Pendidikan Gratis ala Sekolah MASTER Indonesia



Hari gini sekolah gratis? emang bisa?
sebuah pertanyaan yang sulit dijawab di era sekarang, dimana lapangan kerja sulit banyak pengangguran, biaya hidup dan pendidikan mahal. Sering kita mendengar beberapa curhatan orang tua tentang mahalnya biaya pendidikan bahkan untuk jenjang PAUD apalagi perguruan tinggi. di satu sisi pendidikan yang begitu penting sebagai salah satu jaminan masa depan yang lebih baik.

Tapi bukan berarti pendidikan yang terjangkau bahkan gratis mustahil diadakan. Kali ini redaksi akan berbagi pengalaman berkunjung ke Sekolah Master di Depok yang mengusung pendidikan gratis untuk anak-anak Dhuafa dan termarjinalkan. Masih dalam rangkaian event Indonesia Young Change Maker.


kata MASTER adalah akronim dari Masjid Teriminal karena gerakan ini memang diawali dari teras masjid di terminl Depok yang digagas oleh sosok luar biasa bernama bapak Nurrohim. MASTER berdiri sejak 28 Oktober 2000 dan memiliki program utama untuk memberikan pendidikan gratis bagi masyarakat miskin dan yang termarjinalkan. MASTER melayani anak-anak pengamen, pengasong dan anak-anak kurang mampu dengan memberikan pendidikan gratis dari tingkat PAUD sampai tingkat SMA. Pelayanan yang diberikan MASTER didasarkan pada cita-cita untuk menghasilkan generasi yang berakhlak mulia, cerdas , kreatif dan mandiri.


Dalam perkembangannnya MASTER mulai memberikan aksi-aksi nyata melalui pelayanan pendidikan pada tingkat SMP Terbuka (2001), PAUD (2002), Paket A setara SD (2004), Paket B setara SMP dan Paket C setara SMA (2004) dan SMA Terbuka (2007) yang kemudian mendapat izin dari Dinas Pendidikan Kota Depok pada tahun 2006 sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dibawah naungan Yayasan Bina Insan Mandiri.

Bapak Nurrohim perintis Sekolah Master, Pria kelahiran Tegal, Jawa Tengah, 3 Juli 1971, ini memiliki warung makan dan toko kelontong yang lokasinya berada di belakang Masjid Al-Muttaqien, di kompleks Terminal Depok. Tempatnya itu biasa dijadikan lokasi mangkal orang-orang marjinal tersebut. Ada yang memang datang untuk membeli makanan di warungnya atau sekadar duduk-duduk melepas lelah.


dikutip dari Gatra.com ;
Kegiatan yang berlangsung di Sekolah Master tak jauh beda dengan kegiatan di sekolah formal. Hanya saja, Nurrohim tidak menekankan pencapaian akademik bagi siswa-siswanya. Namun, untuk siswa yang dinilai punya potensi di bidang akademik, pelajaran formal diberikan dan ada pelajaran tambahan agar siswa berhasil mengikuti ujian akhir nasional. "Kami berikan kisi-kisi, bimbingan belajar juga. Kami arahkan mereka lolos perguruan tinggi, baik luar maupun dalam negeri," ungkapnya.

Untuk siswa yang tidak berminat pada bidang akademik, Nurrohim mencoba mewadahi potensi mereka dengan membangun studio musik, drama, kelas otomotif, desain grafis, taekwondo, dan sebagainya. "Tujuannya, paling tidak mereka yang tidak minat pada bidang akademik punya skill lain yang dapat dijadikan bekal bagi masa depannya kelak," kata Nurrohim.

Lantas, dari mana dana untuk membiayai operasional Sekolah Master? Bapak Nurrohim mengaku, sebagian biaya diperoleh dari penghasilan usaha kecilnya seperti warung makan dan asongan di sekitar terminal, juga usaha percetakan serta peternakan sapi dan kambing. Selebihnya, Nurrohim mendapat bantuan dari program corporate social responsibility sejumlah perusahaan. "Sekolah ini tempat orang-orang bingung, mulai dari bingung nggak bisa sekolah sampai yang bingung mau nyumbangin uangnya," tutur Nurrohim berkelakar.


Biaya operasional untuk satu Sekolah Master, misalnya yang di Depok, sekitar Rp 150 juta (data tahun 2012) per bulan. Para pengajarnya tidak disebut guru, melainkan relawan yang di antaranya ada mahasiswa. "Relawan inti ada 80-90 orang, sedangkan relawan pendamping ada 115 orang," kata Nurrohim. Relawan inti adalah relawan yang menandatangani kontrak enam bulan untuk mengajar, sedangkan relawan pendamping adalah relawan tidak tetap.

Inspiratif ya sobat Campusnesia, bapak Nurrohim bukan saja orang yang berjiwa dan terjun dalam bidang sosial tetapi dengan sekolah master dan program pemberdayaan usahanya untuk mendukung pendanaan sekolahnya membuat beliau masuk kategori seorang Sosiopreneur. ayo kita sebagai generasi muda penerus bangsa ambil inspirasi dan ambil bagian dalam segala kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat./AM

Artikel Terkait

Previous
Next Post »