sponsor

Program PAUD Indonesia Raih Penghargaan Dunia

6:27:00 PM


JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meraih penghargaan UNESCO Prize for Girl’s and Women’s Education 2016. Penghargaan tersebut diberikan karena kepedulian Indonesia yang mulai mengenalkan program pengarusutamaan gender sejak jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) digulirkan.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Direktur Jenderal UNESCO didampingi Ibu Negara The People’s Republic of China kepada Direktur Pembinaan PAUD, Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud, Ella Yulaelawati di Beijing, Senin (6/6/2016) lalu.

Aicha Bah Diallo, juri UNESCO Prize for Girl’s and Women’s Education 2016, menilai tidak banyak negara di dunia yang mulai mengenalkan konsep jender sejak usia dini.

"Program PAUD di Indonesia sangat menarik perhatian para juri," ujar Diallo.

Sementara itu, Direktorat Jenderal PAUD dan Pendidikan Masyarakat Kemendikbud Ella Yulaelawati menuturkan, sejak 2013, pihak Direktorat Pembinaan PAUD menjalankan program untuk meningkatkan akses dan mutu pendidikan anak perempuan melalui PAUD Berbasis Masyarakat dan Pengarusutamaan Jender sejak Dini. Program itu berupaya mendorong keseteraan jender dalam lembaga PAUD.

Program ini dilaksanakan antara lain melalui penerbitan buku saku tentang jender, mengalokasikan anggaran berbasis jender, penghargaan Bunda PAUD, Satu Desa Satu PAUD, pembangunan PAUD di daerah terpencil, serta peningkatan wawasan tentang jender kepada para tenaga pendidik PAUD.

Ella mengatakan, serangkaian program itu telah membuahkan hasil berupa kesetaraan partisipasi anak-anak perempuan dan laki-laki. Jumlah peserta didik perempuan di taman kanak-kanak pada 2015 lalu telah mencapai 1.156.777, atau hampir menyamai laki-laki sebanyak 1.396.523. 

Adapun pada jenjang kelompok bermain, jumlah peserta didik perempuan dan laki-laki pun hampir imbang. Pada 2015, peserta didik perempuan sebanyak 737.176 dan laki-laki sebesar 845.557 orang.

"Dari sisi tenaga pendidik PAUD, Indonesia masih menghadapi tantangan untuk memacu jumlah laki-laki. Sampai saat ini tenaga pendidik PAUD masih didominasi oleh perempuan," ujarnya.

Namun, lanjut dia, pada tingkat universitas, sebagian besar dosen adalah laki-laki.

"Isu keseteraan jender ini menjadi tugas besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan kami telah berupaya untuk mengenalkan program jender sejak anak-anak menikmati layanan PAUD," ujarnya.

Satu desa, satu PAUD

Program Pengarusutamaan Jender pada jenjang PAUD digulirkan seiring program Satu Desa Satu PAUD yang dikembangkan oleh Kemendikbud. Hingga akhir 2015, sebanyak 58.174 desa telah memiliki lembaga PAUD. Jumlah ini mencapai 72,29 persen dari total desa yang tersebar di Indonesia.

Keikutsertaan anak-anak Indonesia dalam program PAUD atau Angka Partisipasi Kasar (APK) juga cukup mengesankan UNESCO. PAUD Indonesia bahkan berhasil melampaui rerata dunia.

Pada 2012, APK PAUD dunia sebesar 54 persen, sedangkan APK PAUD Indonesia telah mencapai 63 persen. Hal tersebut berdasarkan data UNESCO Institute for Statistics 2014 yang dirilis beberapa waktu lalu. Data tersebut juga menggambarkan bahwa APK PAUD Indonesia mengungguli rerata APK PAUD di Asia Tenggara.


Penulis : Latief
Editor : Latief

Artikel Terkait

Previous
Next Post »