Millenial, Lagu Lirik Jawa dan Dangdut Koplo



Campusnesia.co.id -- Sekitar tahun 1998 pertama kali saya mendengar lagu-lagu Didi Kempot baik melalui Radio, TVRI Semarang atau VCD Player tetangga. Lagu stasiun balapan, kuncung dan banyak lagi hafal di luar kepala, menandai muncul dan terkenalnya genre Campursari, dangdut campursari dan sesaat kemudian lahir era dangdut koplo yang dipopulerkan oleh orkes-orkes melayu dari jawa timur seperi Monata dan Pallapa. Kadang lagu-lagu Didi Kempot itu kami mainkan bersama teman-teman saat main "kothekan" alat musik dari drum tempat air dan kenthongan, hari ini kita kenal dengan tong-thek.

Kala itu, lagu-lagu Didi Kempot sebatas dinikmati alunan musik dan nadanya saja, jarang yang benar-benar kami hayati makna tiap liriknya, maklum namanya juga masih anak-anak. Tetapi entah mengapa memang lagu Cidro dari dulu nempel banget di kepala sebagai lagu sedih dalam hal asmara.

ads



21 tahun kemudian, puncaknya 2019 yang lalu, Campursari, koplo dan lagu dangdut lirik jawa tiba-tiba disukai oleh generasi muda. Didi kempot sebagai raja campursari penuh sesak setiap menggelar konser riuh dengan suara penonton yang turut menyanyikan setiap bait dari lagu-lagu Cidro, Banyu Langit, Suket Teki, Bojo Anyar yang identik dengan patah hati hingga stasiun balapan. 

Uniknya, walau Didi Kempot sudah eksis sejak tahun 90an, penonton yang berduyun-duyun menghadiri konsernya bukanlah generasi tua, melainkan anak-anak muda yang mungkin berusia di bawah 30 tahun, tak jarang kamera dokumentasi merekam di barisan paling depan sobat ambyar (sebutan fans didi kempot) sangat mendalami lagi-lagu yang dibawakan sang godfather of broken heart.
Tapi jika kita mau menelisik lebih jauh, selain come back Didi Kempot, juga tak lepas dari eksisnya penyanyi dan musisi generasi muda lagu-lagu jawa. Sebut saja kemunculan Pendhoza, Ndx aka, Via Valen dan Nella Kharisma atau yang lebih kekinian seperti Guyon waton, ilux, denny caknan, ndarboy dan happy asmara.

Lagu-lagu yang mereka bawakan berkisah tentang kehidupan sehari-hari, dari tema percintaan, falsafah kehidupan bahkan kritik sosial. Aransemen musik yang asyik dengan lirik sederhana membuat lagu-lagu mereka mudah diterima pasar, bukan hanya yang ada di jawa tetapi daerah lain yang bahkan untuk paham lagunya harusnya menggunakan google translate.

Bahasa saya, ketika sebuah genre mulai naik salah satu penanda kualitasnya bukan lagi ada di musik dan alunannya tetapi lirik-lirik bermakna yang dibawakan. Jika tak percaya coba saja mundur ke era 80-90an masa emas dangdut indonesia, kala itu musik dan lagu  tak lagi jadi acuan tetapi sudah saling berlomba membuat lirik dan tema yang bagus.

Agak melebar dari tema, 2019 bisa dikatakan era kebangkitan budaya jawa di era modern, lagu hanya salah satu indikator saja, jika sobat pembaca coba buka youtube hampir setiap malam ada streaming pagelaran wayang kulit. Jangan heran jika dalam pegelaran di dunia nyata hanya ditonton ratusan orang, melalui platform youtube wayang kulit hari gini ditonton oleh ribuan orang. Fantastik. Salah satu bintangnya adalah Dalang Ki Seno Nugroho dari Yogyakarta, bahkan beliau punya channel youtube sendiri sejak 6 januari 2019 yang hingga artikel ini ditulis sudah disubscribe oleh 285.000 dan ditonton sebanyak 59.235.814 kali.

Apakah kamu termasuk generasi millenial atau generasi z yabg juga ikut hype suka lagu-agu lirik jawa bergenre dangdut koplo? Jangan kupa share pendapatmu tentang fenomena ini. Semoga bermanfat sampai jumpa.

Penulis: Nandar

Baca Juga

Lanjut
« Prev Post
Mundur
Maju »