Disrupsi Dalam Dunia Pendidikan, Apa Itu?



Campusnesia.co.id -- Perkembangan internet dan teknologi informasi mau tidak mau harus diakui telah mengubah banyak hal. Apalagi jika kita perhatikan kurun waktu 5 hingga 10 tahun terakhir di mana akses akan internet menjadi semakin mudah murah yang menyebabkan internet bukan lagi barang mewah dan mahal karena bisa diakses semua kalangan.

Perkembangan itu membawa sebuah konsekuensi yang biasa disebut Disrupsi. Secara bahasa, disruption artinya gangguan atau kekacauan; gangguan atau masalah yang mengganggu suatu peristiwa, aktivitas, atau proses (disturbance or problems which interrupt an event, activity, or process).

ads

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian disrupsi adalah hal tercabut dari akarnya. Menurut Merriam-Webster, disrupsi adalah tindakan atau proses mengganggu sesuatu: istirahat atau gangguan dalam perjalanan normal atau kelanjutan dari beberapa kegiatan, proses, dll.

Secara praktis, disrupsi adalah perubahan berbagai sektor akibat digitalisasi dan “Internet of Thing” (IoT) atau “Internet untuk Segala”.Contoh disrupsi adalah media cetak menjadi media online atau situs berita, ojek pangkalan menjadi ojek online (ojol), taksi konvensional atau taksi argo menjadi taksi online, mal atau pasar menjadi marketplace atau toko online (e-commerce), dan digitalisasi lainnya. (romeltea.com)

Dunia pendidikan juga tak terlepas dari pengaruh Disrupsi teknologi tersebut. Hari ini cara belajar anak-anak kita berbeda jauh dengan cara kita generasi 90an belajar. Bagaimana mereka mencari artikel dari cara konvensionla melalui buku dan perpus kini bergeser dengan mengetik kata kunci di halaman pencari semacam Google.

Termasuk dalam mencari bimbingan belajar, hingga era 2007-an bimbingan belajar konvensional seprti Primagama, Ganesha Operation atau Neutron masih menjadi primadona. Belum afdol jika pelajar sekolah favorit tidak ikut les dari salah satu bimbel tersebut apalagi menjelang Ujian Nasional dan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri.

Sekarang, bimbel-bimbel konvensional tak lagi mendominasi setelah hadirnya berbagai bimbel online dengan nama keren startup pendidikan, nama-nama familiar seperti Quipper, Ruang Guru, dan Zenius misalnya.

Berawal dari layanan penyedia tenaga tutor atau pengajar les, kini para startup menjelma menjadi aplikasi belajar online, para penggunanya bisa membaca dan latihan soal dari aplikasi yang sama bahkan tersedia berbagai video pembahan materi dan penyelesaian soal. Dari metode belajar dengan tatap muka kini aktivitas tersebut bisa dilakukan hanya dengan smartphone tergenggam di tangan.

Tak cukup seputar dunia pendidikan sekolah, Zenius bahkan menghadirkan layanan untuk tray out Tes CPNS. Beda lagi dengan layanan seprti Pintaria yang merupakan bagian dari Harukaedu. Secara jenjang lebih mengedapankan layanan Kursus dan Kuliah. Bekerjasama dengan lembaga kursus dan beberapa kampus mereka melayani kebutuhan kursus keteranpilan tertentu misal dalam programing dan kuliah blended perpaduan antara online dan tatap muka baik untuk lulusan baru atau kelas karyawan.

Bebagai kemajuan dan perubahan dalam dunia pendidikan sebagai dampak kemajuan teknologi informasi dan internet mustinya disikapi dengan bijak. Jangan sampai berbagai kemudahan di atas mengikis salah satu tujuan pendidikan yaitu selain mencetak generasi yang pintar dan cerdas juga berakhlak. 

Akan seperti apa Disrupsi dalam dunia pendidikan di masa mendatang? mari kita nantikan.

penulis: Nandar

Artikel Terkait

Previous
Next Post »