Menilik Tradisi Lebaran Ketupat, Gandulan dan Bisnis Janur di Desa Tegalharjo Pati

 



Campusnesia.co.id - Ketupat menjadi salah satu ikon yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi masyarakat indonesia dalam merayakan lebaran Idul Fitri. Makanan berisi beras berbalut ayaman daun kelapa muda atau janur ini punya cerita sendiri di setiap sudut negeri, kali ini kami coba ikuti sebuah buadaya "Bodo Kecil" dari sebuah desa bernama Tegalharjo di kabupaten Pati Jawa Tengah.

Berbeda dengan tradisi makan ketupat di ibukota yang umumnya berbarengan dengan hari raya idul fitri 1 syawal setelah taraweh, di beberapa daerah seperti desa Tegalharjo Kabupaten Pati Jawa Tengah membuat, memasak dan menyantap ketupat harus menunggu setidaknya 7 hari pasca lebaran, sekitar tanggal 8 syawal.

Entah sejak kapan, namun budaya yang disebut dengan "Bodo Kecil" yang bermakna lebaran kecil ini sudah mengakar sejak nenek moyang.

Bagi masyarakat di sini, lebaran ketupat bukan sekedar makan ketupat dan lepet ketan dengan opor ayam atau tahu bacem kecap namun bisa dibilang "wajib" terutama bagi warga yang punya hewan ternak dan ladang.

Peluang Bisnis Janur Kuning
Riuh perayaan lebaran ketupat bisa dirayakan sejak hari kedua lebaran, biasanya beberapa warga memanfaatkan momen setahun sekali ini untuk berjualan Janur Kuning, Beras ketan dan Kelapa sebagai bahan utama pembuatan ketupat dan lepet (makanan dari tepung ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan sedikit garam dibungkung edngan janur diikat dengan tali bambu kecil dan direbus bersama keupat).



Seperti kang Pahadi, pemuda asal dukuh weron Tegalharjo yang tahun ini memberanikan diri kulak-an janur kuning dari para penjual besar untuk kemudian ia ecer menjadi ikatan 50 dan 100 helai janur dan menawarkan dari rumah ke rumah, sosial media facebook sangat membantunya dalam mempromosikan dagangannya.

Untuk satu ikat janur kuning berisi 50 helai ia jual seharga 15.000 rupiah, dan kelapa dibandrol 8.000-9.000 per butir, bisnis ini sangat menjajikan namun harus kejar-kejaran dengan waktu, jika terlalu dekat dengan lebaran ketupat (tanggal 6,7,8 syawal) maka harga janur akan semakin turun.

Berdasar penuturannya, Janur Kuning dan Kelapa tersebut ia ambil dari pedagang yang lebih besar yang mendapatkan barang dari daerah pegunungan hingga wilayah pesisir Tegal dan Kebumen demi memperoleh harga paling murah.

Gandulan Lebaran Ketupat 
Tiba saatnya tanggal 6 atau 7 syawal, setiap rumah di dukuh Weron membuat ketupat dan lepet, seperti namanya Bodo Kecil selain bermakna Lebaran Kecil juga bisa artikan lebaranya Anak Kecil. Bukan tanpa sebab, setiap datang momen lebaran ketupat anak kecil sangat antusias saling berlomba berlatih dan memamerkan kepiawaian dalam mengayam ketupat bahkan hampir tiap tahun muncul variasi ketupat baru misal berbentuk burung, masjid hingga ikan.

Setelah ketupat, lepet dan lontong selesai dimasak, tidak serta merta bisa langsung dinikmati, bagian dari tradisi masyarakat sini harus di doa-kan dulu oleh tetua setempat atau biasa disebut Modin agar semakin berkah.

Hidangan akan dibagi sebagian dikonsumsi keluarga selama sehari, sebagian dibagikan ke sanak saudara dan tetangga, sebagain lagi diberikan hewan ternak dan di bawa ke ladang bagi yang punya, serta satu lagi dicantolin di setiap gagang pintu dan jendela yang disebut dengan "Gandulan".



Menurut penuturan mbah Warsibah, tujuan Gandulan ini adalah untuk keluarga terutama anak kecil yang sudah meninggal, dimana menurut kepercayaan sebagian warga akan pulang saat malam lebaran ketupat dan bakal sedih jika tidak disajikan. (boleh percaya boleh tidak he he).

Walau masih kental dan berpegang erat pada tradisi warisan nenek moyang dalam pelaksanaan lebaran ketupat, bodo kecil dan gandulan, tidak sedikit warga yang memilih memasak dan menikmati ketupat dan lontong bersamaan dengan hari raya, umumnya mereka yang memiliki keluarga pekerja perantaun di kota besar yang harus kembali ke ibu kota segera setelah hari raya dan jatah libur yang terbatas.

Tak semua warga juga yang membuat ketupatnya sendiri, tidak bisa dipungkiri generasi sekarang banyak yang tidak memiliki keterampilan mengayam janur menjadi ketupat, tapi hal itu bukan jadi pengahalang dalam merayakan kebersamaan karena sudah banyak yang menjajakan ketupat siap isi di pasar terdekat, tentu saja harganya lebih mahal dibanding harus effort mengayam sendiri.

Itu tadi sobat campusnesia, sedikit cerita bagaimana masyarakat dukuh weron desa Tegalharjo merayakan lebaran ketupat yang disebut Bodo Kecil sebagai upaya melestarikan tradisi leluhur. Kalau di daerahmu seperti apa cara merayakannya? share di kolom komentarnya.


Penulis: Nandar

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »