Kustopo, Guru Anak Jalanan dan Napi yang Raih Prestasi Nasional

7:06:00 PM
.Kustopo sedang mengajar nara pidana di Lapas Bulu Semarang


SEMARANG, KOMPAS.com — Mengajar anak-anak jalanan dan anak yang ditahan di rumah tahanan atau narapidana tentu memiliki tantangan yang berbeda. 

Tantangan kian berat karena stigma negatif masyarakat yang melekat pada kedua kelompok anak itu tak pernah hilang. 

Beruntung, di Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, masih ada orang yang peduli pada pendidikan mereka. 

Mereka yang peduli ini lalu mendirikan sanggar kegiatan belajar (SKB) bersama untuk menampung mereka, merayu agar anak jalanan bersedia belajar. Gratis. 

Kustopo dan teman-temannya mendirikan tempat mengajar itu. Anak jalanan yang belajar relatif banyak. Anak yang kejar paket C, misalnya, berjumlah 25 orang, sementara narapidana berjumlah 80 orang. 

"Kalau gak diajar, tidak dididik, mereka mau jadi apa? Ini yang coba kami lakukan untuk kerja sosial. Yang jelas, pertama harus mengubah image dulu, kemudian pola pikir. Mengajar di lapas sama, mengubah pola pikir," ujar Kustopo, Rabu (25/11/2015). 

Dalam mengajar, Kustopo tak langsung mengajarkan materi. Ia lebih ingin mengajarkan prinsip hidup yang baik bagi anak. Prinsip itu misalkan soal keberuntungan hidup. 

"Saya selalu mengajarkan ke anak, 'Bayangkan suatu saat Anda punya keberuntutangan bertemu orang hebat, kemudian meminta ijazah.' Kalau mereka hanya lulus SD atau SMP kan minder. Nah, ini kebetulan membantu dan dengan cara itu mereka mau belajar," kata dia. 

Mengajari kedua kelompok itu mempunyai tantangan tersendiri. Anak jalanan, misalnya, mereka mengamen di jalan, lampu merah. Sang anak tak henti-hentinya meneriakkan lagu, mengais rupiah dari para pengendara. 

Kustopo tidak mempermasalahkan pekerjaan mereka karena memang rata-rata mereka mengamen untuk kebutuhan ekonomi keluarga yang serba sulit. 

Demi mendorong mereka belajar, ia pun mendorong anak untuk pandai bermusik. Menjadi pemusik jalanan yang baik mempunyai nilai plus karena bisa bernyanyi secara bagus. 

"Kami tanamkan, terutama pada value, penanaman nilai bukan saja pengetahuan, penanaman budi pekerti agar anak mengerti menjadi baik," ujar dia. 

"Narapidana itu kan orang yang divonis bersalah, mempunyai masalah hukum. Awalnya kesulitan, makanya butuh proses, waktu, membangkitkan mereka agar bersedia belajar," kata Kustopo lagi. 

Tak mengharap imbalan 

Para guru di SKB Gunung Pati itu, lanjut dia, tak berharap dari honor yang diterima seusai mengajar. Kepuasan dalam mengajar sudah cukup karena merasa dianggap sebagai pahlawan oleh sang anak. 

Maka dari itu, ketika tutor dibayar Rp 350.000 sebulan dan dibagi kepada empat tutor yang lain, mereka tak pernah keberatan.

"Hari ini memang tidak dapat apa-apa. Tapi, ketika besok menjadi orang, itulah pendapatan kita. Jadi, kami sudah berprinsip jangan mengharap hari ini dapat apa, kami mengharap anak yang didik jadi orang," ujarnya. 

Prinsip itulah yang mengantarkan Kustopo mendapat penghargaan prestisius dari Kementerian Pendidikan pada tahun 2014 lalu. 

Ia mendapat penghormatan menjadi tutor berprestasi paket C tingkat nasional setelah sebelumnya terpilih di tingkat Jawa Tengah. "Walau kecil, saya yakin, apa yang diberikan itu bermanfaat bagi mereka," ujar dia. 

Uniknya, pada paket C bukan ditulis mantan narapidana, tetapi kelompok belajar sehingga tidak membuat sang narapidana malu. Bahkan, melalui pendidikan itu, tidak jarang anak didik terentaskan dari kemiskinan. 

Menurut Kustopo, mereka yang didik diterima di banyak perusahaan. "Ini jadi kebanggaan tersendiri dengan bantuan tutor yang lain. Mereka menganggap kami sebagai pahlawan. Rasa seperti itu bangga sudah menjadi pahlawan bagi dia," ujar dia.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »