yang memegang data sensitif namun juga memastikan klien perusahaan tetap mendapatkan data yang bocor.

Uniknya hal ini dilakukan tanpa kontak langsung bahkan sekalipun dengan suara. Ash menggunakan layanan telepon untuk pengguna tuna rungu yaitu menggunakan semacam mesin ketik berupa teks yang akan dibacakan oleh perusahaan perantara menjadi suara.

Hal ini menjamin anonimitasnya karena dilindungi dengan ketat oleh undang-undang kerahasiaan informasi di Amerika sana, beda cerita kali ya kalau latar kejadiannya di negara kita.

Setelah sekian lama berhasil membantu klien-kliennya, Ash harus berhadapan dengan sebuah perusahaan yang menggunakan jasa keamanan swasta yang punya cara yang tidak kalah cerdiknya.

Kejar-kejaran penuh kejutan ini yang membuat Relay jadi film yang bisa dibilang sederhana namun tetap menyajikan ketegangan dan drama yang menarik.

Sebagai antisipasi, endingnya penuh plot twist menambah daya tariknya sekaligus mungkin cukup membuat patah hati sebagain penonton yang sudah terbawa suasana sejak awal.

Relay sudah tayang di Amerika Serikat pada tahun 2024 yang disutradarai oleh David Mackenzie dan ditulis oleh Justin Piasecki. Film ini dibintangi oleh Riz Ahmed, Lily James, dan Sam Worthington yang kita kenal sebagai pemeran Jake Sully di film Avatar.

Film ini tayang perdana di Festival Film Internasional Toronto pada 8 September 2024 dan dirilis di bioskop pada 22 Agustus 2025. Film ini menerima ulasan positif dan telah meraup $4 juta.

Rekomended jadi tontonan akhir pekan dan buat sobat pecinta film tema spionase atau agen khusus, Relay cocok banget. Cukup jadi oase di tengah film action yang gitu-gitu saja.


Oke demikian tadi sobat Campusnesia, postingan kita kali ini tentang Review Film Relay 2025, Drama Sederhana Penuh Intrik dan Aksi Menegangkan, semoga bermanfaat sampai jumpa.


Penulis
Nandar

Review Film Yim Si-Wan Mantis, Drama Cinta Bertepuk Sebelah Tangan Berbalut Aksi

0
 



Campusnesia.co.id - Setelah tampil apik dalam film thriller Unlocked, tahun 2025 ini aktor Yim Si-Wan yang tampangnya mirip urang sunda kembali ke layar lebar lewat sebuah film berjudul Mantis yang tayang di platform streaming Netlifx.

Berkisah tentang karakter bernama Lee Han-Ul  yang memiliki julukan Mantis karena pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran dengan senjata sabit mirip kaki-kaki belalakang sembah a.k.a Mantis.

Perusahaan tempatnya bernaung yaitu M.K jatuh bangkrut setelah pimpinannya dibunuh oleh karakter Gil Bok-Soon yang diperankan oleh aktris Jeon Do-Yeon.

Yup sobat Campusnesia tidak salah baca, semesta dalam film Mantis ini sama dengan film pendahulunya berjudul Kill Boksoon.

Untuk sebuah film sekuel secara tidak langsung, Mantis menurut saya menyajikan hal yang menarik. Dunia bisnis agen pembunuh bayaran berhasil disajikan apik dengan bumbu komedi dan romansa.

Karakter Lee Han-Ul diceritakan merupakan salah satu aset berharga perusahaan M.K di masa kejayaannya, diawal karirnya sebagai debutan ia berkompetisi dengan seorang trainee juga bernama Shin Jae-Yi yang diperankan aktris Park Gyu-Young.

Seperti pepatah Jawa kuno mengatakan, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino, mas Mantis ternyata diam-diam suka dengan Shin Jae-Yi membuat ia selalu ingin bersama dan melindungi yang pujaan hati.


Sayangnya cinta ini bertepuk sebelah tangan, makin didekatin makin nyakitin hingga akhirnya jalan kekerasan harus ditempuh.

Dari sisi aksi masih bisa dinikmati, komedia dan romansa yang dihadirkannya jadi bumbu yang pas saja. Yim Si-Wan berhasil menjadi karakter yang naif sudah tahu diacuhkan namun tetap teguh selalu ingin jadi pahlawan.

Buat sobat yang suka dengan aktor Yim Si-Wan, wajib banget nonton film ini. Temanya gak berat jadi cukup mudah dicerna dan menghibur. Rekomended jadi tontonan film ini.

Selain Yim Si-Wan dan Park Gyu-Young ada juga aktor-aktor papan atas lainnya misalnya penampilan Jo Woo-Jin, Jeon Do-Yeon dan masih banyak lagi yang lainnya.




Penulis
Nandar


====
Baca juga:

Review The Shadow's Edge, Kembalinya Jackie Chan Dalam Film Aksi Spionase

0
 



Campusnesia.co.id - Kabar gembira bagi sobat penggemar mbah Jackie Chan, bulan Agustus 2025 ini beliau kembali ke layar lebar lewat sebuah film berjudul The Shadow's Edge.

Film ini merupakan remake dari film mandarin berjudul Eye in the Sky yang rilis pada tahun 2007 silam mengangkat kisah sekelompok polisi yang bertugas mencari sosok penjahat misterius lewat aksi penyamaran.

Versi 2025 menambahkan berbagai unsur kemajuan teknologi mata-mata dari surveillance via kamera hingga bantuan teknologi artificial intelligence atau Ai. Namun di tengah kecanggihan aneka teknologi tersebut penjahat jadi lebih susah ditemukan karena mereka tak kalah canggih dengan polisi, di sinilah cara-cara lama dibutuhkan kembali.

Sebagai penggemar Jackie Chan yang berprinsip apapun filmnya asal ada beliau pasti nonton, kali ini bener-bener puas walau durasinya bisa dibilang cukup panjang.

Berbeda dengan film-film Jackie Chan selama beberapa tahun terakhir yang lebih banyak genre drama komedia dan minim adegan aksi, dalam The Shadow's Edge sobat akan dimanjakan dengan aneka pertarungan jarak dekat serta akting yang energik dari idola kita yang tak lagi muda dalam segi usia.

Tentu saja adegannya bakal banyak cut dimana-mana, manun tetap saja bisa jadi obat rindu yang kangen era Jackie Chan muda dulu.


Daftar pemain film The Shadow's Edge

Jackie Chan sebagai Wong Tak-chung

Zifeng Zhang sebagai He Qiuguo

Tony Ka Fai Leung sebagai Fu Longsheng

CiSha sebagai Chen Xiwang

Zhenwei Wang

Wen Junhui

Rongguang Yu

Xing Yu

Luna Fujimoto

Qiunan Lin
 
Kenya Sawada

Yueting Lang
 
Brono Bajtala sebagai Thor

Ziyi Wang

Zhengjie Zhou



Trailer film The Shadow's Edge




Poster film The Shadow's Edge




Penulis:
Nandar

Review Film Wall to Wall dan Realita Toleransi Tinggal di Apartment Korea Selatan

0
 


Campusnesia.co.id - Pada tanggal 1 Juli 2022 Youtuber Jang Hansol membuat video berjudul "Tolerensi antar tetangga di Korea Selatan" yang membahas realita hidup di apartment Korea Selatan di channel youtubenya Korea Reomit.

Seperti kebanyakan orang, Hansol berharap dengan kepindahannya ke apartment yang baru hidupnya bakal lebih nyaman dibanding tempat tinggal sebelumnya yang lebih sederhana. Namun kenyataan berkata lain.

Hal pertama ia dikomplain karena air ac nya netes di balkon tetangga unit bawahnya, beberapa hari kemudian ia diingatkan tetangga yang lain karena berisik saat hendak buang sampah dan sampahnya terjatuh di lantai.

Pernah juga ia mengalami, tetangga unit bawahnya memukul atapnya (lantai bawah apartment Hansol) karena merasa tertanggu dengan suara komputernya dan esok paginya di pintunya ada tempelan notes tetangga kebisingan yang dibuat.

Karena hal tersebut ia sampai harus beli sandal khusus yang meredam langkah kakinya seharga Rp300.000. Dalam upaya menjaga kerukunan Hansol meminta maaf dengan mengirim buah dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi lewat catatan.

Hal seperti ini ternyata tidak dialami oleh Hansol sendiri, saudaranya yang sudah berkeluarga dan punya anak juga mengalami hal yang sama. Bahkan keponakannya yang masih kecil harus jalan jinjit agar tidak dikomplain oleh penghuni unit apartment di bawahnya.

Menurut Hansol dari sisi toleransi bertetangga di Korea Selatan terutama tinggal di apartment sangat berbeda dengan di Indonesia yang lebih bebas. Menurutnya salah satunya penyebabnya adalah kehidupan di Korea Selatan yang keras dan stress tingga, sehingga hal-hal sepele seperti itu bisa memicu ketergangguan dan kemarahan.

Di sisi lain kalau kita berkaca pada fenomena di Indonesia akhir-akhir ini tentang tetangga yang biasa menyetel sound karaoke keras sekali tak kenal waktu atau bahkan pro-kontra Sound Horeg ada baiknya kita belajar pada orang-orang Korea Selatan yang lebih menghargai ketenangan tetangganya. Jangankan sound horeg, langkah kaki yang berlebihan saja sudah dianggap mengganggu kenyamanan tetangga.



Tentang Film Wall to Wall

Oke kita masuk pada sebuah film korea yang baru-baru ini tayang berjudul Wall to Wall dibintangi oleh Kang Hae Nul berkisah pada generasi millenial Korea yang sulit membeli properti rumah tapak dan harus berjuang setengah mati untuk bisa membeli unit apartment.

Bahkan setelah mampu membeli sebuah unit apartment ia tak langsung bisa menikmatinya. Tagihan pemeliharaan yang mahal, harga properti yang justru turun drastis serta dinamika bertetangga yang saling komplain karena kebisingan yang ditimbulkan antar unit.

Karena ini film drama thriller tentu saja ada bumbunya agar menarik untuk ditonton. Namun fenomena yang coba dipotret cukup valid. Setelah saya nonton film ini langsung menuju ke video Jang Hansol di youtube karena pernah menonton sebelumnya dan apa yang digambarkan di film Wall to Wall banyak yang relate.

Ditambah isu seperti korupsi spesiifikasi pembangunan apartment demi hemat dan korupsi sehingga menghasilkan bangunan yang kurang layak berdampak pada kualitas peredaman suara.

Isu dominasi pemilik modal yang ingin memborong unit apartment juga valid, hal serupa sering kita temukan di Indonesia. Pemilik uang membeli banyak unit perumahan baik yang wasta maupun KPR dengan tujuan investasi mengakibatkan harga properti terus menerus naik nyaris mustahil untuk dibeli oleh kalangan menengah ke bawah. 

Para sepekulan ini membeli banyak rumah bukan untuk ditempati tapi sebagai alat investasi dengan tujuan bertambahnya tahun harganya bakal naik dan dapat untung. That why, Millenial dan Gen Z disebut-sebut mustahil mampu membeli rumah, bukan karena kebanyakan jajan kopi kekinian tapi ulah para spekulan properti yang serakah dan tamak.


Sinopsis film Wall to Wall
Noh Woo-Sung (Kang Ha-Neul) adalah seorang pekerja kantoran biasa berusia 30-an. Ia telah berhasil membeli apartemennya sendiri, impian seumur hidupnya. Untuk membeli apartemen tersebut, ia menghabiskan seluruh tabungannya, mengambil pinjaman, dan bahkan memanfaatkan ladang bawang putih milik ibunya. Ia kini kesulitan membayar utang-utang berbunga tinggi tersebut. Keadaan semakin diperparah dengan suara bising yang terus-menerus terdengar dari lantai-lantai tetangga. Akibat kebisingan tersebut, ia terlibat konfrontasi sengit dengan para tetangga. Noh Woo-Sung kemudian bekerja sama dengan tetangganya di lantai atas, Yeong Jin-Ho (Seo Hyun-Woo), untuk mencari sumber suara tersebut. Sementara itu, Jeon Eun-Hwa (Yum Hye-Ran), seorang perwakilan penghuni kompleks apartemen, berusaha menjaga ketenangan di gedung tersebut.

Film Wall to Wall naskah dan sutradaranya oleh Kim Tae-Joon orang yang sama yang menyutradarai film Unlocked yang juga sangat bagus tentang fenomena pembajakan smartphone. 

Buat sobat yang mau nonton film Wall to Wall bisa langsung ke Netflix.



Pemeran film Wall to Wall
Kang Ha-Neul sebagai Noh Woo-Sung (1401)

Seo Hyun-Woo  sebagai  Yeong Jin-Ho (1501)

Yum Hye-Ran  sebagai  Jeon Eun-Hwa

Kim Hyun-Jung   sebagai Ha Joo-Kyung (1301)

Jeon Jin-Oh sebagai Jeon Gwang-Cheol (1301)
Park Sung-Il sebagai Ga Ju-Ho

Yoon Jung-Il sebagai  Lee Sang-Wook (1601) 

Kim Yoon-Jin sebagai Lee Hyun-Jin (1601)

Lee Jong-Goo sebagai Kim Young-Chul (1701)

Na Ho-Sook  sebagai Na Ok-Soon (1701)

Jo Yu-Ra  sebagai Lee Joo-Yeon (1402)


Poster film Wall to Wall



Penulis
Nandar

Sinopsis Drama Korea S Line, Tentang Garis Benang Merah Di Kepala Manusia

0
 


Campusnesia.co.id - Beberapa hari ini di sosial media Twitter (X) dan Facebook sedang tren foto orang dan garis benang berwarna merah di atas kepalanya. Hal ini disebut-sebut sebagai tanda berapa kali seseorang pernah berhubungan badan. Jika sobat pernah melihat postingan serupa dan penasaran dari mana referensi tren ini, jawabannya dari sebuah drama korea berjudul S Line yang tayang sejak 11 Juli 2025 yang lalu di channel Wavve.

Drakor ini diangkat dari webcomic berjudul "S Line” yang ditulis oleh Ggomabi dan diterbitkan pada tanggal 2 November 2011 hingga 22 November 2012 si situs Naver.

S Line disutradarai oleh Ahn Ju-Young dan merupakan debut pertamanya sebagai sutradara series setelah sebelumnya pernah menjadi sutradara untuk film layar lebar berjudul A Boy and Sungreen | Boheewa Nokyang (2019) dan pernah berperan dalam film Our Love Story | Yeonaedam (2016) sebagai pelajar wanita.


Sinopsis Drama Korea S Line
Tiba-tiba, garis merah muncul di atas kepala orang-orang. Garis merah ini menghubungkan orang-orang yang pernah berhubungan seks. Akibatnya, sisi memalukan atau rahasia seseorang terungkap. Orang-orang menyebut garis merah ini "Garis S".

Han Ji-Wook (Lee Soo-Hyuk) adalah seorang detektif dengan penampilan menarik dan jiwa bebas. Ia mengejar kebenaran di balik Garis S. Kyu-Jin (Lee Da-Hee) adalah seorang guru SMA dengan pesona yang unik. Shin Hyun-Heup (Arin) adalah seorang siswi SMA. Ia telah mampu melihat garis merah sejak lahir.


Daftar Pemeran Drama Korea S Line
Lee Soo-Hyuk sebagai Han Ji-Wook
Arin sebagai Shin Hyun-Heup
Lee Da-Hee sebagai Lee Kyu-Jin
Kim Dong-Young sebagai Oh Dong-Sik
Lee Eun-Saem sebagai  Kang Sun-A
Nam Kyu-Hee   Kim Hye-Young
Park Sung-Il sebagai  Bang Sung-Jin
Park Ye-Ni  sebagai Hee-Won
Lee Ga-Sub sebagai Oh Jung-Min
Kim Ro-A  sebagai Shin Hyun-Heup  kecil
Jang Sun  sebagai  Ibu Shin Hyun-Heup

Woo Ji-Hyun - Jung-Woo
Lee Han-Joo - Ji-Na
Lee Gwang-Hee sebagai Joon-Sun
Oh Woo-Ri - Lee Kyung-Jin
Hong Suk-Bin sebagai Han Hyo-San
Sung-Ryung - Soo-Min
Oh Seung-Jun - Lee Ji-Won
Byun Joo-Woo - staf panti jompo (ep.1)
Jeong Jae-Kwang - bartender (ep.2)
Yun Ki-Chang - guru olahraga (ep.2)
Jeong Tae-Seok - guru sejarah Korea (ep.2)



Poster Drama Korea S Line



Review Drama Korea S Line
Coming soon...

Review Film Jim Carrey The Truman Show dan Liar Liar, Sajian Drama yang Heartwarming

0
 


Campusnesia.co.id - Karena rindu film-film drama tempo dulu yang hertwarming, alur cerita dan konflik yang sederhana serta suasana yang menyenangkan, beberapa waktu lalu saya menonton dua film yang dibintangi aktor Jim Carrey. 

Pertama mengenal aktor komedi ini lewat film Bruce Almighty, kali ini film yang saya coba tonton berjudul The Truman Show dan Liar Liar, salah dua film yang sering disebut-sebut sebagai salah satu drama komedi yang wajib ditonton minimal sekali seumur hidup.


Biografi Jim Carrey
Memiliki nama asli James Eugene Carrey ia lahir pada tanggal 17 Januari tahun 1962 dikenal sebagai seorang aktor dan komedian Kanada-Amerika yang dikenal karena penampilan slapstick energiknya.

Setelah menghabiskan tahun 1980-an mengasah akting komedinya dan memainkan peran pendukung dalam film, Carrey mendapatkan pengakuan ketika ia berperan dalam serial televisi sketsa komedi Amerika In Living Color (1990–1994). Ia menjadi bintang film setelah membintangi serangkaian film box office, seperti Ace Ventura: Pet Detective, The Mask, Dumb and Dumber (semuanya tahun 1994), Ace Ventura: When Nature Calls, dan Batman Forever (keduanya tahun 1995). Kesuksesan kelima film ini menjadikan Carrey sebagai aktor komedi pertama yang menerima gaji awal sebesar $20 juta untuk tampil dalam film, dimulai dengan The Cable Guy (1996).

Ia terus meraih kesuksesan sebagai aktor utama dalam komedi seperti Liar Liar (1997), How the Grinch Stole Christmas (2000), Bruce Almighty (2003), Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events (2004), dan Yes Man (2008). Sejak tahun 2010-an, Carrey muncul dalam lebih sedikit film, dengan karya-karya terkenal termasuk Dumb and Dumber To (2014) dan perannya sebagai Doctor Eggman di seri film Sonic the Hedgehog (2020–sekarang).

Meskipun sebagian besar typecasting sebagai aktor komedi, Carrey sukses dalam peran dramatis. Penampilannya yang mendapat pujian kritis termasuk peran utama dalam The Truman Show (1998) dan Andy Kaufman dalam Man on the Moon (1999), memenangkan Penghargaan Golden Globe untuk setiap film. Dia membintangi film drama romantis Eternal Sunshine of the Spotless Mind (2004), yang mana dia dinominasikan untuk BAFTA Award dan Golden Globe lainnya. Carrey juga membintangi serial Showtime tragicomedy Kidding (2018–2020), yang membuatnya menerima nominasi Golden Globe ketujuhnya.

Carrey lahir di Newmarket, Ontario, Kanada, dari pasangan Kathleen (née Oram), seorang ibu rumah tangga, dan Percy Carrey, seorang musisi dan akuntan. Ia dibesarkan di Gereja Katolik dan memiliki tiga kakak, John, Patricia, dan Rita. Ibunya adalah keturunan Irlandia dan Skotlandia, dan ayahnya adalah keturunan Prancis-Kanada; nama keluarga asli keluarganya adalah Carré.

Pada usia delapan tahun, ia mulai membuat wajah di depan cermin dan menemukan bakat untuk melakukan kesan. Pada usia sepuluh tahun, Carrey menulis surat kepada Carol Burnett tentang Carol Burnett Show menunjukkan bahwa dia sudah menjadi ahli dalam kesan dan harus dipertimbangkan untuk peran di acara itu; dia sangat gembira saat menerima balasan surat.

Seorang penggemar Monty Python, yang acara TV-nya adalah Monty Python's Flying Circus ditayangkan pada tahun 1970-an, pada tahun 2014 Carrey muncul di Monty Python's Best Bits (Mostly) dan mengingat kembali pengaruh Ernest Scribbler padanya (diperankan Michael Palin) tertawa terbahak-bahak sampai mati dalam sketsa "The Funniest Joke in the World".Radio Times menyatakan, "Anda akan segera tahu alasannya: penampilan Palin sangat mirip dengan Carrey."

Carrey menghabiskan masa kecilnya di wilayah Scarborough, Ontario, bagian dari Metropolitan Toronto, di mana ia bersekolah di Sekolah Dasar Katolik Blessed Trinity di North York. Keluarganya kemudian pindah ke Burlington, Ontario, di mana mereka akan menghabiskan delapan tahun; Jim bersekolah di Aldershot High School saat disana.

Beberapa waktu kemudian, keluarganya menjadi tuna wisma dan tinggal bersama di dalam mobil van Volkswagen sementara Jim remaja dan saudaranya menghabiskan waktu berbulan-bulan tinggal di tenda di Charles Daley Park di tepi Danau Ontario di Lincoln, Ontario. Keluarga tersebut mengalami kesulitan keuangan, namun, situasi mereka mulai membaik setelah ayahnya mendapatkan pekerjaan di departemen akuntansi di Pabrik ban Titan Wheels di Scarborough.

Selain itu, sebagai imbalan atas tinggal di rumah di seberang jalan dari pabrik, keluarga tersebut - yang sebagian besar adalah putra remaja Jim dan John - akan bekerja sebagai petugas kebersihan dan penjaga keamanan di pabrik ban, melakukan shift delapan jam dari jam 6 sore hingga keesokan paginya.

Kembali ke Scarborough, Jim remaja mulai berkuliah di Agincourt Collegiate Institute sebelum putus sekolah pada ulang tahunnya yang keenam belas. Ia mulai tampil sebagai komedian di pusat kota Toronto sambil tetap bekerja di pabrik. Dalam sebuah wawancara Hamilton Spectator tahun 2007, Carrey mengatakan, "Jika karir saya di dunia hiburan tidak berjalan mulus, saya mungkin akan bekerja hari ini di Hamilton, Ontario, di pabrik baja Dofasco." Saat masih muda, dia bisa melihat pabrik baja di seberang Burlington Bay dan sering berpikir bahwa di sanalah "ada banyak pekerjaan bagus."

Carrey menderita depresi dan telah mengambil Fluoksetin untuk memerangi gejalanya. Dia telah menyatakan bahwa dia tidak lagi mengonsumsi obat atau stimulan apa pun, termasuk kopi.

Carrey diterima Kewarganegaraan A.S. pada bulan Oktober 2004 dan tetap warga negara ganda dari Amerika Serikat dan negara asalnya Kanada.



Film The Truman Show
The Truman Show adalah film drama-komedi psikologi Amerika Serikat tahun 1998. Film ini digarap oleh Peter Weir dan diproduksi oleh Scott Rudin, Andrew Niccol, Edward S. Feldman, dan Adam Schroeder, dan ditulis oleh Niccol. Film ini dibintangi oleh Jim Carrey sebagai Truman Burbank. Film ini juga diperankan oleh oleh Laura Linney, Noah Emmerich, Natascha McElhone, Holland Taylor, Ed Harris, Paul Giamatti dan Brian Delate. Film ini mengisahkan kehidupan pria bernama Truman Burbank yang kehidupannya direkayasa untuk hiburan dan disiarkan sebagai acara realitas di televisi. Orang-orang di sekeliling Truman sebenarnya adalah aktor yang disewa untuk berperan dalam kehidupan rekayasa tersebut yang tak disadari sama sekali oleh Truman sepanjang hidupnya.

Jalan Cerita film The Truman Show
Truman Burbank (Jim Carrey) menjalani kehidupan yang nampak sempurna bersama sang istri, Meryl Burbank (Laura Linney). Selain hidup berkecukupan, Truman juga disukai banyak orang karena sifatnya yang periang dan bersahabat. Namun di balik kebahagiaan yang dirasakannya, Truman menyimpan banyak trauma dari kisah masa lalunya. Mulai dari kematian tragis sang ayah di tengah laut, hingga kepergian belahan jiwanya Lauren Garland (Natascha McElhone). 

Truman pun menyimpan keinginan besar untuk melakukan perjalanan ke Fiji agar bisa bertemu Lauren. Anehnya, Truman tidak pernah bisa mewujudkan impian ini. Selalu saja ada yang menghalangi niatnya untuk meninggalkan kota Seaheaven. Truman Burbank tidak mengetahui bahwa sejak dilahirkan, kehidupannya telah dijadikan acara realitas oleh sutradara Christof (Ed Harris). Christof bahkan berhasil mengembangkan program berjudul "The Truman Show" ini hingga menjadi tontonan nomor satu di dunia.

Review film The Truman Show
Untuk sebuah film di jamannya, ide The Truman Show ini memang out of the box. Ditambah dengan skala produksi yang penuh practical effect pasti butuh effort yang besar.

Jim Carrey dengan komedinya menambah lucu film ini dan tentu saja, bagi sobat yang belum terpapar spoiler, plot twistnya menyenangkan.

Untuk pembaca yang rindu film-film drama era 90an yang biasa ditayangkan di tv nasional saat libur Natal, film The Truman Show sangat tepat untuk nostalgia dan heartwarming.

Cocok ditonton bersama keluarga di akhir pekan dengan jalan cerita nan ringan, selamat menikmat penampilan Truman.





Tentang film Liar Liar
Liar Liar adalah sebuah film komedi asal Amerika tahun 1997 yang disutradarai oleh Tom Shadyac, dan ditulis oleh Paul Guay dan Stephen Mazur. Dibintangi Jim Carrey sebagai seorang pengacara yang membangun seluruh karirnya dengan berbohong, tetapi menyadari bahwa dirinya dikutuk untuk tidak berbohong hanya untuk satu hari, dia berjuang untuk mempertahankan karirnya dengan berdamai bersama mantan istri juga putranya yang terasingkan dengan kebohongan patologis.

Film ini adalah yang kedua dari tiga kolaborasi antara Carrey dan Shadyac - yang pertama Ace Ventura: Pet Detective dan ketiga Bruce Almighty - yang kedua dari tiga kolaborasi antara Guay dan Mazur - yang lainnya adalah The Little Rascals dan Heartbreakers - serta kolaborasi pertama antara Carrey dengan produser Brian Grazer.

Film ini dirilis dengan kesuksesan kritis dan komersial, meraup $302,7 juta dengan anggaran $45 juta dan mendapatkan ulasan positif dari kritikus dan penonton, yang secara khusus memuji penampilan Carrey. Di Penghargaan Golden Globe ke-56, dia dinominasikan untuk aktor terbaik musikal komedi.


Review film Liar Liar
Pendapat saya sama dengan ketika menikmati film The Truman Show, cocok dinikmati bersama keluarga di hari libur atau akhir pekan. Ada pesan moral yang disampaikan dan dari sisi komedia lebnih eksploratif daripada The Truman Show.

Liar Liar happy ending sesuai harapan penonton, konflik dan drama keluarga yang dihadirkan bagus banget menambahkan elemen anak dan dinamika dalam sebuah keluarga.