Sosiopreneur, Ritno Kurniawan Merangkul Pembalak Liar untuk menghidupkan Wisata Alam

10:29:00 AM


Sobat Campusnesia, masih ingat Liputan redaksi tentang : Liputan: 5 Hari bersama Indonesian Young Change Maker , Redaksi bertemu dengan sosok yang akan kita petik inspirasinya berikut ini, namanya Bang Ritno Kurniawan sosiopreneur dari Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat yang memberdayakan masyarakat untuk mengelola wisata alam yang sebelumnya identik dengan pembalakan liar. Bagaimana serunya Perjuangan beliau? kami kutip dari Harian Kompas, berikut Artikelnya 

Merangkul Pembalak Liar

Oleh: ISMAIL ZAKARIA
11 Oktober 2016 

Selama puluhan tahun, Hutan Gamaran di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, rusak akibat pembalakan liar. Belakangan, kejahatan itu berkurang, bahkan nyaris terhenti setelah Ritno Kurniawan (30) dan kawan-kawannya sukses merangkul para penebang kayu.

Hutan Gamaran di Desa Gamaran, Kecamatan Lubuk Alung, merupakan hutan hujan tropis. Lokasinya sekitar 30 kilometer arah utara ibu kota Padang.

Hutan seluas sekitar 1.000 kilometer persegi itu menyimpan kekayaan alam. Flora faunanya beragam, pemandangannya indah. Ada sungai-sungai, air terjun, goa, dan tebing-tebing curam.

Namun, hutan nan kaya itu sempat dirusak oleh gaya hidup masyarakat lokal yang menggantungkan hidup dari hutan. Sebagian dari mereka kerap menebang kayu secara sembarangan untuk membangun rumah atau sekadar dijadikan kayu bakar.


Karena lapangan pekerjaan kian langka dan lahan pertanian yang bisa diolah amat sempit, warga berbondong-bondong menebang pohon untuk dijual. Ritno yang ditemui di Padang Pariaman, Selasa (4/10), memperkirakan, setiap hari ada 10-20 gelondong kayu hasil pembalakan liar yang keluar dari Desa Gamaran. Itu terjadi hingga tiga-empat tahun lalu.

Ritno prihatin atas kondisi itu. Ketika lulus dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, tahun 2012, ia pulang kampung ke Sumatera Barat. Pemuda itu memanfaatkan waktu senggang dengan mengunjungi tempat-tempat indah di provinsi tersebut.

Pada Maret 2013, ia tiba di Gamaran dan bertemu dengan beberapa warga desa yang menceritakan keindahan hutan itu. Ritno bersama lima temannya tertarik.

Dia pun masuk ke Hutan Gamaran dan membuktikan kebenaran cerita itu dengan mata sendiri. Ia melihat Air Terjun Belek yang indah. Sebulan kemudian, ia juga melihat Air Terjun Nyarai yang sangat indah.

Namun, alih-alih dikelola dengan baik, air terjun itu justru menjadi tempat transit gelondong kayu hasil pembalakan liar sebelum dibawa ke luar Gamaran. Sungguh menyedihkan.


Melihat potensi Gamaran, Ritno dan teman-temannya tertarik untuk mengelola Air Terjun Nyarai. "Jika dikelola baik akan mendatangkan nilai ekonomi bagi warga," katanya.

Ritno dan kawan-kawan lantas menemui pemuka adat setempat untuk menyampaikan niat mereka. Diadakan juga pertemuan dengan warga. "Ada yang setuju, tapi lebih banyak yang menolak karena pembalakan liar yang mereka lakukan akan terganggu," katanya.

Ritno mencari cara lain dengan menemui tiga pemuka adat lain yang paling dihormati di Gamaran. Pertemuan pun digelar. Kali ini seluruh warga mendukung rencana pengelolaan Gamaran.

Ia mulai mempromosikan Air Terjun Nyarai melalui media sosial. Dibuat juga brosur dan dibagikannya di sela-sela ajang balap sepeda Tour de Singkarak.

Promosi sederhana itu memperlihatkan hasil pada Mei 2013. Para pelancong mulai mencari informasi tentang Air Terjun Nyarai lewat media sosial ataupun telepon. Sebagian dari mereka akhirnya datang ke Gamaran untuk melihat Air Terjun Nyarai.

"Awalnya kami tidak menarik bayaran. Syaratnya, mereka membantu menginformasikan Nyarai kepada kawan-kawannya," ujar Ritno.

Masa promosi dilakukan April-Juni 2013. Ada lima pemandu yang disiapkan menemani pengunjung.

Memasuki Juli 2013, pengelolaan Gamaran dibenahi. Ritno dan kawan-kawan membuat buku registrasi dan kuitansi untuk pengelolaan keuangan. Tamu juga mulai diberi pembekalan sebelum masuk hutan.

Setelah Air Terjun Nyarai makin dikenal dan pengunjung terus bertambah, Ritno dan warga mulai menarik sumbangan sukarela. Uang itu untuk honor pemandu ataupun membuat spanduk. Setelah itu, diberlakukan tiket masuk.

Setelah merasa mantap, Ritno dan kawan-kawan melapor ke Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman untuk mengetahui prosedur pengelolaan tempat wisata. Mereka disarankan membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) agar bisa disahkan bupati. Pada Agustus 2013, kelompok sadar wisata bernama Lubuk Alung (LA) Adventure pun terbentuk.

Komunitas itu membuat berbagai paket wisata, seperti paket bertualang ke hutan, menginap di hutan, berburu ikan dengan alat tembak tradisional, dan pemantauan burung. Sejak paket itu dijual, pengunjung terus bertambah dari 25-30 orang per bulan menjadi 2.000 orang. Awal 2014 bahkan mencapai 8.000 orang per bulan. Kini, jumlahnya mencapai 1.500 sampai 2.000 per bulan.

Total wisatawan yang datang sejak 2013 hingga kini mencapai 80.822 orang. Mereka berasal dari sejumlah daerah di Sumbar, Riau, dan daerah lain di Indonesia. Ada juga 112 turis dari Malaysia.

Merangkul pembalak

Seiring melonjaknya jumlah wisatawan, jumlah pemandu juga bertambah. Pada 2013, jumlah pemandu hanya 25 orang, setahun kemudian menjadi 115 orang. Dari 2015 hingga 2016 sudah ada 165 pemandu. Mereka bukan hanya berasal dari Desa Gamaran, melainkan juga dari Nagari Lubuk Alung dan Pasir Laweh.

Hampir 80 persen pemandu yang bergabung dengan Lubuk Alung Adventure adalah bekas pembalak liar . Sebagian dulu bertugas menebang kayu atau membawa kayu curian keluar Gamaran.

Sejak para pembalak liar bergabung dengan Lubuk Alung, aktivitas pembalakan turun drastis. "Kalaupun ada, tinggal 3-4 batang sehari. Itu pun sudah sangat jarang," ujar Ritno.

Rinto juga mengupayakan pelatihan bagi para pemandu dengan dana dari LA Adventure, seperti terkait sikap, pertolongan pertama pada kecelakaan praktis, penggunaan radio komunikasi, dan gangguan lain dalam kegiatan wisata.

Selain merangkul pembalak liar, mengurangi pembalakan liar, popularitas Air Terjun Nyarai juga meningkatkan ekonomi warga. Kini, ada 20 warung dan dua rumah makan di kawasan situ.

"Proses ini tidak mudah. Di awal, tantangan dari penebang kayu sangat kuat. Perlahan, hal itu berkurang seiring mereka dilibatkan dan merasakan langsung manfaatnya. Jika dari pembalakan mereka hanya dapat Rp 150.000 per minggu, sekarang dari pemandu mereka bisa dapat Rp 80.000 per hari, belum termasuk uang tip dari pengunjung," tutur Ritno.

Pemilik tanah yang digunakan sebagai jalur menuju Nyarai juga kecipratan untung. Dengan mereka, diterapkan sistem bagi untung untuk lahan parkir. Dari Rp 20.000 tiket masuk, sebanyak Rp 2.000 dibagi untuk lima kelompok masyarakat.

Melibatkan masyarakat sekitar adalah kunci mengembangkan pariwisata. Pendekatan seperti itu cocok untuk diterapkan di Sumbar. Sukses mengembangkan Nyarai mengantar Ritno dan LA Adventure meraih penghargaan. Dukungan pemerintah daerah setempat juga mengalir.

Ritno bersama LA Adventure terus berinovasi. Sejak 2016, misalnya, ada bantuan dana dari APBD 2016 Padang Pariaman untuk pengembangan Nyarai.



RITNO KURNIAWAN
Lahir:
Bukittinggi, 3 Mei 1986
Pendidikan terakhir:
S-1 Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (2012)
Organisasi:
Ketua Lubuk Alung (LA) Adventure
Istri:
Sukmaweti (29)
Anak:
Fatihah Hilwa Afifi (2)
Penghargaan:
Juara I Pemuda Pelopor Tingkat Sumbar (2013)
Juara Harapan I Pemuda Pelopor Tingkat Nasional (2014)
LA Adventure, Juara II Lomba Kelompok Sadar Wisata Tingkat Nasional (2014)
Juara II Wirausaha Muda Pemula Mandiri dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (2015)
Juara I Inovasi Manajemen Lingkungan dari Semen Padang (2016)
LA Adventure, Juara I Asosiasi ”outdoor” Eropa yang peduli pada isu lingkungan dan wisata ”outdoor” dunia (EOCA), 2016




Artikel Terkait

Previous
Next Post »

sponsor