Menelisik Fenomena Ikoy-ikoyan, Ngemis Online dan Renungan Makna Kemandirian



 
Campusnesia.co.id -  Beberapa hari terakhir di jagad twitter trending sebuah kata "Ikoy-ikoyan" merujuk pada kegiatan bagi-bagi oleh selebgram dan youtuber Arief Muhammad, secara acak ia memilih followersnya yang beruntung mendapatkan hadiah dengan mention atau DM kebutuhannya. Ikoy sendiri adalah asisten pribadi Armuh yang dimention dan ditugasi untuk transfer uang ke followers yang terpilih, nominalnya beragam dari ratusan ribu hingga puluhan juta.

Sejauh ini tidak ada yang salah dari paragraf di atas, berbagi dengan cara apapun secara umum adalah hal baik, terlebih di masa pandemi seperti ini yang serba susah.

Ikoy-ikoyan menjadi annoying ketika, netijen yang belum beruntung berharap publik figur lain entah selebtwit, selebgram maupun youtuber melakukan hal yang sama. Tiba-tiba mention atau DM, beberapa yang bisa dibilang -kelewat batas- bahkan mengatakan publik figur lain yang tidak berkenan memberi dengan sebutan -tidak sederawan- pencetus tren ikoy bahkan menggunakan kata pelit.
 
Hingga ada yang nekat mengarang cerita palsu, untuk bayar UKT padahal jangka waktu pembayaran masih lama atau nominalnya yang di-mark-up.

Jika menggunakan sudut pandang kesan netijen yang mudah "meminta-meminta" fenomena ini hanya bukti kecil dan penegasan saja. Dalam sebuah menfess  @Areajulid  pernah dibahas netijen yang merasa tidak masalah meminta-minta di sosial media untuk mendapatkan apa yang diinginkan, ketika netijen yang lain bertanya tentang kebiasaan tersebut yang bersangkutan bahkan membandingkan, bisa jadi-apa yang ia peroleh dari meminta-meminta lebih besar dari gaji netijen si penanya selama sebulan.
 
Menurut Pandji Pragiwaksono, fenomena "ngemis online" di kalangan netijen ini hanya adaptasi perubahan zaman saja, dalam siniarnya yang bertajuk Hiduplah Indonesia Maya episode IKOY 1 agustus kemarin ia mengatakan, jika dahulu para pengemis datang ke peruahan, komplek, bis kota sekarang beralih di sosial media di mana banyak orang berkumpul secara online.

Renungan 
Melihat fenomena ini, setidaknya ada dua hal yang membuat saya merenung, pertama harga diri dalam mendapatkan sesuatu dan kedua makna kemandirian.

Kita mulai dari harga diri atau biar lebih keren pride dalam mendapatkan sesuatu, bagi anda yang melakukan "ngemis online" untuk mendapatkan sesuatu, anda harus berpikir lagi, apakah cara anda itu ada harga dirinya, pridenya dan kebanggaannya atau tidak?

Andai mau merenung sedikit saja, kenapa sering kita lihat orang yang sudah sepuh, kekurangan fisik tapi tetap berusaha kerja atau jualan dan tidak meminta-minta, apakah mereka tidak terpikirkan untuk meminta-minta? tidak ferguso, mereka tahu ada cara mudah mendapatkan sesuatu dengan "ngemis" tapi mereka sengaja memilih cara yang lebih punya harga diri dan kebanggaan melakukannya yaitu dengan usaha, menawarkan jasa, tenaga kerja atau jualan seadanya.

Tapi kak, kita masih muda dan bingung mau kerja atau jualan apa? hei, gadget dan jaringan internet yang kamu miliki untuk update status meminta-inta atau ikut Ikoy-ikoyan lebih dari cukup jadi modal untuk menghasilkan uang, mencoba jualan di instagram, twitter, facebook atau toko online.

Berikutnya tentang makna kemandiran, ada pendapat bahwa tidak masalah darimana dan bagaimana caranya mendapatkan uang yang penting dapat serta mindset "kenapa harus kerja, jika bisa dapat uang dari meminta-minta?".

Akar masalahnya dirunut dengan salah kaprah pemahaman Kerja vs Usaha dan Cara Mendapatkan Uang. Semua dikotomi ini sudah lama jadi perdebatan, menurut pendapat saya, harusnya tidak perlu jika kita mau sama-sama merenung sejenak, sebenarnya apa yang kita butuhkan dan perlu lakukan, buka kerja, bukan usaha, atau biar dapat uang saja, tapi Mandiri.

Kenapa harus mandiri?
Karena sudah saatnya, saat kecil kita lahir, dirawat oleh orang tua dan keluarga, ketika sudah dewasa ditandai dengan kemampuan berpikir, membedakan yang salah dan benar maka semestinya kita berusaha mandiri.

Pertama, agar kita bisa menghidupi diri sendiri, kedua tidak merepotkan orang lain, ketiga bisa membantu orang tua, keluarga, saudara dan masyarakat, dengan mandiri peluang kita merdeka dalam bersikap dan bertindak juga jadi lebih besar, bayangkan jika hidup bergantung pada orang lain pasti ada hak yang terkekang.

Bagaimana cara untuk Mandiri?
Jika kita hidup seperti Li Zi Qi youtuber nomer 1 china, mandiri bisa dicapai dengan menanam bahan pangan sendiri, ingin makan telur maka harus memelihara ayam dari kecil, ingin baju baru wajib menanam kapas dulu, dipintal, jadi kain dan dijahit, sederhananya berburu dan meramu.

Akan tetapi karea kita hidup di masyarakat yang bertransaksi dengan uang, maka cara paling gampang untuk mandiri adalah menghasilkan uang.

Bagaimana caranya menghasilkan uang?
Banyak, korupsi, maling, jambret, menipu, dan tentu saja Ngemis adalah cara-cara menghasilkan uang. Jangan salah paham dulu, jawaban tersebut sesuai pertanyaan cara menghasilkan uang, berikutnya karena kita hidup sebagai warga negara yang punya aturan hukum, norma sosial dan sebagai umat beragama ada aturan agama juga, maka cara menghasilkan uang tentu harus sesuai koridor yang ada.

Prinsipnya, halal, tidak merugikan orang lain, tidak melanggar hukum dan penuh dengan harga diri.

Kerja atau Usaha?
Semuanya baik, yang gak baik itu yang terus nanya-nanya tapi gak kerja atau usaha, setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, ada yang cocoknya menjadi pengusaha ada pula yang lebih maksimal ketika bekerja.

Perlu dicatat semua pekerjaan dan usaha selama itu halal, tidak melanggar hukum dan merugikan orag lain adalah baik, jadi stop sinis dengan beragam aktifitas kemandirian yang orang lain lakukan, pengantin baru yang buka olshop itu baik, kerja di korporat itu baik, berjuang sebagai UMKM juga baik, masalah besar kecil yang dihasilkan percaya saja rejeki diberikan sesuaikan kebutuhan, jangan banyak mengeluh atau nyinyir berlebihan.

Pikiran yang terbuka juga penting, di era digital dan masa yang serba sulit karena pandemi, jangan menutup diri pada beragam kemungkinan, jadi youtuber atau blogger dan menghasilkan uang dari adsense patut diperhitungkan jika memang jualan lagi seret, atau jualan di toko online juga bisa dicoba ketika gaji hanya lewat saja, kembali ke prinsip awal, selama halal, tidak melanggar hukum, tidak merugikan orang lain dan ada kebanggaan seua patut dicoba.
 

penulis: Nandar
 

Baca Juga:


Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »