Para Siswa Ini "Sulap" Lahan Sekolah Jadi Kebun

3:17:00 PM
KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA

Para siswa SD Negeri Bongan berpose di depan kebun sekolah mereka.


SAMARINDA, KOMPAS.com - Membangun kecintaan anak terhadap lingkungan harus dilakukan sejak dini. Hal ini diterapkan oleh SD Negeri Bongan, Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Ada mata pelajaran khusus mengenai lingkungan hidup. Tak hanya diajarkan untuk cinta lingkungan, mereka diajak "menyulap" lahan seluas lebih dari 5 ribu meter persegi di sisi sekolah menjadi kebun kecil. 

Awalnya, sekolah ini merupakan bangunan semi permanen untuk pekerja yang membangun permukiman transmigrasi. Wilayah Bongan merupakan tempat singgah para migran dari berbagai daerah. 

Begitu memasuki gerbang sekolah, terdapat dua lorong kayu dengan tanaman rambat yang mengelilinginya. 

Lorong pertama yang mengarah ke ruang kelas dirambati oleh tanaman markisa. 

Sementara, lorong yang mengarah ke perpustakaan dirambati tanaman anggur. Tiang lorong itu terbuat dari kayu ulin, kayu khas Kalimantan yang kuat dan tebal. 

Letak kebun sekolah berada di sisi kanan bangunan. Di kebun sekolah itu, terdapat "green house" atau rumah hijau untuk membesarkan tanaman di dalam pot. 

Ada pula kolam ikan nila yang letaknya di sisi "green house". 

Bersisian dengan kolam, terdapat sebuah kandang yang di dalamnya dihuni tiga ekor kambing. Para murid ini diajarkan menanam mulai dari nol.

"Kami bikin pupuknya dari kotoran kambing, kasih pupuknya, ditanam, terus cabutin rumput juga," ujar Melsa, siswi kelas 4 B SDN Bongan.

Pada sisi kiri kebun terdapat sejumlah undakan yang ditanami berbagai tumbuhan. Ada pohon mangga, durian, cabai, jagung, hingga tanaman kencur.

Saat tiba musim panen, mereka menikmati sendiri hasil bercocok tanam. Beberapa hari lalu, mereka baru saja memanen markisa. 

Anak-anak nampak antusias membahas tanaman-tanaman yang mereka rawat dengan tangan mereka sendiri.

Menurut Melsa, penanaman itu dilakukan berkelompok. Masing-masing kelompok beranggotakan sekitar delapan hingga sepuluh orang. 

Kepala sekolah SD Negeri 010 Bongan, Yusuf, mengatakan, seluruh elemen di kebun itu dapat dimanfaatkan satu sama lain untuk alur kehidupan ekosistem. 

Daun tanaman bisa dijadikan makanan kambing, kemudian kambing mengeluarkan kotoran untuk pupuk dan air seni untuk diolah menjadi pestisida organik.

Cacing yang hidup dari pupuk organik itu pun dijadikan pakan ikan di kolam. Dengan kebiasaan beternak dan berkebun ini, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri. 

"Kita mau bagaimana jiwa wiraswasta mereka ada. Jadi mereka tidak berpikir mau jadi pegawai aja, tapi jadi pengusaha," kata Yusuf. 

Sekolah dengan jumlah murid 375 orang itu kerap menjadi percontohan sekolah lain di daerah Bongan. 

Green House di kebun sekolah tempat para siswa SDN Bongan membesarkan tanaman yang mereka tanam sendiri.


SD Negeri 010 Bongan tak bergerak sendiri. Mereka mendapatkan bantuan dari World Wide Fund (WWF) for Nature untuk pelatihan guru dan pendanaan. 

Wanita bernama Sri Astuti menjadi salah satu penggerak perubahan SD Negeri Bontang menjadi sekolah hijau.

Saat itu, tahun 2009, Sri masih menjabat sebagai kepala sekolah di sana. Ternyata, program mereka membuat para murid lebih betah di sekolah. 

"Dukungan masyarakat luar biasa. Tanpa diminta mau bantu. Malah tanya, apa lagi yang bisa kami bantu. Makin kesini dukungan masih besar," kata Sri.
Penulis : Ambaranie Nadia Kemala Movanita
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

sponsor